
Lucas melebarnya matanya saat mendengar penawaran tidak masuk akal yang Elena lontarkan padanya. Dia tidak mempermasalahkan kesakitan yang dia rasakan asal Noa baik-baik saja.
"Jangan menyentuhnya! Sudah ku katakan untuk tidak menyentuhnya atau mengusiknya. Dia tidak tahu apa-apa! Aku yang memintanya menjadi Istriku! Dia tidak bersalah!" Jawab Lucas lemah. Wajahnya semakin memucat dengan tubuh kurusnya.
"Menikah jika kau tidak ingin kami menangkapnya!!" Ancam Elena tersenyum tipis.
Lucas mengalihkan pandangannya ke arah Stefanus yang sejak tadi tidak bergeming. Ekspresi nya terlihat datar sebab sesungguhnya Stefanus tidak tega melihat keadaan Lucas sekarang.
"Aku benar-benar sudah bukan anak mu." Stefanus tidak bergeming dengan ucapan Lucas." Kau lebih memilih menuruti perintah wanita ini dan kehilangan kekuasaan daripada menolongku." Imbuh Lucas tidak menyangka dengan sikap Stefanus yang cenderung tidak tegas." Sudah ku katakan. Aku lebih baik mati daripada kalian menyentuh nya! Tidakkah kau menyadari sebesar apa perasaanku padanya Stefanus!!! Bunuh aku!!! Musnahkan aku lalu kau bisa hidup dengan tenang tanpa anak pembangkang sepertiku!!" Stefanus membuang nafas kasar lalu membalas tatapan manik Lucas.
"Ini untuk kebaikanmu."
"Kebaikanku atau kebaikanmu!! Aku menjadi tidak yakin jika Ibuku dulu berkhianat padamu!! Apa kau tahu sendiri kenyataan itu atau kau mendengar kenyataan itu dari wanita ini." Elena merasa tersindir hingga raut wajahnya berubah garang.
"Tutup mulutmu Lucas!! Aku tidak pernah ikut campur masalah itu. Baginda melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Ana berkhianat!! Bukan begitu Baginda." Tidak pernah terlintas tebakan itu pada hati Stefanus yang kala itu begitu percaya dengan Elena.
Tapi setelah melihat rencana busuk yang Elena rangkai, membuatnya memikirkan kemungkinan yang Lucas lontarkan.
"Ayah melihat sendiri Ibumu lari dengan lelaki lain." Jawab Stefanus kembali melontarkan kebohongan.
"Ibuku tidak mungkin begitu sebab kau yang tidak setia karena sudah menikah dengan Istri Kakakmu!!"
Plaaaaaakkkkkk!!!
Stefanus menampar keras wajah Lucas hingga tertunduk. Pipi Lucas berubah merah akibat tamparan tersebut. Daya tahan tubuhnya semakin melemah sehingga tamparan ringan itu kini terasa menyakitkan untuknya.
"Ibumu sudah mati!! Jangan membahasnya lagi!!"
"Aku menyesal terlahir sebagai Vampir. Akan lebih baik aku terlahir sebagai manusia agar aku bisa hidup dengan Ibu." Stefanus mendengus. Rasa cinta dan benci yang bercampur aduk membuatnya merasa tidak nyaman.
"Nyatanya kau terlahir sebagai Vampir! Kau harus menerima kenyataan itu!!"
"Aku tidak bisa menerima kenyataan jika kau suruh aku menjauh darinya."
"Akan ku buru wanita itu dan membunuhnya di depanmu jika kau tidak mau menikah dengan Patresia malam ini!!" Lucas mulai terisak. Pilihan berat untuk membuatnya benar-benar berada di lema.
"Aku tidak bisa. Dia satu-satunya Istriku. Tolong jangan sentuh dia. Bunuh saja aku. Aku mohon. Jangan menyentuhnya, bunuh saja aku." Hati Stefanus tercabik meski dia berusaha untuk tidak memperdulikannya.
"Tetap pada pendirianmu!!! Aku sendiri yang akan menyeret wanita itu!! Kau tahu jika pelindung yang kau buat tidak cukup kuat untuk menahan ku masuk!!" Isakan Lucas kian nyaring. Dia tidak sanggup memilih namun keadaan mendorongnya kuat." Antar aku ke tempat wanita itu!!" Pinta Stefanus hendak berjalan pergi.
__ADS_1
"Baik! Baiklah! Aku akan menikah sesuai keinginanmu!!" Elena tersenyum tipis sementara Stefanus memasang wajah datar seolah dia juga tidak merasa bahagia.
"Aku memastikan dia baik-baik saja." Ucap Stefanus melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Lucas di ikuti oleh Elena.
"Aku melakukan semua demi kamu Baby. Maafkan aku. Aku minta maaf untuk kesakitan yang sudah ku berikan. Seharusnya aku tidak memulai semuanya dan melepaskanmu begitu saja. Aku membuat semuanya menjadi sulit. Maafkan aku.. Maafkan aku.." Ana yang bisa mendengarkan semua obrolan yang terjadi di kerajaan, ikut terisak meski tidak ada air mata keluar dari sudut pipinya.
"Aku mempercayai mu Tuhan! Tapi kenapa kau tidak juga menunjukkan kebenaran ini!! Dia kesakitan. Aku merasakannya." Pedro menddesah lembut, menatap Ana dengan raut wajah penuh penyesalan." Keluarkan aku dari sini Elena!! Kau tidak boleh menyentuh anakku!!" Teriak Ana sudah tidak sanggup menahan diri meski itu hanya perkerjaan yang sia-sia.
