
Keesokan harinya..
Di meja makan.
Noa tengah menikmati sarapan pagi sementara Lucas sedang berbicara dengan Bima dan Bik Minah.
Sesekali manik Noa melirik ke arah ketiganya. Dia takut jika Lucas berkata kasar dan tidak menghormati Bik Minah yang merupakan wanita separuh baya.
Sebaiknya aku menyusul.
Lucas menghela nafas panjang seraya melirik ke Noa yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kalian ingat peraturan tambahannya?"
"Ingat Tuan. Jangan banyak bicara." Jawab Bik Minah dan Bima serentak.
"Maksudnya bicara macam-macam." Sahut Noa berdiri di samping Lucas." Saya menjamin keselamatan kalian. Saya menjamin jika Tuan Lucas bukan pemuja setan atau semacamnya." Bik Minah mendongak dengan wajah ketakutan.
"Maaf Non. Saya tidak bermaksud begitu."
"Tidak apa-apa Bibik. Tuan Lucas memang sedikit aneh." Lucas menoleh seraya tersenyum. Raut wajah kesalnya tergantikan setelah mendengar cara bicara Noa yang begitu lembut." Anggap saja Tuan Lucas memiliki kelebihan berpindah-pindah dengan cepat." Imbuhnya membalas tatapan Lucas.
"Saya tidak akan bicara macam-macam lagi Non."
"Itu wajar. Bukan begitu sayang?"
"Aku hanya tidak ingin mendengar pembicaraan mereka saat di belakangku. Aku juga tidak ingin pembicaraan itu sampai mencuat keluar." Lucas meraih pinggang Noa lalu menggeratkan nya pada tubuhnya.
"Meski begitu tidak boleh menggunakan emosi."
"Aku tidak emosi."
"Tuan tidak marah kok Non." Sahut Bima berbohong. Noa bahkan tahu dari wajah garang yang di perlihatkan Lucas tadi.
"Kamu dengar kan."
"Hm iya. Jadi, saya harap kalian bisa tutup mulut dengan kelebihan yang Tuan Lucas miliki." Bik Minah dan Bima mengangguk-angguk.
"Siap Non."
"Iya Non. Bibik minta maaf sudah bicara macam-macam."
"Sudah beres kan. Ayo temani aku makan." Noa menggiring Lucas menuju meja makan sementara Bik Minah dan Bima membubarkan diri untuk melakukan perkerjaan masing-masing." Mereka tidak tahu apa-apa sayang." Noa duduk lalu di ikuti oleh Lucas.
"Itu sebabnya aku memberi peringatan."
"Sudah beres jadi tidak perlu di bahas lagi." Satu suapan terakhir Noa telan. Dia menggeser piring kosong lalu meminum seteguk air putih dan berdiri." Kita pergi sekarang sayang." Imbuhnya seraya meraih lengan Lucas lalu menariknya lembut.
"Hm baik Baby." Lucas tersenyum membalasnya. Keduanya berjalan menuju kamar utama untuk berganti baju.
Setelah siap. Mereka pergi sesuai cara Lucas, menuju ke tempat yang di kehendaki Noa.
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di lokasi air terjun dengan cepat. Namun sialnya, salah satu pengunjung melongok saat melihat Noa dan Lucas muncul secara tiba-tiba.
"Tunggu." Lucas merangkul pundak lelaki yang ketakutan itu sementara Noa tertinggal di belakang." Lupakan semua dan kau tidak melihat apa-apa." Lucas mengusap-usap punggung lelaki itu kemudian melepaskannya. Si lelaki mendadak linglung dan hanya berdiri mematung.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" Tanya Noa akan memeriksa si lelaki namun tangan Lucas menahannya.
"Sebaiknya kita masuk Baby. Aku hanya menghapus sedikit memori ingatannya agar dia melupakan kejadian tadi." Lucas merangkul kedua pundak Noa dan menggiringnya berjalan ke arah penjualan tiket masuk.
"Kamu bisa?" Noa menoleh dan di jawab dengan sebuah anggukan kepala." Kenapa tidak kau lakukan itu pada para pembantu kita." Lucas tersenyum seraya mengeratkan rangkulannya.
"Efeknya akan seperti tadi. Aku jarang melakukan itu karena setiap manusia yang ku buat lupa akan sedikit linglung. Dia bahkan akan lupa letak rumahnya juga anggota keluarganya dalam beberapa hari." Noa berhenti dan menatap tajam Lucas.
"Jahat sekali. Kenapa kamu malah tersenyum." Protes Noa merasa kasihan pada si lelaki.
__ADS_1
"Tenang Baby. Itu hanya sesaat saja. Dia akan ingat setelah dua sampai tiga hari."
"Aku akan menolongnya." Noa berusaha untuk kembali.
