Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
82


__ADS_3

Alex terdiam dan sedang menimbang apa saja yang bisa di lakukan jika dia nantinya menjadi raja. Ada senyum jahat membingkai sebelum akhirnya dia angkat bicara untuk mengambil keputusan.


"Baik. Ku terima tugas itu walaupun hanya sementara sampai saat nanti Lucas siap." Jawab Alex tegas. Stefanus tersenyum seraya mengangguk. Dia merasa puas mendengar jawaban dari Alex.


"Ada yang keberatan?" Alex mengedarkan pandangannya ke tamu yang duduk di sekitarnya.


"Kami setuju Baginda." Jawab para tamu serentak.


"Satu Minggu lagi kita akan kembali bertemu di sini untuk simbol penyerahan kekuasaan pada Alexander." Ucapan itu menjadi penutup pada sidang kali ini. Setelah para tamu pergi, tiba giliran untuk mengambil keputusan hukuman yang cocok untuk Elena.


Stefanus sengaja memulangkan para tamu dahulu karena orang yang paling pantas memutuskan hukuman bukanlah rakyat, melainkan Ana Maria.


"Semua keputusan ada padamu Ana. Jika kau ingin memusnahkan makhluk itu. Lakukan." Stefanus menyodorkan sebuah pedang yang memiliki kemampuan memusnahkan para Vampir. Ana mengambil pedang itu tanpa berprotes.


Patresia terdiam dengan mata berkaca-kaca. Menatap dengan wajah memohon ke arah Ana. Dia berharap Ana tidak memusnahkan Elena.


"Musnahkan aku makhluk lemah!! Itu lebih baik daripada aku harus melihat kalian tertawa di atas penderitaan ku!!" Patresia berjalan menghampiri Elena untuk menyadarkannya.


"Mama bilang apa. Aku mohon Mama, akui kesalahannya agar Ibu Ana meringankan hukuman Mama."


"Lebih baik Mama musnah daripada harus melihat mereka berbahagia!!" Ana berjalan menghampiri Elena dengan pedang Stefanus ada di tangannya.


"Maafkan Mama saya Ibu Ana." Ucap Patresia memohon.


"Itu keinginannya sendiri." Dengan gerakan cepat Ana mengayunkan pedangnya seolah akan menebas kepala Elena. Namun pedang itu berhenti begitu saja tepat di samping lehernya. Elena meringis kesakitan karena perih luar biasa sedikit di rasakan.


"Kenapa berhenti!! Lakukan!!" Tantang Elena berteriak. Ana menurunkan pedangnya lalu tersenyum teduh.


"Seperti yang kau lakukan padaku dulu Elle. Beberapa kali aku ingin kau membunuhku tapi tidak pernah kau turuti. Kau ingin aku mendengar bagaimana kejinya dirimu menghancurkan keluarga kecilku secara perlahan. Sekarang, Tuhan ku sudah menolong. Kini kau yang ada di posisi ku."


"Lalu kau akan menyiksa Patresia agar aku menderita." Ana tersenyum tipis seraya memutar tubuhnya. Pedang di tangannya di serahkan pada Stefanus dan tangannya beralih pada pundak Patresia.

__ADS_1


"Aku bukan mahluk sekeji itu. Patresia sudah ku anggap Putri ku. Aku akan mengurung mu tepat di sana." Menunjuk ke sudut aula." Kau akan berada di sana agar kau bisa merasakan bagaimana indahnya hidup tanpa ambisi." Tentu saja Elena mendengus mendengarnya. Itu hukuman yang terdengar memuakkan mengingat hatinya yang begitu busuk dan menghalalkan segala cara untuk bisa menggapai ambisi nya.


"Terimakasih Ibu Ana." Patresia membalas pelukan Ana. Setidaknya aku bisa melihatmu setiap hari Mama..


"Sama-sama Nak. Kau tidak berterima kasih padaku Elle." Tanya Ana tersenyum mengejek.


"Bunuh aku Stefanus!! Aku tidak ingin melihat kalian lagi!!"


"Keputusan sudah di ambil. Kau akan di kurung seumur hidup di sudut ruangan sesuai permintaan Ana." Elena berteriak nyaring. Dia tidak terima dengan hukuman tersebut walaupun para prajurit kerajaan langsung menyeretnya masuk." Ayah sudah menyiapkan gaun untukmu dan Lucas. Ayah harap kalian memakai itu untuk pesta malam ini." Stefanus menatap ke Ana yang terlihat belum juga memaafkannya sementara Alex pergi begitu saja.


"Dengan senang hati Ayah." Jawab Noa sopan.


