Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
38


__ADS_3

Noa memutuskan mengajak Lucas mengunjungi sebuah restoran yang menawarkan pemandangan indah bagi pengunjungnya.


"Oh harus reservasi dulu." Tanya Noa dengan raut wajah kecewa. Dia menoleh dan menatap lemah ke arah Lucas.


"Apa tidak ada kebijakan lagi. Kita jauh-jauh sudah datang ke sini tapi harus kembali." Imbuh Lucas ikut angkat bicara padahal sebenarnya dia malas berbicara dengan manusia lain.


"Memang itu sudah aturannya Tuan."


"Em ya sudah. Kita cari tempat lain saja sayang." Baru saja Noa akan berjalan pergi. Suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Nona Noa." Lucas menoleh begitupun Noa.


"Oh anda Tuan. Siapa nama Anda? Aku lupa." Lucas langsung menatap Norman dengan raut wajah tidak suka sehingga Norman berusaha bersikap sesopan mungkin.


"Norman Nona. Em kalian akan ke mana?"


"Pulang. Kami tidak tahu jika harus reservasi terlebih dahulu." Kekaguman Norman tidak juga berhenti meski wanita pujaannya sudah menjadi milik orang lain. Dia merasa tidak suka melihat raut wajah kecewa Noa yang di perlihatkan.


"Saya pemilik tempat ini. Biar saya urus." Meski tersenyum aneh, Norman meminta karyawannya untuk mencarikan tempat kosong untuk Noa.


"Astaga beruntung sekali." Senyum Noa mengembang karena dia tidak harus pulang dengan perasaan kecewa.


Sekuat hati, Norman tidak mengucapakan kekagumannya pada Noa meski itu di dalam hati. Dia tahu jika Lucas bukanlah manusia sembarangan padahal sebenarnya Lucas memang bukanlah manusia.


"Anda bisa menempati nomer 27 Nona. Itu tempat terbaik di sini."


"Terimakasih Tuan. Berapa saya harus membayar?"


"Tidak perlu."


"Jika tidak perlu membayar sebaiknya kita kembali saja." Sahut Lucas merasa rendah ketika Norman menawarkan tempat gratis." Aku sangat mampu membayar tempat ini. Apa kau mau menghinaku." Norman tersenyum aneh dengan tingkah kikuk.


"Sayang, tidak boleh berbicara begitu." Tentu saja Noa merasa sungkan dengan ucapan ketus yang di lontarkan Lucas.


"Aku bisa membeli tempat ini Baby. Bagaimana mungkin dia mau menggratiskan tempat bagi kita. Aku tidak suka."


"Em baik Tuan. Saya tidak bermaksud menyebut Tuan tidak mampu. Saya hanya ingin kita menjalin pertemanan baik."


"Aku tidak butuh teman. Aku butuh tempat dengan tarif normal." Norman mengangguk-angguk seraya tersenyum menatap karyawannya.


"Siapkan Nota untuk tempat itu." Pinta Norman tidak ingin memperkeruh suasana.


"Baik Pak." Cukup satu menit. Sebuah nota di serahkan pada Lucas yang langsung di bayar secara cash.


"Silahkan menikmati suasana restoran saya Nona, Tuan."


"Terimakasih." Noa dan Lucas masuk sementara Norman masih menatap kepergian mereka.


"Duh tidak sopan sekali." Umpat karyawannya. Sontak Norman langsung memelototi nya karena tidak ingin Lucas mendengarnya.


"Jangan bicara sembarangan. Dia pelanggan baru kita. Kau ingat! Pelanggan adalah raja."


"Tapi ya tidak seperti itu juga Pak."


"Bicara lagi atau kau ku pecat!!!" Si karyawan tersenyum aneh melihat sikap Norman yang seharusnya merasa senang dengan pembelaannya.


"Maaf Pak."

__ADS_1


"Hm. Jangan mengumpat meski itu di dalam hatimu atau kau ku pecat!!!"


"Baik Pak." Norman kembali masuk ke ruangannya yang terletak di belakang ruangan kasir.


