
Ana terisak seraya duduk berjongkok di bawah kursi. Kedua tangannya menelungkup wajah pucat Lucas lalu mencium keningnya lama.
"Anakku. Ini Ibu." Elena memanfaatkan keadaan untuk melarikan diri. Tapi kekuatannya terasa melemah setelah tubuhnya membentur kursi.
Patresia berjongkok, lalu memeriksa suhu tubuh Lucas yang mulai dingin.
"Baginda. Dia hilang kesadaran." Ucap Patresia ikut merasa khawatir.
"Kau boleh membenciku. Tapi jangan anakku." Pinta Ana beralih menatap Stefanus dengan isakan tanpa air mata.
"Apa kau benar-benar Ana?"
"Tolong dia. Aku mohon tolong lepaskan belenggu ini." Stefanus berjalan menghampiri Lucas lalu melepaskan belenggu pada leher Lucas dengan tangan kosong." Nak! Ini Ibu, kamu harus sadar." Ana menepuk-nepuk pipi Lucas yang mulai terlihat membaik. Belenggu yang sudah terlepas, membuat sistem kekebalannya kembali normal.
"Bagaimana bisa?" Tanya Stefanus menatap ke arah Noa yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Tanyakan padanya." Menunjuk ke arah Elena yang sedang berusaha berdiri." Katakan sejujurnya atau aku akan memusnahkan mu!!" Ancam Noa terkekeh nyaring.
"Aku aku aku tidak tahu." Elena menyeret tubuhnya dan berusaha pergi tapi Stefanus langsung melontarkan titah hingga Elena di tangkap dengan mudah.
"Bubarkan tamu undangan." Pinta Stefanus lirih. Para pengawal mengangguk dan langsung melakukan perintah Stefanus hingga memicu perdebatan.
"Kami ingin tahu kebenarannya!!" Teriak salah satu bangsawan.
"Aku akan mengadakan pertemuan besok. Pesta pernikahan ini batal!!" Para bangsawan dan rakyat tidak mampu berkomentar. Dia masih menghormati Stefanus sehingga mereka langsung membubarkan diri dan kembali lagi esok.
Stefanus menghampiri Elena untuk menuntut jawaban. Terlihat jelas wajah Elena berubah ketakutan sebab keburukan yang selama ini di tutupi akan terbongkar.
"Apa kau yang mengurungnya?" Stefanus menunjuk ke arah Ana yang masih berusaha menyadarkan Lucas.
"Aku tidak mungkin melakukan itu Baginda." Jawab Elena masih berusaha berkilah. Kedua maniknya menatap ke arah Noa yang belum berganti wujud.
"Saya juga di kurung di sana Baginda." Sahut Pedro menimpali. Stefanus menatap tajam ke arah Elena yang tengah memikirkan jawaban untuk bisa meloloskan diri dari perbuatannya sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ma." Patresia yang tidak tahu menahu, tentu merasa ingin tahu melihat kehadiran Ana Maria yang seharusnya sudah meninggal ratusan tahun yang lalu.
🌲Flashback🌲
Kekecewaan mendalam Elena rasanya saat dia mendengar jika Stefanus terpilih menjadi seorang raja. Elena memang sangat mencintai William tapi dia juga berambisi ingin menguasai kerajaan untuk menghapus peraturan tentang larangan membunuh manusia.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kamu yang menjadi raja Tuan." Ujar Elena seraya duduk lemah di sisi ranjang. Dia melepaskan perhiasan dengan nafas terbuang kasar.
"Stefanus lebih pantas menjadi raja. Aku tidak setegas dia." William tersenyum teduh menghampiri Elena yang terlihat kesal." Menjadi raja juga tidak enak. Waktuku akan terbagi nanti." Imbuhnya menghibur. Dia sadar jika Elena lah orang yang paling menginginkan dia menjadi raja.
"Aku siap untuk itu. Aku akan membantumu memimpin. Bukankah aku sudah bilang itu."
"Tapi nyatanya aku tidak terpilih."
Sejak malam itu, sikap Elena pada William sedikit berubah. William menganggap jika mungkin Elena masih kecewa padanya sehingga dia membiarkannya saja.
Padahal yang terjadi adalah. Elena mulai merencanakan cara lain untuk bisa mewujudkannya keinginannya.
Terbunuhnya keluargaku akan menjadi sia-sia jika aku tidak bisa menjadi Ibu suri di sini..
Elena yang gila kedudukan dengan tega merencanakan pembunuhan pada William. Dia ingin menjadi Istri Stefanus bukan William yang di anggapnya tidak berguna.
Malam itu, Elena menyuruh orang suruhannya untuk membuat Stefanus sibuk agar dia bisa mencuri pedang milik Stefanus yang memiliki kemampuan memusnahkan para Vampir.
