
Elena membuka pintu kamarnya sedikit untuk melihat situasi di luar. Saat Stefanus masuk ke kamar utama kerajaan, Elena mendorong pintunya pelan lalu menguncinya. Jendela juga di tutup rapat lengkap bersama tirainya.
Entah apa yang dia lakukan. Tapi kini Elena tengah memagari kamar pribadinya dengan pelindung.
Setelah merasa semua aman. Dia masuk ke dalam lemari yang ternyata memiliki kamar rahasia agar dia bisa mengunjungi tawanannya kapan saja.
Elena merupakan keturunan bangsawan yang memiliki ambisi ingin menjadi permaisuri. Dia sampai rela membinasakan seluruh keluarganya agar orang tua Stefanus mau mengangkatnya sebagai anak.
Keinginannya terwujud cepat, sebab dia sosok wanita curang dengan seribu akal. Elena menjadi serakah dan ingin menguasai kerajaan hingga dia menikah dengan William, Kakak dari Stefanus yang sudah binasa karena kesalahannya sendiri.
Elena tersenyum tipis, menatap manusia berjenis kelamin perempuan tengah di rantai di dalam ruangan.
"Kenapa kau tidak membunuhku saja Ele." Ucapnya lirih tanpa ekspresi.
"Hahahaha. Aku ingin kau menyaksikan kebahagiaanku bersama Stefanus suatu saat nanti. Aku akan membinasakan bangsamu dan juga dirimu jika aku sudah berhasil merajuk Stefanus untuk melakukannya." Elena terkekeh nyaring sementara wanita itu terlihat pasrah menerima keadaan.
"Bunuh saja aku Elena." Pintanya lemah.
"Jika ku bunuh langsung. Kau tidak akan tersiksa seperti sekarang. Bagaimana rasanya hidup ribuan tahun di tempat yang sama? Bukankah itu pengalaman berharga untuk manusia sepertimu!!" Elena memang menyiapkan ruangan itu agar manusia tawanannya tidak bisa menua. Dia harus rela mendalami sebuah kitab kuno untuk melancarkan aksinya agar bisa menyiksa manusia yang tidak di ketahui namanya itu.
"Apa salahku Elena. Kenapa kau tidak membunuhku agar aku tidak harus berada di sini." Wanita itu mulai terisak meski tidak terlihat air mata keluar dari sudut pipinya.
"Aku akan membunuhmu jika aku sudah berhasil membinasakan bangsamu." Elena membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa memperdulikan teriakan wanita itu.
Blaaaaammm!!!!
Pintu kembali di tutup dan tersamarkan dengan gaun yang tergantung di depannya. Elena menghilangkan pelindung bersamaan dengan datangnya Stefanus.
"Kenapa kamu tidak juga ke kamarku?" Pinta Stefanus masuk ke dalam kamar.
"Aku akan ke sana sebentar lagi Baginda." Elena menghampiri Stefanus. Dia merapatkan tubuhnya seraya menyentuh dada bidang Stefanus dengan telunjuknya." Baginda terlihat tampan sekali." Pujinya langsung mellumat bibir Stefanus kasar.
Si wanita menangis terisak-isak seraya menutup kedua telinganya saat Elena sengaja merayu Stefanus untuk bercinta di kamar pribadinya. Suara dessahan dan erangan yang saling bersahutan sangat jelas terdengar. Si wanita duduk meringkuk dan memeluk kedua kakinya yang terlipat seraya berharap Tuhan segera mencabut nyawanya sekarang juga.
๐น๐น๐น
Setelah makan malam. Lucas melajukan mobilnya menuju ke toko meubel. Mereka ingin membeli ranjang yang lebih kuat agar tidak patah saat keduanya sedang memadu kasih.
"Saya ingin kaki ranjangnya dobel agar tidak patah lagi." Pinta Lucas tersenyum sementara Noa malah masih fokus melihat-lihat.
Aku pastikan mereka masih pengantin baru hehe.. Lucas terkekeh mendengar suara hati si pemilik toko meubel tersebut.
"Harus pesan dulu Tuan sebab ini ranjang yang paling kuat. Lihatlah Tuan, kaki ranjangnya begitu besar sehingga sudah bisa di pastikan akan kokoh."
"Tidak. Saya ingin menambahkan lagi kaki ranjangnya di tengah juga di sekelilingnya." Si pemilik meubel mengangguk seraya menyiapkan catatan untuk pesanan khusus itu.
__ADS_1
"Harganya lebih mahal Tuan."
"Tidak masalah. Bisa dengan ini kan." Lucas mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu ATM dari sana.
"Hm bisa Tuan. Sebentar biar saya buatkan Notanya." Lucas tersenyum lalu menghampiri Noa yang masih melihat-lihat.
"Ada tambahan lagi?"
"Aku butuh meja rias Tuan." Menunjuk sebuah meja rias berwarna putih." Tapi.. Bukankah sebaiknya kita membeli rumah saja." Pinta Noa lirih.
"Kamu ingin membelinya."
