
Lucas bergegas duduk, saat menyadari kehadiran wanita asing yang tengah membelai rambutnya. Ana menatapnya hangat dengan kerinduan dan rasa cinta yang teramat besar.
"Kamu tampan sekali Nak." Gumam Ana lirih.
"Kau siapa?" Lucas cepat-cepat berdiri seraya membuang jubah yang masih melekat di tubuhnya.
"Aku Ana Maria, Ibumu." Sontak Lucas menoleh, membalas tatapan manik Ana.
"Ibuku? Bagaimana mungkin? Ibuku sudah meninggal karena dia seorang manusia."
Gleg!!!
Lucas baru menyadari aroma tubuh Ana yang memang seorang manusia.
"Ibu memang manusia." Lucas menatap Ana dengan raut wajah bertanya-tanya. Hatinya merasa yakin walaupun dia meragukan atas kehadiran Ana yang seharusnya sudah musnah.
"Tidak mungkin. Umurku bahkan sudah 900 tahun. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa hidup?"
"Ibu di kurung dalam sebuah tempat yang bisa membuat Ibu hidup tapi mati." Lucas menghela nafas panjang. Dia menatap Ana tanpa berkedip karena merasa tidak yakin." Ibu merindukanmu. Ibu ingin memelukmu." Imbuh Ana merajuk.
"Stefanus tidak pernah memberitahu rupa Ibuku."
"Ibu tahu kamu tidak yakin. Tapi Ibu adalah wanita yang melahirkanmu."
"Tunggu sebentar." Lucas menghilang cepat untuk menemui Stefanus dan menanyakan perihal siapa Ana.
Terlihat Stefanus duduk di kursi kebesarannya dengan fikiran yang entah berada di mana. Kehadiran Ana membuatnya merasa senang, terkejut juga penasaran.
"Siapa wanita yang bersamaku?" Tanya Lucas tanpa basa-basi.
"Ana Maria. Ibu kandungmu." Mata Lucas melebar mendengarnya.
"Omong kosong apa ini?"
"Ayah juga tidak percaya dengan kehadirannya. Tapi dia benar-benar Ibumu." Lucas menghilang dari hadapannya dan kembali menemui Ana.
"Ibu." Ucapnya tertahan. Lucas duduk tepat di bawah kaki Ana seraya menyandarkan kepalanya pada pangkuannya.
"Kamu sampai tidak mengenali Ibu mu ini." Ana kembali terisak tanpa mengeluarkan air mata yang sudah terkuras habis saat dia berada di jeruji." Aku merasa buruk anakku. Maafkan Ibu." Lucas menghirup kuat aroma tubuh Ana dengan air mata yang lolos begitu saja.
"Ibu tetaplah Ibu. Aku sangat ingin bertemu denganmu dan mendengar sendiri tentang kenyataan jika Ibu tidak menginginkan aku."
"Mana mungkin begitu. Ibu melakukan itu karena Ibu sangat menyanyangi mu. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu hingga Ibu memutuskan untuk pergi." Lucas menegakkan kepalanya lalu beralih duduk di samping Ana. Keduanya saling menatap dalam dengan tangan kanan Ana yang kini membelai pipi Lucas.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lucas tentu ingin tahu.
Ana terdiam sesaat. Dia tidak ingin mengatakan kebenaran soal kebusukan Elena. Namun, keinginannya untuk tetap bersama Lucas mendorong kuat.
__ADS_1
"Elena mengancam Ibu." Lucas melebarnya matanya mendengar itu. Dia langsung tersulut emosi sebab sudah sejak lama dia mencium kebusukan Elena." Ibu terpaksa berpura-pura berkhianat karena jika tidak Ibu lakukan. Elena akan mencelakai mu." Lucas tidak bergeming walaupun ingin sekali dia langsung pergi untuk membuat perhitungan dengan Elena." Ibu fikir semuanya akan selesai. Tapi Elena malah mengurung Ibu dalam jeruji itu selama ratusan tahun." Ana mulai terisak mengingat bagaimana buruknya berada di satu tempat selama ratusan tahun." Ibu selalu ada di sana. Ibu bahkan bisa mendengar mu tumbuh walaupun hanya sebatas mendengar. Itu hal yang buruk hiks.. Ibu merasa hidup tapi seolah mati karena tidak sanggup berbuat apapun." Lucas meraih tubuh Ana dan menenggelamkannya pada dada bidangnya.
"Cukup Bu." Sahut Lucas ikut teriris.
"Kamu percaya pada Ibu."
"Aku percaya. Wanita itu memang jahat tapi Ayah menikahinya. Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti." Ana mengangkat kepalanya dari dada bidang Lucas lalu menelungkup wajah anak semata wayangnya itu.
"Balasan Tuhan lebih pedih. Ibu tidak ingin melihatmu menyakiti wanita walaupun dia sangat jahat." Bibir Ana mendekat dan mulai mengecupi wajah Lucas untuk mengekspresikan kerinduannya.
