
Sesuai perintah. Sore itu Bastian membungkus makanan untuk Noa dengan pengawasan dari Alex.
Alex yang tidak bisa menembus pelindung tersebut. Menunggu Bastian di tempat yang sama. Dia percaya pada Bastian yang tidak akan bisa merencanakan sesuatu untuk mencurangi nya.
"Kenapa anda tidak mau pergi Tuan!" Ucap Noa geram. Kedatangan Bastian di anggapnya sebagai gangguan yang sangat memuakkan.
"Saya minta maaf Nona. Ampuni saya atas ucapan saya tadi pagi." Mimik wajah asli Bastian yang di perlihatkan, membuat Noa menyadari jika ada yang salah dari diri Bastian.
"Apa maksud anda Tuan?" Bastian menegakkan kepalanya dengan raut wajah menyesal.
"Saya terpaksa berkata demikian." Tuturnya berbisik." Tuan Alex menyuruh saya menggoda Nona saat Tuan Lucas pergi." Noa melebarkan matanya mendengar pernyataan Bastian." Jika saya tidak mau melakukan ini. Nyawa saya terancam Nona. Dia akan membunuh saya." Imbuhnya begitu berharap Noa bisa mengerti dengan posisinya.
"Alex tahu jika Tuan Lucas pergi?" Bastian mengangguk pelan. Apa mereka bersekongkol untuk menjebak Tuan Lucas?
Noa terdiam dan mencoba mencerna ucapan Bastian. Pengakuan yang di dengarnya, membuat Noa percaya jika Lucas sengaja di jebak.
"Sejak kapan Tuan?"
"Dua hari lalu Nona. Dia mendatangi saya dan mengancam."
Hari di saat aku bertemu Ibu tiri Tuan Lucas.. Ya Tuhan.. Apa Tuanku sedang dalam masalah besar sekarang. Lalu untuk apa Alex menyuruh Bastian merayu ku?
"Tujuannya apa Tuan?"
"Saya tidak tahu Nona. Saya hanya menjalankan tugas saja. Itu kenapa saya memberikan kendali perusahaan penuh pada Nona, karena saya takut sewaktu-waktu Tuan Alex membunuh saya." Noa menddesah lembut seraya memikirkan kemungkinan yang berputar di otaknya." Dia tidak bisa mendengar obrolan kita jika di tempat ini Nona. Jadi saya mencoba jujur agar Nona tidak salah faham pada saya." Imbuhnya melihat ke Noa yang masih tidak menjawab.
"Tuan Lucas sudah melindungi tempat ini. Paman Alex tidak bisa masuk karena dia Vampir. Em apa saya boleh meminta tolong pada anda?"
"Meminta tolong apa Nona?"
"Cari tahu apa alasan Paman Alex melakukan ini."
"Saya takut ketahuan Nona."
"Jika saya tidak tahu tujuannya. Saya juga tidak bisa menolong anda dari jeratan Paman Alex." Jawab Noa sedikit mengancam.
"Apa Nona bisa menolong saya?"
"Tuan bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Tempat ini sudah di lindungi jadi Paman Alex tidak dapat masuk. Tapi saya minta tolong untuk mencari info tujuan Paman Alex melakukan ini." Ucap Noa sedikit lembut. Dia mengerti jika lelaki di hadapannya masih berusaha menghormati Lucas.
"Bagaimana saya melakukannya Nona. Saya baru mengenal Tuan Alex dan tidak tahu soal seluk beluknya." Noa melihat ke jam dinding yang masih menunjukkan pukul empat sore. Maniknya beralih pada jendela dengan sinar matahari yang masih terang.
Kenapa Paman melibatkan manusia lain..
"Kita harus bersandiwara Tuan." Ucap Noa memasang wajah serius.
"Bersandiwara?"
"Hm iya. Aku akan berpura-pura tergoda agar kita bisa tahu tujuannya." Bastian mengangguk-angguk.
"Lalu keselamatan saya?"
"Selama Tuan berada di luar. Saya akan berada di samping Tuan agar Paman Alex tidak bisa melakukan sesuatu yang buruk."
