Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
34


__ADS_3

Lucas berdiri di ambang pintu dapur. Nafasnya berhembus panjang karena mendapati Noa tengah makan di sana di temani Bik Minah.


"Eh Tuan." Bik Minah bergegas berdiri saat melihat Lucas berjalan menghampiri Noa. Apa ini Tuan Lucas?


"Saya Lucas." Jawab Lucas cepat.


"Dia Bik Minah sayang."


"Hm iya. Aku mencarimu. Ternyata kamu makan." Bik Minah lebih memilih pergi setelah tersenyum sejenak.


"Lapar sayang."


"Bukankah tadi kamu bilang sudah kenyang." Noa tersenyum seraya menyeruput mie instan yang terasa menggoyang lidah. Ini kali pertama dia memakannya lagi. Mommy Vivian selalu menjaga pola makan Noa agar tidak mudah sakit sehingga dia sudah tidak pernah memakan mie instan sejak lama.


"Aku lapar lagi." Jawabnya tertawa kecil." Aku takut saja melihat wajah tegang mu sayang jadi lebih baik pergi dulu dari sana." Lucas menghembuskan nafas berat. Dia meraih gelas dan mengisinya dengan air putih.


"Tebakan mu benar Baby. Aku yakin mereka sudah menyisir apartemen itu sekarang."


"Siapa sayang?" Tanya Noa lirih.


"Mungkin utusan Ayah tapi aku juga tidak seberapa yakin." Noa menelan makanannya pelan. Dia bisa menebak itu. Mereka tidak akan bisa bertahan lama untuk menyembunyikan hubungan. Mengingat kelebihan yang di miliki sebagian bangsa Vampir." Kamu takut?" Lucas mengangkat tangannya dan membelai rambut panjang Noa.


"Tidak sayang. Ada kamu, kenapa harus takut."


"Aku akan melindungi semampu yang ku bisa. Tapi aku memintamu untuk lebih berani."


"Aku tidak pernah takut untuk mati sayang apalagi demi membelamu.."


"Tidak akan ku biarkan itu terjadi. Daripada mereka membunuhmu. Akan lebih baik aku yang musnah." Noa meletakan sendoknya dan memiringkan tubuhnya menatap Lucas.


"Jika kamu musnah. Lalu aku?" Tanya Noa tertahan. Dia memantapkan hati menjadikan Lucas tujuan hidup sehingga dia tidak setuju dengan perkataan Lucas." Lebih baik aku yang mati sayang. Aku tidak ingin merasakan hidup buruk lagi. Tapi..." Noa menatap Lucas dengan mata bulatnya.


"Tapi apa?" Tanya Lucas penasaran.


Noa menunduk seraya melihat kedua jemarinya yang tengah memegang erat tangan Lucas. Kepalanya kembali mendongak namun masih ragu-ragu untuk mengucapkan kekhawatirannya.


"Kenapa diam? Tapi apa? Katakan Baby. Apa kamu takut bangsaku membantai mu nanti."


"Tidak sayang. Emmm... Jika aku mati." Noa kembali mengulur waktu untuk melanjutkan." Aku takut kamu menikah lagi." Lucas menarik nafas dalam-dalam seraya tersenyum.


"Jauh sekali pemikiran mu."


"Aku memikirkan itu terus menerus."


"Kenapa tidak kamu katakan dalam hati?"


"Kamu bisa mendengarnya."


"Hm iya. Aku bisa mendengar itu. Tapi akan lebih baik kamu katakan di dalam hati jika memang kamu merasa malu untuk berbicara." Tangan Lucas terangkat dan membelai lembut pipi Noa yang berubah merah.


"Lalu sayang. Apa jawabannya." Tanya Noa lirih.


"Daripada aku harus menikah lagi. Lebih baik aku merawat anak kita nantinya." Noa mendengus. Tangannya terlepas dari jemari Lucas lalu duduk tegak seraya menggeser mangkuknya yang sudah kosong.


"Aku bahkan belum hamil. Anak darimana?"

__ADS_1


"Kamu akan hamil."


"Jika aku mati sebelum memiliki anak?"


"Aku akan menghabisi sisa hidupku hanya untuk mencintaimu." Noa melirik malas sehingga membuat Lucas terkekeh melihatnya.


"Berapa batas umur di bangsamu?"


"10 juta tahun."


"Itu hal yang mustahil untuk bisa bertahan sayang. Kau akan bertemu banyak wanita setelah kematianku."


"Aku hanya mencintaimu."


"Itu sekarang. Tapi nanti?"


"Cintaku akan terkubur bersama jasadmu." Aku baru sadar jika waktu bersamanya sangatlah singkat...


"Aku tidak yakin dan aku cemburu memikirkan itu. Kamu bisa bertahan jutaan tahun, sementara aku."


"Selama ratusan tahun hidup. Aku baru merasakan jatuh cinta sekarang. Aku berjanji akan memilih sendiri jika itu sampai terjadi."


"Kamu akan lupa jika sudah jatuh cinta." Lucas berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Aku tidak ingin membahas itu dulu Baby. Aku tahu kita berbeda tapi aku benar-benar sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri." Noa menyambut tangan Lucas lalu berdiri.


"Maaf. Aku terlalu khawatir." Noa melingkarkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Lucas erat. Dengan sekejap, keduanya sudah berada di dalam kamar utama.


"Aku juga takut kehilanganmu. Apa kamu menyesal?" Noa menegakkan kepalanya dengan sedikit mendongak karena tubuh tinggi Lucas.


"Memilih jalan bersama ku."


"Tidak."


