
Baru saja Lucas menapakkan kakinya. Suara Elena menyapanya hingga membuat langkah Lucas terhenti.
"Ayahmu menunggu."
"Hm aku memang akan menemuinya." Jawab Lucas terus berjalan.
Elena dengan cepat sudah berjalan sejajar dengan Lucas untuk mengedus aroma tubuh Lucas yang mungkin bisa memberikannya bukti.
"Kamu betah sekali tinggal di kota?" Tanya Elena tersenyum tipis.
"Hm iya."
"Itu saja jawabannya."
"Lalu bagaimana? Bukankah sudah ku katakan untuk tidak terlalu campur dengan hidupku." Elena mengangguk-angguk dan terus saja mengekor.
"Aku ada calon Istri untukmu." Lucas menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke Elena.
"Siapa? Saudaramu?" Tanya Lucas tersenyum mengejek.
"Bukan. Dia wanita lain. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat berjalan-jalan." Lucas terkekeh di ikuti senyum tipis Elena perlihatkan.
"Berarti orang suruhan mu Mama." Senyum Elena memudar dengan kenyataan yang di tebak Lucas." Bukankah sebaiknya kamu hamil sendiri agar bisa mendapatkan seorang putra. Setelah itu, kau bisa menghasut putramu sendiri dan memperalatnya agar dia bisa mewujudkan keinginanmu." Elena memalingkan wajahnya seraya mendengus.
"Aku sudah tidak memiliki rahim."
"Itu deritamu. Kenapa kau tekan aku untuk mewujudkan tujuan busuk mu!!!"
"Tidak sopan sekali kamu Lucas! Sudah seharusnya seorang Mama mencarikan jodoh untuk anaknya." Jawab Elena menyangkal.
"Aku tidak akan jatuh cinta!!! Kau ukir itu di otakmu Mama!!" Lucas melanjutkan langkahnya.
"Apa karena seorang manusia kau menolak perjodohan ini Lucas!!" Teriak Elena geram. Lucas berhenti dan kembali memutar tubuhnya.
"Bukan urusan mu! Kau tidak berhak mengatur ku." Lucas tersenyum tipis lalu masuk ke dalam kamar Stefanus.
Sialan sekali anak itu!!! Semakin lama semakin tidak bisa menghormati ku sebagai Ibunya. Sebaiknya aku cepat membawanya ke sini. Aku yakin kali ini Lucas akan tertarik pada wanita pilihanku.
Elena pergi secepat kilat. Sementara Lucas terlihat langsung duduk di hadapan Stefanus yang memang menunggunya.
"Ayah fikir kau lupa jalan pulang."
"Bukankah sudah ku katakan jika aku akan jarang pulang, Ayah."
"Ayah ingin tahu alasan yang sebenarnya Lucas. Kenapa kau memutuskan tinggal di kota itu." Lucas tersenyum tipis seraya menarik nafas dalam-dalam.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu. Apa aku boleh tahu tentang jati diri Ibu ku yang sebenarnya." Stefanus menatap ke arah Lucas dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Ibu mu musnah. Bukankah Ayah sudah berkata itu."
"Bukan itu maksudku Ayah. Apa Ibuku seorang manusia?" Ucapan itu sontak membuat wajah Stefanus semakin gelisah. Kebenaran itu sengaja di tutupi rapat-rapat karena dia tidak ingin mengakui keegoisannya.
"Mana mungkin begitu. Peraturan itu sudah ada sejak nenek moyang kita..."
"Dan terhenti ketika Ayah menikah dengan Ibu. Lalu Ayah kembali menerapkan ini sebab Ayah merasa sakit hati karena penghianatan." Stefanus berdiri lalu berjalan menghampiri Lucas yang juga ikut berdiri.
"Apa ini hasutan dari Alexander! Apa kau menemui lelaki terkutuk itu!!"
"Aku hanya meminta jawaban. Untuk apa Ayah menanyakan hal itu. Apa karena hanya Paman yang tahu tentang kebenaran ini?"
"Jadi kau menyebut Ayahmu berbohong Lucas!!!" Teriak Stefanus geram.
"Jika Ayah tidak melakukan itu. Kenapa Ayah marah?" Stefanus mendengus seraya membalikkan badannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Apa tebakan Elena benar? Kau sekarang tengah berhubungan dengan manusia!!" Lucas tidak bergeming. Dia berjalan ke arah jendela dan duduk di pinggirannya." Ayah menerapkan itu karena tidak ingin bangsa kita kembali di sakiti oleh manusia. Mereka tidak setia Lucas. Mereka tidak tahu terimakasih atas pengorbanan yang sudah kita berikan!" Akhirnya Stefanus mengungkapkan kebenaran yang selama ini di tutupi rapat dari Lucas.
"Jadi Ibuku seorang manusia?" Tanya Lucas lagi.
"Namanya Ana Maria."
"Di mana letak pusarannya."
"Ayah tidak tahu. Ayah sudah tidak mau mendengarkan kabar dari penghianat itu. Dia menelantarkan mu hanya karena manusia lain. Ayah menerapkan peraturan ini karena Ayah tidak ingin kau juga merasakan hal yang sama."
"Selayaknya bangsa kita. Tidak semua manusia seperti itu Ayah."
