
Noa dan Alex menoleh ke arah Elena. Cepat-cepat Elena masuk dan duduk tepat di samping Noa. Tangan kanannya terangkat dan mulai membelai rambut panjangnya lalu menghirup aroma tubuh Noa kuat.
Elena mendesis, seraya memejamkan matanya. Dia tidak tahan sebab ini kali pertamanya berdekatan dengan manusia.
"Jaga sikapmu!!" Alex menyudahi kegiatan Elena lalu menyuruh Noa duduk di kursi miliknya.
"Aku lupa diri." Jawab Elena terkekeh nyaring. Maniknya masih saja menatap Noa yang tengah memasang wajah gelisah.
Apa aku salah dengar? Tuan Lucas akan menikah.. Batinnya bergejolak dengan nyeri hebat yang langsung menghantam hatinya.
"Kau tidak salah. Lucas akan menikah malam ini dengan Patresia, putriku." Noa menatap Elena dengan mata berkaca-kaca. Alex yang melihat itu merasa ikut tersakiti seolah dia tidak rela melihat Noa bersedih.
"Tidak mungkin begitu. Tuan Lucas berjanji akan kembali."
"Dia tidak akan kembali!! Dia sudah sadar akan kesalahannya karena memutuskan menikah dengan manusia lemah sepertimu!!" Tangis Noa tumpah meski dia sudah berusaha untuk menahannya. Hatinya tentu merasa sakit saat mendengar kenyataan jika Lucas mengkhianati pernikahan mereka.
Alex terdiam, menatap Noa dengan raut wajah iba. Dia baru sadar jika kesedihan Noa sanggup mengiris hatinya.
Benar-benar sama.. Aku dulu merelakan Tiara asal dia bahagia walaupun bukan bersamaku..
Alex menddesah lembut. Tangan kanannya terangkat dan mulai mengusap pelan punggung Noa.
"Itu belum tentu benar." Dengan melapangkan dada seluas-luasnya, Alex mencoba menghibur hati wanita kedua yang di anggap spesial setelah Tiara.
"Jika kalian tidak percaya. Kalian boleh datang untuk menyaksikan." Elena meletakkan sebuah undangan pernikahan yang terbuat dari daun kering." Ini akses kalian untuk masuk. Tapi ingat. Jangan membuat onar." Pandangan Noa kabur sebab kedua maniknya penuh air mata. Menatap lekat ke arah undangan yang bertuliskan nama Patresia dan Lucas.
Ya Tuhan.. Ini seperti mimpi buruk..
Elena tersenyum penuh kemenangan, menatap wajah putus asa yang Noa perlihatkan.
"Mama terlihat senang sekali." Noa menoleh ke arah Elena." Seolah Mama puas karena keinginan Mama bisa terwujud." Noa asal bicara meski perkataannya sekarang memang benar adanya.
"Kau tidak pantas menyebutku Mama makhluk rendahan!!" Jawab Elena geram.
"Saya hanya mencoba menghormati anda."
"Aku tidak butuh rasa hormatmu!! Aku hanya ingin kau sadar dari mimpi mu! Kau itu tidak pantas berdampingan dengan Lucas!! Kau sadar bukan jika dia putra mahkota sementara kau!!" Menunjuk kasar Noa." Kau manusia rendahan yang tidak berguna! Kau bahkan tidak pantas untuk sekedar berdekatan apalagi sampai menjadi pendampingnya." Imbuhnya tersenyum mengejek.
"Tuan Lucas yang memilih bukan saya." Jika tahu berakhir seperti ini. Aku lebih memilih ranting runcing itu menusuk jantungku agar aku tidak harus merasakan kesakitan ini..
"Dia hanya sedang tidak sadar." Noa mengangguk pelan. Wajahnya tertunduk dengan tangan terangkat dan sesekali menyeka air matanya.
"Saya akan datang untuk menyaksikannya." Ucapnya dengan hati bergemuruh.
"Tapi ingat untuk tidak menunjukkan wajahmu."
"Saya hanya ingin melihatnya. Saya berjanji tidak akan membuat onar." Elena berdiri lalu menarik lembut tubuh Alex untuk berbicara menjauh dari Noa.
