
Bastian melongok saat melihat tubuh Bima terkulai di bawah pagar. Cepat-cepat dia berjalan menghampirinya lalu duduk berjongkok seraya menepuk-nepuk pipinya.
"Hei sadarlah." Ucap Bastian terus saja melakukan gerakan yang sama.
Mata Bima menyipit dengan wajah menyeringai. Dadanya terasa sakit namun dia masih memikirkan tanggung jawab yang Lucas berikan padanya.
"Nona Noa.." Ucapnya tertahan.
"Ada apa dengan Nona Noa?" Tanya Bastian merasa panik. Dia mengedarkan pandangannya dan hanya melihat jalanan kompleks yang sepi.
"Ada.. Makhluk aneh. Di dia menyerang Nona No.. A." Bima kembali tidak sadarkan diri dengan tangan kanan memegang dada.
"Ya Tuhan.." Eluh Bastian berdiri. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi ambulance.
Setelah selesai menghubungi ambulance, Bastian kembali duduk berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Bima yang masih berkedut." Bagaimana jika terjadi sesuatu? Apa aku harus menghubungi polisi? Ah tidak. Mereka tidak akan percaya." Mereka orang baik. Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu dengan mereka. Tuhan akan menjaga mereka dengan baik.
Hanya itu yang sanggup Bastian lontarkan. Masalah yang di hadapi bukan hanya tentang Mafia, gangster atau perkumpulan organisasi terlarang lainnya. Itu membuatnya tidak bisa berbuat apapun selain pasrah.
Noa sendiri masih belum sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemah di kamar utama rumah milik Alex.
Di dalam ketidaksadarannya. Mimpi yang selalu Noa lupakan kembali menghampiri.
Dia berada di tempat yang sama. Namun matanya melebar ketika terdengar suara Lucas memanggilnya. Noa memutar tubuhnya, mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara. Namun tidak juga menemukannya.
"Kamu di mana sayang." Teriak Noa menggema seolah dia berada di ruangan kedap udara.
"Dia di tempat yang jauh Nduk." Sahut Nyai yang sudah berdiri di samping Noa.
"Di hutan larangan itu?" Tanya Noa terbata.
"Hm iya. Tapi kamu tidak bisa mudah menemukan kerajaan itu dengan mata telanjang. Dasar makhluk tidak tahu diri. Tuhan sudah menciptakan mereka tapi mereka menjadi tidak tahu terimakasih. Mereka tidak sadar jika tanah yang mereka pijak adalah milik Gusti Allah. Kekuasaan apa yang mereka banggakan." Noa menatap bingung ke arah Nyai.
"Saya tidak mengerti Nyai."
"Percayalah Nduk. Kalau jodoh itu tidak akan bisa di pisahkan. Jalan hidup akan membawamu bertemu dengannya. Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana jalannya. Itu sudah ada yang mengatur. Kamu tinggal menjaga kesetiaan. Jangan mau terhasut ucapan siluman itu. Lakukan itu demi Suami mu. Demi anakmu. Ada Nyai di sini. Nyawa mu itu milik Tuhan. Mereka tidak berhak menyentuh mu. Nyai berdiri di belakangmu. Lepaskan amarahmu di saat yang tepat. Agar makhluk itu sadar. Kekuatan terbesar hanyalah milik Gusti Allah." Noa mengangguk pelan meski dia tidak memahami dengan maksud perkataan Nyai.
"Apa dia akan baik-baik saja Nyai?"
"Cinta itu sakit. Jadi itu sudah seharusnya terjadi." Nyai terkekeh nyaring kemudian menghilang dari hadapan Noa yang sudah pasrah dengan keadaan.
Blaaaaammm!!!!
Seketika Noa terjaga. Dia terduduk seraya mengedarkan pandangannya ke kamar asing yang dia tempati.
"Di mana aku." Gumamnya menyadari sesuatu yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sebuah rantai terpasang di sana dan terkait dengan ranjang kokoh yang kini di tempati." Dia mengurungku." Eluhnya mulai terisak. Dia menyesal karena tidak menuruti perkataan Bastian yang menyuruhnya berdiam di dalam rumah.
__ADS_1
Gagang pintu bergerak. Seorang lelaki paruh baya keluar dari sana dengan nampan di tangannya. Dia berjalan perlahan, mendekati ranjang.
"Makan malamnya Nona." Ucapnya menawarkan.
"Kemana Alex!!" Setelah meletakan nampan. Lelaki itu berdiri tegak di samping ranjang dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Ada rasa iba terbesit meski dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya pesuruh yang sering melihat kekejaman Alex pada para mangsanya yang sebagian besar seorang wanita.
Dia menganggap jika Noa adalah salah satu dari mereka. Sehingga lelaki paruh baya itu memiliki niat untuk menolong Noa namun tidak berani mengungkapkannya meski itu di dalam hati.
"Tuan Alex keluar sebentar Non." Jawabnya setelah beberapa menit berlalu." Sebaiknya Nona makan saja daripada nanti Tuan semakin marah." Pintanya berjalan keluar tanpa ekspresi. Meninggalkan Noa yang tengah berusaha terlepas dari rantai belenggu yang ada di tangannya. Saya tidak tahan Gusti...
Lelaki itu mengurungkan niatnya. Dia menghentikan langkahnya seraya memutar tubuhnya ke arah Noa.
