Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
81


__ADS_3

Semua perhatian tertuju pada Noa yang terlihat cantik dengan balutan gaun panjang. Kecantikan Noa terpancar dan membius banyak pasang mata yang ada di sana. Kuncian dari kekuatan yang sudah terlepas, membuatnya semakin terlihat spesial dengan daya tarik luar biasa kuat.


"Dia manusia kemarin." Gumam salah satu hadirin.


"Kecantikannya tidak seperti manusia." Banyak pujian terlontar hingga membuat Lucas memasang raut wajah tidak suka. Cemburu tidak jelas masih saja dia rasakan. Dia tidak rela ada lelaki lain menikmati dan memuji kecantikan Istri nya.


"Lama sekali." Ana menyambut kedatangan Noa. Dia meraih jemari Noa dan mengiringinya duduk di sampingnya.


"Tadi ketiduran Ma." Jawab Noa beralasan. Dia tersenyum kecil menatap ke arah Lucas yang duduk bersebelahan dengannya.


"Karena semua sudah hadir. Sidang akan di mulai." Suara Stefanus mengema di ruangan aula yang kedap udara itu." Silahkan lontarkan pertanyaan." Imbuhnya berdiri di altar.


"Apa Istri Tuan Lucas seorang manusia?"


"Ya dia seorang manusia." Jawab Stefanus tanpa basa basi lagi.


"Bagaimana mungkin ini terjadi Baginda. Bukankah itu sesuatu yang terlarang? Lalu kenapa Lucas tidak Baginda buru seperti Alexander dulu." Stefanus menarik nafas panjang. Dia tahu pasti rakyatnya akan mempertanyakan perihal peraturan tersebut.


"Itu tujuanku mengumpulkan kalian di sini. Rasanya aku terlalu egois untuk menjadi pemimpin. Aku merasa tidak pantas sebab peraturan yang ku terapkan telah ku langgar sendiri." Sebagian dari mereka berbisik-bisik dan sebagian lainnya tidak bergeming. Mereka masih saja mempercayai Stefanus sebagai makhluk yang tepat setelah pendahulunya.


"Egois dalam hal apa Baginda."


"Bukankah kalian tahu aku pernah menghapus aturan soal hidup berdampingan dengan manusia dulu namun kembali ku terapkan. Itu karena aku merasa terkhianati oleh Istriku, Ana. Aku tidak ingin bangsa kita tersakiti oleh cinta semu manusia." Semuanya mengangguk pelan. Mereka masih mengingat kejadian di mana Stefanus kembali memberlakukan larangan menikahi manusia.


"Lalu untuk apa Baginda mencabut aturan itu lagi? Apa karena Lucas?" Stefanus beralih menatap Ana dengan wajah memohon.


Ana berdiri agar semua makhluk yang berada di sana dapat melihatnya.

__ADS_1


"Tidakkah kalian ingat jika dia Istri pertama ku, Ana." Para tamu kembali bergumam seolah tengah berdiskusi." Ternyata dia tidak berselingkuh. Selama ini aku salah. Dia terpaksa berbohong hanya untuk melindungi Lucas. Itu alasan kenapa aku mencabut aturan itu. Aku menjadi yakin jika manusia memang layak di perjuangkan walaupun umur mereka cenderung pendek." Bibir Ana tersungging mendengar pembelaan yang di lontarkan Stefanus.


"Bagaimana mungkin dia masih hidup Baginda. Sementara umur Lucas sudah mencapai 900 tahun. Tidak ada manusia hidup selama itu." Stefanus memberikan isyarat pada prajurit kerajaan untuk membawa Elena hadir di persidangan.


Patresia menatap iba ke arah Ibunya. Kaki dan tangan Elena terborgol dengan belenggu khusus yang terpasang di leher.


"Permaisuri." Gumam para tamu terkejut.


"Dia bukan lagi permaisuri ku. Dia orang yang sudah mengurung Ana selama ratusan tahun hanya karena sebuah ambisi. Dia sudah menebarkan fitnah dan kebencian. Dia bahkan sudah membunuh William Kakak ku demi melancarkan rencananya." Bisik-bisik terdengar semakin riuh. Mereka tidak menyangka jika wanita yang terlihat tegas itu sanggup melakukan banyak kejahatan.


"Aku hanya ingin kita bisa berburu darah manusia dengan bebas! Itu saja! Bukankah kalian ingin itu terjadi!!" Teriak Elena berusaha membela diri. Dia berharap mendapat dukungan dari sebagian perwakilan rakyat yang ada di sana.


Ucapan Elena yang cenderung sangat tidak pantas, membuat kedua manik Noa terlihat berkilap. Dia yang sejatinya seorang manusia merasa tidak terima mendengar permintaan asal-asalan yang di lontarkan Elena.


Emosinya tersulut namun berusaha untuk di tahan. Sementara sisi lain dari Noa yang tidak terkunci langsung bisa bebas mengendalikan cara kerja otaknya.


"Bukankah yang kuat akan bertahan hidup!" Elena tidak juga merendahkan diri yang mungkin bisa membawanya terbebas dari hukuman berat. Nasi sudah menjadi bubur! Begitulah fikiran Elena. Dia sudah terlihat buruk dan tidak ingin menutupi lagi keburukannya itu.