"Rencana kita berhasil. Kau dapatkan dia dan aku dapatkan Lucas." Alex memasang wajah datar seraya sesekali menatap ke Noa yang tertunduk.
"Apa benar pernikahan itu?" Tanya Alex berbisik.
"Undangan itu adalah bukti jika Lucas sudah setuju dengan pernikahan ini." Elena mengerutkan keningnya membaca raut wajah tidak bahagia yang Alex perlihatkan.
Entahlah.. Kenapa aku merasa ikut bersedih melihat Noa seperti itu. Bukankah ini adalah peluang terbesarku untuk mendapatkannya..
"Kau kenapa?"
"Setelah Lucas menikah. Jangan lagi mengusik hidupnya." Jawab Alex asal. Hatinya di liputi kebimbangan yang tidak berarah.
"Ambil manusia lemah itu. Aku berharap kau bisa menahan wanita itu untuk tidak berbuat onar nanti. Kau ingat jika kau masih di asingkan oleh Stefanus dan yang lain." Alex mengangguk dengan dessahan yang begitu saja lolos.
"Itu tidak penting. Aku tahu posisiku. Aku akan mengajaknya melihat pernikahan itu dari jauh." Elena tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke arah Noa.
"Oke baik. Aku pergi." Elena berubah menjadi asap dan menghilang dari hadapan Alex.
Kenapa aku ini..
Alex berjalan menghampiri Noa dan kembali duduk di sampingnya. Tangannya terangkat dan hendak mengusap punggungnya lembut namun Noa menghindar dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan menyentuh saya, hiks.." Tolak Noa lirih." Paman ikut andil dalam rencana ini bukan. Jadi bagaimana sekarang? Apa Paman merasa bahagia bisa memisahkan kami?" Imbuh Noa masih saja terisak." Meski saya tidak lagi bersama Tuan Lucas! Saya tidak akan mau menerima perasaan Paman! Saya memilih terbunuh dan tenggelam dalam rasa rindu yang akan membunuh saya nantinya. Itu lebih baik daripada saya harus berkhianat darinya." Alex kembali menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Apa kau percaya jika pernikahan itu adalah keinginan Lucas." Noa menoleh. Dia tidak yakin dengan itu meski undangan yang tergeletak di hadapannya terlihat nyata.
"Mungkin ini sudah jalannya."
"Bagaimana jika Lucas terpaksa melakukan itu karena ancaman. Apa kau tidak ingin menanyakan ini dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja." Noa menatap Alex penuh tanya." Ingat Noa. Jika sampai Lucas sudah bertukar darah. Itu berarti sepenuhnya Patresia menjadi miliknya. Pernikahan di bangsa kami memang sangat mudah tapi pernikahan itu begitu sakral. Tidak seperti pernikahan manusia yang cenderung masih mampu berkhianat." Alex mengubur dalam perasaanya. Dia mencoba memberikan semangat pada Noa bahkan berniat membantunya.
"Kami sudah bertukar darah Paman. Kami bahkan sudah menikah dengan cara manusia menikah. Jika memang pernikahan itu sakral. Kenapa mereka bersusah payah memisahkan kami."
"Pernikahan kalian terlarang dan tidak di akui. Itu kenapa kau tidak di akui sebagai Istri Lucas." Noa menghembuskan nafas berat. Dia memantapkan hatinya untuk mempercayai perkataan Lucas yang berjanji hanya akan mencintai nya.
"Jika dia tidak terpaksa?" Alex tersenyum tipis menatap ke arah Noa.
"Dia sempat akan memusnahkan ku saat aku berkata jujur tentang ketertarikan ku padamu. Aku membaca kemarahannya kala itu. Aku merasa dia sangat mencintaimu. Aku tidak yakin jika Lucas bisa melupakan mu begitu saja."
"Apa yang Paman rencanakan? Kenapa sekarang Paman berkata itu pada saya." Tentu saja Noa merasa curiga dengan perkataan yang Alex lontarkan.
"Hatiku ikut tercabik melihat air matamu. Aku terlalu buta karena rasa rinduku pada Tiara hingga membuat ku membantu mereka tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu." Noa terdiam tidak bergeming. Dia tengah membaca keseriusan yang ada pada mimik wajah Alex yang mungkin saja tengah menipunya." Sebagai penebus kesalahan yang sudah ku perbuat. Aku akan membantumu menyadarkan Lucas." Imbuhnya menyakinkan.
