
Sambil menunggu kedatangan Lucas dan Noa, Bastian menemani Norman meski untuk masalah pembayaran sudah di selesaikan.
"Berapa lama mereka menikah Pak." Tanya Norman masih saja merasa tidak rela menerima kenyataan jika wanita pujaannya sudah menikah.
"Saya baru tahu kemarin. Tapi ku rasa belum lama sebab bulan lalu, Tuan Lucas masih sendiri." Norman mengangguk-angguk seraya menatap jalanan kawasan perumahan elit yang sepi.
"Beruntungnya Tuan Lucas. Aku mencoba menebus Nona Noa pada si gerrmo itu dengan tiga milyar uang. Tapi dia tidak juga melepaskannya dan malah memblokir nomerku." Bastian menoleh dengan bibir setengah terbuka.
"Gerrmo?" Tanyanya terbata.
"Hm. Bapak tidak tahu jika Nona Noa dulu berkerja sebagai wanita malam kelas atas. Satu jam bersamanya harus merogoh kocek sebesar 80 juta. Itupun mengantri terlebih dahulu dengan pelanggan yang lain." Bastian menelan salivanya pelan. Dia tidak menyangka jika wanita cantik yang terlihat terhormat itu dulunya seorang wanita penghibur.
"Dia tidak seperti wanita penghibur." Norman tersenyum tipis.
"Itulah yang membuat spesial. Aku sendiri belum tahu rasanya sebab nomerku sudah terblokir lebih dulu."
"Itu kenapa Tuan tidak ingin anda membahas masa lalu."
"Hm begitulah."
Keduanya bungkam, ketika mobil Lucas terlihat memasuki pekarangan seluas 25 meter persegi. Mereka tentu tidak ingin menyulut emosi Lucas seperti tadi. Mereka memakluminya karena sudah selayaknya seorang Suami akan marah jika Istri nya di gunjing atas masa lalu buruknya.
Noa terlihat anggun dengan dress selutut yang di pakainya. Gaya rambutnya sekarang, menambah kesan seksi namun Norman dan Bastian lebih memilih mengalihkan pandangannya.
"Ini bagus sekali." Puji Noa menatap bangunan kokoh yang berdiri di hadapan.
"Em semua pembayaran sudah saya selesaikan Tuan. Saya tidak bisa menemani."
"Hm kau boleh pergi." Setelah tersenyum pada Noa dan Norman. Bastian melangkah pergi menuju ke mobilnya.
"Mari saya antar melihat-lihat ke dalam."
Lucas dan Noa di giring masuk melihat-lihat setiap ruangan yang ada di rumah tersebut. Norman dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang Noa lontarkan meski Lucas sejak tadi hanya diam.
"Bagaimana Nona? Jika tidak suka, saya antarkan ke lokasi lain."
"Tidak Tuan. Saya suka dengan rumahnya."
__ADS_1
"Em baiklah. Ini kuncinya." Norman menyerahkan kunci pada Lucas agar tidak terjadi !salah faham." Besok sudah bisa di tempati. Saya membawa kunci cadangannya untuk memasukkan perabotan rumah sebagai bonus." Noa mengangguk seraya tersenyum menatap ke Lucas.
"Kamu suka sayang?" Tanya Noa memastikan jika pilihannya sesuai dengan keinginan Lucas.
"Asal kamu suka. Aku juga suka." Sebisa mungkin Norman tidak berbicara dalam hati. Dia menahan itu hingga keringat dingin mengucur di sertai mimik wajah aneh.
"Aku suka dan sangat suka. Kita bisa menanam beberapa tanaman di sekitar rumah."
"Oke Baby. Sudah?"
"Iya sudah."
"Kita akan bertemu Paman sebentar lalu ke makam Mama."
"Oh iya. Aku lupa jika ada janji dengan paman juga. Kalau begitu. Kita permisi Tuan. Terimakasih."
"Sama-sama Nona. Saya juga berterimakasih." Noa tersenyum sejenak dan berlalu pergi masuk mobil. Setelah mobil melaju cukup jauh, Norman terduduk lemah di teras dengan tas kerjanya.
"Sakit sekali hu hu hu. Aku mengumpulkan uang hanya agar bisa berkencan dengannya satu malam saja tapi.. Itu hanya mimpi. Noa ku sudah menjadi milik orang lain."
Wuuuuusssshhhhhhhh
Tiba-tiba saja tas kerja Norman terpental membentur tembok. Norman melongok seraya menatap sekitar yang sepi bahkan angin pun tidak ada.
