
Lucas menghampiri pintu kamar mandi dan membukanya. Terlihat Noa tengah berdiri dengan wajah tegang. Lucas tersenyum seraya mengulurkan tangannya dan tidak ingin Noa mengetahui kekhawatirannya
"Sudah aman." Ucap Lucas meraih jemari Noa dan mengiringinya keluar.
"Ada apa sayang. Aku takut sekali melihat ekspresi mu tadi." Manik Noa masih memperhatikan pintu lalu ke jendela yang tertutup rapat.
"Hanya sedikit gangguan. Kamu sebaiknya cepat makan. Kita akan pergi setelah ini." Lucas menggiring Noa untuk duduk seraya mengambil kotak makan.
"Pe pergi ke mana?"
"Pindah ke rumah kita." Tempat ini sudah tidak aman. Aku yakin setelah ini akan ada utusan lain yang datang.
"Katanya besok."
"Aku ingin mencoba ranjang baru kita." Jawab Lucas beralasan. Sebisa mungkin dia tidak ingin membuat Noa cemas dan merasa takut." Aku suapi ya." Noa mengangguk seraya tersenyum meski rasa tegang di wajahnya masih terlihat.
"Apa ranjangnya sudah datang sayang?"
"Sudah sejak sore Baby. Tadi aku mendapat pesan dari pemilik toko meubel."
"Meja riasnya juga."
"Tentu saja." Noa mengangguk-angguk seraya menguyah makanannya pelan. Nafsu makannya seketika hilang seolah dia merasakan kecemasan yang ada pada hati Lucas.
"Kita pergi sekarang sayang. Aku tidak sabar meletakkan alat makeup ku di sana."
"Makan dulu. Katanya lapar."
"Sudah kenyang." Noa berdiri dan bergegas membereskan barang-barang pribadinya.
Peka sekali Baby.. Kita harus cepat pergi dari sini.
Dengan gerakan cepat, Lucas membantu Noa membereskan barang dan meletakkannya ke dalam tas besar. Semua barang Noa bahkan tisu bekas miliknya pun di bawa untuk menghilangkan jejak.
"Itu sampah." Ucap Noa tertahan. Dia menatap heran ke arah Lucas yang tengah tersenyum.
"Tempat ini harus bersih dan benar-benar bersih." Lucas membungkus sampai dan memasukkannya ke dalam paper bag." Sudah kamu bereskan semuanya?" Noa mengangguk dengan senyuman aneh.
Lucas duduk berjongkok. Tangannya menyentuh lantai seraya mengeluarkan sebuah sinar putih. Dia sedang menghilangkan jejak aroma tubuh Noa di dalam apartemen tersebut sebelum pergi.
"Siap Baby." Lucas kembali berdiri dan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Noa sementara tangan kirinya memegang dua tas besar.
"Pergi dengan cepat."
"Hm. Tutup mata."
"Mobilnya?"
"Biar ku ambil besok. Tutup mata."
Perlahan mata Noa terpejam bersamaan dengan terbukanya jendela apartemen. Lucas berubah menjadi asap untuk membawa tubuh Noa ke rumah baru mereka dalam waktu 30 detik.
"Sudah. Kamu boleh membuka mata." Noa membuka matanya dan tersenyum saat dirinya sudah berada di dalam rumah pilihannya." Kamu tunggu di sini ya." Pinta Lucas seraya merenggangkan lingkaran tangannya.
"Kamu ke mana?" Noa memegangi lengannya erat. Seolah tidak mau di tinggalkan.
"Hanya memberi pelindung seperti biasanya."
__ADS_1
"Hm baik." Lucas mengecup puncak kepala Noa sejenak kemudian berjalan secepat kilat menuju halaman rumah.
Noa duduk lemah di atas sofa dengan tarikan nafas berat yang berhembus. Cukup kesulitan rasanya sebab dia tidak bisa mengungkapkan kekhawatirannya di dalam hati.
"Astaga siapa!!!" Teriak penjaga rumah saat melihat Lucas berdiri di antara pepohonan yang ada di sekitar.
Sesuai permintaan. Lucas menyuruh Bastian mencarikan penjaga rumah yang bisa di andalkan juga seorang pembantu rumah tangga yang mau tinggal untuk menemani Noa saat dia pergi.
"Saya Pak." Jawab Lucas santai.
"Maling ya!" Tentu saja si penjaga rumah di buat bingung sebab tiba-tiba saja Lucas sudah ada di dalam. Padahal dia tidak melihat siapapun melewati pintu pagar.
"Saya Lucas."
"Lu Lucas?" Tanyanya terbata. Dia memperhatikan Lucas dari atas sampai bawah. Dia mengambil ponselnya untuk melihat potret Lucas yang di kirimkan Bastian.
"Saya pemilik rumah ini Pak." Lucas merogoh saku dan mengeluarkan kunci dari sana.
Dia masuk lewat mana? Pintu pagar belakang sudah ku kunci.
"Tuan masuk lewat mana?" Tanya lirih.
"Apa itu penting. Bapak siapa?"
