Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
51


__ADS_3

Bastian duduk dengan wajah gelisah. Di tangannya terdapat ponsel miliknya yang di genggam erat.


Dia berniat menghubungi Lucas untuk memberitahu rencana Alex untuk mendapatkan perlindungan. Meski Bastian tahu Lucas bukanlah manusia, namun dia yakin jika Lucas tidak sejahat Alex.


Sambil terus menahan isi di dalam hatinya. Bastian menunggu kepergian Alex setelah mengantar pulang dengan caranya.


Dia terlalu takut untuk melakukannya apalagi cincin pemberian Alex kini melingkar di jarinya.


Setengah jam kemudian...


Mungkin sudah aman. Aku tidak ingin membalas kebaikan Tuan Lucas dengan sandiwara penghianatan itu. Aku yakin Tuan Lucas bisa menolong ku..


Dengan tangan bergetar. Bastian mencoba menombol kontak milik Lucas.


Wuuuuusssshhhhhhhh!!!!


Praaaankk....


Seketika ponsel miliknya terlempar dan membentur di dinding hingga hancur berkeping-keping.


Bastian melongok, matanya melebar seraya menoleh pelan ke sosok yang tengah berdiri di belakangnya.


"Sudah ku duga!! Kau sudah bosan hidup!!" Teriak Alex geram. Secepat kilat dia beralih di hadapan Bastian dan kembali mencekik dengan tangan runcingnya.


"Am ampun Tuan." Ucap Bastian terbata." Eeeeegggggghhhhhhhh... Tuan. Ampuni saya." Imbuhnya merajuk sebab perih pada lehernya mulai terasa. Darah segar keluar tidak terhindarkan dan dengan cepatnya Alex menjilatnya dengan lidah panjangnya


"Sudah ku bilang kau tawanan ku! Itu berarti kau sekarang di bawah kendaliku. Apapun yang kau lakukan dan kau ucapkan, bisa dengan baik ku lihat dan ku dengar!!!"


Duaaaak!!!!


Alex menghempaskan tubuh Bastian sampai membentur dinding hingga membuat bangunan kokoh itu sedikit retak.


"A ampun Tuan." Tubuh Bastian terkulai lemah di lantai. Alex meraihnya dengan kasar dan memaksanya untuk berdiri.


"Jika kau sekali lagi melakukan pengkhianatan. Aku akan membunuhmu dan mencari orang lain untuk ku jadikan sekutu!!!"


"Jangan Tuan. Ampuni aku." Bastian mulai terisak dengan bulir air mata yang keluar dari sudut pipinya. Dia tidak menyangka jika harus terjebak dengan situasi seperti ini.


Bastian yang notabenenya lelaki baik. Tentu merasa terbebani dengan pengkhianatan pada Lucas yang akan menjadi tugas utama untuknya.


"Ini kesempatan terakhir! Jika kau bosan dengan nyawamu! Silahkan hubungi Lucas!" Ancam Alex menghilang begitu saja dari hadapan Bastian.


"Ya Tuhan.." Eluh Bastian terduduk lemah di lantai. Satu-satunya harapan agar bisa bebas, sanggup di ketahui Alex dengan mudah. Bastian hanya mampu terisak tanpa bisa berbuat apa-apa.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Noa kembali bermimpi di tempat yang sama. Tidak seperti biasanya mimpi itu kembali mendatanginya dalam waktu dekat. Biasanya sangat jarang mimpi itu hadir meski dia sangat mengingat suasana dan juga tempatnya.


Kemana Nyai..


Noa mengedarkan pandangannya ke arah sekitar yang terlihat seperti lautan api meski dia merasa nyaman berada di sana.


"Nyai di sini Nduk." Jawab wanita yang masih tidak di ketahui asal usulnya.

__ADS_1


"Nyai." Noa menoleh dengan bibir tersungging." Anda mengundang saya lagi." Imbuhnya bertanya.


"Iya Nduk. Wong kamu bersedih." Senyum Noa memudar saat dia teringat soal kekhawatirannya." Nyai ikut bersedih kalau kamu sedih." Imbuhnya memasang raut wajah sendu.


