
Setibanya di rumah, Lucas duduk perlahan di tepian ranjang seraya memandangi paras Noa yang tengah terlelap.
Hatinya di liputi kegelisahan, dengan penawaran yang di bicarakan Stefanus tadi. Dia sangat tidak rela jika harus meninggalkan Noa dalam waktu berminggu-minggu.
Sulit sekali. Aku tidak perduli dia setia atau tidak. Aku sudah sangat mencintainya. Aku ingin terus bersamanya dan tidak ingin memberikan kesempatan pada lelaki lain. Tapi.. Lucas menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Ayah akan merestui ku jika aku bisa membuktikan kesetiaannya.
"Bagaimana sayang?" Gumam Noa membuka matanya sedikit. Lucas terkejut. Dia berfikir jika Noa sedang terlelap tidur." Apa yang bisa kita lakukan agar restu Ayah kita dapatkan." Imbuhnya duduk lalu menggeser tubuhnya mendekati Lucas. Kedua kakinya di turunkan dan bertumpu pada kaki panjang Lucas.
Apa yang harus ku katakan? Ayah tidak memperbolehkan aku bercerita padanya.
"Ayah tidak ada di tempat. Jadi pembicaraan itu belum terjadi." Dengan berat hati Lucas berkata demikian. Dia ingin membuktikan pada sang Ayah jika tidak semua manusia seburuk Ibu nya.
"Padahal aku tidak sabar mendengarnya." Lucas mencoba tersenyum agar Noa tidak curiga dengan kegalauan hatinya.
"Kamu harus sabar dan setia padaku meski jalan kita begitu sulit."
"Iya sayang."
"Jika aku tertangkap prajurit kerajaan. Aku minta padamu untuk tetap setia menunggu ku kembali. Ingat pesanku Baby. Jangan keluar rumah jika malam hari. Kalau hanya sekedar di teras tidak masalah asal jangan sampai melewati pagar." Noa tersenyum lalu bersandar lembut pada pundak Lucas.
"Aku sampai hafal peringatan itu. Aku mendengarnya dengan baik sayang. Tidak perlu di ulang-ulang." Tarikan nafas panjang berhembus." Aku yakin kamu tidak akan tertangkap oleh mereka." Imbuhnya lirih.
"Mereka sangat banyak. Jumlahnya ratusan. Jika aku tertangkap dan tiba-tiba tidak menemuimu. Aku mohon setia lah menungguku kembali. Kamu mau berjanji?" Noa mengangguk pelan.
"Aku berjanji."
"Jangan biarkan lelaki lain berada di dekatmu. Kamu hanya milik Lucas." Noa duduk tegak dan membalas tatapan Lucas yang tengah memasang wajah serius.
"Seseirius itu?"
"Hm Baby."
"Tapi rasanya aku tidak mau terlalu lama menjauh."
"Aku juga ingin selalu bersamamu tapi kita memang harus melewati masa sulit ini." Lucas sungguh tidak tega mengatakannya. Apalagi raut wajah Noa terlihat cemas dan tidak baik.
"Aku yakin kamu tidak akan tertangkap."
"Ini hanya seandainya Baby. Aku mengatakan ini karena takut kamu salah sangka nantinya." Setelah ini selesai. Aku berjanji untuk tetap bersama mu sepanjang waktu.
"Salah sangka apa?"
"Mungkin saja kamu berfikir jika aku tidak setia dan meninggalkanmu." Noa menatap Lucas dengan manik bulatnya kemudian berpaling.
"Aku akan menunggu sampai kamu datang jika itu terjadi sayang." Noa menahan rasa yang bergemuruh. Ingin rasanya dia menyampaikan kekhawatirannya di dalam hati namun dia tidak ingin memberatkan Lucas.
"Aku hanya mencintaimu. Kamu harus menyakinkan itu pada hatimu dulu agar nantinya kamu percaya jika aku terpaksa menjauh sebentar." Bulir air mata mulai jatuh. Membayangkan saja sudah sanggup melukai hati Noa yang sudah menganggap Lucas sebagai candu baginya." Maaf sudah menyulitkan mu." Kedua tangan Lucas terangkat dan menyeka air mata Noa.
