Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
52


__ADS_3

Noa berusaha bersikap biasa saja meski kekhawatirannya akan kepergian Lucas menyelimuti. Sebisa mungkin, dia menahan perasaan yang bergemuruh karena tidak ingin Lucas terbebani.


Noa yang memang tidak fokus. Mengambil sembarangan makanan ringan dalam jumlah banyak dan meletakkannya pada keranjang belanjaan yang tengah Lucas dorong.


Tangan kanannya menggenggam jemari Lucas, sementara tangan kirinya terus saja mengambil snack hingga beberapa dari makanan ringan itu berceceran.


"Sebanyak ini Baby." Tanya Lucas terpaksa melepaskan genggamannya untuk memungut makanan yang jatuh ke lantai.


Noa menoleh seraya menelan salivanya kasar. Maniknya menatap makanan yang bertumpuk di dalam keranjang lalu mengalihkan pandangannya ke Lucas yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Kamu yakin menghabiskan ini semua?"


"Maaf sayang. Aku lupa diri." Jawab Noa meraih bungkus makanan dan hendak mengembalikannya.


"Biar saja. Tidak perlu di kembalikan." Cegah Lucas kembali meraih jemari Noa dan menggenggamnya.


"Biar ku kembalikan." Pintanya pelan.


"Apa ada lagi yang ingin kamu beli?" Tanya Lucas tidak merespon perintah Noa.


"Itu sudah banyak sekali."


"Hm kita bayar lalu... Kamu mau kemana lagi Baby."


"Entahlah, kemana. Aku sedang tidak berselera."


"Kata mu ingin menghabiskan waktu sebaik-baiknya?"


"Hm.." Jawabnya singkat.


"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi." Noa mendongak seraya tersenyum, menatap Lucas yang mulai mengeluarkan isi belanjaannya dan meletakkan di meja kasir.


"Aku hanya takut sendiri."


"Ada aku." Noa menghembuskan nafas berat.


"Hm sekarang. Bagaimana dengan nanti."


"Sudah ku bilang jika aku akan kembali." Noa mengangguk-angguk seraya tersenyum aneh. Perasaannya yang peka, membuatnya merasakan perpisahan yang akan terjadi dalam waktu dekat.


"Iya. Aku ingat itu."


"Masih tidak percaya padaku." Bisik Lucas mendekatkan bibirnya ke telinga Noa.


"Percaya." Noa menghindari sentuhan tersebut padahal sebelumnya dia selalu menikmatinya." Jangan begini sayang. Geli sekali." Imbuhnya berprotes.


"Bukankah kamu suka." Noa menatap Lucas dengan raut wajah kesal. Tangan kanannya mengusap-usap telinga kanannya seolah berusaha membersihkannya.


"Itu aneh sayang."


"Totalnya 780 ribu." Sela kasir.


"Hm.." Lucas mengeluarkan kartu ATM untuk membayar belanjaannya. Setelah selesai, keduanya berjalan beriringan keluar mini market dengan manik Lucas yang terus saja memandangi Noa yang di fikirnya tengah kesal. Mungkin dia sedang kesal padaku.. "Apa kamu marah padaku Baby?" Tanya Lucas seraya menghidupkan mesin mobil.


"Tidak sayang. Aku tidak sedang marah." Noa menjawabnya dengan jujur sementara Lucas mengira jika Noa menutupi kekesalannya.

__ADS_1


Aku tidak ada pilihan lain Baby. Semoga saja Ayah cepat yakin dengan kesetiaan mu dan mengakhiri penawaran memuakkan itu..


Noa sendiri tengah merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Ada rasa was-was juga sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


Noa mengira jika apa yang di rasakan sekarang akibat terlalu memikirkan kekhawatirannya sehingga dia sama sekali tidak menyangka akan kehadiran janin yang sudah tumbuh dengan cepat di rahimnya.


Kenapa aku jadi malas melihatnya.. Eluhnya di dalam hati. Maniknya melirik ke Lucas yang tengah fokus menyetir.


"Itu tandanya kamu kesal padaku." Aku harus meminta sedikit waktu untuk melakukan itu. Sepertinya ini terlalu cepat terjadi hingga membuat dia malas melihatku.


