Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
28


__ADS_3

"Seharusnya ini tidak ada. Tapi hatiku sakit saat menyadari banyaknya lelaki yang menginginkanmu." Tutur Lucas lirih.


"Jika Tuan memikirkan itu. Tuan akan lelah sendiri." Noa kembali melingkarkan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Lucas.


"Berapa banyak?" Tanya Lucas ingin tahu.


"Aku tidak tahu Tuan. Aku sering menolaknya."


"Karena tidak suka?"


"Aku menghargai setiap perasaan seseorang. Aku ingin menerima mereka tapi keadaan memaksaku untuk bungkam."


"Jadi kau suka dengan mereka?" Noa menggelengkan kepalanya." Berarti kau menolak karena tidak suka?" Lucas menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.


"Aku merasa tidak pantas untuk memilih Tuan. Siapa yang bisa membebaskan ku dari tempat itu maka dia bisa memiliki ku."


"Kau mencintaiku Baby. Katakan." Lucas mendorong kepala Noa lembut agar mereka bisa saling berhadapan.


"Iya Tuan. Aku mencintaimu."


"Jadi kau akan menolak pinangan orang lain kan." Noa tersenyum dan memperlihatkan giginya yang rata." Aku serius. Bagaimana kesetiaan manusia bisa di ukur jika kau sendiri membuka peluang untuk mereka semua." Lucas tidak memahami hidup berat yang di lalui Noa hingga dia harus menyerah pada keadaan." Jika orang lain yang bisa menyelamatkanmu. Maka kau akan menghabisi seumur hidup dengan orang yang tidak kau cintai?" Noa terdiam. Baru menyadari jika seharusnya dia bisa mengambil keputusan lebih matang lagi.


"Tapi aku benar-benar mencintai mu Tuan."


"Karena aku menyelamatkanmu?"


"Apa bisa cinta datang secepat itu?"


Noa menatap Lucas penuh tanya sementara Lucas terlihat tidak bergeming. Dia memikirkan hal yang sama. Jika bukan karena takdir, tidak mungkin dia tertarik dengan wanita keturunan manusia yang seharusnya menjadi pantangan terbesar untuknya.


"Itu kesalahanku Tuan. Aku terlalu menyerah dengan keadaan. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dari sana. Sehingga aku merasa tidak pantas untuk memilih seorang tambatan hati. Aku menganggap sudah menjadi sebuah barang sejak lama. Bukankah sebuah barang memang selayaknya di beli lalu di miliki oleh si pembeli?" Lucas menatap sendu seolah merasa menyesal dengan pertanyaan yang seharusnya tidak terlontar." Tapi takdir tetap akan menjadi takdir. Aku tidak lagi memikirkan orang yang mampu membawa ku pergi setelah kematian Tuan Sigit. Aku tidak ingin melibatkan seseorang hingga aku harus menolak pinangan dari lelaki yang mempunyai itikad baik padaku. Aku memikirkan untuk kabur dengan usahaku dan tepat di saat aku berada di ujung kematian. Kamu datang untuk menolong Tuan. Percayalah Tuan. Jika Tuhan tidak akan telat untuk memilihkan jalan meski harus melalui banyak kerikil tajam." Noa mendekatkan bibirnya dan mengecup pipi Lucas secara bergantian.


"Maaf Baby. Seharusnya itu pembahasan yang tidak penting."


"Itu penting Tuan. Aku tidak ingin menyimpan rahasia agar perasaan kita sama-sama saling terbuka." Apa sebaiknya nama panggilan untuknya ku ganti saja.


"Itu ide yang bagus."


"Panggilan?" Tanya Noa lirih.


"Iya Baby."


"Bagaimana cara bangsa Tuan memanggil pasangannya."

__ADS_1


"Sama halnya seperti manusia."


"Sayang?" Noa tersipu malu begitupun Lucas. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri seraya menatap Noa penuh cinta.


"Rasanya sangat lain Baby. Aku bahagia sekali. Panggil aku sayang."


"Em baik sayang. Itu permintaan yang sederhana meski aku sedikit aneh mengucapkannya." Lucas mendekap tubuh Noa lembut.


"Nanti akan terbiasa."


"Kita mandi bersama sayang."


Lucas tersenyum lalu memberikan lummatan singkat kemudian berdiri. Tangannya terulur dan langsung di sambut oleh Noa. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi bersama.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Stefanus terlihat gelisah menunggu kedatangan Lucas yang sampai saat ini tidak juga terlihat barang hidungnya. Elena tersenyum menang melihat wajah gelisah Stefanus yang di perlihatkan sekarang.


"Seharusnya kemarin kamu bisa lebih tegas Baginda agar Lucas tidak semakin menjadi pembangkang seperti sekarang." Tutur Elena menghidupkan lagi api kebencian." Jika kemarin dia menikah dengan Patresia. Mungkin sekarang Baginda tidak akan gelisah seperti sekarang." Stefanus terdiam sesaat sebelum akhirnya dia menoleh ke Elena yang tengah duduk di tepian ranjang.


