
Seharian ini Noa bersikap acuh dan menghindari sentuhan Lucas meski itu hanya sebatas jemari. Ingin rasanya dia marah ketika Lucas memandanginya apalagi sampai menyentuh kulitnya sedikit saja.
Hal itu tentu memicu kekhawatiran pada hati Lucas. Dia khawatir jika nantinya Noa tidak akan setia padanya mengingat perubahan sikap yang di perlihatkan.
Malam harinya. Noa tengah berbaring sementara Lucas memperhatikan dari sofa. Dia tengah duduk di sana, memandangi Noa yang juga tengah menatapnya.
Aku tidak akan melepaskannya meskipun dia berubah sikap seperti itu padaku..
"Katanya mau pergi." Tanya Noa dengan hati bergemuruh. Keinginan dengan perbuatannya tidak seirama dan membuatnya merasa tidak nyaman. Dia ingin Lucas menemaninya hingga dia terlelap namun janin di perutnya menolak keinginan itu.
"Kamu mengusirku Baby." Tanya Lucas lirih." Apa rasa cintamu sudah pudar hanya karena ucapan ku kemarin." Tentu saja Lucas berfikiran begitu. Noa yang tadinya tidak pernah menolak sentuhannya, berubah tidak ingin di sentuh sedikitpun olehnya.
"Aku mencintaimu Tuan Lucas. Sangat!"
"Kamu bahkan muak melihat ku." Noa kembali memperlihatkan mimik wajah kebingungan.
"Tapi aku mencintaimu. Aku hanya sedang tidak ingin."
"Itu karena kamu kecewa akan ku tinggalkan." Noa terdiam dan terus memikirkan keanehannya sejak tadi pagi." Aku berkata jika ini hanya untuk sementara. Aku akan kembali. Kamu satu-satunya Istriku dan aku harap kamu juga menjadikan ku satu-satunya lelaki yang ada di dalam hati mu." Imbuh Lucas semakin tidak ingin pergi karena rasa takut kehilangan yang mulai menyelimuti.
"Tuan Lucas memang satu-satunya." Tapi aku kesal melihatnya..
Tiba-tiba saja Lucas sudah berdiri di samping ranjang. Noa bergegas duduk dan menggeser tubuhnya menjauh. Kedua tangannya memeluk erat guling seolah tengah bersiap menghindari sentuhan Lucas yang mungkin akan di berikan.
Aku tidak akan menerima penawaran itu. Akan lebih baik jika aku di buru terus-menerus asal aku tidak kehilangan dia.
"Aku benar-benar hanya mencintaimu sayang tapi.. Tolong jangan menyentuhku dulu. Aku sedang tidak ingin." Pinta Noa dengan nada bicara meninggi.
"Hm.. Sebaiknya kamu beristirahat. Aku pergi sebentar."
"Ke Ayah?" Tanya Noa cepat.
"Bukan." Jawab Lucas berbohong.
"Terus kemana?"
"Hanya berkeliling saja." Noa mengangguk-angguk seraya tertunduk. Aku akan menemui Ayah dan membatalkan perjanjian itu.
"Hm ya sudah."
"Selamat beristirahat." Secepat kilat Lucas duduk di pinggiran ranjang lalu mencium kening Noa sebentar.
"Kamu melakukan lagi!" Eluh Noa mengusap-usap keningnya.
Lucas tersakiti melihat sikap Noa sekarang. Dia tidak mengerti kenapa sikap manusia bisa berubah dengan sangat cepat hanya karena sebuah kekhawatiran.
"Maafkan aku Baby. Aku pergi." Lucas menjadi asap dan menghilang pergi.
Noa menghembuskan nafas berat, menatap ke arah jendela dengan bulir air mata tidak tertahankan. Seolah merasakan sesuatu yang buruk. Hatinya terasa sesak menyadari jika Lucas sudah pergi meninggalkannya.
