Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
66


__ADS_3

Alex tidak juga berhenti mencari keberadaan Noa. Dia menoleh cepat saat hidungnya mengedus aroma tubuh Noa yang sudah tidak asing.


Cepat-cepat Alex turun perlahan tepat di depan rumah pellacuran yang masih sepi sebab kala itu masih pukul enam pagi.


Kedua tangannya merapikan jas. Alex berniat masuk untuk memeriksa dan berdalih ingin membeli wanita.


Lono yang kebetulan berjaga di depan. Langsung menghampiri Alex yang tengah berjalan santai.


"Tumben sekali pagi-pagi datang Tuan." Sapa Lono ramah. Dia mengenal Alex cukup baik karena seringnya Alex membeli wanita di sana.


"Kebetulan saya lewat jadi sekalian saja." Alex tidak fokus menatap Lono dan malah memicingkan matanya melihat ke arah dalam bangunan tersebut.


Teriakan Noa terdengar, sehingga membuat Alex yakin jika Noa ada di dalam.


"Mungkin sedikit lama sebab para penghuni kebanyakan masih tidur."


"Tidak masalah. Saya tunggu di dalam."


"Baik Tuan silahkan." Lono mempersilahkan Alex yang langsung mempercepat langkahnya karena teriakan Noa terdengar semakin dekat.


Lono tidak mengambil pusing itu, dia hanya mengikuti laju kaki panjang Alex tanpa curiga hingga dia melihat Noa keluar dengan selimut yang melilit tubuhnya.


Bugh!!


Noa membentur dada bidang Alex yang langsung di sambut Alex dengan dekapan lembut.


"Tidak!! Lepaskan!!!" Teriak Noa tidak terkendali. Dia berfikir jika Alex adalah salah satu dari anak buah Prapto yang berhasil menangkapnya.


"Aku menemukanmu." Mata Noa melebar lalu mendongak menatap Alex bersamaan dengan keluarnya Prapto.


Noa yang merasa terdesak, langsung melingkar kedua tangannya pada perut rata Alex. Dia berfikir jika mungkin Alex bisa di ajak negoisasi daripada dia harus jatuh lagi ke tangan muccikari.


"Dia akan memperkosa saya." Tunjuknya ke arah Prapto.


Semoga Tuan Alex bisa membawa Noa pergi dari sini. Batin Lono tidak bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aku bersyukur bisa merasakan ini. Kau menyuruhku melindungimu? Ini sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.


"Kembali Noa!!" Teriak Prapto geram.


"Sa saya sudah bersuami Pak. Saya tidak mau berkerja lagi di sini. Tolong lepaskan saya." Ucap Noa merajuk. Sebenarnya dia tidak ingin menghadapkan Prapto pada Alex yang mungkin akan menghilangkan nyawanya.


Kenapa aku tidak pernah melihat Noa padahal aku sering datang ke sini?


"Ke sini kataku!!" Prapto melangkah mendekat. Tangannya terulur dan berusaha menyentuh Noa namun dengan cepat Alex meraih tangan itu dan memutarnya hingga membuat tubuh Prapto terpental.


"Tidak sopan sekali! Kau tidak lihat dia sedang berada di dekapanku!!" Noa bernafas lega karena pembelaan yang di lontarkan Alex.


"Aaaaaaaaaaaach sakit!! Cepat serang dia Lono!!" Teriak Prapto geram.


"Tidak Pak. Sudah saya katakan jika saya tidak setuju anda memperkerjakan Nona Noa lagi." Mata Prapto membulat mendengar itu.


"Kau ku pecat!!"


"Hm baik." Prapto berusaha berdiri dan berteriak untuk memanggil anak buahnya yang lain namun tidak ada seorangpun yang datang.


Alex menunduk, menatap keadaan Noa yang berantakan dengan luka pada kakinya. Ketertarikannya membuat hatinya tidak rela melihat itu hingga amarahnya langsung tersulut.

__ADS_1


"Dia yang membuatmu seperti ini?" Tanya Alex lirih.


