Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
61


__ADS_3

Kejadian sama terulang. Noa kembali berjalan menerobos ranting-ranting kering yang sepanjang perjalanan di laluinya. Dia tidak berani untuk sekedar menoleh dan terus saja berlari.


Noa tahu jika banyak mata merah yang tengah memperhatikannya meski rasanya cukup aneh sebab mereka tidak berani mendekat.


Apa karena gelang ini? Noa tidak sadar jika janin yang ada di dalam perutnya mulai menyamarkan aroma darahnya sehingga para Vampir kasta terendah merasa terkecoh.


Terkadang mereka ingin mendekat. Namun kembali menjauh karena merasa jika darah Noa tidaklah spesial.


"Akhhh!!!" Pekik Noa tersandung sebuah batu besar hingga membuat tubuhnya terjungkal dan terlempar tepat di jalan utama.


Ciiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!


Beruntung, sebuah mobil yang akan menabrak tubuhnya sanggup menggerem mendadak.


"Tuhan.. Sakit sekali.." Eluh Noa menyeringai. Dia terduduk seraya melihat ke arah kakinya yang terluka.


"Noa." Noa menoleh, menyipitkan matanya dan menyadari seseorang yang tengah berdiri di depannya adalah Lono.


"Kau." Cepat-cepat Noa menyeret tubuhnya menjauh. Dia cukup mengenal Lono. Anak buah termuda Mommy Vivian. Umurnya 26 tahun. Dia hanya memiliki seorang Ibu yang tinggal di desa. Astaga.. Kenapa aku berada di posisi sulit lagi. "Ach sakit!!!" Teriak Noa berusaha berdiri.


Lono tidak bergeming. Suara hatinya berperang dan merasa binggung harus mengambil jalan mana. Menyelamatkan Noa atau menyelamatkan banyak kehidupan teman-temannya.


"Kau jangan pergi." Ucap teman Lono langsung menyergap tubuh Noa." Hidup kami sengsara karena kau!!" Imbuh berteriak.


"Tolong lepaskan saya." Noa berusaha memohon untuk keselamatannya dengan wajah memelas.


"Tidak bisa!" Teman Lono menyeret kasar tubuh Noa.


Bagaimana ini Tuhan.. Aku masih saja kasihan padanya tapi jika Noa tidak ku serahkan. Prapto akan semakin menyiksa mereka dengan tidak memberikan gaji.


"Maafkan saya Nona." Dengan terpaksa Lono mengambil borgol dan memasangnya pada tangan Noa yang sudah terluka.


"Jangan!! Tolong lepaskan saya. Saya mohon." Pinta Noa terisak.


Lono tidak banyak bicara. Dia menggiring Noa masuk ke dalam mobilnya.


"Akhirnya kita gajian." Teriak temannya dengan gelak tawa.


"Kau tidak merasa kasihan. Bukankah kita sama halnya bahagia di atas penderitaannya." Jawab Lono tidak langsung masuk ke dalam mobil.


"Kita tidak ada pilihan Lon. Hanya Noa yang bisa menolong hidup kita. Dia akan mendapatkan banyak pahala karena sudah menyelamatkan banyak keluarga." Lono mendengus. Dia masih merasa bimbang." Sudahlah ayo. Di sini menyeramkan." Lono mengangguk dan bergegas masuk karena hawa dingin yang tidak biasa.

__ADS_1


Jika aku sendirian. Mungkin aku bisa melepaskan mu Noa. Maafkan aku..


"Tuan. Saya sudah menikah. Tolong lepaskan saya." Pinta Noa lagi dan lagi.


"Maafkan saya Nona. Hidup kami sangat sulit setelah kepergian Nona. Prapto semakin tidak manusiawi memperlakukan kami."


"Kenapa melibatkan saya Tuan. Saya tidak mau kembali ke tempat itu." Lono menddesah lembut. Dia sungguh kasihan melihat keadaan Noa yang berantakan.


"Sebaiknya kamu bicara sendiri dengan Pak Prapto. Mungkin dia mau memberikan kelonggaran." Sahut teman Lono.


"Mustahil!!! Itu semua sesuatu yang mustahil!! Bukankah kalian tahu bagaimana mereka memperkerjakan saya!!!" Teriak Noa geram. Isakan tangisnya semakin terdengar keras karena dia ingin mengekspresikan ketidakberdayaannya dengan cobaan berat yang menghantam hidupnya." Kalian tidak punya hati!!! Menyalahkan kesulitan hidup kalian pada saya!! Apa itu pantas!! Apa kalian tidak memiliki seorang Istri atau Ibu!! Bagaimana jika mereka berada di posisi saya sekarang!!!" Lono menghentikan laju mobilnya. Rasa manusiawi nya berkecamuk dan mendorongnya untuk membiarkan Noa pergi.


"Apa yang kau lakukan Lon?" Manik temannya menatap Lono penuh tanya.


"Kau punya Istri dan aku punya seorang Ibu. Aku tidak bisa melakukan ini Bram. Aku kasihan padanya." Menunjuk ke arah Noa.


"Gajian kita bagaimana? Prapto tidak akan menggaji kita nanti."


"Tidak seharusnya kita mengantungkan diri pada perkerjaan ini." Lono akan keluar untuk membuka pintu namun temannya menahan tubuhnya kasar.


"Fikirkan lagi! Keluargaku sudah banyak berhutang!!"


