Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
78


__ADS_3

Lucas menddesah saat melihat Bima tidak ada di tempat. Dia bergegas masuk dan melihat Bik Minah tidur di sofa sementara Bastian di kamar tamu.


Lucas meniup wajah Bik Minah dari tempatnya berdiri, membuat Bik Minah seketika terjaga karena angin dingin yang menerpa wajahnya.


"Tu Tuan Lucas!!" Ucap Bik Minah panik. Tentu saja dia panik sebab sampai sekarang Noa tidak juga di ketahui keberadaannya. Duhh Gusti bagaimana ini..


"Di mana Bima dan Bastian?"


"Se sebentar Tuan." Dengan wajah tertunduk Bik Minah berjalan ke arah kamar tamu untuk membangunkan Bastian. Tangannya terangkat dan mulai mengetuk." Tuan Bastian. Bangun Tuan." Lucas melirik malas seraya duduk menunggu.


Cklek..


Pintu terbuka dan memperlihatkan Bastian yang berantakan dengan mata lebamnya. Dia menjadi sulit tidur karena menghilangnya Noa. Dia tidak sanggup berbuat apapun. Bastian takut jika Alex masih memburunya.


"Ada apa Bik?"


"Tu Tuan Lucas pulang." Bastian menelan salivanya kasar. Maniknya langsung tertuju ke arah ruang tamu." Bagaimana ini Tuan." Imbuh Bik Minah dengan wajah gelisah.


"Mau bagaimana lagi Bik. Kita katakan yang sebenarnya." Apa Tuan Lucas akan membunuh ku!! Ya Tuhan.. Aku takut sekali..


Dengan langkah ragu, Bastian berjalan perlahan dan berdiri di samping Lucas bersama Bik Minah. Wajah keduanya tertunduk, mereka merasa takut akan kemarahan Lucas yang pasti sangat mengerikan.


"Bima mana?" Tanya Lucas sedikit mendongak.


"Di rumah sakit Tuan. Maafkan saya. Saya terpaksa tinggal di sini karena Tuan Alex.."


"Itu tidak penting!" Sahut Lucas cepat." Kenapa Bima di rumah sakit?" Tanya Lucas tentu ingin tahu.


"Dia saya temukan terluka di depan pagar rumah. Saya tidak tahu kenapa."


"Bagaimana keadaannya?" Lucas sudah bisa menebak tentang apa yang terjadi dengan Bima yang mungkin terkena serangan Vampir saat dia tidak berada di rumah.


"Kritis Tuan. Dia belum sadarkan diri karena luka dalam pada dadanya." Lucas bergegas berdiri.


"Antar aku ke sana." Pinta Lucas.


"Tu Tuan tidak menanyakan Nona Noa."


"Dia sudah bersamaku." Bik Minah dan Bastian tersenyum menggembang." Tapi aku masih tidak suka kau tinggal sembarangan bersama Istriku!!" Keduanya bernafas lega mendengar Noa baik-baik saja walaupun suara Lucas terdengar buruk.


"Maafkan saya Tuan. Nona Noa yang menyuruh saya karena ini satu-satunya tempat yang tidak bisa di masuki Tuan Alex."


"Saya saksinya Tuan. Nona Noa tidak berkhianat." Sahut Bik Minah menimpali.


"Dia tidak akan tertarik pada wajah burukmu!! Cepat antar aku ke rumah sakit!" Lucas berjalan keluar sementara Bastian kembali masuk ke kamar untuk mengambil kunci.


"Saya pergi dulu Bik."


"Iya Tuan hati-hati." Jawab Bik Minah dengan senyum mengembang. Doanya selama ini terkabul saat mendengar jika Noa baik-baik saja." Terimakasih sudah melindung orang baik seperti Nona Noa." Imbuhnya menatap mobil Bastian yang mulai melaju pergi dari pekarangan rumah.


"Alex mengancam mu!" Tanya Lucas ingin tahu.


"Iya Tuan. Saya terpaksa tinggal di sana."


"Apa yang dia suruh?"


"Saya di suruh merayu Nona Noa." Lucas mendengus kesal.


"Lalu kau mau!!!" Bastian berjingkat saat mendengar suara buruk Lucas.

__ADS_1


"Sa saya manusia biasa Tuan. Dia akan membunuh saya jika saya tidak mau." Lucas mencoba menenangkan perasaan kesal yang berkecamuk. Dia menyadari kekuatan Bastian yang tidak mungkin bisa mengimbangi kekuatan bangsanya.


"Kau tahu aku bukan manusia?" Tanya Lucas lirih.


"Tahu Tuan. Em.. Bibik juga tahu. Nona yang sudah memberitahu."


"Kau tidak takut?" Lucas menoleh dan menatap tajam ke arah Bastian yang setengah mati ketakutan.


"Saya yakin Tuan baik."


"Yakin sekali? Jika aku membunuh mu sekarang bagaimana?" Bastian tersenyum aneh dengan wajah menegang.


"Saya yakin Tuan tidak akan melakukannya."


"Jika kau masih mendekati Istriku, aku akan melakukannya!!"


"Tidak mungkin Tuan. Saya menghormati Nona Noa dan juga Tuan Lucas."


"Hm bagus. Jangan pernah sekedar menatapnya! Aku akan mencongkel matamu itu!!" Bastian menyeka keringat pada sekitar wajahnya. Dia takut walaupun dia yakin jika Lucas bukan makhluk jahat.


Mobil Bastian terparkir di depan rumah sakit. Saat dia akan melangkah masuk, tangan Lucas menahannya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Bastian seraya menoleh ke arah Lucas.


