
Bik Minah tersenyum, melihat kebersamaan dua majikannya yang terlihat serasi. Dia tidak lagi merasa gusar atau aneh saat Noa dan Lucas tiba-tiba menghilang atau tiba-tiba muncul. Itu tidak memberatkannya karena Noa seorang majikan yang sangat baik.
"Memangnya sudah berapa lama Non menikah. Kok ingin sekali punya anak?" Tanya Bik Minah meletakan irisan buah yang menurutnya dapat menyuburkan kandungan.
"Dua Minggu mungkin Bik."
"Walah, Tuan sama Nona pengantin baru." Noa tersenyum dengan wajah memerah sementara Lucas lebih memilih diam seraya memandangi paras Noa dari samping." Insyaallah cepat hamil Non. Buah ini bagus untuk kesuburan rahim." Imbuhnya menyemangati.
"Amin Bik. Terimakasih ya."
"Terimakasih buat apa sih Non."
"Doanya."
"Sama-sama Non. Ini Bibik bereskan ya." Menunjuk ke piring kotor yang ada di hadapan Noa.
"Iya Bik." Noa menggeser piring berisi potongan buah dan memakannya." Kamu tidak makan sama sekali sayang." Tanyanya membalas tatapan manik Lucas.
Aku kenyang karena memangsa anak buah Vivian dan sepuluh prajurit kemarin.
"Tidak perlu memikirkan itu."
"Hisap saja darahku. Aku suka." Tawar Noa lirih.
Lucas tersenyum tipis seraya mengangkat tangannya dan mencubit pipi Noa lembut.
"Terimakasih Baby. Tapi aku ingin kamu tetap sehat agar kamu cepat hamil."
"Ini memang masih terlalu singkat. Tapi aku juga ingin hamil agar kita memiliki buah cinta sebagai semangat untuk memperjuangkan hubungan ini kedepannya."
"Semoga saja benih itu tumbuh subur di dalam sana." Tangan Lucas beralih pada perut Noa dan mengusapnya lembut.
"Amin sayang."
"Amin? Kata-kata yang di lontarkan saat kita menikah dulu."
"Itu jawaban untuk sebuah doa agar cepat di kabulkan." Lucas tersenyum seraya mengangguk-angguk." Masih sore sayang." Imbuhnya melihat jam yang tergantung.
"Mau ke mana?"
"Cemilan di kulkas sudah habis. Bagaimana jika kita membelinya di mini market terdekat."
"Serius sudah habis?" Noa berdiri lalu membuka pintu kulkas untuk memperlihatkan. Padahal kemarin banyak. Aku tidak tahu kapan dia memakan itu.
"Kenapa kamu seperti keberatan sayang?" Protesnya kembali duduk.
"Tidak lelah. Jika lelah biar Bibik yang membelikan."
__ADS_1
"Siap Non." Sahut Bik Minah yang baru saja keluar dari dapur.
"Tidak Bik terimakasih." Lucas menatapnya penuh tanya." Sudah ku bilang aku ingin menikmati hidup. Aku ingin merasakan hidup seperti wanita normal. Jalan-jalan, berbelanja..."
"Oke Baby. Maaf." Sahut Lucas cepat." Habiskan makanannya lalu kita pergi." Noa tersenyum dan mempercepat kunyahannya.
"Sudah sayang. Ayo cepat. Aku takut kemalaman." Noa berdiri lalu menarik lengan Lucas.
"Setelah konflik ini selesai. Kita bisa bebas berpergian."
"Iya sayang. Loh, di mana mobilnya?" Lucas baru ingat jika mobilnya belum di antarkan karena mengalami kerusakan.
"Aku lupa. Bastian bilang kaca mobil pecah dan harus di perbaiki."
"Terus kita pesan taksi." Lucas melirik ke arah motor milik Bima yang terparkir.
"Pakai motor saja." Menunjuk ke arah motor.
"Wah iya." Jawab Noa bersemangat.
"Tunggu di sini. Aku akan meminta kuncinya." Lucas berjalan cepat ke pos penjagaan untuk meminjam kunci motor dan bergegas kembali saat sudah mendapatkannya.
"Kamu bisa menaiki ini sayang."
"Bisa." Lucas menghidupkan mesin di ikuti oleh Noa yang langsung naik ke boncengan." Sudah." Noa melingkarkan kedua tangannya ke perut Lucas dengan erat. Dagunya di tumpukan pada pundaknya seraya sesekali bersandar.
"Sudah sayang." Jawabnya penuh semangat." ini lebih menyenangkan." Imbuhnya saat motor mulai melaju.
"Boleh sayang. Untuk pergi ke tempat yang dekat."
"Oke. Kita beli besok." Noa tersenyum seraya mengangguk. Tubuhnya kian merapat agar kepalanya bisa bertumpu sempurna pada pundak Lucas. Sungguh. Aku bahagia sekali..
Lucas merasakan sensasinya. Memanjakan Istrinya lebih membahagiakan dari apapun yang ada di dunia. Kebersamaan sederhana yang terjadi sekarang, membuat perasaannya begitu damai dan sanggup melunturkan beban fikiran yang ada di otaknya.