Lucas dan Noa sendiri sudah tiba di saung nomer 27. Keduanya duduk berjajar seraya menikmati pemandangan yang terbentang di hadapannya.


"Ingin sekali aku menanam bunga sebanyak itu." Gumam Noa tersenyum.


"Kamu bisa melakukannya di pekarangan rumah."


"Itu memang keinginanku sayang. Tapi entah kapan aku bisa memulai nya."


"Kamu bisa melakukannya sekarang atau besok."


"Aku sedang ingin bersamamu. Keinginan itu akan ku lakukan jika hidup kita sudah tenang dan bebas." Lucas menarik pinggang Noa lalu menggiring kepalanya bersandar pada pundaknya.


Aku memikirkan itu terus menerus. Aku merasa tidak yakin meski aku tidak berniat untuk mundur.


"Maaf sudah membebani mu." Ucap Lucas lirih. Dia merasa jika restu dari Ayahnya akan membuat hidup Noa sangat kesulitan nantinya.


"Tidak sayang. Aku lebih cenderung takut melihat wujud mereka dan takut meninggalkan kamu sendiri." Lucas tersenyum tipis karena mengingat kekhawatiran Noa yang di lontarkan beberapa hari lalu.


"Takut jika aku menikah lagi?"


"Hm iya." Lucas tertawa kecil seraya mengangkat dagu Noa dan mellumat nya sebentar.


"Selama nya Lucas hanya milik Noa."


"Umur manusia hanya bertahan sampai 100 tahun. Itupun jika umur kami panjang. Bayangkan sayang." Noa mengangkat kepalanya dari pundak Lucas dan kini keduanya duduk saling berhadapan." Sekarang umurku 21 tahun. Itu terasa singkat sekali jika di bandingkan dengan umur mu." Lucas mengangguk-angguk seraya tersenyum." Ahhh sayang. Kau terlihat senang sekali karena umurku yang pendek." Imbuhnya ketus.


"Aku tidak senang karena itu. Kamu terlihat semakin cantik ketika sedang khawatir."


"Aku akan setia hanya padamu Baby. Aku berjanji." Noa tersenyum seraya mengedarkan pandangannya lalu menangkap sebuah sosok yang sangat dia kenal.


Pak Prapto? Ucapnya dari hati dengan mata melebar.


"Siapa Prapto?" Tanya Lucas membaca raut wajah khawatir Noa.


"Orang yang menjeratku dengan hutang." Jawab Noa lirih.


"Di mana dia."


"Sebelah kiri sayang." Mereka pasti akan di jual.


Entah kenapa Noa merasa perduli dengan dua gadis kecil yang tengah duduk. Dia mengingat kejadian saat dia di paksa ikut bersama Prapto kala itu.


Noa masih seorang gadis lugu yang tidak tahu apa-apa hingga Mommy Vivian menyuruhnya untuk melayani tamu untuk pertama kali.


"Dia komplotan Vivian?" Noa mengangguk seraya masih melirik ke arah Prapto yang terdengar tengah terkekeh.


"Apa yang mereka bicarakan sayang?"


"Sebaiknya tidak perlu ku katakan. Jangan mengurusi urusan mereka."


"Hm iya." Noa mencoba tidak perduli. Tapi dia tidak tega melihat gadis kecil yang hidupnya tentu berada di ambang kehancuran. Apalagi gadis polos itu terlihat ketakutan, seperti saat awal pertama dia mengenal dunia pelaccuran. Jika mereka melakukannya tanpa paksaan mungkin aku tidak perduli tapi mereka. Noa meliriknya lagi. Gadis itu mencoba menghindar saat tangan nakal Prapto sedang memeriksa barangnya.


"Ayah aku takut." Ucap si gadis yang ternyata berparas kembar.