"Kenapa kau berkata itu Lucas? Apa kau sudah melanggar peraturan itu?" Tanya Stefanus dengan mata melebar menatap Lucas yang masih tidak bergeming." Katakan Lucas!!" Teriak Stefanus menuntut jawaban.
"Ayah lebih dulu melanggar nya." Lucas bersiap untuk pergi.
"Jangan pergi tanpa kejelasan. Katakan padaku! Apa kau menyukai seorang manusia?" Lucas menoleh seraya tersenyum tipis.
"Jika sampai itu terjadi. Berarti alam ingin menunjukkan sebuah kebenaran kalau peraturan itu salah. Tuhan sudah mengatur semuanya Ayah. Mengatur hati kita untuk berlabuh pada siapa. Em aku pergi. Aku usahakan untuk setiap hari berkunjung." Lucas berjalan cepat. Stefanus menghadang langkahnya sebab jawaban Lucas terasa mengambang.
"Apa kau sudah..."
"Lucas ini Daniella." Sahut Elena menyela pembicaraan.
Stefanus dan Lucas menoleh. Mereka melihat seorang gadis Vampir yang sangat cantik tengah berdiri di samping Elena.
"Siapa dia?" Tanya Lucas lirih.
"Ini calon Istri pilihan Mama." Lucas tersenyum penuh ejekan.
"Aku tidak berminat."
__ADS_1
"Perkenalan dulu baru berkata itu." Stefanus berharap jika Lucas mau melakukannya.
"Aku menyukai seseorang dari sekali tatap. Jika aku tidak suka, sampai kapanpun tetap saja tidak suka. Sebaiknya kau jangan lancang memilihkan seorang pendamping untukku." Jawab Lucas melanjutkan langkahnya.
"Apa karena kau sudah menyukai seorang manusia." Tanya Elena setengah berteriak." Kau lihat sendiri bagaimana kelakuan putramu itu Baginda." Elena menunjuk kasar ke arah Lucas yang terus saja berjalan. Stefanus yang tidak sabar ingin mendapatkan jawaban. Kembali menghadang langkah Lucas.
"Katakan pada Ayah kebenaran itu Lucas." Tanya Stefanus menuntut.
"Ku rasa aku mengikuti jejak mu Ayah." Stefanus membulatkan matanya sementara Elena terkekeh dalam hati.
"Kau tahu itu larangan dalam bangsa kita Lucas!!!" Teriak Stefanus geram. Kemarahan pada sorot matanya terpatri. Ketakutannya selama ini benar-benar terjadi pada hidupnya.
Anak kebanggaannya yang berusaha dia jaga akhirnya jatuh ke larangan yang di terapkan olehnya.
Sumpah serapah Alex kini terjadi. Stefanus di tuntut memburu anaknya sendiri. Jika pemburuan gagal, dengan terpaksa Stefanus akan mengasingkan Lucas dan tidak akan mengakuinya sebagai anak.
"Hanya dia yang bisa membuatku jatuh cinta."
"Hentikan itu sekarang juga atau Ayah tidak akan mengakui mu sebagai anak!!!" Lucas hanya tersenyum simpul seraya membalas tatapan manik Stefanus.
"Aku sudah menikah. Dia Istriku. Darah kita bahkan sudah bercampur aduk menjadi satu. Ayah tahu apa artinya?" Stefanus menelan salivanya kasar." Lucas tidak akan melepaskannya selama aliran darah masih ada di tubuh kita masing-masing seperti kesetiaan yang bangsa kita terapkan." Stefanus mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan pada wajah Lucas.
Plaaaaaakkkkkk!!!
"Dia akan mengkhianati mu!! Kau akan menyesal sudah mencintai manusia!!!"
"Sesal itu aku yang merasakan jadi Ayah tidak perlu repot memikirkannya." Lucas berjalan melewati Stefanus. Dia yakin jika Noa akan setia padanya.
"Kau bukan anakku jika kau terus melangkahkan kakimu itu!!!" Teriak Stefanus berharap Lucas menghentikan langkahnya untuk pergi.
"Berikan tahtah kerajaan pada menantu mu Ayah. Mulai hari ini aku bukan anak mu." Lucas berubah menjadi asap dan pergi tanpa perduli dengan ancaman yang di lontarkan Stefanus.
"Lucaaaaaas!!!!" Teriak Stefanus memekakkan telinga.
Langit berubah mendung. Di iringi dengan gemuruh petir yang saling bersahutan.
Stefanus menatap nanar ke arah menghilangnya Lucas lalu memutar tubuhnya dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Elena yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
Hahahaha... Sebentar lagi manusia-manusia itu akan jadi makanan empuk. Stefanus akan mencabut aturan itu dan aku bisa berburu darah manusia dengan bebas..
Sementara Ana yang tengah berada di ruang rahasia. Mendongakkan kepalanya menatap poros petir yang tengah berada tepat di atas kerajaan.
Dia menunduk dengan tatapan sendu. Mengingat suasana yang sama ketika dulu Stefanus tengah memperjuangkan cintanya hingga harus melawan Ayahnya sendiri.
Aku tidak pernah berkhianat sayang. Aku terpaksa melakukan itu demi anak kita. Jangan kau tebarkan kebencian pada manusia hanya karena kebencianmu padaku.
Ana kembali terisak tanpa air mata. Menatap langit-langit kamar dengan harapan semu yang sudah ratusan tahun yang lalu di panjatkan.
__ADS_1
🌹🌹🌹