
Seusai pesta di gelar, Lucas dan Noa langsung berpamitan untuk kembali ke kota. Ana yang masih sangat merindukan Lucas melepas kepergiannya dengan pelukan hangat yang begitu lama.
"Kita akan berkunjung seminggu lagi." Ucap Stefanus memang berniat tinggal beberapa hari di rumah Lucas sesuai dengan permintaan Ana.
"Jaga baik-baik Istrimu. Ibu akan ke tempatmu satu Minggu lagi."
"Tentu saja Ibu. Istri ku adalah nyawaku. Aku akan menjaganya dengan sangat baik." Ana melepaskan pelukannya dan beralih pada Noa.
"Jika ingin sesuatu jangan di tahan. Lucas mu akan memenuhi itu semua." Noa tersipu mendengar candaan tersebut.
"Iya Ma. Aku tidak akan menahannya." Ana mengecupi wajah Noa seraya memanjatkan doa dalam hati.
Noa menggeser tubuhnya untuk berpamitan pada Stefanus. Dia meraih jemarinya lalu menciumnya penuh hormat.
"Maaf Ayah. Banyak hal yang perlu saya urus di rumah. Kejadian kemarin sedikit membuat pembantu saya merasa khawatir. Jika tidak segera pulang, mereka akan berfikir macam-macam soal keselamatan saya." Stefanus mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala Noa lembut.
"Keputusan sudah mencapai mufakat. Tidak perlu merasa sungkan. Lucas akan menjagamu dengan baik." Kini Noa berdiri saling berhadapan dengan Patresia.
"Aku menunggu kedatangan mu di rumah."
"Hm oke. Aku akan berkunjung bersama Ibu Ana satu Minggu lagi." Patresia memeluk tubuh Noa erat. Perkenalan singkat yang terjadi cukup membuat mereka memahami karakter masing-masing.
Setelah selesai berpamitan, Noa dan Lucas melesat pergi meninggalkan aula kerajaan.
"Aku tidak melihat Alex sejak tadi."
"Beliau pulang Baginda." Sebelum pergi, Alex berpamitan dengan Pedro untuk pulang dan kembali esok. Tujuannya tidak lain untuk menghindari pemandangan yang menurut Alex tidak sedap.
"Bagaimana jika dia tidak juga kembali."
"Walaupun Paman orang yang kaku. Tapi dia tidak pernah ingkar janji." Sahut Patresia menimpali.
"Hm semoga saja dia datang besok. Sangat banyak hal yang perlu di jelaskan dan di pelajari sebelum menjadi raja." Patresia tersenyum sejenak lalu meraih lengan Pedro dan mengajaknya masuk ke dalam sementara Stefanus dan Ana memilih duduk sejajar sambil menikmati suasana malam itu.
๐น๐น๐น
Setibanya di rumah, Noa dan Lucas di sambut hangat oleh Bik Minah dan Bastian yang kebetulan belum tidur. Bima bahkan sudah berada di rumah sejak siang hari.
Awalnya Bastian kesulitan untuk membawa Bima pulang karena kesembuhan yang terasa ganjil. Dokter meminta izin untuk meneliti tubuh Bima tapi tentu saja Bastian tidak mengsetujui itu. Dia mengancam akan melaporkan pihak rumah sakit jika Bima terus di tahan hingga terpaksa para dokter memulangkan Bima.
"Syukurlah, Non baik-baik saja." Bik Minah melirik ke Bastian yang terlihat kaku.
"Tuhan menjagaku dengan baik Bik." Noa memeluk akrab Bik Minah yang sudah di anggap sebagai anggota keluarga.
"Kenapa kau bisa terluka Bima." Tanya Lucas ingin tahu.
"Makhluk itu punya lidah panjang Tuan. Dia mau menerkam Nona Noa tapi kekuatan saya tidak sebanding." Lucas mengangguk dengan wajah datar.
"Terimakasih untuk pembelaannya." Jawab Lucas lirih. Dia menjadi yakin jika Bima orang yang bisa di andalkan.
__ADS_1
"Itu memang tugas saya Tuan."
"Melakukan itu membutuhkan keberanian. Masih ingat pada pesanku. Untuk jangan menerima tamu jika tidak bisa melewati dua pohon yang tumbuh di kedua sisi pintu pagar." Bima mengangguk seraya menarik nafas panjang. Dia baru tahu kalau pesan Lucas di tujukan pada makhluk yang menyerangnya.