"Em saya. Bima Tuan. Saya di suruh Pak Bastian menjaga rumah ini." Lucas mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Em bagus." Lucas merasa yakin dengan tubuh bugar yang di miliki Bima." Tidak boleh ada tamu masuk sebelum di persilahkan. Kamu juga harus memastikan Istri saya tetap ada di rumah ketika saya pergi. Bastian menawarkan gaji berapa padamu?"
"25 juta untuk satu bulan." Jawab Bima lirih. Dia takut Lucas menurunkan gaji besarnya karena itu termasuk nominal yang tidak wajar.
"Banyak sekali. Baik Tuan. Apa aturannya." Tanya Bima bersemangat. Dia sangat membutuhkan uang itu untuk biaya pengobatan Adiknya yang harus cuci darah setiap Minggu.
"Cukup mudah. Seperti yang saya katakan tadi. Jika ada tamu jangan biarkan masuk sembarangan. Itu juga berlaku untukmu." Bima mengerutkan keningnya.
"Untuk saya Tuan?"
"Hm.. Jangan keluar pintu pagar sebelum tamu itu mampu melewati pohon yang ada di samping pagar itu." Lucas menunjuk dua buah pohon cukup besar yang terdapat pada kedua sisi sebelum pintu pagar.
Maksudnya apa seperti itu? Apakah badan besar ku tidak cukup kuat untuk melawan..
"Turuti saja. Tidak perlu mengeluh di dalam hati." Wajah Bima berubah aneh dan mempercayai perkataan Bastian yang menjelaskan jika Lucas bukan orang sembarangan." Itu juga untuk keselamatanmu." Bima mengangguk seraya tersenyum aneh.
"Siap Tuan."
"Jika tamunya tidak mau melewati pembatas yang saya bicarakan. Aku pastikan dia bukan manusia."
"Bu bukan manusia?" Jawab Bima terbata.
"Maka dari itu, jangan langgar aturannya."
"Baik Tuan siap."
"Hm saya akan berkeliling." Bima hanya menatap Lucas dengan tatapan heran.
Duh Gusti.. Apa Tuan hanya menakut-nakuti atau itu benar-benar ada? Bukan hanya manusia yang harus ku jaga tapi demit. Ini semua demi kamu Naila.. Biar kamu sembuh dan kembali bisa bermain lagi sama teman-teman..
Sementara di dalam. Bik Minah mengendap-endap saat melihat Noa duduk di ruang tamu. Baginya, Noa terlihat begitu cantik. Bahkan sangat cantik melebihi artis idolanya.
__ADS_1
"Nona siapa?" Tanya Bik Minah.
"Eh siapa?" Noa menoleh dan menatap wanita separuh baya itu.
"Saya Bik Minah. Pembantu di sini."
"Pembantu?"
"Iya Non." Cantik sekali Gusti.. Mirip boneka hidup.
"Saya Noa Bik."
"Owalah.. Non Noa toh. Katanya datang besok Non." Noa tersenyum hangat.
"Sudah tidak sabar Bik jadi pindah malam ini."
"Saya Bik Minah. Tuan Bastian menyuruh saya menjadi pembantu di sini. "Semoga Non bisa betah Bibik layani." Bik Minah tersenyum teduh seraya memandangi paras cantik Noa.
"Amin Bik. Pasti betah. Bibik baik sekali."
"Ah Non bisa saja. Kalau tidak baik nanti Non takut." Noa tertawa kecil.
"Bibik sudah berbelanja tadi?"
"Belum Non. Ini tadi Bibik baru datang sore terus bersih-bersih. Non lapar?"
"Iya Bik."
"Ada mie instan Non. Bibik bawa dari desa. Kalau mau Bibik buatin." Tawarnya sopan.
"Boleh lah Bik. Aku lapar sekali." Noa mengusap perutnya yang rata.
"Tunggu ya Non." Bik Minah tersenyum sebentar lalu bergegas masuk ke dalam dapur.
๐น๐น๐น
Elena dan beberapa prajurit kerajaan langsung mendatangi di mana Lucas tinggal. Tentu saja Elena merasa geram saat dia mendapati ruangan apartemen yang kosong.
"Mungkin sudah pergi permaisuri." Elena berteriak keras di sertai dengan perubahan wajahnya yang menunjukkan seringai taring runcingnya.
"Aku tidak mengedus aroma Lucas di sini!!! Apa Adam membohongiku!!" Teriak Elena merasa di permainkan.
"Saya melihat sendiri tadi Tuan Lucas ada di sini."
Brraaaaakk!!!!!
Si prajurit terlempar keras membentur tembok hanya dengan sentuhan ringan elena.
"Tidak ada bukti!! Ini omong kosong!!!"
"Saya tidak berbohong permaisuri. Mungkin Tuan Lucas sudah tahu dengan kunjungan ini jadi beliau memutuskan pergi." Elena terdiam seraya mengedarkan pandangannya. Telinganya bergerak cepat karena mendengar beberapa langkah kaki mendekat.
"Kita pergi." Elena berubah menjadi asap di ikuti oleh prajurit kerajaan lain dan menghilang secepat angin yang berhembus malam itu.
Sementara pihak apartemen menombol bel pintu berkali-kali dan berniat memeriksa. Namun, tentu saja tidak ada jawaban karena apartemen Lucas sudah kosong dengan kunci yang masih tertancap di samping pintu.
๐น๐น๐น
__ADS_1