"Apa bisa Paman?" Ucap Noa tidak merasa percaya diri.
"Berhasil atau tidak. Yang terpenting kita sudah berusaha daripada tidak sama sekali."
Ini perjuangan terakhir ku sayang. Aku tidak memiliki bekal apapun untuk datang ke duniamu yang pasti akan terasa asing untukku. Jika ini benar-benar keputusanmu, aku turut bahagia untukmu. Tapi jika ini semua tekanan dari orang tuamu. Mungkin itu jalan terbaik yang harus kamu pilih daripada hubungan ini akan menyulitkan mu..
Seolah putus asa, Noa mencoba menerima dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Dia cukup merasa senang, bisa merasakan kebahagiaan singkat yang begitu cepat berlalu.
"Sebaiknya kamu membersihkan diri. Aku akan membelikan gaun yang pantas untukmu." Noa mengangguk pelan dan berdiri.
"Di mana kamar mandinya Paman?"
"Kamu masuk ke kamar itu." Noa tersenyum getir kemudian melangkah masuk ke kamar yang di tunjuk.
Alex menghilang, bersamaan dengan masuknya Noa ke dalam kamar mandi. Punggungnya di sandarkan lemah pada daun pintu, berusaha untuk bisa menerima kenyataan pahit yang mungkin akan terjadi malam ini.
Hidupnya begitu melelahkan dan kejadian yang menimpa nya sekarang adalah puncak dari kesedihannya. Tanpa sadar Noa terlelap dan kembali berada di mimpi yang sama.
Kali ini dia berjumpa lagi dengan gadis kecil yang memiliki wajah mirip dengannya. Gadis kecil itu tengah berdiri menatap hamparan api yang ada di sekelilingnya.
"Kamu." Ucap Noa tertahan.
"Mama." Gadis kecil itu menoleh dan langsung memeluk tubuh Noa erat." Jangan bersedih. Aku ikut bersedih di sini." Gumamnya lirih.
Meski terbesit keraguan, namun Noa membalas pelukan dari gadis kecil tersebut.
"Apa benar kamu anakku?" Tanya Noa terbata.
"Tentu saja." Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendongak. Noa melebarkan matanya saat melihat samar mahkota yang ada di atas kepalanya." Kita akan melewati kesulitan ini bersama." Imbuhnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Noa.
"Mama tidak sanggup."
"Jangan menyerah Ma. Demi aku. Buah cinta kalian." Noa tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Ini tidak nyata."
"Aku akan lahir 75 hari lagi. Aku nyata. Aku anak Mama dan papa." Noa memejamkan matanya, menikmati lengan kecil yang tengah memeluknya.
Hingga tiba-tiba tangan itu tergantikan dengan lengan milik Alex yang akan mengangkat tubuhnya.
"Paman." Alex mengurungkan niatnya. Tangannya di tarik perlahan seraya duduk berjongkok di hadapan Noa.
"Jika lelah. Tidurlah setelah mandi. Aku membelikan beberapa baju untuk kau pakai." Noa mengangguk seraya tertunduk. Alex meletakkan gaun santai pada pangkuan Noa lalu menghilang begitu saja.
"Ternyata aku tidak bermimpi." Eluh Noa berusaha berdiri, kakinya melangkah pelan menuju shower dan langsung menyalakannya setelah meletakkan gaun yang di berikan Alex.
Noa berdiri di bawah air guyuran shower yang jatuh. Dia sengaja menguyur kepalanya berlama-lama agar otaknya menjadi lebih dingin.
"Apa aku kuat melihatnya." Gumamnya dengan bibir setengah terbuka." Apa bisa aku lebih berani? Aku bahkan takut melihat mereka." Eluh Noa lagi dan lagi.
__ADS_1
Alex yang mendengar keluh kesah hati Noa merasa ikut terbebani. Ada sesal terbesit karena jika mungkin bukan karena dirinya, Noa dan Lucas tidak bisa terlacak dengan cepat.
Gagang pintu bergerak, Noa terpekik ketika dia melihat seorang wanita cantik berdiri di hadapannya. Warna make up wanita itu terlihat lebih tegas dengan make up yang biasa Noa pakai.