Ibuku cantik dan lembut seperti Istriku..
"Istriku! Noa!" Sontak Lucas berdiri sehingga kedua tangan Ana terlepas begitu saja.
"Apa namanya Noa?" Tanya Ana tersenyum.
"Iya Bu. Bagaimana keadaannya."
"Ku dengar dia bersama Patresia."
"Ibu tunggu di sini.."
"Ibu ikut. Kenalkan dia pada Ibu." Lucas tersenyum. Sesuai dugaan jika Ibunya pasti merestui hubungannya tanpa perlawanan.
"Ibu setuju?"
"Ibu terlihat masih lemah."
"Hm iya. Hampir setiap malam Ibu tidak bisa tidur."
"Bukankah seharusnya Ibu beristirahat?"
"Ibu akan menemui menantu Ibu, lalu beristirahat." Lucas merasa bahagia hingga dia tidak lagi memperdulikan restu dari Stefanus.
Setelah tiba, Lucas bergegas mengetuk pintu kamar Patresia. Dalam sekejap pintu itu sudah terbuka dan memperlihatkan wajah Patresia yang tengah tersenyum.
"Apa Istriku ada di dalam?"
"Hm. Silahkan masuk Lucas, Ibu Ana." Pintu di buka lebar. Manik Lucas langsung tertuju pada Noa yang tengah berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Tu Tuan Lucas." Gumam Noa terbata dengan air mata tidak tertahankan. Dia tidak menyangka jika bisa bersama lagi setelah niatnya untuk menyerahkan diri tadi.
Lucas berjalan menghampiri Noa dan memeluknya erat. Tangis bahagia keduanya pecah karena rindu yang menyiksa mereka beberapa hari terakhir.
"Kamu melanggar aturan ku Baby."
"Jika aku tidak melanggar, kamu akan menikah lagi." Lucas terkekeh seraya mengusap sudut matanya kasar.
__ADS_1
"Tuhan tidak merestui sehingga itu tidak akan terjadi. Aku sudah berjanji akan menjadikan kamu satu-satunya." Noa tersenyum seraya mengeratkan pelukannya. Namun saat hidung mancungnya menghirup aroma tubuh Lucas kuat. Rasa mual tiba-tiba saja muncul.
"Tidak! Lepaskan!!!" Teriak Noa mendorong kasar tubuh Lucas.
"Semua sudah terbukti. Aku tidak jadi menikah dan kamu tetap satu-satunya." Noa berjalan mundur seraya menutup hidungnya.
"Aku percaya."
"Lalu kenapa kamu menjauh?" Lucas kembali mendekat tapi Noa malah menghindar dengan berlari ke arah Patresia.
"Kenapa Baby? Kamu masih marah padaku?" Rajuk Lucas merasa bingung.
"Sebaiknya kamu mandi dulu sayang. Aku merasa... Hoeeeek.." Noa membungkam mulutnya rapat dengan mata berair karena menahan mual." Itu tidak sedap. Aroma tubuh mu sangat hoeeeek... Pergi!! Pergi!! Aku tidak ingin mengingat itu!!" Teriak Noa tidak terkendali.
"Apa kamu sakit Baby?" Tanya Lucas dari jauh. Dia mengingat kekesalan yang di perlihatkan Noa saat pertemuan terakhirnya.
"Kapan kalian menikah?" Tanya Ana tersenyum. Tangannya merangkul kedua pundak Noa yang memiliki tubuh sama tinggi dengannya.
"Sekitar tiga Minggu yang lalu."
"Astaga. Semoga tebakan Ibu benar. Kita harus memanggil ahli nujum." Noa menoleh seraya tersenyum aneh.
"Untuk apa Ibu?" Tanya Noa lirih.
"Ibu merasa kamu sedang hamil Nak." Senyum Lucas mengembang begitupun Patresia yang turut merasa bahagia.
"Benarkan Ibu?" Lucas akan mendekat namun tangan Noa mencegahnya.
"Tetap di situ sayang. Aku mohon." Lucas menghentikan langkahnya karena tidak ingin membuat Noa marah.
"Ibu dulu juga begitu saat mengandung kamu. Ibu muak mencium aroma tubuh Ayahmu."
"Tapi kenapa dia baik-baik saja?" Tanya Patresia.
"Itu berarti dia spesial. Semoga hidup kalian selalu bahagia Nak." Noa merasa beruntung bisa kembali merasakan dekapan dari seorang Ibu.
Pelukannya sehangat Mama..
"Dia memang Mama mu sekarang." Jawab Lucas memancarkan kebahagiaan.
"Tentu saja. Kamu anakku."
"Terimakasih Ma." Noa memiringkan tubuhnya lalu memeluk Ana. Dia merindukan kehangatan yang sudah tidak bisa di rasakan.
"Sama-sama Nak."
"Aku juga merestui hubungan kalian." Sahut Stefanus yang sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
🌹🌹🌹