__ADS_1


"Kalian harus ikut berkerja dengan mereka. Selain Pak Prapto akan melunasi hutang. Kalian akan membantu Ayah mencari uang." Pinta Ayahnya terpaksa. Dia terlilit hutang untuk biaya pengobatan Istrinya. Maaf Ayah terpaksa. Nafkah Ayah sebagai tukang kayu tidak cukup banyak untuk memenuhi biaya rumah sakit Mama kalian.


"Kami akan berkerja Ayah. Tapi tidak dengan mereka." Prapto tertawa renyah begitupun kaki kanannya yang tengah tersenyum seraya menatap nakal dua gadis belia di hadapannya.


"Bantu Ayah Nak. Ayah Mohon."


"Jangan sebut kau Ayah jika nyatanya kau menjual anakmu selayaknya barang!!" Sahut Lucas merasa terpanggil saat mendengar suara hati Noa.


"Siapa kau!!" Tanya Prapto kasar.


"Berapa hutangnya?" Lucas tidak ingin basa-basi karena yang di lakukannya sekarang demi Noa.


"Kau tidak perlu ikut campur!!"


"Hutang orang ini akan beres dan kau sudah tidak ada hak lagi." Menunjuk ke Ayah gadis kembar yang tertunduk lesu.


"Hutangnya tidak terhitung!!!" Sialan!!! Harusnya mereka bisa jadi pengganti Noa.


Mereka masih saja menyebut nama Istriku!!!


"Ini kesempatan untuk mu Pak. Sebutkan nominalnya atau aku akan pergi." Desak Lucas pada si Ayah anak kembar.


"Banyak Tuan."


"Berapa?" Tanya Lucas lagi.


"Kau sudah berjanji menyerahkan anak mu padaku."


"Saya terpaksa Pak. Hutang saya 55 juta."


"Nomer rekening mu." Tatapan Lucas beralih pada Prapto.


"Kau tidak perlu susah-susah ikut campur!!!"


"Berapa atau ku panggilkan polisi!!" Ancam Lucas lantang membuat wajah Prapto langsung gugup.


Lucas menyodorkan ponsel mahalnya dan dengan terpaksa Prapto menuliskan nomer rekeningnya. Setelah selesai transaksi, Lucas memperlihatkan bukti transfer sejumlah 60 juta rupiah.


"Sudah beres. Kalian boleh pergi dan jangan terlibat dengan manusia seperti dia." Menunjuk kasar ke arah Prapto yang sudah beranjak pergi dengan raut wajah geram.


Tuan ini baik sekali.. Apa dia menyukai salah satu putri ku hingga mau menebus hutang-hutang ku?


"Aku sudah beristri. Sebaiknya kalian pergi." Si Ayah melebarkan matanya ketika Lucas menjawab pertanyaan di dalam hatinya. Lucas merogoh dompet dan mengambil uang cash yang tersisa juga sebuah kartu nama." Pakai uang ini dan hubungin kartu nama ini jika mungkin memerlukan bantuan biaya pengobatan." Dengan tangan bergetar. Si Ayah mengambil uang dan kartu nama.


"Terimakasih Tuan."


"Hm sama-sama." Dengan wajah datar, Lucas langsung kembali ke saung. Dia mengulurkan tangannya ke Noa yang tengah duduk di bawah karena tidak ingin Prapto mengetahui keberadaannya." Sudah aman Baby. Mereka sudah pergi." Segera saja Noa menyambut uluran tangan Lucas lalu berdiri seraya melihat ke tempat Prapto yang sudah kosong.


"Terimakasih sayang. Kamu menyelamatkan hidup dua gadis yang akan hancur." Noa menjinjit lalu mengecup pipi Lucas sebentar.


"Hanya demi kamu."


"Sebaiknya kita berjalan-jalan sebentar lalu makan dan pulang."


"Hm Baby." Meski tersenyum, Lucas masih saja mendengarkan teriakan Prapto yang tengah mengumpat di area parkiran.


"Dia akan menyesal sudah berurusan denganku!!!" Ucap Prapto geram. Menatap kedua gadis yang di anggapnya sebagai barang. Pulang bersama sang Ayah dengan motor bututnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2