
Patresia yang merasa khawatir langsung mendatangi kamar Elena untuk menanyakan perihal Lucas. Dia merasa sungkan jika bertanya pada Pedro karena akan memicu perdebatan yang kerapkali terjadi. Sebagai seorang Suami, ketidaksukaan Pedro wajar terjadi sebab hingga saat ini Patresia belum juga bisa melupakan Lucas.
"Bagaimana pemburuan Ma." Elena menoleh dan menatap tajam ke Patresia.
"Kau masih saja menyukai nya? Ingat Sia. Kau sudah menikah dan tidak seharusnya kau memikirkan Lucas lagi."
"Lucas cinta pertamaku seperti Mama dan William." Elena menarik nafas panjang mengingat cinta pertamanya yang harus pergi hanya karena ambisinya." Aku tahu tujuan Mama menikah dengan Raja Stefanus itu apa. Jangan menyembunyikan kemunafikan mu jika bersamaku Ma." Patresia sangat tahu seluk beluk sifat busuk Ibunya yang tidak perduli dengan keadaan sekitar ketika menginginkan sesuatu.
"Gagal. Tidak mudah menangkap Lucas yang berkekuatan besar itu."
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya jika nyatanya Lucas masih yang terbaik di mataku."
"Lalu Pedro?"
"Jika Lucas berhasil di tangkap. Bunuh dia. Aku masih berharap menjadi Istri Lucas. Aku tidak mau yang lain Ma. Aku hanya ingin Lucas dan hanya dia." Elena membelai rambut anak semata wayangnya seraya tersenyum jahat.
"Lalu timbal baliknya?" Elena masih ingin memanfaatkan perasaan putri semata wayangnya karena ingin segera mencapai keinginan yang sejak lama menjadi tujuannya.
"Sesuai kemauan Mama. Jika Lucas menjadi raja, aku akan mempengaruhinya agar dia mencabut dua aturan yang menjadi poros sumber masalah agar Mama bisa bebas berburu." Elena terkekeh nyaring kemudian memeluk Patresia.
"Oke akan Mama kabulkan. Semoga saja pemburuan malam ini berhasil, agar kamu bisa segera menikah dan Mama bisa bebas berburu tanpa aturan."
Umur Stefanus yang sudah jutaan tahun membuatnya ingin segera memberikan tahta kerajaan pada Lucas. Dia ingin menikmati masa tuanya tanpa memikirkan masalah kerajaan yang memusingkan. Sementara Elena berusaha memanfaatkan situasi agar bisa menguasai dunia lewat Lucas yang di fikirnya mudah di kendalikan.
๐น๐น๐น
Noa tersenyum, menatap separuh kakinya yang tengah bermain di air. Sejak tadi maniknya hanya melihat ke dua obyek. Kakinya juga Lucas yang sesekali menatapnya.
"Celananya jadi basah sayang. Kamu kurang menaikkannya."
"Biarkan saja. Sudah terlanjur."
"Seharusnya tadi kita membawa baju ganti." Lucas menoleh cepat mendengar permintaan Noa.
"Untuk apa?"
"Berenang seperti mereka." Menunjuk ke arah anak remaja yang tengah bergurau bersama teman-temannya. Tubuh mereka terlihat basah hingga memperlihatkan bagian dalamnya.
"Tidak Baby. Aku tidak setuju kamu berenang di tempat umum."
"Kenapa?"
"Serius kamu tidak tahu. Coba lihat mereka." Menunjuk dengan isyarat mata. Noa malah tersenyum karena merasa itu sangat menyenangkan.
"Itu menyenangkan sayang."
"Bajumu bisa basah seperti mereka."
"Tentu saja. Ini air." Lucas mendengus lembut seraya mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila menghadap Noa.
"Apa jadinya jika kamu yang berenang." Lucas kembali menunjuk dengan isyarat mata ke arah dress yang Noa kenakan.
"Ada kamu sayang."
"Hm memang." Tapi aku semakin gila jika harus mendengar semakin banyak sanjungan untuknya. "Itu milikku. Sejak kamu jadi Istriku. Hanya aku yang boleh melihat." Noa tersenyum dan merasa senang dengan larangan Lucas.
