
"Vivian lenyap Pak. Semua anak buahnya kebingungan mencari. Rumahnya bahkan kosong." Prapto menoleh. Menatap anak buahnya dengan wajah tidak percaya.
"Di bunuh maksudmu?"
"Entahlah. Ini tidak masuk akal. Tapi Vivian lenyap begitu saja. Beberapa anak buah melihat Vivian masuk ke ruangannya tapi hanya menemukan abu yang berserakan di ruangan." Prapto beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di samping jendela.
"Sayang sekali. Padahal aku mendapatkan uang banyak dari menjual gadis-gadis itu." Gumamnya merasa ikut rugi.
Prapto terdiam sesaat. Memikirkan sebuah cara agar dia tetap bisa menjual para gadis yang sudah menjadi targetnya.
"Kita pergi ke kota."
Prapto seorang perjaka tua yang menghabiskan waktu meneruskan usaha kedua orang tuannya yang memiliki koperasi simpan pinjam.
Meski terbilang kecil. Dulunya usaha itu tidak ilegal karena almarhum Ayahnya melengkapinya dengan surat izin.
Namun ketika sang Ayah meninggalkan. Prapto di tunjuk untuk mengelola usaha tersebut.
Awalnya Prapto menjalankannya sesuai dengan prosedur. Hingga akhirnya dia merasa rugi karena bunga pinjaman terlalu rendah. Apalagi harus memperbarui izin setiap lima tahun sekali. Tentu saja dia merasa keberatan dan menyulap usaha koperasi menjadi lintah darat.
Prapto meminjamkan uang dengan bunga mencekik. Targetnya adalah para petani miskin juga para orang yang terhimpit kebutuhan hidup.
Kelakuannya bejad nya tidak juga berhenti. Saat tidak sengaja dia pergi ke rumah pellacuran kecil yang ada di pinggiran desa. Dia bertemu dengan Mommy Vivian sehingga Prapto merubah peraturannya. Hutang yang tidak bisa di bayar, harus di gantikan dengan sertifikat rumah atau anak gadis yang mereka miliki.
Prapto langsung menuju kota. Untuk mengambil alih usaha Mommy Vivian yang lebih mengiurkan. Dia menentang keras peraturan baru yang di sebutkan Lono hingga kerumunan itu kini menatap ke arahnya.
"Aku tidak setuju!!!" Sahutnya lantang. Prapto berjalan membelah kerumunan kemudian berdiri sejajar dengan Lono.
"Mommy Vivian menghilang dan kita tidak ada pemimpin." Jawab Lono menatap Prapto yang terlihat masih tampan di umur nya yang ke 40 tahun.
"Aku yang mengambil alih." Kerumunan itu bungkam. Mereka tidak setuju namun tidak mampu membuka suara. Mereka tahu jika Prapto sejenis dengan Mommy Vivian yang tidak memiliki belas kasih.
"Tapi Pak. Apa anda punya surat kuasa."
"Surat kuasa apa!!! Vivian itu teman bisnis ku. Jika sudah sewajarnya aku aku memimpin!!! Jika kalian tidak setuju. Aku tidak mau mencari tenaga kerja untuk tempat ini." Lono terdiam seraya menatap teman-temannya. Dia kembali memikirkan nasib teman-temannya yang akan kehilangan perkerjaan nantinya.
"Jangan seperti itu Pak. Jika tempat ini tidak beroperasi. Bagaimana nasib mereka." Jawab Lono merajuk.
"Perduli apa aku!!!"
"Hm baiklah. Bapak menjadi pimpinan baru kami tapi saya mohon untuk memberikan mereka waktu beristirahat setiap Minggu." Prapto tersenyum kecut seraya langsung masuk ke dalam di ikuti oleh dua anak buahnya.
"Semakin parah saja jika dia yang memimpin." Eluh mereka berbisik.
"Mau bagaimana lagi. Daripada tempat ini tidak bisa beroperasi karena stok barang mengambil dari dia." Tutur Lono lemah.
"Ah iya. Kita itu yang penting kerja. Bisa makan. Walaupun pemimpinnya seperti itu. Terima tidak terima harus di terima." Kerumunan itu bubar dengan langkah lemah. Meninggalkan Lono dan beberapa orang saja yang masih akrab berbincang.