Motor terparkir di mini market terdekat, Noa turun di ikuti oleh Lucas. Keduanya berjalan beriringan masuk. Tanpa di minta, Lucas meraih keranjang belanja dan mengikuti kemana langkah Noa membawanya.
Langkah Noa terhenti saat dia melihat jajaran daging segar berada di dalam etalase. Dia menelan salivanya kasar seraya membayangkan bagaimana sedapnya rasa daging yang di panggang setengah matang.
Sejak kapan? Pasti rasanya sedap sekali..
"Apa yang kamu inginkan." Tanya Lucas menunduk menatap Noa.
"Daging sayang. Pasti enak di panggang setengah matang."
"Ambil saja jika kamu menginginkannya."
"Itu ide bagus. Tapi apa Bik Minah bisa memasaknya?"
__ADS_1
"Memasak apa Baby?"
"Aku ingin makan steak setengah matang." Noa kembali menelan salivanya kasar. Lucas tersenyum, memperhatikan raut wajah Noa yang seakan menahan rasa laparnya padahal nyatanya dia baru saja makan.
Kruuuuuuukkkkkkkkk...
Noa mendongak lalu tersenyum seraya memegangi perutnya yang rata.
"Pesan saja Baby. Pasti ada restoran yang menyediakan itu."
"Ponselnya tertinggal di rumah sayang. Sebaiknya kita bayar lalu pulang." Lucas melihat ke keranjang belanja yang berisi dua makanan ringan.
"Lalu cemilan nya?"
"Itu saja cukup. Ayo sayang." Noa menarik lengan Lucas menuju ke arah kasir untuk membayar belanjaan. Setelah selesai membayar, mereka kembali pulang demi memenuhi keinginan Noa yang tiba-tiba saja terlintas.
๐น๐น๐น
"Apa maksudmu dengan menguji kesetiaan?" Stefanus berpura-pura tidak memahami ide yang di katakan Elena.
"Jangan berpura-pura Baginda. Kamu tahu apa maksudku. Bukankah kau menerapkan peraturan itu karena perselingkuhan yang di lakukan Ana?" Stefanus menoleh seraya melebarkan matanya.
"Aku tidak ingin membahas itu lagi."
"Aku tidak bermaksud membahas tapi aku hanya ingin memberikan sebuah ide agar Lucas melupakan wanita itu."
"Jangan bertele-tele. Bagaimana maksudmu?" Elena beranjak dari tempat duduknya lalu membisikkan idenya.
"Kalau wanita itu mengkhianati Lucas. Otomatis Lucas akan membencinya." Stefanus tidak langsung menjawab. Dia terdiam sesaat meski sebenarnya dia setuju dengan ide tersebut.
Peraturan yang di terapkan memang akibat dari perbuatan Ana yang di fikirnya sudah berkhianat. Padahal skenario yang sama sudah di lakukan Elena pada hubungannya dengan Ana sejak saat tahta kerajaan jatuh di tangan Stefanus, bukan William.
Elena sengaja memfitnah Ana berselingkuh dan memberikan ancaman pada Ana jika sampai dia tidak menuruti perintahnya.
"Jika dia setia?" Tanya Stefanus tertahan.
"Baginda tenang saja. Biar aku siapkan seseorang untuk mengisi kekosongan hati wanita itu saat Lucas menjauh."
"Tidak Elle. Lucas akan membenciku jika dia tahu aku tidak jujur dan sengaja menjebaknya." Tolak Stefanus masih sangat menyanyangi Lucas seperti perasaannya pada Ana yang sebenarnya masih terjaga.
"Dia tidak akan tahu Baginda. Asal Baginda tutup mulut, Lucas tidak akan tahu rencana ini."
Ingin sekali aku mencabut aturan itu tapi Elena membuat semuanya menjadi rumit. Jika dia tidak membocorkan rahasia ini pada rakyat ku. Mungkin sekarang Lucas masih menemuiku
"Ayolah Baginda. Rakyatmu sedang menunggu keadilan yang seharusnya di tegakkan. Baginda tidak ingin di sebut terlalu lemah kan? Jika Lucas bisa membenci manusia itu karena penghianatan. Lucas akan kembali bersama kita." Stefanus menddesah lembut. Dia masih tidak bergeming karena menurutnya itu keputusan yang sulit.
Stefanus tahu jika Lucas bukan lagi seorang bocah yang gampang di bodohi. Sehingga ketakutan akan kebohongannya, membuat Stefanus merasa di lema.
__ADS_1
"Jangan sebut namaku jika ini semua gagal. Aku tidak ingin Lucas membenciku karena kecurangan ini. Sebaiknya kau urus sendiri masalah ini." Stefanus berlalu pergi dengan perasaan bimbang sementara Elena yang merasa di beri kuasa penuh, langsung menemui Alex untuk memberikan kabar yang di anggapnya baik.
๐น๐น๐น๐น