Kemana Lucas? Apa tebakan Elena benar? Dia sekarang telah... Ah! Tidak mungkin..


"Kirim beberapa orang untuk mencarinya."


"Sebaiknya kau keluar. Aku ingin beristirahat." Elena memasang wajah datar lalu terpaksa berdiri padahal dia masih ingin mengobrol lebih lama.


Dia terasa menyebalkan karena memikirkan anaknya itu!!!


"Permisi Baginda." Elena berjalan keluar kamar dan langsung masuk ke dalam kamar miliknya. Dia kembali mengunakan kesempatan itu untuk menuju ruang rahasia dan menemui wanita yang terkurung di sana.


Wanita itu meringkuk dengan tatapan kosong ke arah langit-langit ruangan yang hanya memperlihatkan sedikit awan cerah.


Kapan aku keluar dari sini.


"Kau tidak akan pernah keluar!!!" Sahut Elena dengan wajah garang. Wanita itu hanya menoleh dan kembali pada posisi yang sama." Kenapa anakmu harus terlahir sebagai Vampir!! Bukan manusia!!!" Imbuh Elena kasar.


"Sebesar apa dia? Bisakah aku melihatnya Elena."


"Dia jadi pembangkang karena menurun sifat manusia mu itu!!" Wanita itu tersungging. Dia merasa beruntung anaknya terlahir sebagai Vampir sehingga anaknya bisa terus hidup.


"Dia memang anakku. Dia pasti sangat tampan sekarang. Pertemukan aku dengannya walau hanya sekali." Pintanya memelas.


"Fikirkan itu di mimpimu. Kau akan terus di sini hingga aku bisa menguasai anakmu itu!! Dia akan ku buat jatuh cinta pada gadis suruhan ku agar duniamu bisa ku kuasai."

__ADS_1


"Aku yakin anakku tidak seperti itu. Dia akan jadi pemimpin yang baik, bisa mendamaikan antara manusia dan Vampir. Kau tidak akan bisa memperalatnya Elena sebab dia anakku. Anak dari seorang Ibu bernama Ana." Mata Ana terasa panas karena menahan rindu yang tertahankan. Ingin sekali dia menangis tapi air mata tidak lagi bisa keluar.


Selama jutaan tahun Elena mengurungnya di ruangan khusus agar dia tidak bisa menua. Setiap hari harus di lewati Ana dengan siksaan. Dia hidup tanpa nyawa dan lebih pantas di sebut mati.


"Kau percaya diri sekali!!! Kau sadar jika kau hanya bisa terkurung di sini untuk menunggu kemenangan ku tiba."


"Aku Ibunya Elena. Kau lupa jika ikatan cinta antara Ibu dan anak tidak akan bisa di musnahkan meskipun dengan kematian."


"Omong kosong!!! Aku akan memangsamu lebih dulu saat kemenangan itu tiba!! Lihat saja nanti!!!" Elena membalikkan badan dan meninggalkan Ana yang sebenarnya di liputi rasa takut.


"Ya Tuhan. Tidak pernah lelah aku panjatkan doa meski aku tidak tahu apa kau bisa mendengarnya. Keluarkan aku dari sini. Tolong utus seseorang untuk menolongku." Mata Ana kembali terasa panas dengan wajah sendu yang di perlihatkan." Jika mungkin aku akan binasa. Izinkan aku untuk bertemu dengan anak dan Suami ku meski hanya sekali saja."


Bersamaan dengan doa yang di panjatkan. Telinga Lucas berdengung seolah dia merasa jika Ibunya memanggil untuk di selamatkan.


"Ada apa sayang?" Tanya Noa melihat Lucas tiba-tiba meminggirkan mobilnya.


"Entahlah Baby. Telingaku sering berdengung seperti ini." Lucas menyandarkan punggungnya di kursi kemudi seraya memejamkan mata.


"Apa kita perlu ke dokter?" Lucas tersenyum lalu menoleh.


"Dokter hehe. Aku tidak butuh itu."


"Lalu bagaimana?"


"Ada yang memanggilku di tempat yang jauh. Tapi aku tidak tahu di mana." Lucas kembali melajukan mobilnya.


"Kamu bisa mendengarnya?"


"Bisa Baby. Pendengaran ku sangat tajam tapi dengungan selalu ku rasakan di saat-saat tertentu."


"Mungkin Ayah mencarimu sayang." Lucas mengangguk-angguk.


"Aku akan pergi malam ini saat kamu tidur."


Bagaimana bentuk kerajaan?


"Suatu saat kamu akan ke sana." Noa menoleh seraya tersenyum.


"Meski aku takut. Tapi aku tidak sabar sayang."


Semoga restu itu mudah kita dapatkan Baby. Aku sangat takut kehilanganmu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2