
Alex berdiri di belakang Noa dengan tangan kanan memegang erat pinggang rampingnya. Sementara tangan kirinya menyingkirkan satu persatu makhluk yang ada di sekitar mereka.
"Paman."
"Hm aku." Jawab Alex menunduk, menikmati paras cantik Noa yang kini juga menatapnya.
"Em Maaf." Noa menyingkirkan tangan Alex dari pinggangnya dan berdiri tegak saat menyadari jika makhluk di sekitarnya sudah menghilang.
"Tidak. Aku yang minta maaf." Rasanya seperti saat aku menyentuh Tiara dulu..
"Iya Paman. Aku mencarimu." Tuturnya tanpa basa-basi. Noa ingin cepat mengetahui kabar tentang Lucas.
"Mencariku?" .
"Aku ingin berbicara banyak denganmu." Rasa muak yang bergemuruh. Membuat ucapan Noa sekarang terdengar kasar.
"Mobilku berada di sana." Alex menunjuk ke ujung jalan.
"Hm.." Noa melewati Alex begitu saja dan berjalan menuju mobil yang di tunjuk Alex.
Apa manusia itu membocorkan rencana ini..
Alex berjalan cepat menghampiri Noa. Dia membukakan pintu untuk Noa dan kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Tuan Lucas di mana?" Tanya Noa duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan.
"Aku tidak tahu." Noa tersenyum lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Alex.
"Jangan berbohong Paman. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Manusia itu membocorkan rencanaku." Gumam Alex tersenyum kecut.
"Tidak seharusnya dia terlibat. Dia tidak tahu apa-apa. Kemana Tuan Lucas berada?" Tanya Noa merasa tidak sabar.
"Lupakan Lucas. Dia tidak akan bisa lagi menemui mu. Dia sudah di hukum dan di kurung oleh Ayahnya sendiri akibat melanggar peraturan menikah dengan manusia." Mimik wajah Noa berubah cemas. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Lucas.
Dia dalam bahaya.
"Dia akan baik-baik saja selama kau menjauh." Noa menelan salivanya pelan. Tidak dapat di pungkiri jika perasaan cintanya pada Lucas sudah tumbuh membesar meski kebersamaan mereka terjadi sangat singkat.
"Dia Suamiku. Bagaimana mungkin kita bisa di pisahkan." Alex tertawa renyah. Dia sudah merasakan sendiri bagaimana berada di posisi Noa dan Lucas sekarang.
__ADS_1
"Hubungan kalian memang tidak seharusnya terjadi. Apalagi Lucas adalah putra mahkota yang harus mengemban tugas berat menjadi raja."
"Kita tidak bisa memilih takdir Paman. Pertemuan kami juga terjadi begitu saja hingga Tuan Lucas memutuskan untuk menjadikan ku Istri."
"Sekarang kau harus bisa melupakan dia. Lucas sudah sulit keluar bahkan kekuatannya terkikis habis. Itu kenapa dia tidak bisa mendatangimu." Noa terdiam sesaat. Dia semakin di liputi kekhawatiran akan keadaan Lucas sekarang.
"Lalu. Untuk apa Paman mengutus Bastian?"
"Agar Lucas bisa membenci mu dan melupakanmu." Hati Noa bergemuruh. Air mata lolos begitu saja dari sudut pipinya akibat rasa sesak pada dadanya yang mulai menjalar.
"Apa yang salah? Hiks.. Tuhan bahkan merestui hubungan kita." Ucapan yang sama Noa lontarkan. Perasaannya yang semakin tumbuh besar membuktikan jika Tuhan merestui hubungan pernikahannya.
"Jika terlalu banyak halangan. Itu tandanya Tuhan tidak merestui kalian." Noa mengusap kasar sudut matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah seperti apa yang pernah Lucas katakan padanya.
"Bukankah seharusnya Paman memihak pada kami? Kenapa Paman malah membantu keluarga Tuan Lucas untuk memisahkan kami?" Alex kembali tertawa renyah dengan tatapan manik yang belum juga beralih.
"Takdir mu itu bersamaku Noa. Itu kenapa aku membantu Elena memisahkan kalian berdua." Kini Noa percaya dengan perkataan Bastian. Makhluk yang di sebutnya sebagai Paman, ternyata menyukainya.
"Tuan Lucas satu-satunya Suamiku."
"Kalian akan sama-sama hancur jika terus bersama."
"Itu lebih baik daripada aku harus berkhianat darinya." Mimik wajah Alex berubah geram. Dia berpaling dengan dengusan nafas kasar yang berhembus.
"Aku berhutang nyawa padanya Paman.." Sahut Noa cepat.