"Kamu sangat menghargai ku sayang."
__ADS_1
"Aku sedang melindungi milikku."
"Kamu jeli sekali hingga bisa melihat sesuatu sedetail itu. Apa matamu bisa menembus baju dan melihat bagian tubuh para remaja itu." Entah angin apa yang membawa. Ucapan Noa sekarang terasa penuh kecurigaan.
"Aku tidak memiliki kemampuan itu."
"Berarti sudah terlihat dari luar."
Apa dia marah?
"Bukan begitu sayang."
"Aku mau pulang." Noa bergegas mengangkat kakinya lalu berdiri. Dia memakai sandalnya lagi dengan raut wajah kesal tentunya.
Para remaja di hadapan mereka cukup cantik. Dengan rambut basah dan bajunya yang memperlihatkan lekuk tubuh belia mereka. Namun Noa tidak memahami jika tubuhnya terlihat lebih menggairahkan dengan kulit putihnya.
Aku baru sadar dia tidak fokus padaku. Ahh Tuhan apa yang ku harapkan. Aku sudah hidup terhormat tapi kenapa harus bersikap seperti anak kecil saja.
"Kamu marah? Aku memang hanya fokus padamu. Aku sadar itu ketika kamu mengutarakan keinginan untuk berenang." Ketakutan terpatri jelas menghiasi raut wajah Lucas. Dia sangat takut menyakiti hati Noa dan membuatnya tidak nyaman bersamanya. Sainganku begitu banyak. Aku tidak boleh membuatnya marah. "Baby. Aku suka saat kamu bersikap seperti anak kecil. Aku tidak keberatan." Imbuhnya memohon.
"Aku juga melihat itu dari luar." Noa berjalan mendahului Lucas.
"Aku tidak memikirkan itu tapi aku hanya memikirkan milikku."
"Tidak apa. Aku bisa mengerti. Mereka salah tingkah ketika kau pandangi." Lucas tersenyum aneh menatap Noa dari samping.
"Aku tidak memandang apapun."
"Tidak tahu sayang. Aku ingin pulang dan tidur."
"Kita bicarakan di rumah." Lucas merangkul kedua pundak Noa dan mengiringinya ke tempat yang sepi lalu keduanya melesat menuju rumah.
Setibanya di sana, Noa menyingkirkan tangan Lucas dari pundaknya dan berniat masuk ke dalam kamar mandi.
"Mandi bersama." Tanya Lucas menghadang langkahnya.
"Tidak."
"Kenapa tidak. Jawab saja iya."
"Aku ingin menjawab tidak."
"Tidak menolak." Dengan gerakan cepat Lucas mengangkat tubuh Noa dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Klik
"Kita berenang di sini." Lucas mengiring Noa masuk ke dalam bak mandi berukuran dua meter tanpa melepas bajunya.
Sesuai dugaan jika dress Noa akan terlihat tipis saat terkena air. Semua bagian tubuh yang seharusnya tidak terlihat menjadi terekspos bebas.
Dia benar.. Aku juga tidak mau jika mereka melihat Tuan Lucas dalam keadaan seperti sekarang.
Noa tersenyum melihat otot-otot perut dan dada bidang Lucas yang terlihat menerawang. Tangannya terulur lalu mulai membelai tubuh Lucas lembut.
"Kamu mengerti maksudku?"
"Bagaimana kamu mendapatkan ini sayang." Tanya Noa tidak merespon. Jemarinya asyik mengusap dada bidang Lucas dan bermain di sana.
__ADS_1
"Terbentuk begitu saja. Kamu suka."
"Hm." Lucas meraih punggung bawah Noa lalu merapatkannya. Dia langsung melummat bibirnya lembut seraya mengiring Noa untuk duduk di tepian bak tanpa melepaskan tautan.
"Ini terlalu indah untuk di pertontonkan." Tangan Lucas mulai bermain di dua benda kenyal milik Noa.
"Aku cemburu."
"Aku lebih cemburu." Lucas meremasnya lembut seraya menatap ekspresi Noa sekarang.