"Saya bisa memberi kalian uang." Keduanya menoleh cepat ke arah Noa." Saya mohon Tuan." Lono menarik nafas panjang lalu berpaling. Dia tidak tega melihat wajah Noa yang penuh dengan air mata.


"Antarkan saya ke rumah. Saya akan memberikan uang untuk ganti gaji kalian semua."


"Nona serius?" Tanya Lono tertarik begitupun temannya.


"Iya Tuan. Saya tidak mungkin berbohong."


"Hm.." Lono kembali melajukan mobilnya." Di mana alamat rumah Nona?" Tanyanya lirih.


"Rahasiakan dari mereka." Tentu saja Noa merasa khawatir jika Lono memberitahu lokasi rumahnya pada Mommy Vivian yang di anggapnya masih hidup.


"Tentu saja Nona." Sahut temannya dengan wajah sumringah.


"Komplek permata abadi nomer 33." Lono menggangguk. Ada senyum membingkai sebab dia merasa lega ada jalan lain untuk melepaskan Noa yang sudah lama di kagumi.


Diam-diam Lono jatuh cinta meski dia hanya mampu berharap tanpa berani mengungkapkannya. Seringnya dia mengawal Noa. Membuat hatinya tertarik pada wanita yang di pandangnya begitu sempurna.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Alex berteriak nyaring saat dia tidak dapat mengedus keberadaan Noa.


Alex tidak sadar kalau darah Noa kini mulai tersamarkan akibat janin keturunan Lucas yang di kandungnya. Itu membuatnya kesulitan melacak hingga dia memutuskan untuk pergi ke kediaman Adam.


"Tidak masalah. Foto itu sudah ku berikan pada Elena." Jawab Adam tidak perduli jika Noa kabur dan mungkin tertangkap dengan Vampir lainnya.


"Dia titisan Tiara!!"


"Mungkin dia sudah di mangsa Vampir lain."


"Tutup mulutmu!! Aku sudah membantu kalian tapi kenapa kalian seperti ini!!" Alex memperlihatkan wujud aslinya namun Adam terlihat tidak merespon.


"Bagaimana lagi Tuan. Sebaiknya kamu cari dia atau dia di temukan oleh Vampir lain. Darahnya sangat harum. Itu kenapa dia akan jadi buruan empuk bagi bangsa Vampir seperti kami." Alex berdiri cepat lalu menghilang dengan wajah geram. Dia ingin melanjutkan pencarian dan masih menganggap Noa adalah titisan dari Tiara.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Elena tersungging menatap raut wajah kecewa yang Lucas perlihatkan. Foto kebersamaan antara Noa dan Alex membuat hatinya kembali merasakan kesakitan meski dia masih tidak sanggup membenci Noa.


Jika aku keluar dari sini! Akan ku musnahkan kau dari dunia ini Alex!!!


"Bukan hanya kaki tanganmu tapi dia juga gampang tergoda dengan lelaki lainnya. Termasuk Pamanmu sendiri." Stefanus menarik nafas panjang. Dia tidak yakin melihat kebenaran foto tersebut. Kebijaksanaannya sebagai raja terkoyak. Stefanus hanya mampu diam padahal seharusnya seorang raja tidak boleh berbohong dan selalu menegakkan kejujuran.


Aku berharap Lucas bisa percaya agar aku tidak berdusta lagi dan lagi.. Perbuatan yang tidak setara dengan isi hatinya, membuat Stefanus setengah mati terbebani dengan kecurangan yang terjadi di hadapannya.


"Rasanya aku salah menilainya." Sesuai rencana. Lucas mulai melakukan ide yang di lontarkan Patresia. Dia ingin menipu Stefanus dan Elena dengan keputusasaan yang di perlihatkan pada mimik wajahnya.


Jawaban Lucas sontak membuat Stefanus dan Elena menoleh dengan wajah menggembang.


"Kau serius berkata itu?" Tanya Stefanus memastikan.


"Aku menyerah Ayah. Aku tahu jika ini tidak akan berhasil." Jawab Lucas lemah.


"Kenapa tidak dari awal saja." Stefanus yang langsung percaya, berniat membuka belenggu yang ada di leher Lucas namun Elena mencegahnya.


"Tidak semudah itu Baginda. Aku belum sepenuhnya percaya karena.. Bukankah Baginda tahu Lucas seperti apa." Stefanus mengurungkan niatnya dan membenarkan ucapan Elena.


Sial sekali wanita ini!!! Umpat Lucas dalam hati. Sebisa mungkin dia tidak memasang wajah kesal karena tidak ingin rencananya berantakan.


"Dia sudah menyesal." Stefanus pribadi tidak memikirkan Lucas serius atau tidak. Dia hanya merasa senang ada cara untuk melepaskan belenggu yang sudah mengikis habis daya tahan tubuh Lucas.


"Nikahkan dia dengan Patresia. Setelah itu terjadi. Baginda boleh mempercayainya." Lucas menegakkan kepalanya menatap Elena yang tengah tersenyum tipis. Sementara Stefanus sendiri bungkam karena ancaman yang selalu Elena lontarkan. Dia tidak ingin kekuasaannya runtuh hanya karena masalah Lucas. Dia tidak ingin Elena membeberkan kecurangannya pada rakyatnya hingga harus membuatnya lengser dari jabatannya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2