"Kita masuk diam-diam. Aku memastikan jika pihak rumah sakit akan melarang kita masuk ke ruangan di mana Bima di rawat." Bastian membenarkan itu. Bima kini berada di IGD karena kondisinya yang kritis.


"Lalu bagaimana Tuan."


"Lantai berapa dia di rawat?"


"Lantai 3."


Dalam sekejap, keduanya sudah berada di lorong rumah sakit lantai 3. Lucas memperhatikan sekitar dulu dan kembali menghilang saat mengetahui letak ruangan IGD.


Lucas melepaskan genggaman tangannya pada lengan Bastian yang langsung membuka matanya. Dia melihat keadaan buruk Bima dengan berbagai alat yang terpasang pada tubuhnya.


Tangan Lucas terangkat ke arah kamera CCTV dan merubah posisinya tanpa menyentuh. Bastian hanya diam dan melihat walaupun dia cukup tercengang dengan keahlian Lucas.


Setelah kamera teralihkan, Lucas berjalan ke ranjang Bima. Tangannya mengeluarkan sinar putih dan mulai melakukan sentuhan pada dada Bima yang terlihat memar bahkan mulai membiru. Wajah dan kakinya membengkak karena fungsi organ dalam yang tidak berkerja normal.


Untung saja tidak terlambat...


Dalam waktu beberapa menit. Warna membiru pada dada Bima membaik. Fungsi paru-paru juga jantung berjalan normal sehingga membuat pernafasannya berangsur pulih.


"Apa itu serangan Vampir?"


"Tidak mungkin manusia bisa melukai seperti ini." Jawab Lucas kembali berdiri di samping Bastian seraya memperhatikan layar monitor.


"Semuanya kembali normal Tuan."


"Hm kita pergi." Lucas menggenggam lengan Bastian lalu keluar dengan caranya.


"Apa kita langsung pulang Tuan."


"Hm iya." Bastian melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran rumah sakit.


"Apa Nona baik-baik saja? Maaf Tuan. Saya hanya bisa menyuruh orang suruhan untuk mencarinya tapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan jejaknya."


"Aku tidak mengerti bagaimana faktanya. Aku hanya tahu dia datang ke wilayahku bersama Alex." Bastian menoleh sebentar kemudian kembali menatap fokus ke depan.

__ADS_1


"Bukankah Tuan Alex tidak bisa masuk rumah? Nona Noa di culik saat berada di dalam rumah."


"Mungkin bukan Alex tapi Prapto."


"Siapa Prapto?"


"Tidak penting." Bastian tersenyum seraya mengangguk.


"Apa saya bisa kembali ke apartemen? Saya masih takut Tuan Alex."


"Kau tinggal saja di rumah hingga kami kembali. Sebaiknya nanti kau pindah apartemen."


"Baik Tuan.".


"Kau bisa pulang sendiri kan. Aku harus kembali. Dia mungkin sedang menungguku."


"Bisa Tuan." Lucas berubah menjadi asap dan menghilang begitu saja dari samping Bastian." Syukurlah Tuhan. Semoga setelah ini semuanya kembali normal." Gumam Bastian fokus menyetir dengan hati yang masih saja gelisah. Dia takut jika mungkin Alex masih memburunya sehingga laju mobilnya terlihat di percepat.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sesuai pesanan. Lucas membawakan seekor rusa yang masih hidup. Noa antusias dan langsung duduk ketika menyadari kedatangan Lucas.


"Kamu menciumnya?" Noa mengangguk seraya tersenyum.


"Aku lapar sampai tidak bisa tidur sayang."


"Kita pergi ke dapur agar mereka membersihkan hewan ini." Noa berdiri dengan bersemangat bahkan berjalan mendahului Lucas yang masih berdiri terpaku." Aku yakin janin itu dari keturunanku Baby." Gumam Lucas mengikuti langkah Noa.


"Di mana dapurnya?"


"Di lantai bawah." Noa melanjutkan langkahnya.


"Untuk apa dapur di bangun. Bukankah kalian mengkonsumsi darah?" Lucas tersenyum mendengar pertanyaan Noa.


"Entahlah untuk apa. Tapi ada dapur di sini. Para pembantu itu di tugaskan untuk mengolah buruan dan memisahkan daging dari darahnya. Sebagian darah di simpan pada ruang bawah tanah sementara dagingnya di masak oleh mereka." Jawab Lucas menjelaskan.


"Apa mereka manusia sayang?"


"Hm iya. Stefanus sengaja memperkerjakan manusia agar kita bisa hidup saling berdampingan." Noa mengangguk seraya tersenyum.


"Indah sekali jika hidup seperti itu."


"Hm seindah hubungan kita."


"Aku terkesan dengan rayuannya sayang. Tapi, aku benar-benar lapar sekali." Lucas memberikan rusa yang sudah di ikat kaki dan tangannya pada pelayan.


"Siapkan daging segar tanpa memisahkan darahnya."


"Baik Tuan."


Lucas menyuruh Noa duduk seraya menunggu pesanannya selesai. Karena pembantu di sana sudah ahli dalam mengolah daging sehingga dalam waktu singkat sajian sesuai pesanan sudah siap.


"Silahkan Nona."


"Terimakasih." Ucap Noa menelan salivanya kasar. Sajian menjijikan di hadapannya justru membuatnya sangat berselera." Sebaiknya kamu pergi sayang. Aku malu jika harus memakan ini di hadapanmu." Pinta Noa berbisik.


"Aku malah ingin melihatnya. Lakukan Baby. Tidak perlu malu padaku."


"Tetap saja malu. Tapi..." Saliva Noa kembali tertelan kasar. Dia tidak memperdulikan rasa malunya dan segera menyantap sajian daging mentah di hadapannya dengan lahap.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2