"Maksud Tuan, mereka?"
"Hm. Aku tidak mau lagi menutupinya. Aku bukan manusia dan sudah bisa di pastikan jika musuhku juga bukan manusia." Bik Minah dan Bima saling melihat seraya mengusap tengkuknya kasar." Istriku memiliki darah yang memicu datangnya para makhluk yang menyerang mu kemarin. Itu kenapa aku berpesan untuk tidak membiarkan Istriku berkeliaran malam-malam. Mereka akan terus memburu dan mengincar darahnya." Bima mengangguk. Dia sudah melihat kenyataan itu sendiri bahkan merasakan bagaimana sakitnya hantaman tangan dari makhluk itu." Ada yang ingin mundur? Aku persilahkan keluar sebab aku membutuhkan orang yang memiliki nyali besar." Imbuh Lucas menatap Bima, Bastian dan Bik Minah secara bergantian.
"Saya tidak ingin keluar Tuan. Saya sudah nyaman melayani Non Noa."
"Saya juga Tuan. Walaupun saya takut. Tapi saya tidak ingin keluar dari perkerjaan ini." Bastian ikut mengangguk. Lucas tersungging. Dia semakin terkesan mendengar kesetiaan para pembantunya.
"Bulan depan gaji kalian akan naik. Terimakasih untuk kesetiaannya."
Tuan Lucas baik sekali. Batin Bastian kagum.
"Tidak perlu Tuan. Gajian saya sudah banyak." Jawab Bik Minah merasa tidak enak.
"Iya Tuan. Itu sudah lebih dari cukup."
"Rejeki tidak boleh di tolak Bik, Bima." Sahut Noa menimpali.
"Terimakasih Tuan." Ucap Bima dan Bik Minah bersama.
"Hm iya. Untukmu Bastian. Malam ini kamu boleh bermalam di sini. Tapi besok pagi, carilah apartemen baru dan beritahu letakkan padaku. Aku akan memberi pelindung pada tempat itu agar Alex tidak bisa mengedus keberadaan mu."
"Siap Tuan." Lucas berdiri seraya mengulurkan tangannya ke arah Noa.
"Sebaiknya kalian beristirahat." Noa menyambut uluran tangan Lucas dan berjalan beriringan menaiki tangga menuju ke dalam kamar.
"Apa kamu tidak nyaman tinggal di kerajaan?" Cepat-cepat Noa duduk. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Lucas dengan ucapannya tadi.
"Bukan begitu sayang. Aku merasa nyaman di sana. Hanya saja, aku sudah menganggap rumah ini adalah rumah kita." Lucas tersenyum, dia berjalan menghampiri Noa dan duduk di samping nya.
"Aku juga menganggapnya begitu. Kamu tidak lapar Baby?"
"Semenjak aku memakan daging mentah. Aku hanya makan satu kali sehari. Sekarang aku menjadi tahu, kenapa kamu jarang makan."
"Jika ada stok darah banyak, aku tidak akan menolak nya. Tapi aku memang sudah terbiasa mengendalikan rasa lapar ku." Lucas meraih kedua jemari Noa dengan kedua tangannya lalu meremasnya lembut." Bisakah kamu memakai gaun seperti itu setiap hari. Aku merasa kamu pantas memakainya." Manik keduanya bertemu dan saling menatap.
"Di mana membelinya? Aku tidak tahu apa ada yang menjual." Noa tersenyum dengan wajah memerah merasakan perlakuan Lucas padanya.
"Ku pesankan khusus untuk mu. Kamu cukup bilang mau, lalu selebihnya aku yang akan mengurus."
"Tidak ada alasan bagiku untuk menolak sayang. Aku juga menyukai gaun semacam ini." Noa mencoba melepaskan remasan tangan Lucas." Kenapa kamu lakukan ini? Apa kamu ingin lagi?" Lucas terkekeh, bibirnya mencium sebentar pipi Noa lalu duduk tegak.
"Istirahatlah Baby. Besok kita lakukan lagi."
"Tunggu." Noa menahan Lucas yang akan pergi dengan meraih pergelangan tangannya." Serius kamu berkata itu?" Imbuh Noa membulatkan matanya.