"Emmm ahhh.. Aku ingin sekarang sayang." Pinta Noa dengan nafas memburu dan bibir merah setengah terbuka. Kedua tangannya melepaskan kancing kemeja Lucas lalu mencumbuinya. Noa tahu jika itu adalah kelemahan Lucas sehingga bibirnya tersungging ketika mendengar erangan keluar dari bibir Lucas.
"Ach Baby. Kamu membuatku gila. Sudah ku katakan jangan menyentuhku. Aku takut terlalu kasar." Tapi ini nikmat sekali..
"Baik sayang." Noa bukan berhenti. Melainkan naik ke pangkuan Lucas dengan kedua kaki terbuka. Dia menarik sisa kancing dan membuang kemeja Lucas sembarangan." Kamu suka sayang." Imbuhnya sebelum memulai gerakan yang semakin membuat Lucas lepas kendali.
Lucas mendesis, berusaha menahan erangan meski manik matanya sesekali berubah merah. Noa tidak perduli dan terus menekan-nekan milik Lucas yang sudah menegang seraya mencumbui lehernya.
"Aku tidak tahan Baby." Lucas menurunkan celananya dan menarik kasar cellana dallam Noa lalu memasukkan miliknya.
Akhirnya.. Miliknya memenuhi milikku.. Lucas bisa dengan jelas mendengar meski dia tidak perduli dan lebih memilih mengerakkan pinggulnya naik turun.
Noa menddesah hebat dengan pinggul ikut bergerak melawan arus gerakan Lucas sehingga tumbukan semakin terasa menghantam dinding rahimnya.
Bunyi penyatuan keduanya menggema memenuhi ruangan karena hasrat yang terlepas tanpa batasan. Rasa cemburu yang menjadi bumbu penyedap sebuah hubungan membuat mereka semakin bersemangat dan berharap benih kali ini bisa tumbuh sempurna.
๐น๐น๐น
Alex menggerang kesakitan karena luka akibat kuku runcing Lucas masih berbekas. Itu terjadi karena tenaga dalam milik Lucas terasa besar dan bertambah akibat rasa cemburunya.
"Dia melukaimu?" Tanya Elena tiba-tiba sudah berdiri di samping Alex.
"Dia kuat sekali."
"Hm itu kenapa kita tidak akan mudah menangkapnya." Elena mengusap lembut pipi Alex untuk meringankan lukanya." Sepuluh prajurit kemarin tewas di tangannya." Imbuhnya menjelaskan.
"Belajar di mana dia?"
"Lucas sangat sempurna untuk calon raja. Bukan hanya ketampanan yang luar biasa, tapi kecerdasannya tidak di ragukan lagi. Dia tidak hanya berlatih di area kerajaan. Tapi dia suka tinggal di apartemen itu untuk melatih ketangkasannya di lingkup manusia."
"Aku merasa jika utusan itu tidak akan berarti apa-apa." Elena mengangguk dengan wajah datar. Sejak kemarin dia memikirkan cara lain agar membuat Lucas meninggalkan Noa.
Apa aku pakai cara lama saja? Agar dia bernasip sama seperti Ana.
"Buat Istrinya seolah-olah berselingkuh."
"Bagaimana mungkin. Aku bahkan tidak tahu tempat tinggalnya. Aku menyisir area kota tapi belum menemukan itu hingga sekarang." Jawab Alex seraya memikirkan cara lain." Aku ada ide." Elena bergegas mendekatkan telinganya ke bibir Alex untuk mendengarkan ide yang di bisikkan.
"Jika tidak berhasil dan wanita itu tepat setia bagaimana?"
"Selebihnya menjadi urusanku. Kau hanya perlu menjauhkan Lucas darinya agar aku bisa menggeser posisinya di hati Lucas." Elena mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Aku akan membicarakan ini."
"Hm ku tunggu kabar selanjutnya." Elena tersenyum kemudian menghilang dari hadapan Alex." Hahahaha bodoh! Dia tidak sadar jika sedang ku manfaatkan." Gumam Alex memandangi paras tampannya dari pantulan cermin.
๐น๐น๐น
__ADS_1