William yang saat itu sedang membaca buku, tidak menyangka jika kedatangan Elena bukan ingin melayaninya melainkan ingin membunuhnya.
Hahahaha.. Setelah ini aku bisa menikah dengan Stefanus..
"Dia tidak memikirkan nasib anaknya Baginda." Elena berpura terisak seraya mengusap perutnya yang tengah mengandung Patresia.
"Semua sudah terlanjur. Kak William sudah pergi. Aku berjanji akan ikut merawat anak ini." Elena tersenyum menang di dalam hati. Dia merasa percaya jika rencananya akan berhasil.
Beberapa hari berselang, Elena semakin merasa yakin jika Stefanus juga mencintainya saat melihat rasa perduli yang di tunjukkan Stefanus padanya.
Hingga pada suatu hari. Elena harus kembali menelan pil pahit ketika Stefanus mengenalkan seorang wanita bernama Ana Maria pada keluarganya.
Stefanus mengakui Ana sebagai Istrinya di hadapan kedua orang tuanya yang langsung tidak setuju dengan keputusan Stefanus menikahi seorang pelayan manusia.
"Ayah tidak setuju! Kau tidak akan ku akui sebagai anak jika kau tidak meninggalkan wanita itu."
Seperti yang terjadi sekarang. Hubungan Stefanus di tentang keras hingga menimbulkan konflik berat.
Elena yang merasa sakit hati, mati-matian menghasut kedua orang tua Stefanus namun rencananya tidak berhasil.
Kehamilan Ana meluluhkan hati kedua orang tua Stefanus, hingga restu dia dapatkan setelah melewati rintangan dan perdebatan yang amat panjang.
__ADS_1
Stefanus langsung memberikan izin pada bangsanya untuk hidup dengan manusia. Hal itu semakin membuat Elena tidak terima. Dia terus saja berusaha hingga dia menemukan sebuah ide.
Elena dengan tega memfitnah Ana telah berselingkuh selepas kelahiran Lucas.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku Ana." Ancam Elena seraya membawa Lucas di tangannya.
"Jangan Kak Elle. Lepaskan dia, tolong." Rajuk Ana yang kala itu sedang sendirian.
"Turuti apa mau ku, agar aku bisa memberikan hidup untuk anakmu ini."
Ana terpaksa mengiyakan keinginan Elena. Dia sengaja pergi bersama lelaki lain agar Stefanus membencinya.
"Aku malu memilikinya. Dia keturunan Vampir." Jawab Ana ketika Stefanus melontarkan pertanyaan.
"Aku memang Vampir. Bukankah kau tahu itu Ana."
"Aku menyesal Tuan! Seharusnya aku tidak menikah denganmu. Ini bukan duniaku!! Aku merasa asing di sini." Alex yang kala itu sudah dewasa. Mendengar dengan jelas perdebatan itu.
"Kau kenapa? Kau bukan Ana yang ku kenal?"
"Aku memang sudah berubah sejak aku menyukai lelaki ini." Hati Stefanus berkedut nyeri. Saat melihat jelas jemari keduanya saling berpegangan erat. Segera saja dia melesat menuju Ana dan berniat melenyapkan lelaki itu. Namun niat itu tertahan saat Ana menghalangi niat Stefanus." Bunuh aku dulu jika kau ingin membunuhnya." Demi keselamatan Lucas. Ana rela melakukan apapun termasuk mencoreng nama baiknya.
"Kau tega sekali Ana." Stefanus mulai terisak. Hatinya sakit menerima kenyataan di hadapannya.
"Biarkan aku pergi. Senang mengenalmu."
Karena kejadian tersebut, Stefanus kembali memberlakukan aturan perihal menikah dengan manusia. Kekecewaan berat akan sebuah pengkhianatan membuatnya tidak ingin mencari tahu kebenaran soal itu. Hingga Elena berhasil menjeratnya dalam sebuah pernikahan.
Flashback off
"Kau juga menuduh Mama?" Ucap Elena menatap tajam ke Patresia.
"Bukankah Mama bilang tidak tahu saat aku bertanya masalah Pedro?" Elena mendengus seraya menunduk, melirik ke arah Noa yang tubuhnya sudah terkulai lemah.
"Mama memang tidak tahu."
"Biarkan aku membawanya pergi." Sahut Ana tidak ingin lagi terlibat dengan Elena. Tangan kanannya menunjuk ke arah Lucas dengan tatapan manik penuh kekecewaan pada Stefanus.
"Tidak. Kamu tidak boleh pergi Ana. Tolong jelaskan, bagaimana mungkin kamu masih hidup." Ana tersenyum kecut seraya sesekali menatap Lucas yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
🌹🌹🌹