"Sudah pergi." Gumamnya lirih. Tangannya terangkat dan menyeka air mata yang terus saja keluar." Kenapa aku bersikap begini." Eluhnya menyesal. Ada rasa rindu terbesit padahal Lucas baru saja meninggalkannya beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
๐น๐น๐น
Lucas tiba di aula kerajaan dan langsung di sambut oleh Stefanus dan Elena. Beberapa prajurit kerajaan juga terlihat berjajar seolah tengah bersiap untuk berperang. Lucas sempat melirik ke Pedro saat akan melangkahkan kakinya ke karpet merah yang di pijaknya.
Apa mereka tahu jika aku akan membatalkan perjanjian itu.
Lucas merasa percaya diri bisa mengatasi semuanya sehingga langkahnya terlihat tenang ketika dia berjalan di antara prajurit yang berjajar di sampingnya.
"Kamu sudah datang." Sapa Stefanus menatap tanya ke Lucas yang malah menghentikan langkah tepat di bawah tangga kursi kebesarannya.
"Aku tidak menerima penawaran itu. Silahkan buru aku sebisa yang Ayah mampu." Mata Stefanus melebar begitupun Elena yang juga merasa terkejut.
"Kenapa kau berubah fikiran Lucas!"
"Aku tidak ingin kehilangan dia, itulah alasan ku. Aku tidak mau meninggalkannya dan membiarkan ada lelaki lain masuk di kehidupannya."
"Jika dia benar-benar mencintaimu. Dia akan setia Lucas." Sahut Elena menimpali.
"Jangan bicara soal kesetiaan padaku sebab kau tidak pantas membahas itu." Jawab Lucas tersenyum tipis seolah tengah mengolok Elena yang sudah kehilangan harga diri karena menikah dengan Stefanus, Adik Suaminya.
"Perjanjian tetap perjanjian Lucas! Kau tidak bisa pergi dan harus menjalankannya." Ucap Stefanus berdiri lalu berjalan menghampiri Lucas." Kau akan tahu bagaimana buruknya kesetiaan seorang manusia yang akan cepat memudar." Imbuhnya.
Sudah terjadi. Dia bahkan tidak ingin ku sentuh dan itu rasanya menyakitiku. Aku menyesal sudah membicarakan hal itu kemarin. Seharusnya aku langsung menolaknya agar aku bisa senantiasa menjaganya.
"Aku tidak perduli Ayah. Aku sangat mencintainya meskipun kesetiaannya sangat lemah."
"Itu karena kau belum merasakan sakitnya sebuah penghianatan!!" Teriak Stefanus geram. Sifat Lucas dominan seperti sifatnya yang berotak baja.
"Jaga ucapan mu Lucas! Itu adalah titah dari raja sendiri!" Seolah tidak melakukannya, Elena memasang wajah kesal padahal dia memang otak di balik sandiwara ini.
"Calon raja tidak boleh mengingkari janjinya."
"Aku tidak membutuhkan tahta itu. Berikan itu padanya." Beralih menunjuk Pedro.
Stefanus menatap lekat ke Lucas dengan tangan kiri mulai merogoh rantai belenggu yang tersembunyi pada baju kebesarannya.
Atas perintah Elena, dia menyiapkan ini semua untuk berjaga jika Lucas melawan seperti sekarang.
"Maafkan Ayah." Setelah mengatakan itu. Stefanus mengeluarkan sebuah rantai dan menggalungkan nya ke leher Lucas yang langsung duduk berjongkok karena seketika kekuatannya melemah.
Rantai belenggu yang di pasangkan Stefanus bukan rantai sembarangan. Itu adalah rantai khusus yang di buat untuk menghilangkan kekuatan pemakainya.
Hanya seorang raja yang memiliki rantai tersebut. Tujuannya tidak lain sebagai senjata ampuh untuk membakar pemberontak yang berkasta rendah. Sementara yang berkasta tinggi seperti Lucas, hanya menimbulkan efek lemah seperti sekarang.