๐น๐น๐น
Noa. Segera saja Lucas menoleh ketika agen penjualan rumah menyebut nama Noa di dalam hatinya. Sementara Noa sendiri terlihat biasa saja bahkan berdiri untuk menyambut kedatangan Bastian dan si agen penjualan rumah yang di ketahui bernama Norman.
"Maaf Nona menganggu pagi-pagi." Sapa Bastian menjabat jemari Noa di ikuti oleh Norman.
"Kamu Noa."
"Iya Tuan saya.." Lucas menarik pinggang Noa lembut dan mengiringinya ke samping tubuhnya sehingga jabatan tangan langsung terlepas.
"Jika kau ingin membicarakan masa lalunya. Jangan membahasnya di sini!!" Tunjuk Lucas kasar.
"Maaf Tuan bukan seperti itu.."
__ADS_1
"Noa sudah menjadi Istri ku. Aku tidak ingin masa lalu yang begitu busuk itu mengusik fikirannya lagi." Norman mengangguk-angguk seraya tersenyum. Terbesit rasa cemburu sebab dulu dia sempat menyukai Noa bahkan ingin mempersuntingnya.
Lelaki yang beruntung. Bagaimana bisa dia mengambilnya dari Mommy Vivian?
"Sebaiknya duduk dulu." Ucap Noa menarik lengan Lucas lembut.
Norman duduk, di ikuti oleh Bastian. Tangan Lucas masih melingkar erat pada pinggang Noa sementara Bastian hanya sanggup tersenyum tanpa berkomentar.
"Em maaf Tuan. Saya boleh bertanya sesuatu?"
"Tidak untuk masa lalunya!"
"Saya hanya ingin tahu di mana keberadaan teman saya. Terakhir kali saya berjumpa. Dia bilang akan menemui Noa."
"Siapa?" Tanya Noa ingin tahu.
"Sigit." Noa menelan salivanya kasar dengan mata mulai berkaca-kaca. Rasa sesal masih tersisa sebab dia merasa ikut terbebani dengan kematian sigit yang mengenaskan
"Sigit." Jawab Noa tertahan." Maaf Tuan. Seharusnya saya menolak pinangannya saja daripada dia harus berakhir seperti itu. Saya berusaha menghalau mereka tapi. Em... Mereka sudah membunuhnya." Norman menghembus nafas berat. Dia sudah bisa menebak meski kebenaran juga harus di ketahui." Saya menyesal Tuan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena.."
"Saya hanya bertanya saja Noa. Itu bukan salahmu. Saya sudah bisa menebak bagaimana Mommy. Saya sempat akan menebus mu tapi dia malah memblokir seluruh akses saya untuk bisa menghubungi mu."
"Mommy memang seperti itu." Jawab Noa lirih.
"Sudah kau ketahui jawabannya?" Sahut Lucas tersulut cemburu. Kenyataan sangat banyaknya lelaki yang menginginkan Noa membuatnya tidak terima dan tidak suka.
"Hm Tuan. Mari kita mulai. Terimakasih atas waktunya." Norman tersenyum dan mulai mengeluarkan beberapa lembar kertas contoh rumah yang akan di tawarkan." Ini contoh rumah yang saya jual." Ucapnya ramah.
"Berarti rumah itu belum ada."
"Sudah ada Tuan. Beruntung sekali semuanya masih lengkap sehingga Tuan bisa memilih modelnya." Lucas mengambil lembaran kertas dan memperlihatkannya pada Noa.
Bastian dan Norman tersenyum aneh. Melihat tatapan tajam Lucas yang bahkan tidak berkata sepatah katapun. Suasana menjadi kaku dan tidak nyaman. Norman hanya bisa berharap Noa segera menentukan pilihannya.
"Apa rumah ini memiliki halaman luas Tuan?" Tanya Noa menyodorkan sebuah potret rumah dengan halaman luas.
"Iya Nona. Di situ tertulis keterangan luas halamannya." Norman menunjuk dengan ibu jari. Sebisa mungkin dia menjaga kesopanan karena tatapan Lucas seakan tengah menelannya bulat-bulat.
"Aku suka yang ini Tuan." Lucas mengambil kertas dan melihat rumah pilihan Noa.
