
Pedro meletakan jasad para prajurit tepat di hadapan Stefanus yang tengah berbincang dengan Elena.
"Itu buktinya Baginda. Mereka semua musnah di tangan Lucas. Dia bahkan bilang jika tidak akan melepaskan manusia itu meskipun Baginda mengirim seluruh prajurit kerajaan." Stefanus menghela nafas panjang seraya mengalihkan pandangannya ke arah jasad para prajurit yang di kenal tangguh.
Dia sudah sekuat itu. Sejak awal sudah bisa ku tebak jika Lucas akan jadi raja yang hebat. Tapi semua itu tidak akan bisa terjadi jika dia tidak melupakan manusia itu. Lucas harus tahu, jika manusia itu tidak setia dan hanya akan membawa luka.
"Alex sudah bertemu dengan Istri Lucas." Stefanus menoleh, dia menatap Elena dengan mata membulat.
"Alex. Alexander?"
"Hm iya."
"Kau bersekutu dengannya?" Tanya Stefanus terbata. Sudah lama dia enggan menyebut nama itu.
"Bukan bersekutu Baginda. Aku hanya meminta bantuannya saja. Dia sudah tinggal di kota sejak lama sehingga mengampangkan kita untuk menemukan mereka." Stefanus terdiam sesaat dan duduk lemah di singgasananya. Dia mengingat kejadian beberapa ratus tahun saat dia dengan tega mengusir adik kandungnya sendiri dan membunuh Istrinya dengan keji.
"Dia akan menertawakan ku." Gumam Stefanus berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku merasa dia tidak berbuat itu. Alex hanya menginginkan manusia itu sementara kita menginginkan Lucas."
"Maksudmu dia menyukai Istri Lucas?"
"Iya Baginda. Alex akan membantu kita agar lokasi rumah Lucas bisa di temukan."
Kenapa kejadian ini terulang lagi? Dulu aku di tentang keluarga ku karena mencintai manusia. Sekarang anak ku sendiri yang melakukannya.
"Hm aku hanya ingin mendapatkan Lucas. Jika manusia itu ingin di miliki Alex, terserah. Aku tidak perduli." Ucapan itu terasa berat keluar dari kerongkongan Stefanus. Dia masih bisa merasakan bagaimana cinta Ana yang sudah berhasil mengalihkan dunianya dulu. Tapi penghianatan itu lagi lagi membuat hatinya sakit hingga mengukuhkan niatnya untuk memisahkan hubungan pernikahan yang di anggap sakral. Maafkan Ayah, Nak. Ini semua demi kebaikanmu. Ayah tidak ingin kamu terlalu terbuai dengan cinta semu manusia.
Sementara Lucas sendiri tengah memperhatikan Noa yang tengah memakan sajian yang di hidangkan Bik Minah. Sesekali tangan kanannya terangkat ketika sebuah noda bumbu tidak sengaja mengotori pinggiran mulut Noa.
"Ini Non pencuci mulutnya, biar cepat hamil." Bik Minah meletakan potongan buah di hadapan Noa yang masih sibuk makan.
"Amin. Terimakasih Bik." Akhir akhir ini nafsu makan ku bertambah..
"Makan yang banyak Baby. Tidak masalah jika nafsu makan mu bertambah." Noa tersenyum dan baru mengingat jika Lucas bisa membaca fikiran.
"Sudah ku lakukan sayang." Piring kosongnya di geser lalu beralih pada potongan buah." Suasana nya terasa sudah normal. Apa mereka sudah pergi sayang." Tanya Noa seraya mengunyah.
"Hm sudah. Mereka menyerah karena tidak menemukan kita."
"Esok bagaimana?"
"Jangan ikut memikirkannya. Itu urusanku."
"Aku tidak bisa berbuat apapun selain berdoa dan berharap."
"Itu sudah lebih dari cukup." Lucas merebut garpu dari tangan Noa dan menyuapinya membuat manik keduanya bertemu. Dalam keadaan apapun. Dia tetap saja terlihat cantik.
Noa yang sudah terlanjur membuka bibirnya. Terpekik kaget saat yang kini memenuhi mulutnya bukanlah buah. Melainkan bibir Lucas yang langsung melummat nya kasar.
Klunting..
Garpu terlepas karena tangan Lucas kini mengangkat tubuh Noa dan memangkunya. Kepala keduanya yang sejajar membuat lummatan lembut seketika berubah menjadi kasar.
__ADS_1
Deru nafas keduanya memburu. Seiring dengan tangan yang kian menekan satu sama lain.
Bik Minah menghentikan langkahnya ketika akan melintas saat menyadari kegiatan panas majikannya.
Bluuuuupppp!!!!
Bibir Bik Minah melongok saat Lucas dan Noa tiba-tiba saja menghilang dari ruang makan.
"Apa aku salah lihat Gusti." Gumam Bik Minah mengucek-ngucek matanya untuk memastikan. Dia bahkan mempercepat langkahnya untuk membuktikan jika mungkin Noa dan Lucas masih berjalan menaiki tangga. Tapi nihil, rumah besar itu terlihat lenggang." Aaaaach!!!!" Teriak Bik Minah saat sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Maaf Bik." Bima terkekeh melihat raut wajah Bik Minah.
"Astaga Bima! Bibik fikir Tuan." Ucap Bik Minah mengelus pundaknya.
"Ini Bima Bik. Ada apa sih Bik, serius sekali."
"Tadi Tuan dan Nona ada di dapur tapi tiba-tiba kok menghilang."
