Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
62


__ADS_3

Pedro sengaja di kurung Elena tepat di samping jeruji milik Ana. Untuk melancarkan rencananya, dia tega menangkap Pedro dan kembali merangkai kebohongan demi memenuhi keinginannya agar Patresia menikah dengan Lucas.


"Bukankah anda Ana Maria." Tutur Pedro menatap lekat ke arah Ana. Dia masih ingat saat Elena mengatakan kesaksian jika Ana sudah pergi bersama lelaki lain ratusan tahun yang lalu.


"Kamu mengenal saya?" Ana tersenyum. Dia cukup senang memiliki teman berkeluh kesah.


"Saya mengingat anda. Bagaimana anda bisa berada di tempat ini?"


"Saya hanya makhluk lemah. Itu kenapa saya ada di tempat ini. Bagaimana keadaan anak saya sekarang."


"Tuan Lucas?" Ana mengangguk dengan wajah datar." Mereka masih mengurungnya." Ada sesal terbesit dalam hati Pedro. Seharusnya dia memberitahu Lucas dan tidak menuruti perintah Elena. Mungkin benar. Jika hati sudah busuk. Selamanya akan menjadi busuk meski aku berusaha berbuat baik padanya. Aku menyesal Tuan Lucas. Seharusnya aku membelamu bukan Elena...


"Anda tahu jika dia anak saya. Bagaimana rupa anak saya sekarang Tuan." Ana terisak meski tidak ada air mata terlihat.


"Saya hanya prajurit kerajaan Permaisuri. Panggil saya Pedro." Setelah melihat Ana. Pedro menyadari sesuatu. Selama ini Istri dari Stefanus yang di anggapnya berselingkuh ternyata salah. Itu hanya cerita bualan dari Elena yang menginginkan kedudukan Ana.


"Saya bukan lagi permaisuri. Saya hanya ingin tahu bagaimana rupa anak saya.?" Pedro tersenyum menatap Ana.


"Sangat tampan permaisuri. Dia calon raja yang baik meski Baginda sedang di hasut dan tidak bisa melihat kesempurnaannya."


"Saya sangat ingin bertemu dengannya walaupun hanya satu kali." Pedro menddesah lembut mendengar keinginan sederhana dari seorang Ibu kandung pada anaknya. Dia merasa iba dengan apa yang menimpa Ana sampai harus berpisah dengan darah dagingnya juga di benci oleh Suaminya sendiri.


"Jika saya mampu. Saya akan melakukan sesuatu untuk mewujudkan itu semua. Maafkan saya permaisuri. Seharusnya saya menolong Tuan Lucas sehingga dia tidak tertangkap seperti sekarang."


"Itu bukan salah anda. Sifat Elle terlalu buruk. Saya hanya berharap semua ini bisa cepat terungkap agar Tuan Stefanus tahu bagaimana sifat Istrinya." Pedro mengangguk pelan. Dia merasa tidak yakin dengan keinginan Ana mengingat Elena yang mulai melancarkan hasutannya.


"Itu mustahil permaisuri."


"Tidak akan mustahil jika ada campur tangan Tuhan." Aku akan terus berharap meskipun engkau belum melihat ke arah ku Tuhan..


🌹🌹🌹


Lono memapah tubuh Noa masuk ke dalam rumah. Bastian yang kala itu tengah berada di ruang tamu, langsung menyerbu kedatangan mereka dengan raut wajah khawatir.


"Apa yang terjadi Nona." Noa masih bisa memperlihatkan senyum meski nyeri di kakinya cukup membuatnya kesakitan.


"Saya terjatuh Tuan."


Apa dia Suami baru Noa.. Lono tentu bertanya dalam hati. Dia masih mengingat wajah Lucas dengan baik meski pertemuan mereka hanya beberapa kali.


"Letakkan di sini saja." Ujar Bastian menunjuk sofa.


"Astaga Non." Pekik Bik Minah terkejut. Cepat-cepat Bik Minah kembali masuk untuk mengambil kotak P3K.


Biasanya Tuan Lucas yang menyembuhkan ku. Aku sangat merindukan dia..


"Kami tidak punya banyak waktu." Noa mendongak, menatap ke arah Bram yang sedang tidak sabar.