"Iya Baby. Masih ada hari esok. Kita sudah melakukannya dua kali hari ini." Noa mendengus, tangannya melepaskan pergelangan Lucas begitu saja.
__ADS_1
"Bukankah tujuan kita pulang agar bisa melakukannya dengan leluasa." Terkuak sudah kenapa keduanya bersikukuh ingin bergegas pulang. Mereka ingin memadu kasih tanpa gangguan dari penghuni kerajaan.
"Kamu hamil Baby. Sebaiknya kamu istirahat. Besok kita lakukan lagi." Rajuk Lucas tidak ingin terjadi sesuatu dengan Noa juga calon bayinya. Tangannya terangkat dan hendak menyentuh pipi Noa untuk menenangkan perasaannya tapi tangan Noa menampisnya.
"Aku tidak suka orang yang ingkar janji sayang!!" Noa menyeret tubuhnya mundur lalu berbaring memunggungi Lucas.
Apa karena janin itu? Atau kekuatannya? Dia menjadi sangat agresif setelah aku memakaikan kalung itu.
"Oke kita lakukan." Lucas ikut berbaring lalu menelusupkan tangannya ke pinggang Noa.
"Tidak! Aku sekarang ingin tidur. Aku kehilangan selera!!" Noa mendorong tubuh Lucas menjauh lalu meletakkan sebuah guling di tengah." Jangan lewati batas ini." Menunjuk ke arah guling.
Astaga... Kenapa dia semarah itu hehe.. Lucu sekali.. Janin itu menunjukkan sisi lain dari Istri ku..
"Bagaimana jika kamu yang melanggar? Kamu lupa diri lalu memelukku." Noa mendengus lalu berpaling.
"Tidak mungkin! Aku tidur dengan sangat tenang."
"Oh baiklah. Selamat tidur Baby." Noa tidak merespon walaupun kedua maniknya masih terbuka. Sementara Lucas langsung berbaring sesuai permintaan.
Kenapa dia tidak memaksa? Batin Noa bergejolak. Dia sengaja berpura-pura lupa jika Lucas bisa membaca suara hatinya.
Aku pura-pura saja tidak tahu.. Aku ingin tahu bagaimana respon nya..
Beberapa saat kemudian. Noa menjadi sangat gelisah sebab sebenarnya, dia kesulitan tidur semenjak kepergian Lucas beberapa hari yang lalu.
Aku tidak akan bisa tidur! Kenapa dia diam saja!! Lucas tersenyum seraya membalikkan tubuhnya sehingga posisi Keduanya saling memunggungi. Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tidur? Tidak mungkin! Dia bilang jarang tidur..
Kegelisahan semakin melanda Noa namun Lucas masih sabar menunggu. Dia masih saja diam tidak bergeming hingga terpaksa Noa menyudahi keegoisannya dengan menyingkirkan guling lalu mendekap tubuh Lucas dari belakang.
"Bukan aku yang melanggar."
"Kamu sengaja kan. Kenapa tidak berprotes."
"Aku berjanji akan menuruti apapun kemauanmu. Aku tidak mau melanggarnya lagi apalagi tidak menurutinya." Noa menghela nafas panjang.
"Bisakah kamu menghadap ke sini sayang." Pinta Noa lirih.
"Tentu saja." Lucas memutar tubuhnya lalu membalas dekapan tangan Noa.
"Aku tidak bisa tidur tanpa mu." Noa memposisikan kepalanya untuk mendapatkan kenyamanan.
"Bagaimana caramu tidur saat aku tidak ada?"
"Jika terlalu lelah aku akan tertidur." Noa membenamkan kepalanya pada dada bidang Lucas." Sangat banyak kejadian yang terjadi saat kamu pergi. Dari kejadian itu aku sering kelelahan hingga tertidur. Selebihnya dari itu, aku tidak dapat tidur." Lucas membelai rambut Noa dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Aku selalu memikirkan mu. Mungkin itu alasan kenapa kamu tidak bisa mendapatkan kantuk mu. Maafkan aku Baby. Kejadian itu tidak akan terulang lagi."
"Aku juga memikirkan keselamatan mu."
"Ahh sudahlah. Apa kamu ingin melakukan itu sekarang?" Tanya Lucas menawarkan.
__ADS_1
"Tidak sayang. Aku kehilangan selera. Aku ingin tidur." Lucas mengangguk seraya tersenyum.
๐น๐น๐น