
Semalaman penuh hati Stefanus gusar. Dia mengurung diri di kamarnya untuk menenangkan emosi yang masih terasa meledak-ledak.
Ketakutan yang selama ini menjadi momok baginya. Sudah benar-benar terjadi dan menghantam perasaannya.
Stefanus sengaja menyendiri karena hatinya bimbang untuk memutuskan. Dia masih berharap pada Lucas agar kembali untuk meminta pengampunan. Namun hingga matahari terbit. Stefanus tidak juga melihat batang hidung Lucas.
Wuuuuusssshhhhhhhh...
Brakkkk!!!
Tiba-tiba saja Elena menerobos masuk. Stefanus menoleh dengan wajah geram dan berjalan menghampirinya.
"Keluar!!" Teriak Stefanus membulatkan matanya.
"Maaf Baginda. Rakyatmu menuntut titah mu."
"Apa maksud mu Elle!!!"
"Apa lagi." Elena tersenyum tipis lalu duduk di tepian ranjang sementara Stefanus berdiri di hadapannya seolah bersiap menerkamnya." Titah untuk memburu Lucas. Bukankah dia melanggar aturan di bangsa kita." Sorot mata Stefanus berubah bingung. Dia merasa tidak rela jika akhirnya aturan itu mengarah pada anak semata wayangnya.
"Aku yakin dia akan menyesal."
"Cinta itu buta Baginda. Dia tidak akan menyesal kecuali..." Elena beranjak dan berdiri tepat di hadapan Stefanus." Cabut aturan itu. Bebaskan bangsa kita untuk bisa berburu agar manusia sudah tidak lagi ada di dunia agar kekhawatiran mu hilang." Imbuh Elena kembali melontarkan perkataan yang sulit Stefanus pilih.
Hati bijaksana dalam hatinya terasa meronta memaksa keluar dan terlepas hingga menyisakan sikap bengis yang dominan dengan bangsa Vampir.
Ingin rasanya dia melupakan keinginannya untuk bisa hidup saling berdampingan dengan manusia. Namun Stefanus merasa tidak berhak menghakimi sebuah nyawa. Aku bukan Tuhan. Ucapan itu terpatri pada otaknya. Dia tidak ingin melihat pertikaian atau pertumpahan darah yang pernah terjadi berjuta-juta tahun yang lalu saat bangsa Vampir bisa bebas berburu manusia.
"Nyawa mereka milik Tuhan! Aku sudah membebaskan memburu mereka ketika sedang berada di area hutan larangan. Itu tidak benar Elena, aku tidak bisa."
"Lalu kau akan memburu Lucas?" Tanya Elena menuntut.
"Aku akan mencabut aturan itu." Elena tertawa renyah. Dia sudah bisa menebak jalan ceritanya sehingga Elena sudah menyiapkan amunisi untuk menekan Stefanus.
"Kau tidak pantas menjadi raja Stefanus!!"
"Apa maksudmu!!" Tanya Stefanus tidak terima.
"Dulu kau bahkan membantai para manusia yang terlanjur menikah dengan bangsa kita begitu buruk! Bagaimana mungkin kau bisa mencabut aturan itu di saat Lucas yang melakukannya." Kegelisahan semakin terlihat. Stefanus yang sejatinya begitu menyanyangi Lucas tidak mungkin sanggup memburunya apalagi sampai memusnahkannya." Lakukan tapi bersiap lah tahta mu akan lengser. Mereka semua tahu dan sedang menunggu titah mu." Imbuh Elena menunjuk ke arah jendela.
Stefanus berjalan perlahan dan melihat kerumunan Vampir berada di depan gerbang kerajaannya.
"Apa kau memberitahu mereka!!!" Elena mengangguk seraya terkekeh lagi." Kau lancang sekali Elena!!" Imbuh Stefanus geram.