"Apa tidak akan menjadi salah faham nantinya?" Noa terdiam sesaat. Otaknya berfikir keras tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
"Mungkin itulah tujuannya. Mereka ingin membuat Tuan Lucas salah faham dengan kita."
"Jika Tuan Alex menyukai Nona, itu masuk akal." Jawaban dari Bastian membuat Noa memikirkan hal yang sama.
Apa Paman Alex? Ah tidak mungkin. Dia adalah Paman Tuan Lucas tapi itu patut di curigai...
"Saya tidak tahu Tuan. Emmm.. Sebaiknya kita keluar untuk menyakinkan mereka jika aku sudah tergoda dengan Tuan Bastian." Noa berdiri di ikuti oleh Bastian. Dia tidak ingin membuang banyak waktu karena rasa khawatirnya pada keselamatan Lucas.
"Ke kemana Nona?" Bastian sudah di buat gugup karena pesona Noa yang memang terlihat begitu cantik.
"Ke taman dekat sini. Kita mengobrol di sana agar Paman Alex bisa mendengarnya." Dengan terpaksa Noa meraih lengan Bastian dan mengiringinya berjalan keluar.
"A apa harus bersentuhan Nona." Tanya Bastian gugup.
"Syuuuuutttttt. Pagar itu adalah pembatas untuk pelindung." Menunjuk ke pagar bagian depan rumah." Jangan bertanya soal kekhawatiran. Kita harus membahas bagaimana hubungan kita ke depannya." Imbuhnya menjelaskan.
"Hm baik Nona." Bastian menuruti apa perintah Noa demi rasa setianya pada Lucas juga keselamatannya.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke arah pintu gerbang. Bima menghampiri untuk menghadang langkah mereka.
"Mau kemana Non?" Tanya Bima sopan.
"Ke taman."
"Em Tuan Lucas berpesan untuk mengawal Nona kalau keluar rumah." Noa tersenyum karena ternyata Lucas begitu perhatian padanya.
"Aku hanya sebentar saja. Em sudah ada dia." Bima melihat dengan jelas bagaimana eratnya jemari Noa memegang lengan Bastian.
Aduh Gusti.. Apa Non Noa berselingkuh? Kenapa mereka mesrah sekali.. Dugaan itu tentu saja terlintas, mengingat Noa adalah seorang Istri yang seharusnya menolak bersentuhan dengan sembarangan lelaki.
"Saya takut Tuan Lucas marah pada saya."
"Tapi.."
"Ini perintah. Tetap di sini. Saya akan kembali sebelum matahari terbenam." Noa menggiring Bastian keluar dan berjalan menyusuri trotoar hingga keduanya sampai di sebuah taman kompleks.
Mereka sengaja tidak berbicara di dalam hati ataupun memikirkan sesuatu yang dapat menggagalkan semuanya.
"Kenapa mengajakku berbicara di sini?" Tanya Bastian mulai membuka obrolan.
"Aku takut pembantuku mengadu nantinya."
"Apa yang sebenarnya terjadi Nona." Alex bertengger tepat di atas pohon di mana mereka duduk.
"Entahlah. Tuan Lucas pergi dari semalam tapi hingga saat ini belum kembali."
"Apa beliau tidak berpamitan?"
"Dia bilang akan keluar sebentar. Aku kesepian di rumah." Bukan hanya Bastian yang tersentuh dengan suara manja khas Noa. Alex pun ikut terbuai dan ingin segera memiliki Noa yang di sebutnya sebagai reinkarnasi Tiara.
"Bukankah sudah ku bilang. Telepon aku jika memang Nona membutuhkan seseorang."
"Tapi kamu datang padahal aku belum menelfon mu."
"Aku tahu kamu kesepian Nona." Bastian menatap lekat ke arah Noa begitupun sebaliknya. Cantik sekali...
__ADS_1
Dia milikku sialan!!! Umpat Alex tidak sanggup menerima pujian yang di lontarkan Bastian.
"Darimana kamu tahu?"
"Bukankah Nona berkata jika Tuan Lucas tidak ada." Noa tersenyum manis begitupun Bastian." Apa aku boleh sering berkunjung Nona?" Imbuhnya mendongak ke arah Alex yang tengah mengambil gambar.
