Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
49


__ADS_3

Bastian terduduk di ruangan yang begitu gelap. Raut wajahnya terlihat ketakutan dengan bulir keringat yang memenuhi sekitar wajahnya.


Beberapa kali dia menyeka keringatnya, tapi tetap saja keluar lagi dan lagi karena dia menyadari jika nyawanya berada di ambang batas.


Aku baru tahu jika Tuan Lucas adalah Vampir. Itu alasan dia begitu tertutup dengan kepribadiannya..


Bastian sesak bernafas. Mengedarkan pandangannya namun hanya warna gelap yang di lihat.


Klik!


Lampu menyala. Alex berdiri di samping sudut ruangan dan secepat kilat sudah pindah berdiri di hadapan Bastian.


"Takut sekali." Ucap Alex tersenyum tipis. Bagaimana tidak takut jika Alex memaksa Bastian bersekutu dengannya. Jika Bastian menolak, Alex mengancam akan membunuhnya.


"Bukankah rumahnya sudah saya beritahu Tuan. Tolong bebaskan saya." Bastian tertunduk dengan raut wajah ketakutan. Tidak ingin menatap Alex yang tadi sempat memperlihatkannya wujud aslinya.


"Aku masih butuh bantuanmu."


"A apa lagi Tuan. Saya bukan seseorang yang dekat dengan Tuan Lucas. Saya ke sana jika ada perlu masalah perkerjaan saja." Bastian berusaha merajuk agar Alex mau membebaskan.


"Hm aku tahu. Tapi aku masih membutuhkanmu."


"Untuk apa Tuan."


"Rayu Istri Lucas selama dia pergi." Bastian menegakkan kepalanya. Dia memberanikan diri membalas tatapan manik Alex.


"Ma maksudnya bagaimana?"


"Buat dia jatuh dalam pelukan mu agar Lucas meninggalkannya." Setelah Lucas pergi. Kau akan ku bunuh dan aku bisa memiliki Noa.


"Tidak Tuan. Saya tidak mau."


Duakkkk!!!!


Brraaaaakk!!!!


Tubuh Bastian terhempas membentur dinding. Alex menghampirinya dan mencengkram erat lehernya dengan wujud aslinya.


"Pilihanmu hanya dua." Lidah panjangnya menjulur dan mulai menjilati sekitar wajah Bastian." Ku hisap darahmu atau kau penuhi keinginanku." Bastian mengelepar. Meski tubuhnya terlihat besar namun tenaganya tidak sebanding dengan Alex.


"Ba ba baik Tuan." Terpaksa Bastian mengiyakan keinginan Alex sehingga kini dia kembali bisa bernafas." Uhuk.. Uhuk..." Alex tersenyum menatap Bastian yang matanya mulai memerah akibat cekikannya.


"Kau patuh sekali dengan Lucas." Tanya Alex lirih.


"Saya hanya berusaha membalas budi Tuan. Tanpa beliau, mungkin saya masih saja miskin." Alex mengangguk-angguk seraya duduk di sofa.


"Oh jadi kau berkerja sama dengannya."


"Dalam masalah bisnis."


"Itu semakin mengampangkan urusanku." Alex menarik laci yang ada di sampingnya dan mengambil sebuah cincin." Kenakan ini." Pintanya meletakkan cincin di atas meja.


Bastian berjalan mendekat, dengan tangan yang sedang memeriksa keadaan lehernya.


"Apa ini Tuan."


"Pakai saja. Nanti ku jelaskan." Perlahan, Bastian mengambil cincin itu lalu memakainya meski keraguan tentu terbesit di benaknya.

__ADS_1


Alex tersenyum seraya melirik ke cincin yang sudah terpakai sempurna pada jari tengah Bastian.


"Mulai malam ini kau tawanan ku." Mata Bastian melebar karena merasa terkejut.


"Tawanan?"