"Ayah tega padaku." Ucap Lucas terduduk lemah.
"Ayah terpaksa. Belenggu itu akan ku lepas jika kau sadar akan kesalahanmu."
"Apa yang salah!!!" Teriak Lucas geram. Dia mulai merasakan cara kerja belenggu itu karena kekuatannya langsung terkikis habis.
"Mencintai manusia adalah kesalahan besar."
__ADS_1
"Dia akan setia padaku."
"Sekarang semua terlambat. Kau akan di kurung dalam waktu yang lama." Lucas melebarkan matanya mendengar titah Stefanus.
"Apa maksudnya!! Bukankah aku akan bebas jika dia setia padaku."
"Karena kau mengingkarinya. Perjanjian itu tidak berlaku!" Rasanya sungguh berat saat ucapan itu terlontar sebab Stefanus tidak sampai hati melihat putra semata wayangnya menderita.
"Dia Istriku Ayah!!"
"Lupakan soal Istrimu itu. Dia akan menemukan manusia lain dan segera akan melupakan mu!!"
"Tidak!!" Lucas berusaha berdiri." Aku akan tetap bersamanya." Lucas berjalan tertatih dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Beberapa kali tubuhnya ambruk karena efek rantai mulai menguasai tubuhnya.
"Kamu hanya melakukan perkerjaan sia-sia Lucas. Tubuhmu akan terbakar ketika matahari terbit sebab kekuatanmu sudah menghilang!!" Tubuh Lucas ambruk terkulai di lantai dengan bulir air mata yang mulai jatuh. Hati Stefanus ikut tersayat melihat pemandangan itu meski dia harus tega melakukannya.
Seharusnya aku tidak pergi tadi.. Batin Lucas menyesal.
"Bawa dia ke kamarnya dan berikan tambahan rantai pada kakinya." Pinta Stefanus berlalu pergi tanpa menatap ke arah Lucas.
Setelah kepergian Stefanus, Elena berdiri menghampiri Lucas dengan senyum mengembang.
"Kamu akhirnya tertangkap." Ucap Elena lirih.
"Apa ini rencanamu!"
"Jika Stefanus tidak mengsetujui nya. Apa bisa ini berjalan." Lucas mendengus. Sesuai dugaannya kalau semua yang terjadi padanya adalah rencana busuk Elena.
"Aku pastikan kau akan binasa ketika aku sudah terbebas dari sini!!!"
"Aku menunggu itu terjadi. Cepat bawa dia Pedro." Pinta Elena berjalan pergi dengan raut wajah bahagia.
"Maaf Tuan." Ucap Pedro membantu Lucas berdiri.
"Bukankah seharusnya kau memihak ku dan menyuruhku pergi tadi." Pedro tertunduk. Dia ingin melakukan itu namun nyawanya bisa terancam.
"Saya tidak bisa melakukan itu Tuan."
"Aku pernah sudah memberikan sedikit kekuatanku padamu Pedro!! Kau tidak tahu terimakasih!!" Dulu Lucas pernah memberikan sedikit darahnya untuk Pedro saat dia hampir terbunuh ratusan tahun silam.
Pedro yang kala itu tengah menyisir hutan, tertangkap manusia dan hendak di musnahkan dengan mengikatnya di bawah terik sinar matahari.
Lucas datang lalu menyuruh Pedro menghisap sedikit darahnya agar Pedro tidak terbakar padahal saat itu Pedro hanya prajurit rendahan.
Pedro di bebaskan. Para manusia itu mengira jika Pedro bukanlah bangsa Vampir karena masih bisa hidup di bawah sinar matahari.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak memiliki kuasa untuk itu." Lucas tertunduk dengan fikiran tertuju pada Noa.
Aku harus melakukan apa Tuhan...
๐น๐น๐น
__ADS_1