"Tidak perlu minta maaf. Ini memang sulit tapi aku yakin akan bisa melewatinya." Noa yang sudah menyerahkan sisa hidupnya pada Lucas. Sudah menyiapkan mental apalagi sejak awal Lucas memang sudah menjelaskan semuanya. Dia menyakinkan pada hatinya jika tidak ada tujuan lain kecuali Lucas sehingga dalam benak Noa terbesit ucapan lebih baik aku mati daripada harus hidup tanpanya.
__ADS_1
Lucas mendekap tubuh Noa kembali. Membenamkan kepalanya di dadanya yang bidang. Tangan kanannya terangkat dan mengusap puncak kepala Noa lembut.
Aku ikut tersakiti melihat air matanya.. Maafkan aku Baby..
"Jika kamu tertangkap. Apa yang bisa Ayahmu lakukan sayang." Tanya Noa lirih. Dia menyeka sisa air mata di pipinya dengan tangan kanannya.
"Mengurungku. Tapi aku akan berusaha keluar jika itu terjadi."
"Tidak perlu keluar dari sini sayang." Noa menegakkan kepalanya menatap Lucas.
"Jika tidak di lawan. Selamanya ini tidak akan selesai. Bukankah kamu ingin hidup bebas. Berpergian kemanapun yang kamu mau."
"Tidak. Aku sudah tidak menginginkan itu." Lucas merasakan jika Noa tengah berbohong. Dia membaca keterpaksaan yang tergambar pada mimik wajah Noa sekarang.
"Apa bisa hidup selamanya di sini. Aku berjanji akan kembali membawa restu. Aku hanya meminta mu untuk sedikit bersabar."
"Jika kamu tidak kembali." Tanya Noa tertahan sebab bibir Lucas kini membungkamnya dengan lummatan lembut.
"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak kembali." Ucap Lucas di tengah lummatan.
Noa melenguh, menikmatinya dengan kedua tangan mengalung erat pada leher Lucas.
"Kamu candu ku Baby."
"Em kamu juga sayang. Ahhh jangan lakukan itu." Noa menjauhkan wajah Lucas yang akan mencumbu leher nya.
"Aku lelah sekali. Aku ingin tidur."
"Apa ucapan tadi yang membuatmu kehilangan selera."
"Tidak sayang. Aku benar-benar mengantuk dan ingin tidur bersama." Noa yang tidak sedang berbohong, menggeser tubuhnya lalu berbaring.
Apa yang terjadi? Biasanya dia gampang tersulut hasrat..
Lucas ikut berbaring seraya memandangi wajah Noa yang terlihat tidak sedang berbohong. Itu terbukti saat Noa beberapa kali menguap namun mencoba untuk tetap terjaga.
"Apa kamu tidak tidur saat aku pergi."
"Tidur sebentar lalu aku terbangun." Noa menghembuskan nafas berat lalu melingkarkan tangannya ke bagian perut Lucas. Rasanya, dia tidak bisa tidur tanpa Lucas sehingga Noa ingin menyembunyikan keluh kesahnya setelah pembicaraannya tadi.
Lucas sendiri ingin bertanya perihal itu. Tapi bibirnya berat mengungkapkannya.
Besok malam aku sudah harus pergi. Ini sesuatu yang lebih berat dari apapun..
Keduanya sama-sama tidak bergeming. Seolah tenggelam dalam kekhawatirannya masing-masing. Sampai dengkuran halus terdengar. Lucas menunduk untuk memeriksa dan memastikan jika Noa benar-benar tertidur. Dia mengecup bibir Noa sejenak kemudian kembali mendekap kepalanya erat.
๐น๐น๐น
Prapto melayangkan tamparan pada beberapa anak buahnya atas kegagalannya menemukan di mana lokasi Noa berada. Dia sudah sangat bernafsu menerima uang milyaran rupiah setiap harinya sehingga membuat emosinya meluap-luap.
__ADS_1
"Bodoh!!!" Umpatnya berteriak. Otot-otot pada wajahnya mencuat keluar dengan mata membulat.