"Berarti kau tidak mencintai nya."
"Aku mencintainya."
"Cinta kalian akan kandas di tengah jalan!"
"Sekuat apapun kalian, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Tuhan." Alex menoleh dan tersenyum penuh hinaan." Kalaupun maut adalah jalan buntu yang harus kami lalui. Aku sudah pasrah pada semuanya." Imbuh Noa menimpali. Dia berharap Alex berubah fikiran dan mau membantunya.
"Kau tidak mengerti apa yang sedang kau hadapi. Hiduplah bersamaku." Alex menjadi tidak sabar. Dia meraih jemari Noa dan hendak mengecup nya namun Noa menarik tangannya kasar.
"Aku tidak menyangka jika Paman sebusuk ini. Paman sadar siapa aku?"
"Aku sudah menjadi makhluk paling busuk sejak lama. Aku tidak perduli dengan apa yang kau katakan. Aku yakin kau akan segera menyerah dan jatuh ke dalam pelukanku."
"Tidak ada salahnya berharap meski itu harapan yang semu." Ucapan Noa tentu saja membuat Alex kesal meski dia tidak sanggup membenci wanita yang tengah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Hm baiklah jika kau suka di paksa." Alex mengangkat tangan kanannya lalu menepuk pundak Noa. Seketika Noa tidak sadarkan diri, terkulai lemah di kursi mobil. Alex bersenandung kecil dan mulai melajukan mobilnya pergi.
๐น๐น๐น
Patresia mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar Lucas saat keadaan di luar aman. Dia menddesah lembut, melihat keadaan Lucas yang sudah sangat lemah dan pucat.
Aku tidak mengerti kenapa Baginda tega sekali..
"Aku membawakan mu makan Lucas." Ucap Patresia lirih. Dia merogoh gaunnya dan mengeluarkan botol kecil berisi darah.
"Pergi." Jawab Lucas menolak. Maniknya bahkan enggan melihat ke arah Patresia.
"Kamu selalu saja tidak bisa menerima kebaikan ku."
"Kau baik? Hahahaha. Omong kosong!! Kau tidak ayal sebusuk Ibumu!" Patresia mendengus, menatap Lucas dari samping. Dia masih saja terenyuh dengan ketampanan cinta pertamanya itu.
"Itu untuk kebaikanmu. Kamu tidak pantas mencintai makhluk lemah seperti manusia." Lucas tersenyum tipis dengan tatapan kosong ke luar jendela.
"Mereka memang lemah. Tapi cintanya terasa manis. Apalagi Istriku. Dia sangat sempurna. Dia cantik dan memiliki segala sesuatu yang ku inginkan." Patresia menyodorkan botol berisi darah namun Lucas menampisnya hingga botol keramik itu terjatuh dan pecah." Bawa pergi! Sudah ku bilang aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin Noa ku!!" Patresia duduk lemah seraya menatapnya fokus.
"Kau akan cepat mati jika tidak makan."
"Itu lebih baik." Tiba-tiba saja Patresia berdiri saat dia melihat potret Noa tertempel di dinding. Dia mengambilnya satu dan memperhatikan paras Noa.
Apa dia wanita itu? Cantik sekali.. Hati Patresia berkedut. Merasakan nyeri hebat saat menyadari jika Istri Lucas begitu cantik.
"Apa dia Istrimu?" Tanya Patresia kasar. Lucas hanya mengangguk pelan." Manusia tidak bisa hidup lama. Dia akan berubah tua jika kau hanya menyukai parasnya." Patresia masih berusaha menyadarkan Lucas jika Noa tidak pantas mendampinginya.
"Satu hari bersamanya setara dengan seribu tahun kehidupan ku."
Dia tidak pernah jatuh cinta atau tertarik. Tapi sekali tertarik, dia menyusahkan sekali.
"Cinta mu terlalu buta Lucas."
"Aku tidak perduli jika kebutaan ini nantinya akan membunuhku."
"Terserah! Aku hanya mengingatkan jika Baginda tidak akan melepaskanmu jika kau masih saja mencintai nya. Berpura-pura lah menyerah. Kelabuhi mereka agar kau bisa terlepas dari belenggu itu." Rasa cinta yang begitu besar meski tidak berbalas. Membuat Patresia melontarkan sebuah ide yang sanggup membuat senyum Lucas membingkai.
Dia benar. Aku harus berpura-pura..
Sakit sekali melihat mu mencintai wanita itu. Tapi aku lebih sakit melihat wajah pucat mu itu. Aku berharap kau bisa terbebas dari sana Lucas.
__ADS_1
๐น๐น๐น