"Dia perias dari bangsaku." Tutur Alex menjelaskan.
"Saya bisa berdandan sendiri Paman." Alex berdiri lalu berjalan menghampiri Noa.
"Aku ingin Lucas terkesan hingga tidak berkedip. Aku mohon Noa, percaya padaku. Wanita ini sudah lihai dalam memoles wajah seseorang agar terlihat spesial." Rajuk Alex sanggup membuat Noa tersenyum.
"Baiklah Paman."
"Mari Nona." Noa mengikuti langkah si perias yang mengiringinya ke samping ranjang.
"Katanya merias? Kenapa di ranjang?"
"Nona berbaring saja." Dengan sedikit paksaan, Noa di tidurkan dengan lembut.
"Jika saya ketiduran?"
"Itu malah bagus Nona." Si perias meniup wajah Noa dan tiba-tiba saja kantuk kembali menyerang.
Setelah memastikan Noa terlelap, si perias beranjak dari tempatnya untuk mengambil kotak make up miliknya.
"Jadikan dia lebih cantik dari wanita manapun di dunia ini." Pinta Alex lirih.
"Saya merasa Nona itu sudah sangat cantik. Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya. Apa mungkin dia memakai susuk?"
"Tidak mungkin. Dia sangat lugu." Alex menyangkal ucapan si perias yang ternyata merangkap sebagai ahli nujum.
"Hm iya. Saya juga merasa bukan susuk tapi ada sesuatu yang menjaga Nona. Saya tidak bisa mendeteksi itu apa."
"Apa membahayakan untuknya?" Alex berfikir jika mungkin sesuatu yang di sebut si perias adalah hal negatif.
"Tuan tenang saja. Auranya sangat positif. Dia akan menjaga janin yang ada pada perut Nona." Alex melebarkan matanya. Tentu saja dia merasa kaget.
"Dia hamil?"
"Ya hamil. Aku mencium keturunan Stefanus ada di sana."
"Astaga Tuhan. Aku akan memiliki keponakan." Alex tersenyum sumringah, mendengar kenyataan tentang kehamilan Noa.
"Dia akan jadi gadis yang hebat. Sebaiknya saya mulai sekarang. Tuan tolong keluar dulu agar saya bisa memaksimalkan riasannya." Alex mengangguk lalu berjalan keluar dan duduk di sofa ruang tengah.
"Bukankah seharusnya tubuh Noa melemah? Tapi ku lihat dia baik-baik saja. Astaga.. Aku yakin Lucas akan terbuka hatinya saat dia tahu jika Istrinya hamil." Alex menjadi ingat. Dulu dia menginginkan hadirnya seorang malaikat kecil tumbuh pada rahim Tiara.
Namun keinginan itu harus terlupakan karena daya tahan tubuh Tiara yang tidak stabil. Alex sampai rela tidak menyemburkan benih miliknya pada rahim Tiara saat percintaan terjadi. Dia lebih memilih keselamatan Tiara daripada keinginannya untuk mendapatkan keturunan.
"Ini adalah berkah. Pernikahan mereka sudah di berkati Tuhan karena hadirnya malaikat kecil itu." Alex tersungging seraya menunggu si perias menyelesaikan tugasnya.
Setengah jam kemudian, si perias keluar dari kamar dengan kotak makeup nya.
"Sudah selesai?" Tanya Alex berdiri menghampiri.
"Sudah Tuan." Alex menyodorkan satu botol besar darah pada si perias." Astaga banyak sekali." Si perias menelan salivanya kasar menatap darah manusia ada di tangannya.
"Ini bonus untuk kebahagiaan yang sudah kamu sampaikan."
"Saya hanya menyampaikan fakta. 10 menit lagi Nona akan terjaga. Saya permisi. Terimakasih Tuan." Alex mengangguk seraya menatap si perias yang menghilang begitu saja.
"Sebaiknya aku berganti baju." Gumam Alex berjalan cepat menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar utama.
🌲🌹🌹🌲
Sejujurnya aku tidak sabar melihat mereka bertemu🥰🥰
Aku harap para pembaca bisa menahan diri😁😁
Terimakasih dukungannya 🥰🥰
__ADS_1