"Bagaimana jika ucapannya ku balikkan lagi? Bangsamu akan ku bantai seperti hewan buruan. Apa kau sanggup mempertanggungjawabkan ucapanmu itu Elena!! Jika kau bersikukuh menginginkan itu. Kita berperang dan siapa yang akan musnah dari muka bumi ini!!!" Tantang Noa dengan suara lantang. Sebagian tamu undangan yang tahu dengan sosok lain Noa sudah berfikir untuk memilih jalan damai.


"Dengarkan! Bukankah ini seperti sebuah hinaan untuk bangsa kita!!" Elena masih berusaha mencari sekutu namun rasanya itu tidak berguna.


"Tidak ada yang akan di rendahkan atau di hina jika kita bisa hidup saling berdampingan. Semua makhluk di dunia sudah di tempatkan pada wilayah nya masing-masing. Sudah seharusnya kita hidup saling berdampingan karena kita bukankah pemilik dari tanah yang kita pijak! Jika kalian ingin membela permaisuri yang agung itu." Menunjuk ke arah Elena." Aku terima tantangan perang itu!! Jangan salahkan aku jika nantinya kalian akan musnah!" Para tamu bergumam dengan wajah ketakutan. Kejadian tadi malam masih tergambar jelas pada ingatan mereka.


Lucas menghampiri Noa lalu mengusap lembut punggungnya. Dia berharap Noa bisa menurunkan sedikit emosinya. Lucas yakin jika Stefanus tidak mungkin mengsetujui permintaan Elena yang sudah kerapkali di lontarkan padanya.


"Sebaiknya kamu duduk Baby."

__ADS_1


"Tidak! Ini harus di tegakkan!!" Tatap Noa tajam ke arah Elena.


"Siapa di antara kalian yang membela perkataannya!" Tanya Stefanus seraya menunjuk Elena. Para tamu hanya berdiam. Kewarasan membuat mereka memilih hidup saling berdampingan seperti sedia kala." Angkat tangan kalian jika kalian setuju untuk hidup saling berdampingan dan mencabut aturan itu selamanya." Stefanus tersungging melihat para tamu langsung mengangkat tangan kanannya. Itu menandakan jika mereka setuju dengan peraturan yang akan di cabut.


Sia-sia aku menahan emosi selama ratusan tahun. Bagaimana mungkin mereka takut pada satu wanita itu!! Jika mereka bersatu, bukankah mereka akan menang. Umpat Elena dalam hati. Dia merasa tengah mengerjakan perkerjaan yang sia-sia karena harus berakhir seperti sekarang.


"Mulai hari ini aku mencabut aturan itu. Semua bangsaku di bebaskan menikah dengan manusia baik dari yang berkasta rendah atau yang berkasta tinggi." Semua tamu bergumam riuh. Mereka menyambut keputusan itu dengan suka cita sebab selama ini mereka sudah terbiasa meminum darah hewan." Aku mencabut hukuman untuk Alexander. Dia sudah di bebaskan dan boleh keluar masuk dengan leluasa." Tatapan Stefanus beralih pada Lucas." Ayah berharap kamu bisa mengantikan posisi Ayah di sini. Ayah merasa tidak pantas menjadi pemimpin setelah kejadian ini." Tanya Stefanus lirih menatap sayu ke Lucas.


"Maaf Ayah. Belum waktunya aku mengganti kan posisi mu." Jawab Lucas menatap ke Noa yang tengah berdiri di sampingnya.


"Ayah rasa kau bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dari Ayah."


"Aku ingin menikmati kebersamaan ku bersamanya tanpa adanya beban yang ku pikul." Tolak Lucas berusaha sopan. Dia cukup senang melihat perubahan Ayahnya yang berani mengakui keegoisannya.


"Saya minta maaf Ayah. Ini semua atas permintaan saya. Hidup saya yang sejak kecil terkekang membuat saya ingin merasakan hidup bebas selayaknya manusia lain. Sementara kemarin, saya tidak bisa melakukan itu karena restu yang belum di dapatkan. Saya berjanji, jika nanti saya sudah puas merasakan kebebasan. Saya akan menemani Tuan Lucas untuk berdiam di tempat ini dan mendampinginya." Sahut Noa tidak ingin kesalahpahaman terjadi lagi antara Lucas dan Stefanus.


"Ibu setuju Nak. Sudah selayaknya Lucas menuruti semua keinginan mu."


"Hm ya sudah." Stefanus menoleh ke arah Alex." Aku berharap kau mau mengemban tugas ini Alex." Alex membalas tatapan manik Stefanus.


"Pendosa seperti ku tidak pantas untuk menggantikan posisi mu." Alex masih tidak bisa memaafkan perbuatan Stefanus yang sudah memusnahkan Tiara dulu.


"Semuanya sudah ku akui di sini. Aku minta maaf di depan para tamu. Anggap ini sebagai permintaan maaf ku. Aku berharap kau mau menerima keputusan ini agar kau tahu rasanya bagaimana menjadi pemimpin." Alex menddesah lembut. Maniknya sesekali melihat ke arah Noa dan Lucas yang tengah duduk sejajar.


Sejak dulu aku ingin jadi pemimpin. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Alex merasa sedang di jadikan calon raja cadangan. Namun saat dia kembali menatap paras cantik Noa. Membuatnya tidak lagi memikirkan permintaan yang di rasa seperti sebuah hinaan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2