"Tidak. Jangan lakukan."
"Kasihan sayang."
"Akan ada manusia lain yang menemukannya."
"Astaga." Noa menoleh ke belakang dan melihat si lelaki masih pada posisi yang sama.
"Untuk dua orang Kakak." Tanya si kasir tiket seraya memandang paras cantik Noa. Bukan hanya si kasir saja, namun para pegawai yang lain juga merasa kagum. Kakak ini cantik sekali.
Mirip boneka berjalan..
Cantik sekali..
Lucas menddesah lembut mendengar suara hati beberapa lelaki yang ada di sana. Maniknya melirik ke salah satu pegawai tampan yang tengah memakaikan gelang tiket pada pergelangan tangan Noa.
Lucas menatapnya tajam seolah ingin menerkam pegawai berpakaian batik seragam tersebut.
"Lama sekali!!" Protesnya kembali tersulut emosi dan api cemburu.
Noa menoleh begitupun si pegawai yang kini tersenyum aneh.
"Biasanya cepat Kak." Karena ucapan Lucas membuat si pegawai semakin gugup. Ujung dari gelang tiket sulit di kelupas. Apalagi itu adalah hari pertama dirinya berkerja.
"Kau harus hati-hati dan jangan sampai menyentuh kulitnya meski hanya sedikit!!" Para pengunjung lain yang mengantri tersenyum melihat sikap Lucas yang di perlihatkan. Mereka memakluminya meski memang terlihat keterlaluan.
"Sayang tidak boleh begitu." Protes Noa merasa sungkan.
"Kamu Istriku jadi itu boleh."
"Aku sudah selesai Kak." Ucap pegawai itu terbata. Kedua tangannya bergetar melihat sorot mata tajam Lucas.
"Hm." Lucas mengulurkan tangannya lalu si pegawai memakaikan gelangnya dengan cepat." Cepat sekali. Aku terkesan!" Lucas tersenyum miring kemudian bergegas menggiring Noa melanjutkan perjalanannya.
Jika tidak ingin di sentuh jangan di bawa keluar rumah..
Lucas sontak menoleh dan hendak kembali tapi beruntung karena tangan Noa menahannya.
"Kenapa sayang? Ada yang tertinggal?"
"Dia mengatai ku dalam hati Baby." Noa mengeratkan pegangan tangannya.
"Biarkan saja."
"Sakit sekali. Kenapa aku tidak suka ketika ada manusia yang memuji kecantikan mu." Lucas duduk lemah di ikuti oleh Noa.
"Hanya memuji sayang."
"Mereka tampan." Noa tertawa kecil. Lucas tidak menyadari jika ketampanannya di atas rata-rata apalagi mengingat ketangguhannya saat berada di ranjang." Itu lucu menurutmu. Tapi aku benar-benar tidak menyukai mereka memujimu." Imbuh Lucas berprotes.
"Aku merasa kamu paling tampan." Noa bersandar lembut pada pundak Lucas dan memberikan beberapa kecupan singkat di sana." Ingatlah Tuan. Aku Istri mu." Tarikan nafas panjang berhembus. Lucas menoleh dan mengecup sebentar bibir Noa." Jangan lakukan itu sayang." Noa menegakkan posisi duduknya lalu menjauhkan wajah Lucas.
"Kenapa?"
"Ini tempat umum. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Keduanya berdiri lalu mulai berjalan lagi.
"Apa itu tidak boleh. Kamu Istriku."
"Apa salahnya menjaga kesopanan. Di sini bukan hanya ada orang dewasa tapi anak-anak juga. Jika kamu mencium sembarangan, mereka akan melihat kita." Lucas mengangguk-angguk seraya tersenyum. Jemarinya menggenggam erat tangan Noa.
"Oke Baby. Jika lelah bilang ya." Jalan menuju air terjun sedikit terjal sehingga Lucas menawarkan itu sebelum Noa memintanya.
__ADS_1
"Iya sayang." Noa tersenyum seraya mengedarkan pandangannya ke pemandangan di sekitar. Seharusnya dua jam perjalanan tapi dia bisa membawaku dalam waktu satu menit. Aku mencintainya.
"Aku juga mencintaimu." Noa mengangguk seraya tertawa kecil.
"Seharusnya aku ingat sayang tapi aku selalu lupa kalau kamu bisa membaca fikiran."
"Kamu tidak boleh menyembunyikan sesuatu dariku."
"Aku tidak pernah melakukan itu."
"Buktinya tadi. Kamu menyatakan perasaanmu dalam hati seharusnya kamu katakan langsung padaku jika kamu mencintaiku." Senyum Noa kian mengembang dengan wajah mulai memerah. Pernyataan cinta itu terdengar sederhana namun sanggup membuatnya merasa malu untuk mengatakannya.