"Katakan pada Ibu mu untuk memaafkan Ayah."


"Aku memaafkanmu jika Lucas sudah memaafkanmu." Jawab Ana lirih.


"Maafkan Ayah Lucas. Ayah berjanji tidak akan melakukan keegoisan lagi dan lebih teliti dalam mengambil keputusan." Lucas terdiam tidak bergeming." Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktu bersama Ibu mu setelah kekuasaan di serahkan." Imbuhnya memohon.


"Aku bisa apa jika kamu yang meminta. Aku akan melupakan semuanya Ayah. Tapi jika Ayah kembali menyakiti Ibu. Aku akan membawanya pergi darimu." Stefanus tersenyum lega begitupun Ana yang sesungguhnya merindukan kebersamaannya bersama Stefanus.


"Ayah berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu bagaimana sayang?" Noa melepaskan genggaman tangannya dan beralih pada tangan kanan Ana. Dia menggiring Ana berjalan ke arah Stefanus lalu meraih jemari Stefanus dan mempersatukan keduanya.


"Mama terlalu malu. Sebaiknya kalian habiskan waktu berdua. Kami akan pergi sebentar untuk berkeliling." Noa melepaskan genggamannya seraya menatap kedua tangan Ana dan Stefanus yang saling bersentuhan.


"Hati-hati Nak."


"Iya Ma. Ayo sayang." Noa mengedipkan sebelah matanya untuk memberikan isyarat pada Lucas agar segera pergi dari sana.


Stefanus menatap kepergian Lucas begitupun Ana. Keduanya terlihat masih sama-sama canggung setelah perpisahannya selama ratusan tahun.


"Kita akan memiliki cucu setelah ini." Stefanus mengawali pembicaraan untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Noa sangat spesial. Dia tidak harus bersusah payah untuk mengandung anak Lucas."


"Dia pantas menjadi pendamping Lucas. Aku menyesal akan memisahkan mereka." Ana yang sejatinya seorang penyabar dan pemaaf, sudah tidak lagi memikirkan hal buruk yang terjadi di masa lalu.


"Jika dia tidak tersulut emosi. Kamu tidak akan menemukan aku. Jeruji itu sangat kuat. Jika aku berusaha menyentuhnya. Tanganku melepuh."


"Tidak ada seorangpun yang mampu melawan takdir. Semua akan terungkap walaupun wanita itu berusaha menyembunyikan mu serapi mungkin."


"Jangan membahasnya lagi. Aku tidak ingin mengingatkannya." Stefanus melingkarkan tangannya ke pinggang Ana lalu merapatkannya tubuhnya.


"Kita akan mengenang itu untuk pembelajaran. Aku merindukanmu Ana." Keduanya saling menatap hangat hingga penyatuan bibir tidak lagi tertahankan.


Stefanus menunduk, menekan tengkuk Ana kuat untuk melampiaskan rasa rindunya. Tangan Ana bergelayut pada pundak kokoh Stefanus sebelum akhirnya kedua kakinya ikut terangkat lalu di ikatkan pada pinggang Stefanus.


"Ingin melakukannya di sini." Tanya Stefanus dengan suara berat. Dia memperhatikan setiap inci paras cantik Ana sebelum akhirnya kembali melummat bibirnya lagi dan lagi.


"Kita baru saja bertemu tapi kau sudah.. Ahhh.. Aku mencintaimu Tuan Stefanus." Dessahan lolos begitu saja saat Stefanus mulai mencumbui leher jenjang Ana dengan sebuah gigitan melenakan.


Tanpa bertanya, Stefanus membawa tubuh Ana ke kamar utama miliknya. Pintu tertutup keras tanpa sentuhan. Tubuh Ana langsung di tindih bahkan gaunnya dengan cepat berserakan di lantai marmer tersebut.


Ana menjerit, seiring dengan laju pinggang Stefanus. Bibirnya setengah terbuka, bahkan keringat mulai membanjiri tubuh dan wajahnya padahal percintaan baru saja di mulai.


"Aku tidak sekuat dulu sayang."


"Aku akan melakukannya dengan perlahan sayang." Jawab Stefanus seraya terus bergerak. Menikmati melodi dessahan Ana yang sudah lama tidak di dengar. Beberapa kali dia menyeka keringat yang keluar di sekitar wajah Ana dan itu semakin membuatnya menggila.


Ana merintih nikmat dengan mata terpejam. Menikmati hujaman milik Stefanus yang menyeruak masuk menghantam rahimnya.


"Sakit sekali.. Tapi jangan berhenti." Stefanus tersenyum. Dia merasa beruntung bisa mendengar ucapan itu lagi.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2