
Lucas mengajak Noa duduk pada salah satu pohon yang ada di hutan. Noa menikmati keadaan sekitar sementara Lucas malah sibuk memandangi wajahnya. Akibat ulahnya, wajah Noa kini memerah.
"Aku kemarin pulang sebentar untuk melihat keadaan rumah." Ucap Lucas memajukan tubuhnya agar Noa bisa bersandar padanya.
"Apa Tuan Bastian masih ada di sana?"
"Hm. Aku sempat menolong Bima yang sekarat di rumah sakit."
"Dia berusaha menolong ku sayang. Astaga, aku melupakannya."
"Dia baik-baik saja sekarang." Lucas mengiring kepala Noa untuk bersandar." Katamu takut ketinggian. Aku merasa kamu tidak takut." Noa mendongak, memberikan beberapa kecupan pada leher Lucas.
"Sudah tidak takut. Em kenapa mereka bisa berkeliaran di siang hari." Menunjuk ke arah rumah yang ada di sekitar dengan beberapa Vampir yang terlihat tengah beraktivitas.
"Lihat ini." Lucas mengambil ranting lalu melemparkannya ke atas. Terlihat samar sebuah sinar merah mengelilingi area kerajaan saat ranting itu menembusnya." Tempat ini sudah di lindungi sehingga sinar matahari tidak dapat masuk." Noa memperhatikan sekitar yang terlihat redup.
"Ku fikir hanya mendung."
"Tidak Baby. Suasana di sini memang seperti ini." Tanpa mereka sadari, Alex memperhatikan keduanya dari jauh. Menatapnya lekat dengan kobaran api cemburu yang semakin membesar.
Tidak ada gunanya aku menjadi raja jika aku tidak bisa bersanding dengannya..
Alex menatap tanpa berkedip. Hatinya bergemuruh dengan nyeri hebat yang mulai menghantam perasaannya.
Entah kenapa rasanya begitu sulit menghilangkan Noa dari otak nya. Seolah hatinya sudah terikat kuat dengan sosok yang di anggapnya spesial.
Noa memang tidak merasakan keberadaan Alex. Namun Lucas mengetahui keberadaannya. Matanya memincing lalu tersenyum tipis saat mengetahui jika Alex memperhatikannya dari jauh.
Dia bisa kau tipu! Tapi tidak untuk aku!
Lucas menunduk, lalu membelai pipi kanan Noa dan mellumat bibirnya lembut. Itu sengaja di lakukan agar Alex tahu diri jika wanita yang di incar merupakan Istri nya.
"Tidak sayang." Tolak Noa tentu merasa malu. Dia mendorong kepala Lucas menjauh namun sentuhan bibir Lucas kembali membuatnya terbuai.
"Malu?" Tebak Lucas melepaskan sebentar bibir Noa untuk memberikannya celah.
"Iya. Bagaimana jika ada yang melihat."
"Tidak akan ada yang melihat. Walaupun ada, aku tidak perduli." Lucas kembali menunduk dan memperdalam ciumannya dan sesuai dugaan, Alex semakin terbakar cemburu lalu pergi menghilang.
"Jaga etika!!" Protes Noa mendorong kasar kepala Lucas menjauh hingga membuatnya terkekeh." Bagaimana jika ada anak kecil yang melihat." Lucas menddesah lembut lalu tersenyum.
"Iya aku masih ingat itu. Maaf Baby. Aku sangat merindukanmu hingga aku kehilangan kendali." Jawab Lucas beralasan.
"Aku juga rindu sayang. Tapi lakukan itu di dalam kamar. Jika di luar rumah tetap jaga etika!" Lucas mengangguk-angguk meskipun sebenarnya tidak ada aturan seperti itu di bangsanya. Namun karena itu permintaan Noa, membuatnya menurut saja daripada harus membuat Noa marah.
"Bukankah aku sudah minta maaf jadi lupakan soal itu."
"Hm iya."
"Mau ku ajak ke tempat favoritku?"
"Di mana itu." Lucas berdiri lalu mengulurkan tangannya. Noa menyambutnya dan langsung memeluk tubuh Lucas karena keduanya berada di pohon setinggi 5 meter.
"Aku yakin kamu akan menyukai tempat itu." Hasrat Lucas yang masih menggebu, membuatnya memikirkan apa saja yang bisa di lakukan dengan Noa di tempat favoritnya. Tentu saja tujuannya membawa Noa ke sana tidak lain ingin mengulang percintaan panasnya tadi.
