
Dorothy yang merupakan ahli nujum terkenal di kalangan Vampir kembali memeriksa tubuh Noa untuk memastikan lagi kehamilannya.
Dia tersenyum seraya melakukan sentuhannya lembut pada perut juga beberapa bagian tubuh lainnya. Itu di lakukan karena Dorothy begitu penasaran tentang sesuatu yang tengah bersemayam di dalam tubuh Noa.
"Dia memang sedang hamil. Janinnya di lindungi sempurna oleh sesuatu yang ada di tubuhnya." Dorothy meniup wajah Noa dan sesaat setelah itu Noa tidak sadarkan diri.
"Kenapa dia?" Tanya Lucas panik.
"Maaf Tuan Lucas. Saya merasa tergelitik dengan kekuatan apa yang ada pada tubuh manusia ini. Saya mendengar kehebohan yang terjadi semalam. Sayang sekali saya sedang berada di tempat yang jauh sehingga saya tidak bisa hadir di sini. Kekuatannya sudah terbuka dan tidak terkunci lagi. Saya ingin bertanya beberapa hal saja." Ana mengusap punggung Lucas lembut untuk merendahkan emosi nya." Bagaimana Baginda, Tuan? Apa saya boleh melakukannya?" Imbuhnya bertanya. Stefanus melihat ke arah Lucas seraya mengangguk.
"Hm hanya sebentar saja." Jawab Lucas lirih.
"Saya pastikan tidak akan lama." Dorothy komat-kamit untuk memanggil sosok Nyai yang bersemayam pada tubuh Noa.
Tiba-tiba saja Noa terduduk dengan wajah yang sama namun tegas. Samar terlihat sebuah mahkota berada di atas kepalanya dengan lambang naga.
Alex yang juga berada di sana, sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Nyai yang menghasilkan hawa panas.
"Untuk apa memanggil ku." Sesuai dengan perubahan wajah. Ucapan Noa terdengar begitu tegas.
"Maaf. Saya hanya ingin tahu anda siapa?" Noa terkekeh nyaring dengan mata berwarna hijau.
"Panggil aku Nyai."
"Kenapa anda tinggal di dalam tubuh wanita ini?"
"Aku khodam nya. Aku pendampingnya. Kalian tidak bisa menyentuh nya kecuali Tuhan." Noa beralih menatap Stefanus." Terutama kau Stefanus! Jika kau berani menyentuh ujung rambutnya, bangsamu akan ku bantai dan ku musnahkan!" Ancam Noa dengan mata bulatnya.
"Aku sudah melupakan itu dan menerimanya sebagai menantu."
"Sebarkan peringatan itu untuk bangsamu." Stefanus mengangguk seraya tersenyum.
"Jadi anda tinggal di tubuhnya sejak kecil."
"Tentu saja. Janin yang ada di tubuhnya akan menjadi wadah baru untukku. Dia akan lebih kuat sebab dia keturunan bangsamu."
__ADS_1
"Di balik kekuatan besar akan ada tanggung jawab besar."
"Anak ini akan berdiri tegak pada tiga alam. Alam manusia, alam bangsa kalian juga alam ku. Tapi kalian harus ingat jika kekuatan sejati hanya milik Tuhan. Di atas langit masih ada langit! Jika kalian merasa kuat. Kalian harus ingat jika ada Tuhan yang berdiri di tempat paling ujung." Dorothy tersenyum seraya mengangguk.
"Saya mengerti."
"Apa ada hal lain yang ingin kalian tanyakan?" Dorothy mengedarkan pandangannya ke sekitar yang hanya terdiam saja.
"Tidak ada Nyai. Anda boleh pergi. Terimakasih sudah memenuhi panggilanku." Sesaat setelah itu, Noa kembali tidak sadarkan diri." Luar biasa sekali. Tuan Lucas sangat beruntung memilikinya." Lucas tersenyum sementara Alex terlihat memasang wajah datar.
Kebenaran akan kesempurnaan Noa membuat rasa dengki Alex semakin menyelimuti. Dia pergi begitu saja tanpa berucap satu katapun.
"Apa anda mengetahui ini sebelumnya?" Dorothy menatap ke arah Lucas seraya tersenyum.
"Aku tidak tahu. Ku fikir dia hanya manusia biasa. Dia bahkan terlihat sangat lemah."
"Dia akan berubah ketika emosi nya tersulut. Selebihnya, dia akan menjadi manusia pada umumnya." Lucas mengangguk, menatap Noa yang masih terkulai di atas sofa.