"Mereka harus tahu pemimpinnya seperti apa. Baginda bahkan tidak bisa memimpin Lucas. Bagaimana pendapat mereka setelah tahu hal ini? Kerumunan itu akan menuntut mu lengser dari kekuasaan mu sekarang."
Stefanus duduk lemah dengan raut wajah gelisah. Sudah berabad-abad lamanya. Semua keturunan keluarganya bisa menjadi raja yang di segani oleh rakyatnya. Tentu dia tidak ingin kekuasaannya lengser hanya karena satu noda saja.
Anak itu menurun sifat Ibunya!!!
"Segera putuskan Baginda. Buru Lucas juga manusia-manusia itu atau kau mencabut peraturan itu dan kehilangan tahta mu."
__ADS_1
"Buru Lucas dan Istrinya! Aku tidak ingin memburu manusia-manusia tidak berdosa itu." Elena mendengus seraya melirik ke Stefanus dengan tatapan kesal.
Dasar kepala batu!!! Kenapa dia masih saja membela manusia-manusia itu!!
"Hm baik Baginda. Akan ku perintahkan Pedro sebagai panglima kerajaan untuk memimpin."
"Hm.." Jawab Stefanus lemah.
Elena tersenyum tipis kemudian berjalan pergi untuk menemui Pedro yang bukan hanya seorang Panglima kerajaan. Tapi juga menantu kebanggaannya.
๐น๐น๐น
Setelah percintaan panas yang terjadi di kamar mandi. Tentu saja membuat tubuh Noa lemah. Dia memutuskan untuk kembali tidur padahal sarapan pagi belum dia dapatkan.
"Baby." Panggil Lucas mengusap-usap kening Noa. Kepalanya tertunduk dan memberikan beberapa kecupan hangat pada wajahnya.
"Eum..." Gumam Noa masih memejamkan matanya." Jangan menganggu dulu sayang. Aku masih mengantuk." Tangan kanannya menjauhkan wajah Lucas dari wajahnya.
"Bangun dulu lalu makan. Kamu tidak lapar?"
"Hm lapar. Tapi mataku." Noa menunjuk matanya yang terasa sangat berat.
"Matamu memang indah." Lucas tersenyum seraya mengecupi mata kanan dan kiri Noa secara bergantian untuk memulihkan otot-otot mata yang melemah." Bibik sudah memasak sejak tadi. Kamu tidak ingin makan. Buka matamu Baby. Aku takut kamu sakit." Imbuh Lucas merajuk.
Dia sungguh menyukai hubungannya sekarang. Menyatukan dua perasaan lebih terasa manis daripada harus memikirkan tahta dan juga kekuasaan.
Lucas merasa mendapat kedamaian meski wanita yang berada di kungkungan tubuhnya sangat berbeda. Noa terlihat lebih lemah dengan suara manja nan khas yang setiap hari membelai telinganya.
Entah karena dia keturunan manusia. Tapi Lucas sangat menikmati kebersamaannya bersama Noa, Istri nya.
"Aku tidak mengerti dia memasak apa. Baunya sangat aneh."
"Semoga masakan Bibik enak." Noa mengikat rambutnya sembarangan lalu meraih lengan Lucas." Temani aku makan." Pinta Noa lirih.
Tanpa berkomentar lagi, Lucas berdiri dan merangkul kedua pundak Noa.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih kuat untuk nanti malam." Noa tersenyum begitupun Lucas yang tengah menunduk dan memandangi paras cantik Istrinya dari samping.
"Aku baik-baik saja sayang. Kita lakukan nanti malam agar aku cepat hamil."
"Hm Baby." Lucas mengangkat tangan Noa lalu mengecupi nya.
"Bibik masak apa." Sapa Noa berdiri di ambang pintu memperhatikan Bik Minah yang tengah menata alat-alat makan dan bahan makanan.
"Bibik masak ikan laut Non."
"Wah pasti enak Bik."
"Silahkan Non. Biar Bibik siapkan." Bik Minah menggeser dua kursi lalu beranjak untuk menyiapkan piring dan alat makan.
