Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
73


__ADS_3

"Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita itu." Menunjuk ke arah Elena." Biarkan aku membawa Lucas pergi. Aku akan merawatnya." Ana yang tidak ingin banyak bicara, mencoba mencari jalan tengah.


Tidak ada hal lain yang di fikirkan kecuali Lucas, darah dagingnya. Sepanjang hari dia memikirkan Lucas, merindukan Lucas walaupun dia hanya mampu berharap di dalam jeruji.


"Tidak bisa begini Ana. Semuanya harus jelas."


"Tidak perlu di jelaskan lagi. Semuanya sudah jelas. Aku ingin hidup dengan tenang bersama anakku agar kau juga bisa hidup dengan tenang bersama Istri mu." Sejujurnya, Ana merasa cemburu walaupun perasaan itu tidaklah penting. Dia yang sejatinya tidak berkhianat, masih menjaga perasaannya untuk Stefanus hingga sekarang.


"Lucas anak kita."


"Kamu tidak pantas di sebut seorang Ayah. Bagaimana mungkin kamu memperlakukan anak kita seperti ini." Menunjuk ke arah Lucas." Lihatlah dia Tuan! Dia sampai seperti ini karena keegoisan mu. Kamu tega memperlakukan anak kita seperti ini hanya untuk menuruti wanita itu." Stefanus menghela nafas panjang seraya melihat keadaan Lucas yang belum sadarkan diri.


"Dia akan sadar. Tapi tolong jelaskan padaku. Bagaimana kamu masih hidup."


"Tanyakan itu padanya. Aku tidak mau mengungkit masalah ini." Ana merasa tidak berhak membongkar kebusukan Elena yang sudah terendus.


"Aku harus tahu kebenarannya."


"Untuk apa? Semua sudah terlanjur Tuan. Hatimu sudah ada orang lain. Menjelaskan tentang masa lalu itu, sama halnya dengan membuang waktu." Ana berpaling sementara Stefanus menatapnya lekat.


"Kamu cemburu?"


"Setelah Lucas sadar. Aku akan pergi dari sini." Meskipun Ana tahu jika ini bukanlah salah Stefanus. Namun Ana berusaha melupakannya sejak Stefanus memutuskan menikah dengan Elena.


Kala itu hatinya begitu sakit, mendengar pesta pernikahan mewah yang di gelar. Dia hanya mampu menangis di dalam jeruji, membayangkan bagaimana meriahnya pesta juga mendengar dessahan malam pertama antara Stefanus dan Elena.


"Aku menikah lagi karena kau meninggalkan Lucas. Aku tidak bisa mengurusnya sendiri. Aku membutuhkan seorang wanita..."


"Ya aku tahu. Itu hanya masa lalu. Aku tidak ingin mengungkit itu lagi." Sahut Elena cepat. Perasaan cemburu masih terasa menyesakkan dadanya.


"Bukankah kau membenci Lucas? Dulu kau berkata itu padaku. Tapi kenapa kau sekarang perduli padanya." Ana bungkam. Dia benar-benar ingin hidup tenang dan memilih kembali berjongkok untuk memeriksa keadaan Lucas." Jangan kau diam Ana! Katakan padaku kenapa kau berubah." Imbuh Stefanus menjadi tidak sabar.


"Mungkin semuanya butuh waktu Baginda." Sahut Patresia menjadi penengah." Sebaiknya kita bicarakan ini nanti untuk memberikan ruang pada Ibu Ana." Stefanus mengangguk pasrah dengan manik yang tidak terlepas dari Ana.


Aku merindukanmu Ana.. Sangat.. Aku ingin memelukmu tapi kenapa sikapmu masih sedingin itu..


Stefanus berjalan menghampiri Noa dan memperhatikannya sejenak. Tatapannya beralih pada Alex yang masih tidak sadarkan diri.


"Bawa mereka ke dalam." Dia menantuku.. Cantik sekali..


"Biar dia tidur di kamarku." Sahut Patresia sudah berdiri di samping tubuh Noa yang terkapar.


"Hm urus dia." Stefanus memutar tubuhnya dan kembali menatap Ana." Kamu sebaiknya beristirahat di kamar kita. Sudah lama aku tidak menempatinya semenjak kau pergi." Imbuhnya lirih.


"Aku ingin tidur bersama Lucas." Stefanus memberikan isyarat pada pengawal kerajaan untuk mengangkat tubuh Lucas sesuai dengan keinginan Ana.

__ADS_1


Setelah Ana dan Patresia pergi. Tatapan manik Stefanus berubah tajam saat dia melihat ke arah Elena. Berbagai tebakan buruk bersarang di otaknya walaupun untuk saat ini dia belum menemukan bukti.


"Penjarakan dia ke ruangan bawah tanah!!" Pinta Stefanus lantang.


"Maksudmu aku Baginda?" Menunjuk ke dadanya sendiri.


"Hm kau."


"Apa salahku?"


"Ini semua belum jelas. Kau tidak boleh pergi kemanapun, apalagi untuk kabur. Setelah kau terbukti menyekap Ana, aku tidak akan membiarkanmu hidup!"


"Aku tidak bersalah. Bukankah Baginda tahu jika aku tidak memiliki kemampuan untuk membuat sebuah penjara." Pedro tersungging lalu berjalan menghampiri Stefanus dan menyerahkan sebuah kitab mantra kuno.


"Maaf Baginda. Ini saya temukan di reruntuhan. Bukankah itu kitab Baginda yang hilang sejak lama." Elena menelan salivanya kasar. Kitab yang sebagian besar berisi mantra, cukup membuktikan kejahatannya.


Stefanus mengambil kitab itu lalu membukanya tepat di lipatan sebuah halaman. Di sana di jelaskan sebuah mantra untuk membangun jeruji khusus agar penghuni di dalamnya hidup selamanya.