"Saya minta tolong Tuan." Ucapnya seraya memberikan isyarat Bastian mendekat.


"Apa yang bisa saya bantu Nona." Bastian menuruti perintah Noa dan mendekatkan wajahnya." Untuk apa?" Tanya Bastian ingin tahu.


"Ambil saja."


"Saya tidak berhak." Bastian berjalan masuk ke kamarnya lalu keluar dengan kartu ATM di tangannya. Dia memasukkan ke dalam amplop setelah menuliskan nomer pin-nya." Di sini ada 800 juta." Bastian memberikan ATM tersebut pada Noa.


"Ini untuk kalian." Noa langsung memberikan ATM tersebut dan dengan cepat Bram mengambilnya.


"Itu terlalu banyak."

__ADS_1


"Tidak apa. Saya harap kalian bisa rahasia keberadaaan saya." Pinta Noa sesekali menyeringai.


"Baik Nona. Em apa dia Suami anda." Noa tersenyum seraya menatap Bastian sejenak.


"Bukan. Dia hanya kaki tangan Suami saya."


"Oh saya fikir Nona sudah menikah lagi."


"Itu tidak mungkin terjadi." Lono mengangguk seraya tersenyum.


"Ayo Lon." Bram menepuk lembut pundak kanan Lono lalu melangkah pergi.


"Terimakasih bantuannya Nona. Saya menjamin jika Pak Prapto tidak akan tahu tempat ini. Em saya permisi." Lono melihat ke Bastian sejenak kemudian melangkah pergi.


"Biar Bibik obati Non." Bik Minah duduk di bawah Noa untuk mengobati luka pada kakinya.


"Apa yang terjadi Nona?" Tanya Bastian ingin tahu." Siapa mereka?" Imbuhnya penasaran.


"Mereka tidak penting. Tadi Alex mengurung saya." Bastian melebarkan matanya menatap tegang ke arah Noa.


"Bagaimana anda bisa keluar?"


"Mungkin Tuhan masih menyanyangi saya. Ada seseorang yang menolong saya keluar dari sana." Bik Minah hanya terdiam karena tidak mengerti dengan topik pembicaraan.


"Sudah saya katakan. Sangat berbahaya berada di luar. Penjaga rumah harus di larikan ke rumah sakit karena tubuhnya mengalami luka dalam."


"Saya tidak mempunyai pilihan. Tuan Lucas dalam bahaya." Sahut Noa cepat. Rasa sakit pada kakinya tidak terasa saat fikirannya tertuju pada Lucas.


"Kita hanya manusia biasa Nona."


"Apa gunanya saya berada di sini jika Tuan Lucas ada di sana."


"Hidup saya tidak berarti tanpanya. Hidup saya terlalu berat apalagi sekarang Alex memburu saya. Tidak ada gunanya saya hidup." Bastian terdiam begitupun dengan gerakan Bik Minah yang melambat.


"Bibik salut sama Non Noa. Cinta Nona sama Tuan Lucas sampai seperti itu. Tapi Bibik masih bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi Non. Sepertinya terasa berat. Maaf Non kalau Bibik lancang." Noa merasa jika Bik Minah bisa di percaya menjaga rahasia sehingga dia memutuskan untuk mengatakan jati diri Lucas yang sesungguhnya.


"Tuan Lucas bukan manusia Bik. Dia.. Vampir." Seketika Bik Minah melongok menatap Noa.


"Vampir?"


"Iya Bik. Itu kenapa Tuan Lucas sangat aneh. Dia tidak makan karena memang makanan hanya darah. Saya mohon Bibik bisa tutup mulut. Tuan Lucas bukan Vampir yang jahat. Saya pastikan dia tidak akan melukai Bibik." Bik Minah terdiam sesaat lalu memperlihatkan sebuah senyuman. Selama berkerja, memang dia tidak pernah melihat Lucas marah tanpa sebab meski wajah garangnya di perlihatkan beberapa kali.


"Iya Non. Bibik yakin Tuan Lucas baik. Bibik hanya bisa mendoakan agar masalah yang Non hadapi segera mendapatkan titik temu."