"Astaga!!! Ampun Tuan!!" Teriaknya ketakutan. Dia bergegas berdiri lalu memungut tasnya dan berlari menuju mobilnya." Saya berjanji tidak akan membahas Istri anda." Norman berfikir jika Lucas memiliki ilmu kebatinan dan menganggap jika itu tadi perbuatan Lucas.
Tapi tebakannya memanglah benar. Selama Lucas masih bisa mendengar. Dia tidak rela jika ada seseorang yang menyebut nama Noa apalagi sampai memikirkannya.
"Apa yang lucu sayang?" Tanya Noa ketika melihat Lucas tersungging.
"Aku senang bisa bertemu dengan Paman. Sudah ratusan tahun kita tidak bertemu." Noa tersenyum tipis seraya menatap keluar jendela. Dia memikirkan sesuatu yang memang sudah ada sejak Lucas menyebutkan masalah umurnya.
Umur manusia yang hanya bisa bertahan puluhan tahun, sedikit membuat Noa risau. Dia mulai mempertanyakan tentang, apakah Lucas akan menggantikannya dengan wanita lain jika dia sudah tidak ada di dunia ini?
Pertanyaan itu memenuhi otaknya. Noa mengecup pundak Lucas lembut lalu bersandar lemah di sana. Mencoba menahan rasa ingin mengeluh di dalam hati. Agar Lucas tidak tahu kerisauannya.
"Masih mengantuk Baby?" Tanya Lucas meraih jemari Noa dan menyetir dengan satu tangan.
__ADS_1
"Tidak sayang."
Mobil Lucas terparkir di sebuah Cafe. Dari jauh, Alex sudah melambaikan tangannya ke arah Lucas yang baru saja datang.
Lagi lagi Alex terkesima dengan kecantikan Noa yang memiliki daya tarik seperti Tiara. Alex tentu merasa aneh, sebab sudah sejak ratusan tahun yang lalu dia tidak lagi bisa tertarik pada seorang wanita. Tapi dia malah menaruh hati pada wanita yang merupakan Istri keponakannya.
"Aku fikir lupa." Sapa Alex berdiri untuk mempersilahkan keduanya duduk.
"Maaf Paman. Tadi aku melihat rumah yang baru kita beli." Alex mengangguk-angguk sembari sesekali melihat ke arah Noa.
"Beri aku alamatnya agar kita bisa saling berkunjung."
"Hm nanti ku beri. Lalu Paman tinggal di mana?"
"Aku tinggal di tempat agak terpencil. Cukup jauh dari sini dan harus melalui jalan persawahan. Bagaimana caramu menyembunyikan ini semua dari Ayahmu." Tanya Alex mulai membahas kesalahan fatal yang sudah di lakukan Lucas.
"Aku berkata akan menetap di sini."
"Kamu tidak bisa bersembunyi terus." Lucas mengangguk-angguk.
"Sampai dia hamil dan aku akan jujur atas hubungan ku." Alex tertawa renyah. Dia menebak jika cara itu tidak akan membuat Ayahnya luluh.
"Itu tidak akan berhasil Lucas. Bukankah sebaiknya kau sembunyi terus agar keselamatan Istri mu terjaga." Lucas menoleh ke arah Noa yang memasang wajah biasa saja sebab sebelumnya mereka memang sudah membahas ini." Ayahmu berotak batu setelah manusia itu meninggalkan dia dan menelantarkan mu begitu saja." Lucas terdiam dengan jemari yang saling menggenggam.
"Manusia siapa?" Tanya Lucas.
"Kau tidak tahu?"
"Tidak. Katakan Paman. Apa maksudmu?"
"Manusia itu. Ibu kandung mu." Raut wajah Lucas berubah. Dia tidak tahu menahu soal itu karena selama ini dia tidak pernah mempertanyakan itu.
"Bukankah Ibu ku sudah musnah?"
"Kau tahu jika bangsa kita tidak bisa musnah dengan mudah jika belum mencapai puluhan juta tahun. Apa kau percaya dengan alasan yang di lontarkan Ayahmu. Dia itu egois! Peraturan yang dulunya sudah terhenti karena dia jatuh cinta dengan manusia tapi harus kembali di terapkan karena Ibumu berkhianat dan meninggalkannya juga menelantarkan mu!!!" Lucas terkejut dengan kenyataan itu. Kenyataan jika ternyata Ibu kandungnya seorang manusia.
Apa benar begitu? Aku harus bertanya pada Ayah nanti malam!!
__ADS_1
🌹🌹🌹