Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
71


__ADS_3

Tiba-tiba saja Noa kehilangan kesadaran saat tangan Elena meraih tubuhnya yang kini menjadi rebutan. Selayaknya sebuah buruan, tubuh Noa terseret ke sana kemari hingga luka goresan memenuhi sekujur tubuhnya.


Sementara sukma Noa sendiri kini tengah berada di alam bawah sadarnya. Rentetan kejadian pertemuannya dengan Lucas seolah tengah di putar ulang dalam otaknya.


Aku akan terbunuh jika kau terbunuh...


Kata-kata itu terasa menusuk relung hati. Mencoba menyadarkan Noa jika keduanya terikat begitu kuat satu sama lain.


"Aku juga akan terbunuh Mama." Noa melebarkan matanya menatap sayu ke arah sumber suara.


"Anak ku."


"Aku tidak sabar bertemu denganmu. Jadilah kuat demi aku, buah cinta kalian." Ingatan tentang semua mimpi yang mendatanginya ikut melintas. Noa baru sadar jika di perutnya ada janin yang harus di lindungi.


"Mama tidak bisa. Mereka sangat kuat." Jawab Noa menggelengkan kepalanya pelan.


"Mama ingin membunuhku?" Mata Noa kian melebar dan mulai berkaca-kaca.


"Tidak. Mana mungkin."


"Mama sedang melakukannya! Aku buah cinta mu. Mama harus sadar!! Jangan bunuh aku. Aku mencintaimu! Papa mencintaimu! Jika Mama terbunuh! Kami juga akan terbunuh!!" Dada Noa sontak merasa sesak dengan emosi yang tiba-tiba saja berkecamuk.


"Aku tidak ingin membunuh mereka. Aku ingin hidup! Aku ingin bersama mereka!!!" Teriakan Noa mengema ke seluruh sudut tempat itu.


"Biarkan aku masuk Nduk!!!" Tiba-tiba saja, tubuh kecil itu tergantikan dengan wanita yang di sebut dengan panggilan Nyai.


"Masuk ke mana Nyai?" Noa kebingungan, menatap Nyai dengan wajah gelisahnya.


"Ke tubuhmu."


Blaaaaammm!!!!


Seolah tengah terhantam benda besar, tubuh Noa terhempas jauh hingga cengkraman tangan Elena terlepas.


"Aaaaaggghhhhhhhhhhh!! Sial." Pekik Elena melesat mengikuti kemana tubuh Noa yang tiba-tiba saja musnah.


Semua tamu undangan ikut mencarinya bersama dengan Patresia yang juga lupa diri saat darah Noa tercium tadi.


"Di mana dia!!!" Teriak Elena menatap ke tubuh Alex yang masih terkapar belum sadarkan diri." Kau tidak bisa lari!!" Elena mendesis dan masih berusaha mencari hingga sebuah sinar merah muncul dan menghempaskan tubuh para Vampir yang berkerumun.


Elena mendongak, begitupun Stefanus yang menatap nanar ke arah makhluk bersayap yang kini tengah bertengger di salah satu menara yang ada di sana.


Makhluk itu adalah jelmaan dari Nyai yang sudah menjadi penghuni lama di dalam tubuh Noa. Sesuai aturan turun temurun, sisi lain dari Noa akan muncul jika amarah pada hatinya terlepas seperti sekarang.


Tubuh Noa kini tergantikan dengan sosok Nyai yang sejatinya seekor naga. Dia memiliki sayap pada kedua sisi punggungnya dengan mahkota berlambang naga di atas kepalanya. Kaki dan tangannya memiliki bentuk sama juga kuku runcing yang mencuat keluar.


"Siapa kau!!" Teriak Stefanus bertanya. Elena kembali ke sisi Stefanus saat menyadari hawa panas yang di hasilkan dari sosok jelmaan Nyai.


"Aku penjaga tubuh manusia ini." Jawab Noa seraya terkekeh nyaring hingga para Vampir di sekitarnya menutup telinga." Kau tidak bisa membunuh cucuku Stefanus!!!" Imbuhnya mengepakkan sayapnya dan bertengger pada salah satu pohon besar.


"Ini wilayahku!! Kau tidak berhak berada di sini." Lucas hanya mampu terdiam dan melihat. Bibirnya tersungging saat melihat pertolongan Tuhan yang seperti nya mulai berkerja.

__ADS_1


Terimakasih Tuhan..