"Karena aku menyelamatkanmu."


"Tidak."


"Aku ingin jawaban lain."


"Aku memang tidak menyesal." Noa kembali menyandarkan kepalanya dengan nafas berat." Sudahlah sayang. Lupakan saja. Aku sangat senang kamu ada di sini. Mari kita lewati waktu yang mungkin akan terasa singkat ini dengan sebaik-baiknya." Noa sadar jika ucapannya tidaklah berujung. Dia juga baru sadar, jika mencintai itu juga harus menerima konsekuensi tentang apa yang akan menghadang di depan.


Aku berjanji kau akan jadi satu-satunya Baby. Aku akan melakukan semua sesuai dengan keinginanmu. Akan ku berikan sisa cinta ini agar nantinya aku sudah tidak memiliki rasa jika maut memisahkan kita.


"Wah. Ranjangnya bagus sekali sayang." Noa melepaskan pelukannya cepat dan berjalan menuju ranjang yang terlihat kokoh.


"Bagus dan tahan lama." Jawab Lucas menghampiri Noa dan berdiri di sampingnya.


"Seperti ketangguhan mu sayang." Noa memutar tubuhnya menghadap ke arah Lucas. Tanpa rasa malu, dia membuka kancing kemeja Lucas. Noa benar-benar ingin menikmati waktu yang singkat untuk bisa merasakan cinta Lucas seutuhnya.


Noa mendekatkan bibirnya dan mulai mencumbui dada bidang Lucas membuat pemiliknya menggerang nikmat.


Wangi sekali..


Dengan cepat, Lucas meraih tubuh Noa dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang seharga ratusan juta. Lucas berbaring lalu mengangkat tubuh Noa dan meletakkannya di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Aku suka. Lakukan lagi Baby." Lucas membelai telinga Noa dan menyingkirkan rambut panjangnya seraya menatapnya penuh cinta.


Noa tersipu lalu menunduk dan kembali mencumbui dada bidang Lucas.


"Ahhh Baby. Ini nikmat sekali." Lucas tidak tahan. Dia beralih menindih tubuh Noa setelah melepaskan dress-nya dan melemparkannya sembarangan.


"Biar ku lanjutkan sayang." Protes Noa tertahan sebab kini bibir Lucas mulai memenuhi bibirnya.


"Aku tidak tahan. Milikku sudah ingin memasuki mu." Lucas melepaskan celana yang di pakai dan memasukkan miliknya.


Keduanya terbawa arus hasrat dan cinta hingga memusnahkan kekhawatiran yang terbesit pada hati keduanya masing-masing. Maut tidak lagi menjadi pemisah bagi mereka sebab jika hati masing-masing sudah terikat satu sama lain. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu di takutkan.


Tidak ada decitan terdengar. Ranjang pesanan Lucas bisa menahan gerakan brutal yang tengah terjadi di atasnya.


Seperti biasanya. Sudah tiga jam berlalu dan Lucas baru akan mendapatkan pelepasannya. Tubuh Noa terasa kembali remuk dengan lebam pada tubuh yang mulai terlihat.


Pelukan tangannya terlepas, saat gerakan Lucas semakin terasa brutal di sertai dengan erangan panjang. Seolah tengah pingsan, tubuh Noa terkulai lemah setelah rintihan panjang ketika Lucas menekan lebih dalam miliknya.


"Aku akan mati sayang." Rintih Noa lirih.


Dia selalu berkata itu tapi dia selalu memintanya pada keesokan hari.


"Besok di larang meminta jika begitu." Noa membuka matanya sedikit. Melihat Lucas yang masih berbaring di sampingnya.


"Kamu serius."


"Daripada kamu mati Baby."


"Aku tidak mati jadi peraturannya harus tetap sama." Lucas terkekeh seraya membelai tubuh Noa untuk melakukan penyembuhan." Aku akan beli banyak vitamin agar lebih kuat lagi sayang." Noa kembali mendekap tubuh Lucas erat.


"Kamu sudah sangat tangguh. Tidak perlu mengkonsumsi obat." Lucas membiarkan Noa bermanja sebentar karena setelah ini dia berniat untuk pergi menemui Ayahnya.


"Apa kamu akan pergi sayang."


"Hm sebentar saja Baby. Tapi aku tunggu sampai kamu tidur." Noa menyeret tubuhnya naik. Dia mengecup dagu Lucas lembut dengan mata terpejam." Jika matamu terbuka. Aku sudah akan kembali. Aku berjanji." Lucas membalas sentuhan bibir Noa dengan lummatan singkat.


"Jika aku bangun tapi kamu belum datang?"


"Panggil aku Baby. Ingat untuk tidak keluar rumah. Ada Bibik di dalam. Jika butuh sesuatu panggil saja dia." Noa mengangguk dengan mata terpejam.


"Aku mengantuk sekali hoaaaaaaamm.."


"Selamat beristirahat. Aku mencintaimu." Lucas kembali memberikan lummatan singkat.


"Aku juga mencintaimu Tuan Lucas." Lucas tersenyum dan sengaja diam dengan tangan kanan menepuk-nepuk punggung Noa lembut.


Hanya sebentar saja, dengkuran halus terdengar. Setelah memastikan Noa benar-benar tidur. Lucas beranjak dari tempatnya dan bergegas memakai bajunya. Dia mencium kening Noa sedikit lama sebelum akhirnya berubah menjadi asap dan menghilang.


🌹🌹🌹


Aku sengaja update di jam segini selama bulan puasa🥰Soalnya terkadang ada adegan tidak pantas 🙏


Semoga suka ❤️


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2