"Penjarakan dia!!" Pinta Stefanus lagi. Matanya membulat merah menatap geram ke arah Elena.


"Mungkin Pedro yang mengambil." Teriak Elena membela diri.


"Pedro bahkan tidak pernah masuk ke kamarku! Kitab ini ku simpan dalam kotak khusus. Hanya kau, Ana dan Lucas yang tahu di mana letak kotak tersebut." Raut wajah Elena berubah pucat. Dia tidak menyangka jika hari bahagianya berubah menjadi bumerang yang sudah mengarah ke arahnya.


"Tolong dengarkan penjelasan ku Baginda." Elena meronta, dia tidak ingin di tempatkan pada ruang penjara yang terletak di bawah tanah.


"Kenapa kau berkhianat Pedro!!" Pedro tidak bergeming dan terus berjalan mengawal." Bukankah aku Ibu mu juga!!" Imbuhnya berharap Pedro dapat memihak nya.


"Saya sangat menghormati anda sebagai permaisuri juga seorang Ibu. Tapi perbuatan anda kemarin menjadi bukti jika saya hanya di manfaatkan." Elena mendengus sambil memikirkan cara untuk merajuk Pedro.


"Ibu terpaksa pedro."


"Saya juga terpaksa sebab saya hanya seorang menantu dan panglima kerajaan. Tugas saya menuruti apa kata raja. Bukan permaisurinya." Mata Elena melebar. Dia tidak menyangka jika Pedro mampu berucap tidak sopan padanya.


"Sialan kamu Pedro!!"


"Masukkan dia!!" Pinta Pedro tanpa menatap ke arah Elena. Keinginan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama membuatnya harus bersikap tegas seperti sekarang. Maafkan aku Patresia. Aku tidak ingin Mama Elena melakukan kejahatan lagi..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Patresia menatap kagum ke arah Noa yang tengah berbaring di tempat tidurnya. Dia melakukan itu berulang kali karena merasa terkagum-kagum dengan wanita yang berhasil merebut hati Lucas.


"Bagaimana dia bisa secantik ini. Dia spesial, itu kenapa Lucas tertarik padanya." Gumam Patresia belum berhenti kagum.


"Ugggh.." Noa menggeliat seraya menyipitkan matanya menatap sekitar yang asing. Langsung saja dia duduk tegak saat menyadari kehadiran Patresia." Kamu." Imbuhnya dengan mata membulat.

__ADS_1


"Kenalkan. Aku Patresia." Tangannya terulur dan dengan ragu Noa menyambutnya.


"Aku Noa." Bukankah dia Istri Lucas? Kenapa aku masih hidup? Noa yang tidak mengingat sama sekali kejadian tadi. Merasa bingung dengan keadaannya yang baik-baik saja.


"Kamu masih tetap Istri satu-satunya Lucas. Apa kamu tidak mengingat kejadian tadi?" Noa menggeleng pelan. Dia mencoba mengingat walaupun itu perkerjaan yang sia-sia.


"Kamu tidak jadi menikah?" Patresia tersenyum, dia sangat menyukai nada bicara Noa yang lembut dan mendayu-dayu.


"Aku sudah menikah tapi bukan dengan Lucas."


"Siapa yang menolongku tadi?"


"Kamu tidak mengingat itu Noa?" Kepalanya kembali di gelengkan seraya fokus menatap Patresia." Kamu yang menolong dirimu sendiri." Imbuhnya menjelaskan.


"Bagaimana mungkin?"


"Dari mana kamu dapat keistimewaan itu?" Noa memasang wajah bingung sebab dia tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak mengerti."


"Kau berubah menjadi makhluk bersayap menyerupai naga dan melenyapkan para prajurit raja Stefanus." Noa menghela nafas panjang, ucapan mustahil yang di lontarkan Patresia terdengar aneh.


"Aku hanya manusia biasa Nona."


"Hm begitu." Mungkin itu terjadi di alam bawah sadarnya.. "Panggil aku Patresia. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu." Noa tersenyum manis, mendengar keramahan makhluk Vampir di hadapannya.


"Hidupku sangat membosankan sebelum aku bertemu dengan Tuan Lucas." Seketika manik Noa melebar saat mengingat keadaan Lucas." Apa dia baik-baik saja?" Imbuhnya panik. Noa berniat berdiri namun Patresia mencegahnya.


"Dia baik-baik saja. Lucas sedang bersama Ibunya. Mereka butuh waktu bersama."


"Ibu Tuan Lucas?" Patresia mengangguk." Bukankah dia sudah meninggal?" Patresia memalingkan wajahnya. Dia sudah bisa menebak jika itu semua perbuatan Elena sehingga Patresia merasa takut akan hukuman berat yang akan menanti Elena.


"Ceritanya masih belum jelas Noa. Aku juga tidak mengerti kenapa Ibu Ana masih hidup."


"Apa Mama Elena Ibu mu?" Patresia mengangguk pelan.


"Daripada membahas itu. Aku ingin tahu kehidupan manusia seperti apa."


"Apa kamu tidak pernah ke kota?"


"Tidak. Aku selalu berdiam di lingkup kerajaan. Aku ingin pergi ke sana sesekali jika ada seseorang yang ingin ku kunjungi." Noa tersenyum begitupun Patresia.


"Aku akan mengajakmu berkeliling jika kamu mau."


"Tentu saja Noa. Itu penawaran yang bagus." Patresia mencoba menutupi kekhawatirannya meski cara itu tidak cukup ampuh untuk menyembunyikan mimik wajahnya. Meskipun dia tahu Elena wanita yang jahat, namun sebagai seorang anak tentu ada rasa tidak rela melihat Ibu kandungnya di hukum berat.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2