Noa kembali terkekeh nyaring dan sedang menertawakan Stefanus yang di anggapnya tidak tahu diri.


"Memangnya kau Tuhan!! Semua yang ada di atas bumi ini adalah milik Tuhan. Kau tidak berhak mengakui jika ini wilayahmu, termasuk tidak berhak menghakimi nyawa umat manusia yang juga hanya miliknya!!!" Stefanus mendengus seraya menatap tajam ke arah Noa.


"Aku tidak perduli dengan ucapan mu!! Ini wilayah ku! Sebaiknya kau pergi atau aku akan memusnahkan mu!!" Noa mengepakkan sayapnya dan terbang dengan kekehan yang kian nyaring memekakkan telinga.


"Aku yang akan memusnahkan makhluk tidak tahu diri seperti dirimu hahaha." Stefanus tersulut emosi. Dia masih belum sadar dengan kekuatan makhluk yang kini menguasai tubuh Noa.


Stefanus memejamkan mata, bibirnya membisikkan sesuatu untuk memanggil prajurit kebanggaannya yang terkenal tangguh dan kuat.


Dalam sekejap, makhluk mengerikan dengan bentuk tidak beraturan datang memenuhi panggilan Stefanus. Jumlahnya bukan hanya puluhan tapi ratusan.


"Menurut Baginda, dia makhluk apa?" Tanya Elena berbisik. Dia bergidik ngeri merasakan hawa tidak enak yang di hasilkan dari tubuh Noa.


"Aku tidak mengerti."


"Sebaiknya kita sudahi saja Baginda. Aku merasa makhluk itu tidak mudah di kalahkan." Stefanus menoleh dan menatap geram ke arah Patresia.


"Dia hanya satu sementara kita ratusan!!! Aku tidak ingin dia mencoreng nama baikku di hadapan rakyat ku sendiri."


"Tapi Baginda.."


"Diamlah Patresia!!" Sahut Elena membenarkan ucapan Stefanus.


Patresia berjalan menghampiri Lucas dan berdiri di hadapannya. Dia tersenyum karena merasa senang dengan kericuhan yang terjadi.


"Kau harus bertahan sedikit lagi." Lucas mengangguk seraya tersenyum walaupun daya tahan tubuhnya terasa semakin melemah.


"Kau fikir aku takut!! Prajurit mu hanya sekumpulan sampah tidak berguna!!" Noa masih terbang ke sana kemari melihat lekat ke arah para Vampir yang ada di bawahnya.


"Serang dia!!!" Pinta Stefanus menunjuk ke atas. Para prajurit kerajaan langsung melesat cepat. Mencoba menyerang Noa di berbagai arah.


Wujud asli Nyai terlihat, seekor naga berwarna hijau tengah bertengger di belakang tubuhnya. Sosok itu di lindungi oleh api dengan sorot mata tajam ke para prajurit.


Craaaaaasssshhhhh...


Api menyembur dan menghalau para prajurit. Tubuh mereka terbakar sebelum dapat menyentuh Noa bahkan mendekatinya.


Teriakan para prajurit yang kesakitan terdengar. Banyak di antara mereka musnah seketika sementara lainnya mengelepar dan mencoba memadamkan api pada tubuh mereka.


Para tamu undangan melongok seraya memundurkan tubuhnya. Ada rasa takut terbesit meski mereka masih berdiam pada tempat yang sama.


"Apa kau mau aku memusnahkan rakyat mu Stefanus!!"


"Apa mau mu?" Jawab Stefanus lantang meski ada setitik rasa takut di hatinya.


"Jangan menghakimi manusia. Kau tidak berhak atas itu. Hidup saling berdampingan memang sudah seharusnya terjadi. Kita berpijak di bumi yang sama. Kau tidak boleh merasa unggul di sini karena sejatinya Tuhan satu-satunya dzat yang paling unggul di muka bumi ini." Elena mendengus seraya menoleh ke Stefanus yang akan angkat bicara.


"Apa keputusan mu Baginda?"

__ADS_1


"Menurutinya. Apalagi." Ada rasa senang terbesit, sebab ternyata seseorang yang di cintai Lucas bisa memberikan jalan penengah bagi bangsanya dan para manusia. Apalagi pembicaraannya kini di saksikan para rakyat Vampir. Sehingga Stefanus bisa mencari alasan untuk membebaskan Lucas dengan mudah tanpa menggeser kekuasaannya.