"Piringnya satu saja Bik." Pinta Lucas saat melihat Bik Minah mengambil dua piring.
__ADS_1
"Loh kok satu. Tuan tidak ikut makan."
"Tidak. Jangan banyak bertanya." Bik Minah tersenyum dan meletakan piringnya lagi.
"Tuan tidak suka makan nasi Bik. Dia terbiasa makan roti."
"Oh begitu Non. Besok Bibik belikan roti saja. Biar Bibik buatkan sandwich." Saat Lucas akan menjawab niat Bik Yanti. Noa memegang jemarinya agar dia yang memberikan jawaban untuk Bik Minah.
Jangan kasar-kasar sayang. Dia orang tua. Lucas mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk menjawab.
"Tidak perlu Bik. Tuan hanya makan di toko kue yang khusus jadi makanan untuk Tuan, biar saya siapkan."
"Baik Non. Silahkan."
"Terimakasih Bik." Noa mulai mengambil nasi dan ikan. Dia mencicipi satu suapan seraya mengangguk-angguk. Mirip buatan Mama. Aku bersyukur bisa merasakan masakan ini lagi.
"Bagaimana Non. Kurang apa biar Bibik perbaiki."
"Ini enak sekali Bik. Aku suka." Noa makan dengan lahapnya sementara Lucas menatapnya dari samping.
Aku juga ingin bisa merasakan. Bagaimana sedapnya masakan itu Baby..
"Bibik siapkan buah nya ya Non. Untuk pencuci mulut."
"Hm Bik." Bik Minah beranjak dan masuk ke dalam dapur yang terpisah dengan ruang makan.
Dalam sekejap, piring Noa terlihat kosong. Dia menambahkannya nasi dan kuah ikan yang menggoyang lidah.
"Mama mu pintar memasak Baby?"
"Iya sayang. Tidak seperti aku. Mungkin dia terlalu memanjakan aku sehingga aku tidak bisa memasak."
"Aku juga ingin memanjakan mu." Noa tertawa kecil melihat ekspresi Lucas yang menggemaskan. Dia sungguh mengakui ketampanan Lucas yang terlihat lebih dari ketampanan seorang manusia.
"Apa kita tidak bisa keluar rumah sayang?"
"Apa yang ingin kamu beli?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita saja dengan mengunjungi tempat-tempat yang indah."
"Asal jangan malam hari. Sekuat apapun prajurit kerajaan. Dia tidak bisa keluar saat siang hari."
"Kita harus beli kacamata hitam untuk mu agar kamu bisa merasa nyaman nanti." Tutur Noa seraya mengunyah.
"Memangnya mau kemana?"
"Entahlah sayang. Di tempat-tempat yang dekat agar tidak terlalu malam pulangnya. Aku juga takut jika harus melihat beberapa pasang mata merah bertengger di perpohonan."
"Hm siap." Lucas menggeser kursinya lalu mengambil piring yang ada di hadapan Noa." Ku suapi ya. Bukankah kamu suka di manja." Noa tersenyum dengan wajah merahnya. Cantik sekali Ayah. Aku ingin kamu melihat Istriku terlebih dahulu. Apa kau tega memisahkan kami hanya karena keegoisan mu saja..
Meski senyuman membingkai, namun kekhawatiran pada hati Lucas berkecamuk. Dia memang sudah menyerahkan seluruh hidup dan nyawanya hanya untuk melindungi Noa. Tapi dia tidak yakin akan bisa menang melawan Ayahnya yang memiliki ratusan prajurit kerajaan.
__ADS_1
Lebih baik kita binasa bersama jika restu itu tidak kita dapatkan. Aku sudah muak dengan kegilaan mereka. Aku sendiri yang akan menusuk jantungku dengan pedang milik Ayah jika memang itu perlu. Tidak akan ku biarkan kalian menyentuh milikku selama aku masih ada di sampingnya..
๐น๐น๐น