"Kau harus menuruti apapun perintahku sampai keinginanku terwujud." Bastian menelan salivanya kasar dengan wajah tertunduk. Dia tidak kuasa mengumpat dalam hati karena tahu jika Alex bisa membaca suara hati seseorang." Setuju?" Tanya Alex memastikan.


"Hm Tuan baik."


"Malam ini kau ku antarkan pulang. Setelah Lucas sudah pergi, aku akan menjemputmu dan kita mulai melakukan rencananya." Bastian mengangguk setuju meski rasanya sungguh sangat berat mengingat Lucas adalah seseorang yang berjasa untuk hidupnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah memastikan Noa terlelap tidur. Lucas beranjak pergi menuju ke kerajaan. Dia bahkan menambahkan lagi benteng pelindung karena rasa khawatirnya pada Noa jika kepergiannya sekarang bertujuan untuk menjebaknya.


Cukup sebentar, Lucas sudah masuk ke dalam kerajaan. Dia berjalan perlahan menuju aula.


Rupanya kedatangannya sudah di tunggu Stefanus sehingga Lucas tidak harus naik ke lantai dua menuju kamar Ayahnya.


Terlihat ada beberapa menteri kerajaan dan beberapa rakyat biasa yang turut hadir. Mereka akan di jadikan saksi dengan perjanjian yang akan di ikatkan Stefanus pada Lucas.


"Kami sudah menunggu." Ucap Stefanus menatap lekat anak semata wayangnya yang terlihat semakin gagah.


"Rasanya sangat gawat hingga harus menghadirkan saksi." Lucas duduk tepat di samping Stefanus.


"Rakyat juga butuh penjelasan Lucas. Jadi harus ada saksi di dalam pembicaraan ini." Sahut Elena turut hadir.


"Kita mulai." Stefanus menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.


"Apa karena hal itu Baginda memberlakukan peraturan?" Tanya salah satu saksi.


Lucas tidak ikut angkat bicara, sementara Stefanus tidak menjawab pertanyaan yang di anggapnya sebagai keegoisan semata.


Hanya karena rasa takut Lucas sakit hati. Dia harus memberlakukan peraturan yang bertujuan untuk menjaga Lucas agar tidak jatuh pada lubang yang sama.


"Hm.. Iya. Aku tidak ingin bangsaku tertipu oleh cinta semu manusia." Jawab Stefanus lirih. Itu menandakan jika dia tengah berbohong." Aku ingin kita hidup saling berdampingan tanpa rasa benci." Imbuhnya menimpali.


"Mana bisa begitu Baginda. Manusia memang sangat lemah tapi memiliki cara keji untuk menyakiti." Sahut Elena.


"Seperti kau." Sontak semua menatap ke arah Lucas." Pembicaraan apa ini. Jika aku di undang untuk membicarakan hal tidak penting. Sebaiknya aku pergi." Lucas akan berdiri namun suara Stefanus mencegahnya.


"Tunggu. Duduk dulu."


"Aku ke sini karena ingin mendapatkan titik temu untuk hubunganku."


"Baginda sangat tidak adil. Di saat anak Baginda yang melanggar. Kenapa harus di persulit seperti ini." Stefanus memberikan isyarat pada prajurit kerajaan untuk membawa lima mayat bangsanya yang sudah di habisi Lucas.


Semua saksi melongok. Menelan salivanya kasar seraya menatap mayat yang hampir mirip seperti kulit kering dengan tulangnya.


"A apa maksudnya ini?"


"Aku tidak ingin prajurit ku habis karena ulahnya." Menunjuk ke arah Lucas." Aku tidak mengerti kapan dia sekuat itu tapi aku tidak ingin mempertaruhkan nyawa bangsaku hanya untuk memburunya." Lucas mendengus dan mengalihkan pandangannya. Dia sangat tidak sabar mendengar penawaran yang akan Stefanus berikan.


"Bukankah kau putra mahkota yang seharusnya melindungi mereka." Protes saksi lainnya.


"Aku bukan lagi anaknya! Katakan penawaran itu atau aku akan pergi!!!" Ancam Lucas geram.