🌹🌹🌹
Pagi itu Noa baru saja terjaga. Matanya menyipit menatap sekitar. Cepat-cepat dia duduk saat melihat Prapto tengah duduk di kursi yang berada tepat di samping jendela.
Aku.. Kenapa aku di sini.. Batin Noa seraya menyeret tubuhnya hingga membentur dinding.
"Pagi Noa. Kamu masih mengingatku." Prapto berdiri lalu berjalan menghampiri Noa yang tengah memasang wajah ketakutan.
"Kenapa saya di sini!!" Tanya Noa terbata.
"Ini memang tempatmu kan." Prapto duduk di tepian ranjang. Memandangi Noa dengan manik nakalnya.
"Tidak. Saya sudah bersuami. Saya mohon lepaskan saya." Noa memeluk bantal erat. Berusaha menutupi tubuhnya dari tatapan Prapto yang seolah tengah menelanjanginya.
"Padahal aku sudah membayar mereka hiks.." Rasanya sungguh lelah berada di posisi Noa yang tengah terombang-ambing di atas masalah hidupnya.
Kesabarannya benar-benar sedang di uji sehingga membuat otaknya terasa sedikit panas. Bukan hanya keselamatan Lucas yang harus di fikirkan melainkan masalah Alex juga tertangkapnya dia hari ini.
"Uang rasanya enak. Sebanyak apapun kamu memberi mereka uang. Mereka akan berkhianat padamu." Prapto terkekeh lalu menggeser tubuhnya mendekati Noa." Kamu cantik sekali Noa." Puji Prapto hendak menyentuh dagunya namun Noa langsung menampis kasar tangan Prapto.
"Saya sudah bersuami!!"
"Terus mana Suamimu?" Noa terdiam. Dia menyadari jika saat ini Lucas tidak akan bisa menolongnya.
Sayang.. Aku menyadari jika kehidupanku akan terasa sulit tanpamu. Bagaimana bisa aku mengatasi ini. Aku tidak mau ada di tempat ini...
Tidak selamanya aku bisa berada di samping mu sebelum restu kita dapatkan. Aku hanya ingin kamu menjadi sedikit kuat dan berani Baby..
Noa mendongak, mencari sumber suara yang tidak di ketahui dari mana. Suara itu begitu jelas terdengar di telinga meski rasanya Prapto tidak mendengarnya.
"Demi kamu. Aku akan menepati janjiku untuk tidak bersentuhan dengan lelaki lain." Prapto mengerutkan keningnya mendengar perkataan Noa.
__ADS_1
"Kau bicara dengan siapa?" Tanya Prapto kebingungan.
"Lepaskan saya!" Noa menggeser tubuhnya cepat. Dia berdiri lalu berjalan menghampiri pintu yang ternyata terkunci. Maniknya menangkap sebuah kunci yang tergantung di gagang lemari. Namun, saat dia hendak mengambilnya Prapto sudah lebih dulu menangkap tubuhnya." Ach tidak! Lepaskan saya!!" Pekik Noa meronta. Mencoba melepaskan dekapan tubuh besar Prapto.
"Aku menahan hasrat semalaman! Kau tidak bisa kabur sebelum aku mencicipi tubuhmu ini." Prapto menyeret tubuh Noa kasar lalu menghempasnya di ranjang.
Mata Noa terbelalak, sementara Prapto mulai melucuti pakaiannya dan menyisakan sebuah celana pendek dan langsung menindih tubuh Noa.
"Ahh wangi sekali." Bibir Prapto mulai menjelajahi leher jenjang Noa dengan tangan kanan sibuk membelai tubuhnya. Dia berharap Noa bisa terangsang agar dia bisa mendapatkan percintaan panjang.
"Tidak lepaskan!!!" Tubuh Noa mulai berkeringat karena perlawanannya. Otaknya berfikir cepat sehingga dia bisa mendapatkan ide mengigit lengan Prapto sampai berdarah.
"Achhhh!!!" Cara itu berhasil. Tubuh Prapto merenggang dan dengan sisa tenaganya Noa menendang keras senjata Prapto dan membuatnya terjungkal hingga terjatuh di bawah ranjang." Sial!! Sakit sekali!! Senjataku terasa meletus!!!" Pekik Prapto meringis kesakitan dengan desisan panjang.
Noa mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya sembarangan. Dengan setengah berlari dia mengambil kunci untuk membuka pintu kamar. Setelah pintu berhasil terbuka, dia kembali berlari dengan nafas memburu.
"Tangkap dia!!" Teriak Prapto geram. Berusaha berdiri dan mengejar Noa.
"Apa yang terjadi Pak." Tanya salah satu anak buahnya yang mendengar teriakan Prapto.
"Noa kabur!! Tangkap dia bodoh!!"
Syukurlah...
Anak buah Prapto yang ternyata bersekongkol dengan Lono. Malah berusaha tidak mendengar perintah Prapto.
"Bukankah Noa di dalam?" Prapto mengangkat tangannya lalu melayangkan sebuah tamparan.
Plaaaaaakkkkkk!!
Terimakasih Noa.. Semoga Lono ada di depan untuk menolongnya..
Dengan terpaksa Prapto berlari dengan menahan rasa malu karena saat ini dia tengah bertelanjang dada. Dia tidak ingin kembali kehilangan Noa dan kehilangan sumber penghasilan terbesarnya.
🌹🌹🌹
Sebentar lagi Noa dan Lucas bisa bertemu meski harus melewati jalan antara hidup dan mati😁
Terimakasih yang masih setia 🥰🥰
__ADS_1