Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
47


__ADS_3

Bersamaan dengan datangnya Noa dan Lucas. Bastian terlihat baru saja tiba untuk mengantarkan mobil Lucas yang sudah di perbaiki.


"Maaf Tuan. Baru bisa mengantarkan karena hari ini saya sibuk." Ucapnya merasa tidak enak saat melihat Lucas berboncengan dengan motor pinjaman.


"Tidak apa."


"Sekalian saya minta tanda tangan." Bastian menyodorkan beberapa map untuk meminta tanda tangan.


"Kau tahu restoran steak yang enak." Tanya Lucas seraya membubuhkan tanda tangan. Tatapannya sesekali memperhatikan manik Bastian yang hanya fokus padanya. Dia yakin Bastian orang yang sopan karena sudah sejak lama dia mengenal lelaki berumur 27 tahun dengan perawakan tinggi dan wajah tampan itu.


"Tahu Tuan. Apa perlu bantuan untuk membelikan."


"Tidak perlu. Em saya minta nama restorannya biar saya cari sendiri dan memesannya lewat aplikasi." Sahut Noa.


Bastian tersenyum sejenak tanpa menjawab. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan nama restoran yang tepat.


"Tulisannya di awali dengan huruf besar Nona dan ada logo tokonya seperti ini. Maaf, saya menjelaskannya karena takut Nona salah memesan. Sangat banyak restoran yang memakai nama hampir mirip." Noa mengangguk-angguk seraya tersenyum.


"Terimakasih Tuan. Saya sudah paham." Jawabnya sopan. Tangannya tidak terlepas dari lengan kekar Lucas sebab dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi.


"Sama-sama Nona. Em baik saya permisi dulu." Bastian tersenyum pada Noa dan Lucas lalu melangkah pergi seraya memesan taksi.


"Apa dia sudah menikah sayang?" Tanya Noa.


"Untuk apa bertanya itu?" Nada bicara Noa membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak lagi.


"Hanya bertanya. Di mana kamu letakkan ponselnya? Aku ingin segera memesan."


"Di kamar. Di dalam laci. Tunggu di sini biar ku ambil." Lucas pergi dengan cepat sehingga pengangan tangannya terlepas. Noa tersenyum lalu memutuskan untuk duduk di ruang tamu. Belum sempat bokongnya menempel di sofa. Lucas lebih dulu datang dengan ponselnya.


"Pesanlah." Pintanya duduk mendahului Noa.


Noa meraih ponsel itu lalu duduk di samping Lucas. Maniknya memperhatikan restoran online dan membacanya satu persatu. Beberapa saat kemudian, bibirnya tersungging ketika menemukan restoran yang di maksud Bastian.


"Ini dia." Jari telunjuknya menyentuh tombol pemesanan namun tidak bisa." Sudah tutup." Gumamnya penuh kekecewaan. Lucas menoleh sebentar lalu melirik ke jam yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam." Harus menunggu besok padahal ingin nya sekarang." Eluhnya lagi.


"Hubungi nomernya mungkin bisa mengusahakannya."


"Tidak bisa sayang. Ini sudah tutup setengah jam lalu." Perlahan, Noa meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ingin sekali?"


"Hm iya."


"Aku belikan."


"Sudah tutup." Noa mendongak ke Lucas yang sudah berdiri.


"Aku coba dulu ke sana. Jika tidak ada, restoran lain tidak apa kan?" Noa mengangguk.

__ADS_1


"Tapi aku penasaran dengan restoran itu." Imbuhnya menjelaskan.


"Oke Baby. Tunggu di sini." Lucas mengusap puncak kepala Noa lalu mencium keningnya sebentar dan menghilang.


"Aku bersyukur memiliki Suami seperti dia meski dia bukan manusia. Ya Tuhan, semoga restu segera kita dapatkan agar aku bisa menikmati kehidupan indah bersamanya."


Bukan tanpa alasan Noa berkata demikian. Sikap melindungi dan mengayomi yang Lucas sunguhkan bisa meluluhkan hatinya dengan cepat.


Apalagi mengingat percintaan panas nan panjang yang selalu Lucas berikan. Menambah besar perasaan Noa yang awalnya merasa bosan dengan hal yang berkaitan dengan adegan ranjang.


Lucas sendiri sudah berada di depan restoran yang akan tutup. Dia melangkah tenang menuju salah satu pegawai yang tengah membereskan kursi.


"Permisi." Si pegawai wanita itu menoleh dan melongok menatap Lucas dari atas sampai bawah.


Astaga tampan sekali. Seperti bukan orang. Apa dia jodoh yang di kirim Tuhan dari langit untukku.


Lucas menddesah lembut. Ucapan itu terdengar memuakkan untuknya.


"Apa sudah tutup?"


"Iya Kak sudah. Ada yang bisa saya bantu."


"Saya ingin membeli dua porsi steak untuk Istri saya." Wajah si pegawai berubah. Hatinya hancur seketika saat Lucas menyebut kata Istri.


Ternyata sudah beristri. Salut sekali, dia jujur padahal sedang berhadapan dengan wanita paling cantik di dunia hehe..


"Apa bisa di usahakan?" Tanya Lucas mengulang. Dia tidak perduli dengan kata hati wanita itu.


"Di mana chef nya. Boleh saya bertemu?"