__ADS_1


"Tunjukkan padaku kesetiaan wanita itu sehingga aku bisa mencabut aturan." Para saksi di buat melongok mendengar titah Stefanus.


"Dia memang setia."


"Kau hanya sedang terbuai cinta Lucas. Manusia itu selalu seperti itu. Berpura lemah tapi mampu menyayat hatimu nantinya."


"Tidak semua manusia seperti itu. Bukankah aku pernah mengatakannya." Elena memberi isyarat para saksi untuk bungkam agar Lucas dan Stefanus bisa mencapai mufakat.


"Ayah ingin melindungi mu dan bangsa kita."


"Tidak. Ayah itu terlalu egois. Memberlakukan peraturan hanya karena rasa sakit hati yang Ayah rasakan pada Ibu ku." Perkataan Lucas menjadi tamparan keras pada hati Stefanus. Dia membenarkan itu meskipun dia tidak mau mengakuinya.


"Lakukan atau selamanya restu tidak akan ku berikan."


"Dia setia. Aku yakin itu."


"Tunjukkan pada Ayah."


"Bagaimana caraku menunjukkan."


"Tinggalkan dia selama beberapa Minggu agar kau tahu perubahannya seperti apa." Lucas menoleh cepat menatap Stefanus.


"Aku tidak bisa. Aku bahkan tidak ingin meninggalkan dia sedetikpun."


"Kau harus bisa. Agar restu bisa kau dapatkan." Sahut Elena seolah tengah menjadi penengah.


"Setelah kau melakukannya dan dia tidak berpaling. Aku akan mencabut peraturan dan membenarkan jika tidak semua manusia itu penipu." Lucas tertunduk. Itu keputusan yang sangat sulit di ambil mengingat Noa yang mulai merasa nyaman bersamanya." Kau di larang memberitahunya perihal penjebakan ini. Jika kau sampai melakukan itu, Ayah akan meminta bantuan bangsa dari negara lain untuk memburu wanita itu." Lucas masih tidak menjawab dan hanya duduk diam seraya menddesah lembut.


"Ini hanya sementara Lucas. Jika kesetiaan dapat kau buktikan. Kalian akan bisa bersatu tanpa hambatan." Lucas tiba-tiba saja berdiri.


"Akan ku fikirkan dulu."


"Besok malam semua harus sudah di lakukan. Ayah memberikanmu waktu hingga besok malam."


"Singkat sekali."


"Itu penawaran bagus. Jika memang kau menganggap dia setia bukankah permintaan ini tidak memberatkanmu?"


"Oke baik. Aku akan ke sini besok malam." Lucas memasang wajah datar kemudian pergi di tengah acara rapat yang sengaja di rancang untuk menguatkan sandiwara.


Elena sengaja menyuruh beberapa bangsanya hadir, agar Lucas tidak merasa curiga jika sebenarnya apa yang di minta Stefanus sekarang hanya rangkaian skenario.


"Kalian boleh pergi. Nanti upahnya akan ku berikan." Para saksi langsung pergi menghilang dari aula.


"Aku takut Lucas tahu." Eluh Stefanus lirih.


"Dia tidak akan curiga Baginda."


"Bagaimana jika wanita itu setia? Alasan apa yang harus ku berikan pada bangsaku?"


Sesuai dugaan. Penawaran tidak masuk akal itu di buat untuk mengelabuhi Lucas. Para rakyat bangsa Vampir tidak tahu menahu soal itu. Jika mereka tahu, mungkin mereka sudah menyuruh Stefanus lengser dari kekuasaannya sekarang.


"Itu urusan Alex. Dia sudah mengatur semuanya agar wanita itu menghianati Lucas nantinya." Stefanus yang terlalu mengkhawatirkan Lucas. Tidak menyadari betapa busuk hati wanita yang tengah duduk di sampingnya.


Elena sendiri, merasa percaya jika semuanya akan berhasil. Itu karena dia sudah pernah memfitnah Ana dengan cara yang sama.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2