"Aku tidak kesal sayang."


"Buktinya kamu malas melihatku." Noa kembali menoleh dan masih merasakan sesuatu yang aneh pada matanya.


"Malas bukan berarti kesal." Jawab Noa cepat. Dia merasa tidak kesal tapi sangat muak saat melihat paras Lucas.


"Aku tidak akan pergi malam ini."


"Kenapa begitu sayang?" Tanyanya dengan suara lembut meski mimik wajahnya terlihat tidak baik.


"Biar aku menemui Ayah besok."


"Kamu harus pergi agar kita cepat tahu penawaran dari Ayah."


"Besok malam akan ku lakukan." Noa menghembuskan nafas berat.


"Jangan menundanya. Aku ingin masalah ini cepat selesai agar aku bisa bebas berpergian."


"Kamu marah. Bagaimana aku bisa pergi."


Lucas mematikan mesin mobil namun tidak langsung turun. Tubuhnya memutar dan menghadap ke Noa yang tengah memasang wajah bingung.


"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Lucas lirih.


"Entahlah sayang. Aku kenapa." Noa malah balik bertanya sehingga membuat Lucas tersenyum.


"Ini semua sudah jelas Baby. Kamu kesal karena kekhawatiran yang ku katakan kemarin malam."


"Aku memang khawatir tapi aku tidak marah padamu." Noa membuka pintu mobil lalu turun dan dengan cepat Lucas sudah berdiri di samping nya." Sebaiknya kamu pergi malam ini agar semuanya jelas. Jika sampai nanti kamu tidak bisa kembali. Aku berjanji akan menunggu." Imbuhnya tanpa menatap ke arah Lucas.


"Bicara seperti biasanya jika memang tidak kesal." Noa menoleh sebentar kemudian berpaling. Dia masih saja muak melihat wajah Lucas." Kamu bahkan tidak mau melihat ke arahku." Lucas menelungkup wajah Noa dengan kedua tangannya dan hendak melummat bibirnya namun Noa mendorong dada Lucas lembut untuk menghindar.


"Aku benar-benar sedang tidak ingin sayang." Ucapnya tertunduk. Noa merasa tidak pantas mengatakan itu namun perasaannya mendorong kuat.


"Bagaimana aku bisa pergi jika..."


"Kita tidak bisa selamanya bersembunyi." Sahut Noa menimpali." Sebaiknya lakukan seperti rencana awal saja. Aku akan baik-baik saja di sini." Noa berjalan mendahului Lucas yang terpaku. Baru kali ini Lucas melihat raut wajah berbeda dari Noa. Sepanjang waktu bersama. Sekalipun Noa tidak pernah memperlihatkan mimik wajah kesal apalagi marah.


Aku akan berbicara pada Ayah.. Aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini..


Lucas membuka jog belakang mobil dan mengambil semua belanjaan. Terlihat Noa tengah duduk di ruang tengah seraya menonton acara televisi.


Lucas meletakan belanjaannya di atas meja kemudian duduk tepat di samping Noa. Manik nya melirik ke tangan Noa yang tengah memegang ponsel.


"Pesan steak?" Tanya Lucas lirih.

__ADS_1


"Iya sayang. Aku ingin memakannya lagi." Jawabnya dengan suara normal.


"Banyak sekali."


"Hm iya." Noa memperlihatkan senyum indahnya." Aku tidak ingin makan nasi jadi aku pesan empat porsi agar kenyang." Lucas terkesima melihat senyum itu dan kembali jatuh cinta.


Sekarang dia tidak terlihat marah..


"Apa itu makanan kesukaan mu?" Kepalanya menggeleng pelan.


"Bukan. Tapi sejak semalam aku menyukainya." Jawaban dari Noa seharusnya sudah memperlihatkan perubahan. Tapi Lucas tidak menyadari jika kemarahan dan sesuatu ganjil yang Noa perlihatkan. Akibat dari janin yang tumbuh di rahim Noa.