"Kami sudah menyebar tapi tetap saja tidak menemukannya Pak."
"Jangan bergerombol!!! Jumlah kalian 30 orang. Bukankah itu sangat banyak. Kalian harus mencari dengan terpisah agar Noa cepat di temukan." Lidah yang tidak bertulang memang sangat mudah mengucapkan tanpa tahu kenyataan. Sebelum di suruh pun, para anak buahnya sudah melakukan itu namun tetap saja Noa sulit di temukan.
"Baik Pak. Saya permisi."
"Hm! Kalau gagal lagi. Jangan harap bulan ini kalian menerima gaji!" Lono mengangguk sebentar kemudian berjalan keluar dengan wajah lesu.
Kepemimpinan Prapto lebih buruk daripada Vivian yang terkadang masih memberikan uang bensin pada anak buahnya juga makan sebanyak tiga kali sehari.
Tapi semenjak di pimpin Prapto. Mereka harus makan sendiri-sendiri dengan sisa gaji yang sudah menipis.
"Keterlaluan sekali. Kerja juga butuh makan kan." Gerutu seseorang yang tengah berjalan beriringan dengan Lono.
"Kau lapar?" Tanya Lono.
"Iya. Uang bensin tidak ada. Makan tidak di beri. Uang gaji ku sudah ku kirimkan pada keluargaku di kampung." Itu alasan Lono tetap bertahan di tempat buruk itu. Meskipun dia sendiri belum memiliki keluarga yang harus di nafkahi.
Banyak dari teman-temannya yang bergantung di tempat tersebut. Mereka sadar jika uang yang di dapatkan tidaklah halal. Tapi mereka tidak bisa memilih kecuali bertahan demi bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
"Nanti ku belikan. Em tolong panggil semuanya untuk berkumpul. Kita harus lebih giat mencari agar kita bisa mendapatkan gaji bulan ini."
"Aku sebenarnya sudah tidak betah. Tapi mau kerja apa Lon. Jadi buruh tani juga uangnya kecil. Ingin berdagang tidak ada modal. Kerja di tempat lain." Lelaki itu menghela nafas panjang." Ijazahku hanya SD." Lono mengangkat tangannya lalu menepuk punggungnya lembut.
"Berharap saja. Mungkin suatu saat Tuhan memberikan perkerjaan yang lebih baik dari ini."
"Tuhan itu sudah tidak melihat kita Lon. Dia sudah malas melihat kita karena perkerjaan terkutuk ini." Sahut lainnya.
"Tuhan tidak pilih kasih. Berharap saja dulu. Aku yakin jika kalian memiliki niat kuat untuk mendapatkan perkerjaan lebih baik. Tuhan akan memberikan jalannya."
Amin.. Jawab ketiganya serentak.
"Memang pantas jadi pemimpin kamu Lon."
"Sudahlah. Cepat kumpulkan semuanya. Kita harus rapat sebentar." Ketiganya tersenyum lalu berjalan keluar sementara Lono tertinggal di ruang Istirahat.
Sebenarnya aku kasihan pada Noa. Dia layak untuk kabur kerena dulu Mommy begitu keterlaluan memperkerjakan nya.
Seringnya Lono mengawal Noa. Membuatnya menyadari jika Noa memang tidak pantas berada di tempat terkutuk itu. Lono merasa jika Noa terlalu baik dari segi fisik juga sikap yang cenderung lembut.
Selama hampir enam tahun berkerja. Lono baru melihat seorang wanita penghibur sebaik Noa. Tidak pernah Lono mendengar kesombongan keluar dari bibir Noa meskipun kemewahan dan uang banyak selalu dia dapatkan.
Mungkin Noa sadar jika harta yang di dapatkan tidaklah halal. Namun bagi Lono itu bukanlah alasan sebab banyak dari wanita malam yang berada di bawah Noa selalu mengumbar kesombongan dengan berkata-kata kasar seolah mereka adalah ratu.
Tapi.. Aku tidak bisa memilih jalan kecuali kembali memburu mu Noa.
๐น๐น๐น
__ADS_1