"Hm berapa harganya." Tanya Lucas tanpa basa-basi. Dia ingin cepat menyelesaikannya agar kedua lelaki di hadapannya segera pergi.
"5,5 milyar Tuan." Noa menarik kertas dari tangan Lucas cepat.
"Harga yang lebih rendah ada." Tanya Noa membuat ketiga lelaki di hadapannya fokus menatapnya.
"Kamu tidak suka Baby?" Tanya Lucas.
"Suka Tuan. Tapi mahal sekali."
"Yang Nona pegang hanya berharga 500 juta saja." Sahut Norman.
"Oh ini." Lucas mengambil gambar rumah pilihan pertama dan menyodorkannya ke Norman.
"Aku ambil yang ini."
"Tuan itu terlalu mahal."
"Itu seharga 5 emas batangan. Tidak mahal." Noa bungkam. Dia tidak lagi berkomentar karena takut merendahkan Lucas.
"Biar saya urus soal pembayarannya." Sahut Bastian tersenyum.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?"
"Hm aku ambil rumah itu." Norman tersenyum seraya mengangguk.
"Atas nama siapa Tuan? Agar bisa kami proses surat-suratnya."
"Sebenarnya Istri ku tapi.."
"Identitas saya di sita Mommy Vivian Tuan." Norman menarik nafas panjang dan merasa iba mendengar itu.
"Sementara. Atas namakan dia saja." Menunjuk ke Bastian.
"Kenapa tidak Tuan saja." Pertanyaan wajar namun mampu menyulut emosi Lucas.
"Kenapa kau banyak bicara! Jika ku suruh atas namakan dia! Jangan membantah!!" Norman tersenyum aneh karena itu terdengar aneh.
"Oke baik Tuan."
"Kapan bisa ke sana Tuan." Tanya Noa tidak sabar.
"Sekarang bisa Nona dan besok sudah bisa di tempati." Senyum merekah tergambar jelas.
"Tuan kita ke sana setelah ini. Aku ingin melihat rumah itu."
"Hm iya. Setelah ini kita ke sana."
"Biar saya tunggu." Lucas kembali memperlihatkan sorot mata tajam.
"Saya belum mandi." Jawab Noa lirih. Memicu lelaki di hadapannya terbawa arus fikiran buruk nan kotor.
"Sebaiknya kita pergi duluan." Segera saja Bastian berdiri karena suasana terasa memanas.
"Itu ide yang bagus." Norman membereskan kertas yang berserakan dan memasukkannya sembarangan. Dia juga tidak ingin di cincang hidup-hidup meski fikiran kotornya mulai berfantasi.
Sudah terlambat.. Aku bahkan belum pernah membooking dia tapi ternyata dia sekarang sudah menikah.
"Sudah ku bilang jangan membicarakan masa lalunya meski itu di dalam hati!!" Norman melongok dengan wajah aneh.
"Ma maafkan saya Tuan. Em senang bisa berkerja sama. Saya permisi." Norman bergegas berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
"Saya tunggu di lokasi Tuan. Alamatnya nanti saya kirim."
"Hm.." Bastian tersenyum sejenak dan mengikuti langkah Norman.
"Tuan sudah mandi?" Tanya Noa menatap wajah geram Lucas dari samping.
"Belum." Jawab Lucas singkat. Rasa cemburu mulai menjalar dan membuatnya sangat tidak nyaman.
"Tuan kenapa?" Noa melingkarkan kedua tangannya dan memeluk erat Lucas dari samping.
"Sakit Baby."
"Sakit? Tuan terlihat sehat." Noa mendongak, tangan kanannya terulur untuk memeriksa dahi Lucas yang memiliki suhu lebih hangat dari tubuh manusia.
"Hatiku yang sakit. Tenyata bukan hanya aku yang menyadari keistimewaan mu. Berapa banyak manusia yang berusaha menyunting mu dulu." Itu perasaan yang manusiawi namun nyatanya Lucas bukanlah seorang manusia.
Perasaan semacam itu seharusnya tidak ada karena bangsa Vampir akan menjaga kesetiaannya sebelum pasangannya meninggal dunia.
Tidak ada prasangka atau rasa cemburu. Mereka percaya pada pasangan masing-masing tapi kini hati Lucas di liputi rasa cemas dan takut kehilangan.
๐น๐น๐น
__ADS_1