Alex mengisyaratkan Bastian diam sehingga dia kembali fokus pada Noa.
"Tentu saja boleh."
"Jika menginap?" Tanya Bastian dengan tatapan nakal.
"Jangan sampai kedua pembantuku tahu."
"Hm itu masalah gampang. Aku akan memikirkan caranya Nona."
"Sebaiknya kita kembali Tuan, hari mulai gelap." Mereka berdiri lalu berjalan pulang.
Alex turun dengan cepat dari pohon dan mengirimkan foto kebersamaan Noa dengan Bastian pada Adam.
"Ku fikir Noa wanita yang setia tapi ternyata.. Hahahaha.. Ini lebih mudah dari yang ku duga. Aku pastikan setelah ini dia akan menjadi milikku." Gumam Alex seraya berjalan cepat menuju ke mobilnya. Sementara Noa dan Bastian kembali pada obrolan awal ketika mereka sudah berada di dalam rumah.
"Aku melihat dia memotret kita Nona."
"Hm.." Noa mengangguk pelan." Aku mengerti maksud mereka. Ini sengaja di buat agar Tuan Lucas membenciku..
Noa terdiam tidak bergeming. Merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Lucas sekarang. Dia sangat yakin jika cinta Lucas padanya tulus.
Apa yang mereka lakukan dengan Suamiku? Apa Ayah Tuan Lucas berhasil menangkapnya. Ya Tuhan... Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya..
"Apa hubungan Nona dengan Tuan ada masalah?" Tanya Bastian lirih. Noa mengusap kasar air mata yang tidak sengaja mengalir begitu saja.
"Hm iya. Bukankah Tuan tahu jika kami berbeda. Untuk masalah restu keluargaku itu tidaklah penting tapi... Ayah Tuan Lucas belum merestui hubungan kami."
"Kenapa tidak di tinggalkan saja jika sulit." Bastian ingin tahu sejauh apa Noa mencintai Lucas.
"Dia Suami saya Tuan meski dia bukanlah manusia. Masalah hidup saya terlalu berat. Saya hampir kehilangan nyawa jika Tuan Lucas tidak menolong. Awalnya saya hanya ingin berbalas budi. Tapi sekarang, saya benar-benar mencintainya. Lebih baik jika saya mati daripada tidak lagi bisa bersamanya." Bastian tersenyum seraya mengangguk. Itu perasaan yang luar biasa menurutnya.
"Luar biasa Nona."
"Bukan luar biasa. Itu sudah seharusnya terjadi karena pilihan hidupku hanya dua. Menjadi pellacur atau menjadi Istri Tuan Lucas yang mampu melindungiku dari mereka." Noa mulai menceritakan bagaimana hidupnya dulu sehingga membuat Bastian memaklumi jika Noa lebih memilih mati daripada harus hidup tanpa Lucas.
"Tetap saja luar biasa Nona. Anda wanita yang luar biasa." Puji Bastian menganggap jika Noa tidak pantas di sebut pellacur.
"Saya hanya pellacur." Jawab Noa merendah.
"Anda Istri Tuan Lucas." Noa tersenyum dengan wajah memerah.
"Dia mengangkat derajat saya dan melindungi saya dengan takaran yang pas."
"Saya akan membantu sebisa yang saya mampu. Tapi tolong. Jika nyawa saya melayang. Biayai pengobatan Ibu saya."
"Tuan akan baik-baik saja. Tidak seharusnya Tuan terlibat. Saya juga akan menjamin keselamatan Tuan."
"Terimakasih Nona. Em sebaiknya saya permisi. Jika nanti ada kabar. Saya akan kembali ke sini untuk memberitahu." Ucapnya seraya berdiri.
__ADS_1
"Saya tunggu kabar selanjutnya Tuan." Jawab Noa ikut berdiri. Bastian mengangguk sejenak kemudian pergi." Apa yang mereka lakukan dengan Suamiku!!" Gumamnya geram menatap kepergian Bastian.
🌹🌹🌹