"Hm sebentar Tuan." Baru saja si pegawai memutar tubuhnya, lelaki yang merupakan chef di restoran itu keluar dari dapur dengan kemeja rapinya." Itu orangnya." Tunjuknya tersenyum. Tanpa berterimakasih, Lucas melangkah pergi menghampiri lelaki paruh baya itu." Huuuu dingin sekali. Secantik apa Istrinya hingga membuat Kakak itu bersikap sangat kaku." Gumamnya menatap postur tubuh Lucas dari belakang.


"Maaf permisi." Lelaki itu berhenti dan menatap Lucas.


"Iya. Ada yang bisa saya bantu."


"Apa anda bisa membuatkan dua porsi steak untuk Istri saya?"


"Ini sudah tutup Tuan."


"Istri saya ingin makan steak setengah matang."


"Maaf Tuan. Saya juga ada janji setelah ini." Lucas mendengus karena merasa tidak sabar. Maniknya berubah menjadi merah dan menatap lekat si lelaki yang mulai berjalan mundur." Ma mata Tuan kenapa begitu." Tuturnya terbata.


Tap!!!


Lucas menepuk pundak si lelaki. Terlihat wajah si lelaki seketika berubah datar.


"Buat dua porsi steak untuk Istri ku." Si lelaki mengangguk pasrah." Ingat. Setengah matang." Imbuhnya masih memperlihatkan mata merahnya.

__ADS_1


"Baik Tuan." Si lelaki kembali masuk dapur sementara Lucas memutuskan untuk duduk menunggu.


Sepuluh menit kemudian, si lelaki sudah membawa pesanan steak dan meletakkannya di atas meja. Lucas berdiri seraya mengambil dompetnya. Dia meletakan dua juta rupiah di atas meja lalu pergi dengan membawa steak di tangannya.


"Eh Kak tunggu." Teriak si pegawai panik. Dia berfikir Lucas tidak membayar steak tersebut." Haaaaah kemana perginya." Manik si pegawai membulat, mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari keberadaan Lucas." Wah bisa rugi ini." Gerutunya kembali masuk dan mendapati si chef masih berdiri mematung." Hei Pak." Sapanya menepuk pundaknya. Seketika si lelaki sadar dan terduduk lemah seraya memijat kepalanya.


"Ahhh kenapa aku." Eluhnya.


"Ini uang untuk pembayaran steak?" Tanya si pegawai wanita yang ternyata seorang kasir.


"Steak apa?"


"Bapak memasak steak tadi."


"Kau bercanda." Jawabnya menatap jam yang tergantung." Astaga! Kenapa aku masih di sini!! Istriku bisa marah." Meski pusing si lelaki dengan cepat berdiri dan pergi.


"Serius! Hei Pak ini terlalu banyak uangnya." Teriakan si pegawai wanita tidak di hiraukan." Harga steak hanya 400 ribu." Gumamnya tersenyum menatap sisa uang di tangannya." Besok saja ku bagi dengannya hehe. Beruntung sekali malam ini." Dia berjalan menuju kasir dan mencatat pesanan lalu mengantongi sisa uang untuk si bagi berdua esok pagi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Bastian mengusap tengkuknya kasar seraya sesekali menoleh ke belakang. Dia merasa ada yang mengikuti meski dia tidak melihat sosok yang mengikutinya.


Hawanya apartemen miliknya terasa lain sejak saat pintu lift terbuka. Bastian yang biasanya selalu berjalan santai melewati lorong panjang. Kini harus mempercepat langkahnya dengan wajah ketakutan.


Dugh!!!


"Hei!!!" Protes salah satu penghuni apartemen.


"Maaf Pak." Tutur Bastian terbata. Dia cukup lega melihat tetangga apartemennya.


"Ada apa Tuan? Kenapa ketakutan seperti itu?" Tanyanya ramah. Lelaki tua itu adalah tetangga apartemen Bastian yang di kenal cukup baik.


"Entahlah. Mungkin perasaan saya saja. Rasanya suasana apartemen sangat mengerikan hari ini." Jawab Bastian melirik ke lorong yang sepi.


"Tuan ini bisa saja. Kita sudah lama tinggal di sini dan tidak pernah ada kejadian buruk." Bastian tersenyum aneh dan masih merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.


"Iya juga Pak." Jawab Bastian tidak ingin banyak bicara." Mau pergi kemana Pak malam-malam?" Tanya Bastian basa-basi.


"Istri saya ingin makan nasi goreng yang biasanya ada di depan. Di suruh beli delivery katanya rasanya tidak enak. Apa Tuan Bastian melihat gerobak nasi goreng?"


"Iya Pak ada di depan pos penjagaan."


"Syukurlah. Saya pergi dulu Pak. Bastian tersenyum menjawabnya. Setelah si tetangga pergi, cepat-cepat dia berjalan menuju kamar apartemennya dan masuk.


Klik!


Pintu apartemen terkunci secara otomatis ketika kartu di tancapkan pada alat yang ada di samping pintu.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku jadi merinding sendiri." Gumamnya masih terpaku menatap pintu seolah dia takut jika ada sesuatu yang masuk nantinya.

__ADS_1


"Hai Bastian." Sapa Alex yang sudah di duduk menunggu kedatangan Bastian.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2