"Jika tidak memberatkan Tuan. Kalau memiliki rumah akan ada pembantu yang bisa menyiapkan makan untukku." Lucas merangkul kedua pundak Noa erat seraya mencium puncak kepalanya.
"Aku tidak tahu menahu soal itu. Nanti akan ku hubungi Bastian untuk membantu kita."
"Serius bisa langsung membelinya."
"Tentu saja Baby." Lucas kembali mengecup puncak kepalanya berulang kali." Kamu suka meja rias ini? Biar sekalian nanti di kirim ke rumah baru kita." Tanya Lucas memastikan.
"Hm Tuan. Aku mau yang ini." Menunjuk kembali meja rias.
"Pak tambah yang ini." Tutur Lucas setengah berteriak.
"Baik Tuan."
"Kita beli cemilan lalu pulang. Aku takut anak buah Mommy berkeliaran." Lucas tidak menjawab dan menggiring Noa menuju meja kasir." Mereka sangat banyak Tuan. Mereka juga sangat patuh pada Mommy." Imbuh Noa menjelaskan.
"Peringatan kemarin sudah cukup jadi tidak perlu takut."
"Tetap saja takut Tuan. Tempat itu seperti neraka bagiku."
"Ini totalnya Tuan." Si pemilik toko menyodorkan sebuah nota.
"Nanti alamatnya saya kirimkan menyusul sebab rencananya barang ini akan di letakkan pada rumah baru kami." Lucas mengambil dompetnya dan menyodorkan kartu ATM.
"Siap Tuan. Di situ sudah ada nomer ponsel yang bisa di hubungi."
"Saya akan mengirimkan alamatnya jika sudah mendapatkan rumah yang cocok."
"Baik Tuan. Em atas nama Bastian Prayoga?" Lucas mengangguk seraya mengetikkan nomer pin-nya." Ini bukti pembayarannya." Si pemilik memberikan secarik kertas kecil bersama dengan ATM nya.
"Hm terimakasih."
"Saya juga terimakasih Tuan." Lucas dan Noa tersenyum sejenak kemudian melangkah menuju mobilnya. Setelah keduanya masuk, mobil melaju menuju supermarket terdekat.
__ADS_1
"Mahal sekali Tuan." Ucap Noa saat melihat nota yang memperlihatkan nominal sangat besar.
"Itu pesanan khusus Baby. Agar tidak patah ketika aku sedang bersemangat." Noa terkekeh dan menyimpan nota itu ke dalam tas kecilnya.
"Tuan membuatku memikirkan itu." Fikiran Noa mulai bergerilya dan membayangkan bagaimana tangguhnya makhluk di sampingnya.
"Hei tidak boleh. Satu hari cukup sekali, kamu akan sakit nanti."
"Iya Tuan jadi sebaiknya tidak kita bahas." Lucas mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Kita beli di sini saja."
"Iya Tuan." Keduanya turun dan masuk ke dalam mini market yang cukup ramai. Lucas meraih keranjang belanjaan sementara Noa berjalan di samping seraya memilih cemilan." Tuan tidak ingin memilih?" Tawar Noa basa basi.
"Aku merasa aneh memakannya."
"Ini enak untukku Tuan."
"Beli yang banyak jika enak."
"Kulkas Tuan begitu kecil. Mana bisa menyimpan banyak."
"Kita akan beli perabot lebih besar jika sudah mendapatkan rumah yang cocok." Noa sangat bahagia mendengar itu. Dia berfikir tidak akan pernah bisa merasakan apa yang sedang di lakukan sekarang.
Surat kontrak kerja Mommy Vivian yang berlaku seumur hidup, membuat Noa merasa tidak pantas memimpikan memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Ya Tuhan. Aku bahagia sekali. Aku tidak menyangka bisa melakukan sesuatu yang dulu menjadi sekedar keinginan. Noa mengeratkan genggamannya. Dia tidak ingin kehilangan Suaminya meskipun nyatanya Lucas bukanlah manusia.
"Apalagi yang kamu ingin lakukan?" Tanya Lucas berniat mewujudkan semua keinginan Noa.
"Hidup bersamamu Tuan."
"Sudah kamu dapatkan."
"Hm iya. Berarti keinginan ku sudah tercapai." Jawab Noa lirih.
"Itu saja?"
"Apalagi yang ku harapkan Tuan. Kamu memberikan kenyamanan yang ku butuhkan."
"Sudah selayaknya itu ku lakukan."
"Aku bahagia sekarang. Jadi aku tidak ingin tambahan keinginan. Aku hanya ingin hidup bersamamu dan memiliki beberapa anak yang lucu." Noa mencium punggung tangan Lucas berkali-kali sehingga membuat perasaan Lucas kian menguat. Akar cinta yang di berikan Noa, terasa semakin menancap kuat pada dasar hati terdalamnya.
"Aku juga bahagia Baby." Aku akan melindungi mu dengan nyawaku jika nantinya Ayah mencoba memisahkan kita..
__ADS_1
"Lucas..." Sapa seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik keduanya.
๐น๐น๐น