Janin itu tumbuh cepat. Mulai mengendalikan inangnya dengan keinginan-keinginan yang tidak pernah Noa fikirkan.


Lucas tidak bisa mendeteksi keberadaaan janin tersebut. Karena seorang manusia yang mengandung keturunan bangsanya, tubuhnya akan melemah.


Jangankan untuk berbicara, bahkan berdiri pun mungkin sulit. Wanita yang mengandung akan berbaring sepanjang waktu di tempat tidur karena janin yang di kandung menyerap sedikit demi sedikit darahnya.


Untuk menguatkan inangnya, biasanya bangsa Vampir menyuntikkan darah mereka pada Istri manusianya agar bisa bertahan hidup.


Sementara yang terjadi dengan Noa. Dia terlihat biasa saja dan hanya memperlihatkan tanda-tanda seperti wanita hamil pada umumnya.


🌹🌹🌹


Elena dan Alex tertawa renyah, melihat keberhasilan rencana mereka yang berjalan sangat mulus. Dengan mudahnya Lucas bisa terhasut oleh sandiwara yang sudah Elena buat.


"Jadi besok orang suruhan ku sudah bisa mendekati Noa." Tanya Alex bersemangat.


"Hm ya. Aku tidak tahu jika secepat ini."


"Ku fikir akan sulit mengingat Lucas berpendirian teguh dan peka seperti Kak William." Kekehan Elena seketika berhenti saat Alex menyebut nama Suami tercintanya." Andai dia yang menjadi raja, mungkin aku tidak akan di asingkan seperti ini." Alex masih ingat, bagaimana watak dari Kakak tertuanya itu.


William seorang Vampir yang sangat sabar dan memiliki sifat toleransi yang besar pada manusia. Karena alasan tersebut hingga membuatnya tidak terpilih menjadi Raja.


Para rakyat berfikir jika William akan plin-plan dalam mengambil keputusan dengan kesabarannya itu. Hingga terpilihlah Stefanus yang memiliki sifat keras hati dan kecerdasan yang luar biasa.


"Itu masa lalu." Jawab Elena memasang raut wajah penuh penyesalan.


"Aku tidak menganggapnya begitu." Alex menatap lekat Elena yang mulai salah tingkah." Kau sudah melupakan Kakak ku padahal kau dulu sangat mencintainya. Bagaimana kamu melakukan itu?" Alex tidak tahu menahu soal kenyataan tentang kebusukan Elena yang sudah tega memusnahkan William hanya demi ambisinya. Jika Alex tahu soal itu. Mungkin dia tidak akan sudi bersekongkol dengan Elena.


"Aku tidak benar-benar mencintai Stefanus. Aku hanya menginginkan kekuasaannya saja agar aku bisa berburu darah dengan bebas." Jawab Elena tanpa menatap Alex.


"Busuk sekali hahaha."


"Aku tidak perduli. Yang terpenting ambisi ku bisa terwujud." Elena berdiri dan berniat pergi. Dia tidak ingin kebenaran soal pembunuh William terkuak." Aku harus kembali. Stefanus nanti mencariku." Segera saja Elena menjadi asap dan menghilang dari hadapan Alex.


"Aku juga tidak perduli jika nantinya mereka menyebut ku buruk karena mencintai Istri keponakanku. Yang pasti Noa bisa ku dapatkan. Selebihnya.. Aku tidak perduli dan tidak ingin tahu." Gumam Alex tertawa menggelegar. Mulai membayangkan jika kehidupannya akan kembali indah saat Noa sudah berada di sampingnya. Sekarang. Aku percaya Tuhan itu ada. Dia sudah menghadirkan Tiara ku lagi..


🌹🌹🌹


Hoiiii reader 😁


Aku tidak bermaksud berbelit-belit 👀Aku mencoba memikirkan setiap komentar dan masukan yang kalian ketik🥰Tapi itu semua butuh proses. Karena menyambungkan cerita membutuhkan adegan demi adegan agar ceritanya tidak terlihat meloncat-loncat 😁


Terimakasih dukungannya...

__ADS_1


Bantu share sebanyak-banyaknya agar aku semakin bersemangat 🥰


__ADS_2