"Bukankah Pak Bastian sudah bilang jika Tuan Lucas bukan orang sembarangan. Aku juga tidak melihat mereka masuk tapi tiba-tiba sudah di dalam." Bik Minah mengangguk-angguk seraya mengusap tengkuknya." Yang penting mereka baik sama kita Bik. Mungkin Tuan Lucas orang yang memiliki kelebihan jadi seperti itu." Imbuh Bima menimpali.
"Iya Bim. Tapi takut juga kalau kita di masukkan tumbal nantinya." Bima kembali terkekeh. Dia bahkan sudah memeriksa semua ruangan yang ada di dalam rumah dan tidak menemukan kamar khusus untuk pemujaan.
"Bibik sholat kan?" Bik Minah mengangguk." Lalu Tuan pernah melarang Bibik sholat?"
"Tidak Bim. Bibik malah bisa sholat dengan tenang di sini. Apalagi Nona Noa tidak rewel."
"Nah setahuku. Orang yang melakukan persugihan pasti melarang para pembantunya untuk sholat jadi mungkin Tuan Lucas hanya sebagian orang dengan sebuah kelebihan."
"Iya juga Bim. Ya sudahlah. Bibik beresin meja makan dulu. Kamu mau apa ke dapur?"
Lucas yang menjadi topik pembicaraan dua pembantunya ingin hadir untuk memberi peringatan. Tapi kegiatan yang di lakukan nya sekarang membuat dia memilih mengabaikannya.
Lucas tengah menggerakkan miliknya dari bawah. Sementara Noa mengekspresikan kenikmatan kali ini dengan lummatan yang tidak terlepas sejak Lucas memasukinya.
"Ahhh sayang." Dessah Noa menjauhkan bibirnya untuk menghirup oksigen. Kedua tangannya menekan lembut kepala Lucas di lehernya.
Seperti biasanya, Lucas mencumbui nya dengan gigitan kecil dan jilatan yang sanggup membuat Noa melayang. Rasa sakit itu kini menjadi candu. Noa bahkan menginginkan Lucas memberikan kesakitan dengan gigitan nya.
"Eum Baby. Biar aku menghisapnya sedikit."
"Lakukan sayang." Taring Lucas mencuat dan menusukkannya ke leher Noa hingga si pemilik tubuh mengelinjang dengan mata terpejam.
"Sakit.."
"Hm.. Tapi nikmat sekali ahhhh sayang. Aku ingin lebih cepat." Lucas menghisap sedikit darah Noa dan kembali mencumbui nya dengan erangan kenikmatan yang beberapa kali lolos dari bibirnya.
Setelah beberapa jam berlalu. Tubuh Noa terkulai lemah di dekapan Lucas dengan mata yang masih membulat.
Kekhawatiran yang mengusik hatinya, membuatnya ikut memikirkan awal hal buruk yang sudah terjadi.
"Tidak lemas?" Tanya Lucas seraya memainkan ujung rambut Noa.
"Lemas sayang."
__ADS_1
"Kenapa tidak tidur."
"Apa kamu akan pergi?" Tanya Noa untuk kesekian kali.
"Aku tidak akan kemana-mana. Mungkin hanya berkeliling sekitar rumah." Noa merapatkan tubuhnya begitupun Lucas yang semakin merapatkan dekapannya." Kamu takut?" Tanya Lucas menebak.
"Ada kamu. Aku tidak akan takut."
"Sekarang kamu tidur." Tiba-tiba saja Noa duduk dan memungut dress-nya lalu memakainya.
"Memaksa sekali. Aku tidak mau tidur." Celetuk Noa membuat Lucas terkekeh seraya ikut duduk untuk memakai lagi bajunya.
"Aku tidak memaksa Baby. Bukankah itu kebiasaan mu."
"Waktu kita begitu berharga. Aku tidak ingin menghabiskannya dengan tidur." Lucas berdiri kemudian merangkul kedua pundak Noa lembut.
"Ingin keluar jalan-jalan?" Tawar Lucas.
"Tidak."
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menonton televisi sayang. Aku akan mengambil cemilan di kulkas."
"Biar aku. Tunggu di sini." Belum sempat Noa menjawab, Lucas sudah lebih dulu pergi.
" Keren sekali." Gumam Noa tersenyum seraya berjalan ke sofa dan duduk.
"Pesanan siap."
"Aaaaaaaaaaaach!!!" Pekik Noa kembali terkejut saat Lucas sudah duduk di sampingnya." Astaga sayang. Jangan lagi. Kamu mengagetkan ku." Lucas kembali terkekeh melihat wajah kaget Noa.
"Ku fikir kamu sudah terbiasa. Bukankah kamu tahu aku memang begini."
"Iya. Tapi..." Noa menghela nafas panjang dan mengambil cemilan di hadapannya yang langsung di ambil alih oleh Lucas.
"Tapi apa?" Lucas memberikan cemilan yang sudah terbuka.
"Aku belum terbiasa. Aku sebenarnya bisa membukanya." Protes Noa menyalakan televisi dan bersandar di pundak Lucas seraya menikmati cemilan di tangannya.
"Aku suka saat kamu meminta sesuatu padaku."
"Itu hal kecil."
"Meski hal kecil." Sahut Lucas cepat.
"Aku akan melakukannya."
"Kamu wajib melakukannya. Hanya aku yang boleh kamu mintai pertolongan setelah Tuhan. Sesulit apapun nantinya. Jangan pernah menyebut nama lain selain Lucas."
"Iya sayang. Aku berjanji." Noa tersenyum meski sorot matanya terlihat kosong. Itu menandakan jika hatinya di liputi rasa kalut karena restu dari Stefanus yang terasa sulit di dapatkan.
Apalagi kini prajurit kerajaan mulai memburu mereka. Menambah ketakutan Noa akan kehilangan Lucas.
__ADS_1
🌹🌹🌹