"Jangan lupa untuk memberikan penawar agar dia tidak muak melihatku."
"Sudah saya siapkan Tuan Lucas." Dorothy memberikan sebuah kotak kecil yang berisi liontin.
"Pakaikan itu saat dia terbangun." Dorothy membereskan alat yang di bawa ke dalam tas kecilnya.
"Saya berharap anda bisa datang ke pesta yang di gelar nanti." Pinta Ana sopan.
"Saya sangat ingin permaisuri. Tapi hari ini saya begitu sibuk."
"Ini upahmu." Stefanus memberikan beberapa batang emas dan membungkusnya dengan kain berwarna putih.
"Terimakasih Baginda. Saya undur diri. Permisi." Dorothy berjalan keluar lalu menghilang begitu saja di tengah aula kerajaan.
"Setelah pesta. Aku akan membawanya pergi." Lucas berdiri lalu mengangkat tubuh Noa bersamanya.
"Ayah sudah ingin berhenti Lucas. Ayah sudah merestui hubungan kalian. Tolong tinggal di sini. Gantikan Ayah memimpin tempat ini."
__ADS_1
"Sejak awal aku sudah tidak menginginkan tahta kerajaan. Buang jauh-jauh keinginan mu. Aku hanya ingin hidup damai bersamanya." Lucas berjalan cepat tanpa menghiraukan teriakan Stefanus.
"Jangan memaksanya." Pinta Ana ikut berdiri.
"Rajuk dia Ana."
"Lucas sudah besar. Biarkan dia memilih jalannya sendiri." Ana akan beranjak pergi namun tangan Stefanus menahannya.
"Kamu ingin menghindar terus? Tolong duduk dulu. Kita selesaikan kesalahpahaman ini." Dengan terpaksa Ana kembali duduk karena perasaan cintanya pada Stefanus yang belum berubah sedikitpun." Maafkan aku Ana. Maafkan khilafku selama ini. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa dan menganggap kau berselingkuh." Imbuh Stefanus menggenggam jemari Ana dengan kedua tangannya.
"Bagaimana aku bisa memaafkanmu jika aku masih bisa mendengar dessahan mu ketika bercinta dengan wanita itu." Stefanus menghela nafas panjang. Dia hanya menjadikan Elena sebagai pelampiasannya saja.
"Aku melakukan itu seraya membayangkan mu." Jawab Stefanus lirih.
"Bagaimana mungkin kamu melakukan itu Tuan! Aku merasa kau menikmatinya!"
"Tidak Ana. Aku masih sangat mencintai mu walaupun kamu menghianati ku."
"Kau berkata itu seolah kau tidak mengenalku dengan baik. Mana mungkin aku berkhianat hanya karena Lucas seorang Vampir! Aku mengandungnya selama 90 hari. Itu semua butuh perjuangan hidup dan mati. Jika aku tidak menginginkan Lucas. Aku tidak mungkin melahirkannya." Stefanus mengangguk-angguk dan baru menyadari keganjilan itu.
"Bisakah kita melupakan itu Ana. Aku ingin kembali bersama seperti dulu."
"Aku tidak bisa duduk bersanding dengan makhluk yang sudah beristri. Kau tahu jika aku tidak suka di duakan."
"Aku tidak lagi menganggap Elena seorang Istri. Hanya kamu satu-satunya Istriku." Hati Ana masih saja merespon rayuan yang di lontarkan Stefanus." Aku mohon Ana. Aku yakin kamu masih mencintai ku." Imbuhnya berusaha merajuk.
"Aku butuh waktu." Ana menarik lembut tangannya." Sekarang, kita fikirkan kebahagiaan Lucas dulu. Buat dia memaafkanmu atas apa yang sudah kamu lakukan padanya. Jika Lucas sudah memaafkan semua kesalahan mu. Mungkin aku juga akan melupakan kesalahanmu." Ana melirik sebentar ke arah Stefanus yang tengah tersenyum lalu berdiri.
"Terimakasih kesempatannya."
"Hm.." Ana berlalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Aku benar-benar sudah ingin berhenti memimpin tapi kenapa Lucas masih saja seperti itu.
Stefanus beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke jendela. Dia menatap lepas keluar jendela seraya memperhatikan Alex yang tengah duduk sendirian di sebuah pohon besar.
__ADS_1
Dia masih kesal padaku. Mungkin jika aku memberikan kesempatan emas ini. Alex akan melupakan semua kesalahanku dulu..
🌹🌹🌹