"Nyai tahu Suami saya." Wanita itu mengangguk seraya tersenyum.


"Tuhan tidak asal memilih jodoh. Sejatinya semua makhluk adalah ciptaannya. Dia memilih jodoh yang pas untuk takarannya masing-masing."


"Aku manusia biasa Nyai." Sahut Noa ingin sekali menjadi kuat agar dia bisa membantu Lucas.


Wanita itu tertawa melengking dengan kekehan panjang menatap lekat ke api yang berkobar-kobar.


"Memang.. Kamu terlihat seperti manusia biasa kalau amarahmu belum tersentuh." Noa menoleh dengan wajah bertanya-tanya." Menurutmu alasannya apa. Hingga Tuhan menciptakan kesabaran yang luar biasa pada hatimu dan Ratih." Imbuhnya menjelaskan penuh teka-teki.


"Saya tidak mengerti Nyai."


"Sabar mu itu tidak Normal Nduk. Di pukul diam, di caci diam, di perlakukan jahat tetap tidak ada dendam." Noa tersenyum tipis. Kesabaran yang di miliki Ratih menurun padanya.


Ketika Ayah Noa memperlakukan Ratih dengan buruk. Ibunya itu hanya mampu pasrah dengan air mata. Sekalipun dia tidak pernah melihat Ibunya melawan atau sekedar membalas cacian buruk dari Ayahnya.


"Itu karena, kalau kamu marah bisa hancur semua Nduk." Wanita itu kembali terkekeh nyaring.


"Apa yang hancur Nyai? Hubungan saya?" Wanita itu hanya tersenyum menatap Noa.


"Simpan amarahmu dan keluarkan di saat yang tepat. Nyai suka dengan calon wadah baru yang sudah ada di perutmu itu. Dia akan membuat Nyai lebih sering beraksi dan Nyai menantikan itu terjadi." Noa membuka bibirnya hendak bertanya namun wanita itu kembali menghilang di antara api yang berkobar-kobar.


"Apa maksud Nyai?" Tanya Noa setengah berteriak seraya memutar tubuhnya dan mengedarkan pandangannya." Kenapa dia selalu pergi dan meninggalkan pertanyaaan." Imbuhnya bergumam.


Sementara di alam nyata. Lucas mencoba membangunkan Noa sejak tadi. Cara itu tidak berhasil karena Noa masih saja berkata sesuatu yang tidak bisa dia mengerti.


"Hah.. " Noa membuka matanya dengan nafas terbuang kasar. Lucas menyodorkan segelas air putih yang langsung di ambil oleh Noa lalu meneguknya sedikit.


"Kamu bermimpi apa?" Tanya Lucas mengambil gelas dari tangan Noa dan meletakkannya lagi.


"Tidak tahu sayang." Jawab Noa ingin mengingat mimpi yang terasa tidak asing namun dia tidak sanggup mengingatnya.


"Kenapa tidak tahu? Kamu berbicara sendiri selama setengah jam." Noa hanya menatap Lucas seraya mencoba mengingat-ingat mimpi tersebut.


"Aku tidak mengingatnya." Jawabnya lirih.


"Apa mimpi buruk?" Noa menggeleng pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Sudah pagi." Noa menyibak selimut kemudian menurunkan kedua kakinya.


Lucas yang tahu jika hari ini adalah saat terakhir bersamanya, membuatnya di liputi kekalutan hati yang tidak sanggup di ungkapkan dengan kata-kata.


"Ingin kemana hari ini?" Secepat kilat, Lucas sudah duduk di samping Noa.


"Membeli keperluan ku untuk waktu yang lama." Jawab Noa asal. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak keluar rumah ketika Lucas tertangkap oleh prajurit kerajaan.


Dia peka..


"Untuk apa?" Tanya Lucas pelan.

__ADS_1


"Aku akan tetap di rumah selama kamu pergi."


