
"Berarti aku terlahir dari rahim seorang manusia?" Tutur Lucas pelan.
"Beruntung sekali kau seorang Vampir. Jika tidak, mungkin kau akan di bawa pergi olehnya."
"Ibuku?" Alex mengangguk-angguk seraya meneguk minuman di hadapannya.
"Dia membenci mu. Karena kau seorang Vampir."
"Tidak mungkin ada seorang Ibu yang membenci anaknya Paman." Sahut Noa tidak membenarkan itu semua. Ucapannya sekarang membuat Lucas dan Alex melihat ke arahnya secara bersamaan." Aku tidak percaya dengan itu." Imbuhnya lagi.
"Buktinya sudah ada."
"Pasti ada alasan kuat kenapa dia melakukan itu." Alex tersenyum penuh ejekan. Dia bahkan mengetahui fakta itu sendiri kala itu.
"Kau belum menjadi Ibu. Mana mungkin kau tahu hal seperti itu."
"Aku memiliki kekurangan saat aku masih kecil hingga umurku menginjak 6 tahun. Aku sulit berbicara sampai Ibu ku mendengar cacian dari warga sekitar. Tapi sekalipun dia tidak pernah mengecilkan hatiku apalagi sampai meninggalkan. Aku merasakan kasih sayang itu hingga sekarang. Aku yakin jika Ibu Tuan Lucas melakukan itu karena terpaksa."
"Dia bahkan menduakan cinta Stefanus. Dia berselingkuh dan bilang jika dia tidak ingin memiliki anak seperti dia!" Menunjuk kasar ke arah Lucas." Apa kau mau menutupi kesalahan bangsamu?" Tanya Alex lirih menatap lekat ke Noa yang masih terdiam tidak menjawab.
"Aku hanya percaya pada cinta seorang Ibu yang tidak lekang oleh waktu. Aku tidak bermaksud menutupi kesalahan bangsaku Paman."
"Tapi tidak untuk Ibunya." Alex tersulut emosi. Sebab hal itu menjadi pemicu Stefanus memberlakukan peraturan yang seharusnya sudah di hapus tepat di saat dia jatuh cinta dengan Tiara.
Tak!!!
Lucas menampis kasar tangan Alex. Tentu saja dia tidak terima dengan cara Alex menunjuk Istrinya.
"Dia hanya berpendapat Paman. Dia tidak tahu apa-apa. Jadi jaga sopan santun mu. Dia Istriku." Ucap Lucas penuh penekanan.
"Hm maaf. Aku masih tidak terima dengan kematian Tiara." Noa tertunduk tidak bergeming dengan rasa tidak percaya yang menyelimuti hati.
Noa kembali menahan diri untuk berbicara dalam hati sebab kedua lelaki di dekatnya bisa membaca isi hatinya.
"Maafkan Pamanku Baby." Noa menoleh seraya tersenyum aneh.
"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya menyampaikan apa yang menurut ku benar. Em maaf Paman jika aku lancang." Ucap Noa terbata.
"Tidak. Aku yang terlalu emosi." Alex menghabiskan sisa minuman lalu berdiri.
"Paman mau pergi?" Lucas ikut berdiri sementara Noa masih tetap duduk.
"Hm. Aku banyak urusan. Mungkin lain kali kita bertemu lagi. Aku harap kau segera bicarakan ini dengan Ayahmu agar Istrimu tidak berakhir seperti Istri ku."
"Akan ku tanyakan nanti malam." Alex tersenyum simpul menatap Noa.
"Maafkan atas perdebatan kecil tadi Noa."
__ADS_1
"Aku juga minta maaf Paman." Noa berdiri. Alex mengulurkan tangan dan di sambut langsung oleh Noa.
Ahh.. Getarannya bahkan sama. Kenapa dia harus jadi Istri Lucas.
Lucas menurunkan jemari Noa karena merasa jabatan tangan keduanya terlalu lama. Itu menyulut wajah aneh yang Alex perlihatkan. Dia tentu merasa tidak enak dan salah atas ketertarikannya pada Noa.
"Sampai jumpa lain kali." Alex berjalan santai seraya memperhatikan sekitar yang sepi. Tiba-tiba dia menjadi asap dan menghilang di tengah keheningan Cafe.
"Aku masih tidak percaya dengan ucapan Paman sayang." Ucap Noa lirih.
"Paman Alex tidak pernah berbohong. Dia lelaki yang berwibawa." Lucas mengiring Noa menuju ke mobil. Keduanya masuk ke dalam mobil menuju ke apartemen.
"Aku yakin ada alasan kuat."