Obrolan yang menyenangkan itu terhenti saat Lucas menatap tajam ke arah Alex. Dia sudah berdiri tidak jauh dari sana, menatap Noa dan Lucas dengan senyum yang tidak dapat di artikan.
Ternyata benar itu kalian. Alex sudah kenal dari aroma tubuh Lucas sehingga saat Lucas keluar rumah, dia akan mudah menemukannya.
"Kenapa kau memblokir nomer ku Lucas?" Tanya Alex. Secepat kilat dia sudah berdiri di hadapan Lucas dengan sorot mata penuh kekaguman ke arah Noa.
"Karena kau memberi info soal tempat tinggalku." Alex tersenyum simpul.
"Kamu jangan asal menuduh."
"Aku bukan asal menuduh. Tidak ada yang tahu alamat apartemen ku kecuali kamu."
"Hai Noa, apa kabar." Alex tidak memperdulikan pembicaraan yang Lucas lontarkan. Hal itu tentu memicu terjadinya percikan api cemburu pada hati Lucas. Apalagi tatapan manik Alex terfokus pada Noa hingga membuat emosi Lucas meluap.
"Ba baik..."
"Tunggu di sini." Belum sempat Noa menjawabnya, Lucas sudah lebih dulu menarik tubuh Alex dan membawanya pergi ke tengah gunung tempat di mana lokasi air terjun itu ada." Kenapa kau menatap Istriku seperti itu Paman!!" Tanya Lucas geram.
"Istrimu sangat cantik dan aku yakin dia adalah titisan Tiara yang di kirim Tuhan untukku." Tanpa aba-aba, Lucas menendang tubuh Alex hingga terpental membentur pohon.
Sejak awal ada kecurigaan meski Lucas tidak berani menduga itu. Dia masih sangat menghormati Alex sebagai Pamannya tapi ternyata makhluk yang di panggil Paman itu kini menyukai Istrinya.
Duakkkk!
Brraaaaakk!!!
Dengan cepat Alex membalas serangan namun balasan darinya tidak cukup kuat mendorong tubuh Lucas mundur.
Sejak kapan dia sekuat itu..
"Aggggghhhhh!!!!" Pekik Alex terpelanting cukup jauh tapi mampu kembali berdiri." Kau tidak sopan sekali Lucas!!!" Teriak Alex tersulut emosi.
"Siapa yang tidak sopan!!!" Jawab Lucas sudah berdiri di hadapan Alex." Dia Istriku!" Alex tersenyum, mengusap darah yang sempat keluar meski luka pada tubuhnya langsung bisa sembuh secara cepat.
"Bukankah lebih baik dia bersamaku daripada menjadi buruan Ayahmu. Cinta itu tidak harus memiliki. Kau sebaiknya kembali ke kerajaan dan biarkan Noa bersamaku." Lucas meraih leher Alex lalu mencekiknya. Kuku panjangnya keluar seiring dengan perubahan pada wajah." Kau ha hanya me membahayakan nyawanya saja Lucas." Cekikan itu tidak juga berhenti bahkan bertambah rapat hingga darah keluar dari ujung kuku Lucas." Kau ingin membunuhku." Alex mulai meronta. Dia ingin keluar dari cengkeraman tangan Lucas tapi terasa sangat sulit.
"Dia milikku! Kau bahkan tidak berhak meski itu hanya memikirkannya!!" Mata Alex membulat dengan tubuh mulai mengelepar.
"Am ampun Lucas.." Aku akan mati jika begini.. Sial!! Kenapa dia kuat sekali. " Ak aku menyesal. Maafkan Pamanmu ini." Imbuhnya terbata.
"Kau harus mati karena kau berani memikirkan Istriku!!!" Cengkraman kian merapat. Tubuh Alex melemas bahkan sudah tidak sanggup berucap dengan mata melebar.
Sayang.. Kamu di mana?
Bruuuuuuukkkkk...
Lucas melepaskan cekikan tangannya dan otomatis tubuh Alex terkulai di tanah.
"Satu kesempatan! Jangan tampakkan wajahmu lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu!!" Lucas bergegas pergi menuju Noa. Dia berharap ancamannya sekarang akan membuat Alex berhenti menyukai Noa, Istrinya.
"Aaaaaaaaaaaach sakit sekali!!" Teriak Alex berdiri sempoyongan." Aku tidak bisa bertindak sendiri. Lucas kuat sekali. Aku bisa terbunuh jika bertindak sendiri. Sebaiknya aku mencari info soal tempat tinggalnya agar Elena yang mengurus semuanya." Alex meringis lalu menghilang bersama dengan berhembusnya angin.
🌹🌹🌹
__ADS_1