__ADS_1
Tubuh Lucas berpindah cepat dari pohon satu ke pohon yang lain hingga keduanya tiba di sebuah air terjun dengan bebatuan besar yang mengelilinginya. Lucas mengajak Noa turun untuk menikmati suasana tempat favoritnya tersebut.
"Aku sering mengunakan tempat ini untuk berdiam diri dan belajar." Ucapnya menjelaskan. Tangannya menuntun Noa masuk ke selah air terjun dan memperlihatkan sebuah ruang rahasia berada di baliknya.
"Belajar untuk apa?"
"Agar aku semakin pintar Baby. Kamu harus tahu jika aku sudah menguasai banyak bahasa." Noa melongok melihat rak buku cukup besar berada di sana.
"Aku bahkan sudah tidak bersekolah sejak SD. Ibu tiri ku bilang itu hanya akan membuat pengeluaran membengkak."
"Aku tidak pernah bersekolah. Aku hanya membeli beberapa buku saat berada di kota lalu meletakkan sebagian di sini." Noa merasa takjub dengan Lucas. Hatinya seketika damai saat dia menyadari jika selama ini dirinyalah satu-satunya wanita yang sanggup mengalihkan dunia Lucas.
"Siapa saja yang tahu tempat ini."
"Hanya aku dan kamu juga calon anak kita."
"Apa Ayah menyuruhmu melakukan ini sayang."
"Tidak Baby. Ini keinginanku sendiri."
"Kamu jarang membaca saat bersamaku."
"Semua buku sudah ku baca. Sekarang waktunya memfokuskan hidupku hanya untuk mu." Lucas mengangkat tangan kanannya lalu membelai lembut sekitar leher dan pipi Noa berulang kali." Mau berendam bersama." Noa tersenyum dan sesekali mengecup telapak tangan Lucas.
"Jika ada yang melihat." Ucapan Noa tertahan saat nafasnya terbuang kasar begitu saja. Entah rindu atau apa, tapi dia menjadi lebih bersemangat daripada sebelumnya.
"Ini tempat pribadiku. Aku sudah melindungi nya karena aku tidak suka milikku di jamah makhluk lain." Noa mengangguk, dia yakin jika Lucas tidak mungkin memperlihatkan kemolekan tubuhnya di depan umum. Sehingga Noa membiarkan saja ketika tangan Lucas melepaskan ikatan yang ada di pinggang gaun miliknya.
Gaun terjatuh lembut di bawah kakinya. Tubuh Noa berubah polos tanpa satu pun benang yang menutupi. Sejak gaun dari Dorothy terpasang. Noa memang sudah tidak lagi memakai baju dalam. Bentuk tubuh yang masih sangat sempurna membuat penampilannya sekarang terlihat lebih dewasa.
"Kenapa kamu diam saja sayang." Noa tertawa kecil. Kedua tangannya terangkat lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang Lucas kenakan.
"Mungkin karena bayi perempuan yang ku kandung."
"Kamu sudah tahu."
"Hm ya. Apa kamu ingin bayi laki-laki?"
"Tidak. Asal itu dari rahimmu. Aku tidak perduli dengan jenis kelaminnya." Lucas mengiring Noa untuk masuk ke dalam air yang ada di depan ruangan. Air yang begitu dingin membuat tubuh Noa kian merapat seraya bergelayut pada pundak Lucas.
"Aku tidak bisa berenang sayang."
"Aku tidak akan membuat mu tenggelam."
"Ini menyenangkan. Tapi aku takut terpeleset." Noa menunduk dan memperhatikan bebatuan berbalut lumut yang di pijaknya.
"Lebih menyenangkan jika kita saling menghangatkan." Lucas menggiring lembut tubuh Noa hingga melewati guyuran air terjun.
"Tidak ada pijakan! Sayang! Ini tidak lucu! Aku takut tenggelam." Kedua tangan Noa menggalung erat pada leher Lucas. Ini kali pertama untuknya berenang di sebuah sungai. Tentu saja hal baru itu membuat Noa setengah mati takut walaupun Lucas tidak mungkin membiarkannya jatuh apalagi tenggelam.
Lucas malah terkekeh, menikmati raut wajah panik yang tergambar pada mimik wajah Noa.
"Kamu harus rileks sayang. Jangan menegang." Mata Noa membulat, menatap sekitar yang hanya terlihat air.
"Sebaiknya kita menepi sayang."