"Iya. Dia terus saja memburu saya."


"Kau memang milikku Noa!!" Sahut Prapto berdiri tegak. Bibirnya menyeringai karena menahan sakit.


"Saya ingin hidup bebas Pak. Jangan lagi memburu saya."


"Tidak bisa! Aku membawa kontrak kerjamu!!" Tangan Noa kian erat mencengkram perut Alex saat Prapto kembali mendekat.


Tiba-tiba saja tangan Noa terlepas ketika Alex berpindah dengan cepat dan berdiri tepat di hadapan Prapto.


"Kau siapa!! Suaminya!!" Tanya Prapto kasar.


"Hm aku." Noa bungkam begitupun Lono yang hanya berdiri terpaku.


"Oh kau!!!" Tangan kanan Prapto merogoh kantong celana pendeknya dan mengeluarkan sebuah salip dari sana. Meski tidak percaya, dia menyiapkan benda itu untuk berjaga-jaga." Pergi!!" Imbuhnya menunjukkan salip tepat ke wajah Alex.


Aku ingat dia bukan Suami Nona Noa...


Alex tersenyum tipis dan membiarkan Prapto melakukan sesuatu yang sia-sia.


Kenapa tidak mempan? Batin Prapto merasa bingung. Dia mengangkat tangannya dan dengan tega menancapkan salip itu ke perut Alex hingga Noa berteriak histeris.


"Tidak!!!" Teriak Noa tentu merasa tidak tega melihat adegan keji itu.


Alex masih tersenyum, dia bahkan tertawa nyaring penuh ejekan menatap Prapto yang mulai berjalan mundur.


"Kau sedang bermain-main Pak." Alex mencabut salip itu lalu mengangkat kemejanya. Terlihat jelas lubang bekas salip kembali menutup dengan sempurna.


"Aku masih ada senjata lain." Prapto kembali merogoh celananya lalu melemparkan bawang putih pada Alex.


Tentu saja Alex bisa membaca gerakan kaki tangan Prapto, sehingga kini tubuhnya sudah berpindah dengan cepat untuk menghindari sabetan pisau lipat.


Tak!!!


Klunting!!


Alex menekuk pergelangan tangannya lalu memojokkannya tubuhnya ke dinding tepat di samping Prapto.


Braaaakkkkk!!!


Pintu tertutup sendiri ketika tangan Alex mengarah ke sana. Lono terpekik kaget begitu pun Noa.


"Berani sekali kau!!!" Alex menunjukkan wajah aslinya. Mata Prapto melebar begitupun kaki tangannya yang kini mulai mengelepar karena kehabisan nafas.


Lono yang sudah pernah melihat itu, masih saja merasa takut walaupun dia menikmati pertunjukan yang terjadi di hadapannya. Menurutnya itu pantas di dapatkan Prapto mengingat kekejian dan rasa tidak manusiawinya.


Taring Alex mencuat keluar dan menghisap habis darah kaki tangan Prapto hingga tidak tersisa. Tubuhnya langsung di lebur karena Alex tidak ingin jejaknya terendus oleh aparat kepolisian.


Dengan cepat tangan Alex beralih pada leher Prapto yang sudah terkencing di celana. Dia sekarang percaya dengan cerita Lono yang awalnya di anggap sebagai bualan.


"Aku percaya. Maafkan aku Tuan." Ucap Prapto memohon. Raut wajahnya terlihat ketakutan sehingga Alex merenggangkan cengkraman tangannya. Dia tidak ingin membuat Noa merasa takut dengan kekejiannya.


"Berhenti memburunya. Dia Istriku." Noa menddesah lembut. Kata-kata itu mengingatkannya pada Lucas sehingga tiba-tiba dadanya terasa sesak.


"Baik Tuan." Aku akan mencari cara untuk mendapatkannya lagi..

__ADS_1


Suara hati Prapto membuat Alex kembali mencengkram lehernya dan langsung mengeksekusi Prapto saat itu juga. Setelah tubuh Prapto menjadi abu, dia membalikkan badannya menatap ke arah Noa yang matanya tengah berkaca-kaca.