"Amin Bik terimakasih." Satu harapan lagi Tuhan. Tolong berikan jalan untuk masalahku ini. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Aku manusia biasa yang tidak mungkin bisa melawan kekuatan besar mereka tanpa Tuan Lucas.


Noa masih belum menyadari. Tentang kekuatan besar yang bisa muncul saat amarahnya keluar. Mimpi yang terus mendatanginya, terlupakan begitu saja saat matanya terbuka.


"Sebaiknya Nona beristirahat dulu."


"Hm Tuan. Saya tidur di sini saja. Bik tolong ambilkan selimut."


"Daripada tidur di sini. Lebih baik tidur di kamar Tamu Non." Sahut Bik Minah memberikan saran.


"Saya takut tidur sendiri Bik." Candu yang Lucas ciptakan membuat Noa merasa tidak nyaman ketika dia sedang sendiri.


"Mau Bibik temani." Tawar Bik Minah lirih.


"Bibik mau?"

__ADS_1


"Kebalik Non. Apa Non mau Bibik temani?"


"Mau Bik."


Selain cantik. Nona juga rendah hati. Tuan Lucas tidak salah memilih. Itu kenapa dia memilih melanggar peraturan bangsanya hanya untuk bersamanya..


"Biar saya bantu masuk kamar Nona." Bastian berdiri lalu memapah tubuh Noa saat sudah mendapatkan persetujuan. Dia membaringkan Noa dengan sopan di atas ranjang lalu berjalan keluar karena tidak ingin menodai kesetiaannya.


"Bibik tidur bawah ya Non." Noa menoleh cepat.


"Eh. Di sini saja Bik. Nanti badan Bibik sakit kalau tidur di bawah."


"Bibik sudah terbiasa Non."


"Sudahlah Bik. Saya tidak mau Bibik tidur bawah." Bik Minah tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk menggelar karpet. Dia berjalan menuju sisi ranjang satunya lalu duduk.


"Jangan terlalu banyak berfikir Non. Pasrah saja sama Gusti Allah." Noa tersenyum getir sebab selama ini dia tidak pernah beribadah.


"Saya hanya bisa berdoa Bik. Saya sudah lupa cara beribadah. Saya juga tidak yakin apa Tuhan masih melihat ke arah saya." Sudah sejak lama Noa meninggalkan ibadah karena keadaan yang memaksa.


Ibu tirinya selalu menyibukkannya dengan perkerjaan dan umpatan sehingga membuatnya tidak bisa melakukan kewajiban yang seharusnya di lakukan. Apalagi setelah dia berkecimpung di dunia malam. Noa malah merasa kotor dan terhina. Dia malu memperlihatkan wajah buruknya pada Tuhannya sendiri.


"Kalau Non mau, Bibik ajari. Tidak ada kata terlambat Non. Selama kita masih bisa bernafas, pintu taubat masih terbuka."


"Saya benar-benar lupa Bik."


"Non ikuti gerakan Bibik. Besok Bibik belikan tuntunan sholat agar Non Noa bisa belajar." Noa tersenyum dengan tetesan air mata. Dia terharu dan tidak menyangka bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.


"Terimakasih Bik."


"Sama-sama Non. Bibik ambil alat sholat dulu ya. Non tunggu di sini." Noa mengangguk seraya mengusap kasar air matanya.


Padahal dia belum melakukannya namun rasa damai yang di timbulkan sudah merasuk lebih dulu di hatinya.


Semoga setelah ini jalan bagi kami menjadi terang..


🌹🌹🌹


Haiii reader..


Aku mau tanya..


Bagaimana sudut pandang kalian tentang visual Lucas😁


Kalau menurut sudut pandang ku. Aku membayangkan Lucas seperti Jakson Wang 👇



Aku pengen tahu sudut pandang kalian seperti apa😁


Terimakasih yang masih setia dukung cerita ini🌹❤️


Part nya tidak akan panjang-panjang kok.. Biar tidak bosan.


Tapi kalau nanti banyak reader yang mau season 2.. Aku akan panjangin part nya.. Sesuai permintaan 😁🌹❤️


Terimakasih dukungannya..


Love you all 🥰

__ADS_1


__ADS_2