__ADS_1
"Tidak Baby. Ku ajarkan caranya berenang. Ini mudah sekali." Perlahan Lucas melepaskan kalungan tangan Noa lalu menggenggamnya. Dia melaju mundur seraya menarik Noa perlahan. Gelak tawa terdengar menggema di tempat sepi itu. Raut wajah mereka terlihat begitu bahagia sementara Alex sendiri tengah mengumpat sejadi-jadinya di kediaman miliknya.
Alex tidak tahan jika harus melihat kebersamaan antara Noa dan Lucas sehingga dia memutuskan pulang terlebih dahulu.
Tok.. Tok... Tok...
"Masuk!!" Teriak Alex sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Ini pesanannya Tuan." Ucap supir pribadi Alex yang bernama Kirman. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah tebal telinga dengan teriakan korban kekejian dari Alex.
Kirman membawa seorang gadis belia yang cukup cantik. Rambutnya ikal panjang dengan tinggi badan 160 cm. Kulit nya putih bersih dan bercahaya meski dalam pengelihatan Alex, tidak ada yang menarik dari gadis tersebut.
Dia sedikit mirip Noa..
Fikirnya dalam hati. Memperhatikan lekuk tubuh gadis di hadapannya.
"Kau boleh pergi." Alex meraih bahu kecil gadis itu dan menggiringnya masuk." Siapa namamu?" Tanya Alex masih menatapnya lekat hingga gadis itu menyangka Alex sangat tertarik padanya.
"Namaku Nina Tuan." Alex mendengus saat mendengar suara buruk gadis tersebut.
"Kenapa suaramu seperti itu!!!" Teriaknya geram. Matanya merah menyala dengan gigi runcing yang mulai mencuat keluar.
Gadis itu berjalan mundur hingga membentur meja. Tentu saja dia merasa takut melihat wujud asli dari Alex yang ternyata seorang Vampir.
"Tu Tuan. Kenapa wajah Tuan seperti itu.." Tanyanya terbata hampir menangis.
"Tutup mulutmu agar aku tidak lagi mendengar suara burukmu!!!" Alex berjalan cepat menuju gadis tersebut lalu menghimpit tubuhnya di tembok.
"Bukankah Tuan akan menjadikan aku Istri?" Alex tertawa nyaring. Tangannya menarik kasar gaun yang di kenakan Nina hingga sobek.
"Diam!! Atau kematianmu di percepat!!" Nina melebarkan matanya dengan air mata yang mulai mengalir.
Tubuh Nina di balikkan dan dengan tega Alex menghujamkan miliknya tanpa pemanasan. Bukan dessahan yang lolos dari bibir Nina. Namun teriakan yang memekakkan telinga. Miliknya terasa robek saat benda panjang milik Alex menghantamnya.
"Diam ku bilang!!!!" Alex mendorong punggung Nina kasar seraya mempercepat gerakannya. Tangis Nina tertahan, suara kasar Alex membuatnya harus membungkam bibirnya rapat." Yah Noa sayang. Seperti itu ahhh aku ingin melakukan ini denganmu." Cinta gila Alex membuat obsesi pada otaknya tentang sosok Tiara menguat. Biasanya dia tidak pernah melakukan sentuhan sensitif dengan wanita manapun. Ini kali pertama baginya melakukan hal keji selain pembunuhan. Alex ingin melampiaskan rasa cemburu yang bercampur aduk dengan hasrat pada Nina yang merupakan seorang pemandu karaoke.
"Sakit Tuan!! Hentikan!! Ku mohon!!" Teriak Nina terbelalak melihat darah segar keluar mengalir di kedua kakinya. Meski belum mencapai pelepasan. Alex mencabut miliknya dan duduk berjongkok.
Alex lebih tertarik dengan darah segar tersebut. Dia dengan tega menghisap habis darah Nina dari bagian bawah tubuhnya hingga membuat raga Nina menyusut meninggalkan tulang dan kulit.
"Aku tidak akan berhenti melakukan ini!! Aku akan terus mencari sosok yang mirip dengan Noa!! Kenapa kau harus mencintai Lucas! Bukan aku!!" Alex berdiri lalu menghanguskan jasad Nina hingga menjadi abu.
🌹🌹🌹
Hoiiii reader ku...
Ini adalah salah satu konflik yang akan ada pada season ke 2..
Menurut kalian, season 2 di jadikan satu atau di pisah😁
Soalnya part-nya belum mencapai 100, apa di jadikan satu saja😄😄
Tapi mungkin aku butuh waktu untuk Hiatus sejenak sambil memikirkan idenya..
Terimakasih dukungannya...
__ADS_1
Untuk part selanjutnya hanya berisi kehidupan Noa 🥰🥰
Terimakasih dukungannya...