"Tolong saya Pak. Saya mohon." Ucap Noa fokus melihat rantai pada tangan kanannya.
"Rasanya memang sudah terlalu lelah." Gumam lelaki paruh baya tersebut.
"Lelah?"
"Saya sudah sering melihat kekejian yang di lakukan Tuan. Para gadis itu di jadikan santapan untuknya juga para tamu." Cepat-cepat lelaki itu merogoh sebuah kunci yang ada di saku jasnya.
"Tuan Alex menyantap manusia?"
"Iya Nona. Bapak sudah lelah rasanya. Bapak merasa berdosa saat mendengar teriakan para gadis itu." Noa terdiam sesaat. Menatap ke pergelangan tangannya yang kini sudah terlepas dari belenggu." Setiap malam Bapak susah tidur. Teriakan itu terus saja menghantui Bapak. Sebaiknya Nona pergi sekarang. Saya takut Tuan Alex datang." Noa merasa senang dengan kebebasannya. Tapi dia menjadi tidak tega melihat raut wajah ketakutan yang di perlihatkan lelaki tersebut.
"Bapak akan terkena masalah nanti." Ucap Noa merasa iba. Dia takut akibat menolongnya, lelaki itu terlibat masalah berat yang mungkin bisa menghilangkan nyawanya.
"Biar saja Non. Bapak sudah tua. Paling tidak Bapak sudah melakukan sedikit kebenaran sebelum..."
"Bapak ikut saya saja."' Sahut Noa cepat.
"Bapak sudah tidak punya keluarga."
"Nyawa itu berharga Pak." Noa berdiri saling berhadapan.
"Bapak tahu Non. Tapi Bapak tidak sanggup lagi berkerja di sini."
"Ya sudah ayo ikut saya." Semangat Noa meluntur saat dia menyadari jika hari masih gelap. Dia berjalan cepat ke arah jendela lalu melihat sekitar bangunan mirip kastil itu terasa hening. Pasti berbahaya di luar sana.
Noa memutar tubuhnya. Menatap lelaki itu dengan raut wajah putus asa.
"Ada apa Non?"
"Masih gelap Pak. Saya tidak bisa bebas berkeliaran." Jawabnya lemah.
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Ceritanya panjang. Jika saya keluar mungkin makhluk sejenis Alex akan memangsa saya." Lelaki itu langsung melepaskan sebuah gelang yang terpasang di pergelangannya.
"Pakai ini Non."
"Apa ini Pak?" Noa mengambil gelang yang berbentuk tali tersebut.
"Gelang keberuntungan. Semoga membantu." Noa mengerutkan keningnya." Itu sudah turun temurun dari keluarga Bapak." Imbuhnya menjelaskan.
"Saya tidak berhak Pak." Tolak Noa merasa tidak enak. Dia mengembalikan gelang tersebut namun lelaki itu malah memakaikannya di pergelangan tangannya.
"Percaya sama Bapak Non. Walaupun gelang ini terlihat tidak menarik. Tapi bisa mencegah mara bahaya." Meski Noa tidak yakin. Dia membiarkan tangan keriput itu memasang gelang pada pergelangan tangannya.
Setelah gelang terpasang. Lelaki paruh baya itu mengiring Noa ke pintu utama bangunan tersebut. Noa tidak langsung pergi. Dia kembali melontarkan pertanyaannya yang sama.
"Bapak di sini saja Non." Jawabnya lagi.
"Bapak akan selamat jika sudah sampai di rumah saya."
"Terimakasih Non. Bapak semakin merasa bermanfaat karena menolong orang sebaik Nona."
"Baik apa Pak. Saya hanya tidak ingin.."
"Sebaiknya Nona pergi." Sahut lelaki itu tidak ingin Noa membuang waktu." Nona jalan ke Utara terus. Di sana lebih cepat sampai ke jalan utama." Imbuhnya menunjuk ke arah utara.
"Terimakasih Pak." Dengan berat hati Noa melangkah pergi meninggalkan lelaki paruh baya yang masih menatapnya.
Semoga gadis itu cepat mendapatkan pertolongan..
Lelaki itu berjalan masuk setelah menutup pintu. Baru saja beberapa kali melangkah. Dia melihat sekelebat bayangan hitam masuk melalui jendela.
"Bagaimana keadaannya." Tanya Alex sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu seketika memasang wajah gugup.
"Ba baik Tuan." Alex menatapnya tajam kemudian secepat kilat menaiki tangga untuk memeriksa.
Lindungi aku ya Tuhan...
"Di mana dia!!!" Tiba-tiba saja Alex sudah berdiri di hadapannya dengan mata merahnya.
"Saya.. Saya.. Maafkan saya Tuan. Saya merasa kasihan pada nya."
"Jadi kau membebaskan dia!!!" Teriak Alex geram. Tangan kanannya terulur dan mulai mencekik leher si lelaki." Kau tahu dia siapa!! Dia pengantin ku!!" Imbuhnya geram. Lelaki itu menggelepar. Dia tidak kuasa membalas ucapan Alex karena lehernya terasa panas.
Tubuhnya melemas hingga merenggang nyawa. Lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata membulat dan mulut menggangah.
__ADS_1
"Itu hukumanmu!!!" Umpat Alex melepaskan tubuh si lelaki lalu kembali menjadi asap untuk mencari keberadaan Noa.
🌹🌹🌹