"Dia pasti sudah meninggal, sehingga aku tidak bisa mencari tahu kebenarannya." Noa mengangguk-angguk. Dia membenarkan itu mengingat umur Lucas sudah mencapai 900 tahun." Aku harus bertanya tentang ini ke Ayah. Semoga saja dia mau membuka hati agar hubungan kita bisa di restui." Jika Ayah pernah berhubungan dengan manusia. Ada kemungkinan dia akan mau memaklumi kesalahan yang ku perbuat ini.
"Semoga saja seperti itu sayang." Jawab Noa menyemangati walaupun dia merasa tidak yakin.
"Coba sebutkan di mana letak makam Ibu mu di semayamkan. Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya kita ke sana mengunakan caraku." Lucas ingin melupakan kerisauannya sejenak. Sebelum dia mendengar kenyataan dari Ayahnya sendiri walaupun dia tahu jika Alex tidak mungkin berbohong. Tetap saja dia tidak percaya jika Ibu nya sengaja menelantarkannya.
"TPU Pondok Rangon."
"Hm.." Lucas memarkir mobilnya lalu keduanya pun turun.
"Kamu tahu tempatnya sayang?"
"Tahu. Aku tahu semua lokasi TPU." Lucas merangkul pundak Noa menuju lobby apartemen lalu masuk ke dalam lift.
"Tempat favorit bagi bangsaku." Noa tersenyum simpul dan memakluminya." Di sana begitu sepi dan jarang di jamah orang. Sehingga bangsaku suka berdiam di sana."
"Iya sayang. Em apa aman untuk ku."
"Selalu aman jika ada aku." Lucas mempersilahkan Noa masuk terlebih dulu di ikuti olehnya." Ingat untuk menutup mata dan jangan membukanya meski hanya sedikit." Lucas mendekap erat tubuh Noa dan kedua tangan Noa melingkar erat di perut Lucas.
"Iya sayang." Jawab Noa tidak sungguh-sungguh.
"Tutup mata Baby. Kita pergi."
Noa menutup mata tapi tidak sungguh-sungguh. Dia membuka mata sedikit ketika tubuhnya sudah terasa ringan. Namun yang terjadi sungguh memuakkan.
Selayaknya berada di suasana yang aneh. Perut Noa seakan di aduk-aduk hingga tepat di saat Lucas menurunkan tubuhnya, Noa langsung muntah-muntah dengan kepala seolah berputar-putar.
"Hoeeeek... Achhhhh!!! Kepalaku.." Noa duduk berjongkok seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak menuruti aturan ku Baby." Lucas berjongkok di samping Noa seraya memijat tengkuknya.
"Aku hanya ingin tahu sayang. Tapi rasanya sangat memuakkan." Lucas terkekeh dan mencoba memulihkan kondisi Noa.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah pernah berkata itu."
"Iya. Maaf sayang."
"Buka matamu." Perlahan Noa membuka matanya dan pandangannya sudah kembali normal.
"Aku menyesal melakukan itu." Lucas berdiri seraya membawa ikut serta tubuh Noa.
"Apa benar ini tempatnya."
Noa mengedarkan pandangannya seraya mengangguk. Sudah lima tahun dia tidak pernah berkunjung sehingga tempat itu cukup terasa asing.
"Kita ke sana sayang." Noa meraih lengan Lucas untuk menyusuri jalan setapak.
"Rumahmu dekat sini?"
"Tidak. Rumahku berada di luar kota." Lucas menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
"Terus kenapa Ibu mu di makamkan ke sini?"
"Itu permintaan Ibu. Katanya nenek buyut ku yang menyuruh. Mereka harus di makamkan pada satu tempat yang sama."
"Apa itu aturan manusia Baby?"
"Tidak sayang. Orang tertentu saja." Lucas langsung menoleh ketika dia mencium sesuatu yang tidak asing namun dia tidak tahu itu apa.
Harum sekali..
"Di mana letak makam Ibu mu?" Noa menunjuk ke sebuah tempat berpagar tinggi.
"Di sana sayang." Lucas melebarnya matanya. Aroma wangi yang terendus berasal dari sana.
"Kamu tidak mencium itu Baby?"
"Mencium apa?"
"Aroma wangi ini."
"Dari bunga kamboja sayang."
"Ini bukan aroma bunga kamboja." Aroma wangi itu semakin menusuk seiring dengan langkah Lucas yang semakin mendekati lokasi.
Aroma ini khas sekali...
"Ayo sayang."
Craaaaaasssshhhhh...
__ADS_1
Lucas merasa hangat ketika tubuhnya memasuki wilayah pemakaman berpagar tinggi tersebut.
🌹🌹🌹