"Itu hanya seandainya Baby." Lucas membaca kekhawatiran yang tergambar pada mimik wajah Noa. Dia ikut merasa tersakiti dengan ekspresi Noa sekarang.


"Apa kamu pergi malam ini?" Tanya Noa dengan hati bergemuruh meski harus tertahan.


"Hm.. Aku belum bertemu dengan Ayah kemarin."


"Antar aku berbelanja sayang. Kita beli keperluanku selama satu bulan atau dua bulan ke depan." Noa beranjak sebab maniknya mulai berkaca-kaca seolah dia merasa jika makhluk di sampingnya akan meninggalkannya.


"Aku berjanji akan kembali." Noa mengangguk-angguk seraya tersenyum tanpa menatap Lucas yang tengah berdiri di sampingnya.


"Aku juga berjanji akan menunggu. Jika nantinya kamu tidak kembali. Lebih baik aku membusuk di tempat ini." Rasanya sungguh sakit, mendengar perkataan Noa yang mampu menghujam hati Lucas. Dia benar-benar tidak tega namun itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan restunya.


"Aku berjanji akan kembali."


"Hm iya. Aku mandi sebentar." Jawabnya berjalan pergi dan berharap Lucas menyusulnya untuk menawarkan mandi bersama. Tapi itu sengaja tidak Lucas lakukan karena dia ingin Noa terbiasa dengan ketidakhadirannya esok.


Maafkan aku Baby..


Di dalam kamar mandi. Noa tidak langsung menanggalkan bajunya. Dia berdiri terpaku. Maniknya menatap ke arah pintu dan masih berharap Lucas muncul di balik pintu tersebut.


Namun, sudah beberapa menit berlalu. Pintu itu masih saja tertutup sehingga membuat tangisnya tiba-tiba tumpah.


Kenapa aku jadi sensitif. Itu bahkan belum terjadi tapi kenapa hatiku rasanya sakit..


Noa kembali menoleh menatap pintu. Dia yakin jika Lucas mendengar isi hatinya tapi rasanya Lucas memang sengaja berpura-pura tidak mendengarnya.


Itu memang sedang Lucas lakukan, dia memilih pergi keluar daripada harus mendengar keluh kesah pada hati Noa yang terasa seperti belati tajam.


Aku yakin kamu akan kuat Baby. Istri Lucas akan memiliki hati sekuat baja...


Lucas menghampiri Bima yang tengah duduk menikmati kopi hangatnya. Segera saja Bima berdiri saat menyadari Lucas sudah berdiri di sampingnya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Bima melirik ke arah pintu utama yang masih tertutup.


"Selama saya pergi. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali Bastian. Lelaki yang mengantarkan mobil tempo hari." Bima mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Meskipun bisa melewati pembatas yang Tuan sebutkan?"


"Hm iya. Sekalipun seorang kurir pengantar makanan jangan biarkan dia masuk dan menemui Istriku."


"Siap Tuan. Em.. Berapa lama Tuan akan pergi?"


"Aku tidak tahu. Kalau nanti Istri ku ingin keluar untuk membeli sesuatu. Tolong kawal dia. Aku akan menambahkan bonus untukmu kalau nanti aku sudah pulang."


"Tidak perlu Tuan. Gaji itu sudah sangat besar."


"Harta itu tidak sebanding dengan pengorbanan mu nanti. Istriku lebih berharga daripada semua yang ku miliki sekarang. Jadi, jaga dia dengan nyawamu." Bima mengangguk-angguk meski dia cukup bergetar dengan perkataan yang di lontarkan Lucas.


"Akan saya lakukan sebaik yang saya bisa Tuan." Jawab Bima mencoba tegas walaupun perintah dari Lucas terdengar berat.


Lucas tidak menjawab ucapan Bima dan hanya menddesah lembut untuk menguatkan perasaannya agar bisa bersikap lebih tega dengan Noa.

__ADS_1


Aku berjanji hanya sebentar Baby. Ingin sekali aku memberitahu. Tapi aku pantang melanggar janjiku yang sudah ku sepakati kemarin.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2