"Sudah selesai." Ucap Alex berjalan menghampiri Noa yang di fikirnya tengah ketakutan." Jika aku tidak memusnahkan mereka. Kau tidak akan bisa hidup dengan tenang." Imbuhnya menjelaskan.


"Mereka pantas mendapatkannya." Jawab Noa seraya menyeka air mata.


"Lalu kenapa kamu menangis?"


Aku merindukan Tuan Lucas..


Hati Alex berkedut nyeri saat dia mendengar suara hati Noa. Sungguh itu membuatnya terbakar cemburu meski rasanya tidak akan mudah untuk bisa merebut simpatik Noa yang hatinya sudah berlabuh pada Lucas.


"Ikut aku." Alex merangkul kedua pundak Noa erat.


"Maafkan saya Nona." Sahut Lono merasa tidak enak.


"Anda yang sudah mengatakannya?" Lono menggeleng pelan.


"Bukan saya. Tapi Bram, teman saya."


"Perkerjakan ini tidak baik. Anda jangan mengantungkan hidup di tempat ini. Jika anda mau. Saya bisa membicarakan perkerjaan lain pada Tuan Bastian." Niat itu terlintas begitu saja. Noa tidak ingin ada seorang gadis yang terjebak seperti dirinya.


"Bukan hanya saya yang membutuhkan perkerjaan. Tapi teman-teman juga."


"Datanglah ke rumah. Anda temui Tuan Bastian dan katakan keluh kesah anda. Mungkin saja dia bisa membantu dengan memberikan perkerjaan yang layak." Lono tersenyum seraya mengangguk-angguk. Dia tentu merasa bahagia mendengar penawaran baik dari Noa.


Ya Tuhan.. Nona Noa seperti bidadari surga. Dia baik sekali.. Semoga Tuhan senantiasa menjaganya..


Bukan hanya cantik. Wanita ini memiliki hati seputih kapas..


"Saya akan datang ke sana."


"Hm." Noa memasang wajah datar. Menatap tangan kekar yang masih merangkul pundaknya erat.


"Kau bisa rahasiakan kejadian tadi?"


"Iya Tuan Alex. Rahasia terjamin aman." Alex mengiring Noa keluar dari bangunan itu dan menghilang untuk membawa Noa kembali ke kastil miliknya.


Tidak perlu waktu lama. Kini keduanya sudah berada di dalam kastil dan duduk saling berhadapan.


"Kenapa tidak melawan?" Tanya Alex sejak tadi menikmati paras cantik Noa yang hanya berbalut selimut.


"Terimakasih untuk pertolongannya tadi." Ucap Noa lirih.


"Aku dengan senang hati melakukannya." Noa tersenyum namun maniknya berpaling dari tatapan Alex." Apa yang kau sukai dari Lucas?" Noa menegakkan pandangannya.


"Saya tidak tahu Paman." Terdengar dengusan lolos begitu saja.


"Aku ingin jadi Suamimu bukan Pamanmu. Katakan. Apa yang kau sukai dari Lucas." Tanya Alex lagi.


"Tuan Lucas satu-satunya Suami saya. Akan lebih baik jika saya mati daripada harus berkhianat darinya."


"Hidup denganku daripada kau menyia-nyiakan hidupmu."


"Hidup saya hanya untuk nya Paman." Jawab Noa cepat. Maniknya menatap tajam ke arah Alex." Tolong Paman. Jangan lontarkan perkataan itu lagi. Saya hanya mencintainya. Saya tidak ingin berkhianat sesuai janji yang sudah kita sepakati." Alex mendengus lagi dan lagi. Dia tidak menyangka jika kesetiaan Noa pada Lucas melebihi Tiara yang sempat tergoda akan meninggalkannya.


"Buang keinginan itu!! Lucas akan menikah malam ini." Sahut Elena yang sudah berdiri di ambang pintu kastil Alex.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2