"Baginda tidak ingin melawan dan menyerah begitu saja! Tidak Baginda. Ini kerajaan kita. Aku yakin jika Baginda bisa melawan makhluk itu." Noa kembali terkekeh nyaring, lalu terbang melesat menuju ke altar. Dia berdiri tepat di hadapan Stefanus, Elena, Lucas dan Patresia juga beberapa penjaga kerajaan.


Seolah tidak saling mengenal, Noa sama sekali tidak melihat ke arah Lucas dan malah fokus menatap Elena. Itu terjadi karena kendali penuh berada di tangan Nyai sementara sukma Noa tengah tertidur di dalam.


"Dasar wanita busuk!!" Celoteh Noa tersenyum miring memandangi Elena dari atas sampai bawah." Kau tutupi kebusukanmu demi bisa mencapai semua keinginanmu." Mata Elena membulat karena merasa tidak terima.


"Seorang manusia dan Vampir tidak seharusnya bersama."


"Kau tahu apa tentang itu!! Kau hanya memikirkan ambisi mu. Kau tega membunuh Suamimu sendiri hanya demi ambisi ini." Stefanus melebarkan matanya. Dia menoleh dan menatap Elena penuh tanya.


"Dia asal bicara!!" Jawab Elena memasang wajah gelisah. Kenapa dia bisa tahu?


"Tentu saja aku bisa tahu. Aku bahkan tahu kau sedang mengurung seseorang di penjara yang kau buat."


"Tutup mulutmu!!!" Teriak Elena geram.


"Kau takut hahaha." Noa terkekeh nyaring menatap Elena penuh hinaan.


"Katakan? Apa itu benar Elena? Kau membunuh William?" Elena menggelengkan kepalanya pelan.


"Mana mungkin. Dia Suamiku." Stefanus beralih menatap Noa.


"Jangan menghasut dengan ucapan kotor mu!!" Ucap Stefanus lebih percaya Elena.


"Ana Maria, Istri mu! Dia masih hidup." Ucapan itu sontak membuat emosi Elena membuncah. Dia melesat ke arah Noa dan berusaha menyerangnya. Tapi tubuh Elena malah terpental hingga membentur kursi kebesaran Stefanus.


"Omong kosong. Dia manusia. Kau jangan membual!!" Sahut Elena tidak ingin rahasianya terbongkar.


"Itu benar. Mana mungkin manusia bisa hidup ratusan tahun." Meski sedikit percaya, namun Stefanus masih merasa ragu dengan kebenaran soal Ana Maria, Istrinya.


Blaaaaammm!!!!


Naga yang masih bertengger di atas, menembakkan bola api yang tepat mengenai bangunan kokoh kerajaan. Stefanus tentu merasa geram. Dia mengira jika Noa akan menghancurkan semuanya sehingga dia mulai mengeluarkan sebuah pedang lalu mengacungkannya ke arah Noa.


"Kenapa kau hancurkan kerajaan ku!!" Noa memegang ujung pedang yang di yakini memiliki kekuatan. Lalu mematahkannya dengan mudah.


"Untuk menunjukkan kebenaran agar kau tidak salah arah." Jawab Noa lirih.


"Apa maksud mu?" Tanya Stefanus tertahan saat dia mencium aroma seseorang yang tidak asing untuknya. Seseorang yang berusaha di lupakan dan di benci walaupun hingga saat ini dia tidak kuasa melakukannya. Ana...


Stefanus menoleh ke arah reruntuhan kerajaan dan melihat Pedro melesat ke arahnya dengan seseorang yang sanggup membuat Stefanus tercengang.


"Ana.. Ana Maria." Gumam Stefanus dengan mata berkaca-kaca. Menatap Ana berdiri tidak jauh darinya bahkan menatapnya.


"Pedro." Patresia tersenyum dan merasa sangat bahagia melihat Pedro baik-baik saja.


"Iya Baginda. Beliau Ana Maria." Jawab Pedro tegas.


Ana beralih menatap ke arah Lucas yang mulai hilang kesadaran. Kondisi tubuhnya yang belum stabil tidak menyurutkan Ana untuk melangkah ke arah Lucas.

__ADS_1


Mungkin karena ikatan batin yang kuat sehingga Ana tidak bertanya dan merasa yakin jika anak laki-laki yang terkapar di atas kursi itu Lucas, anaknya.


🌹🌹🌹


__ADS_2