Istriku Calon Kakak Iparku

Istriku Calon Kakak Iparku
kisah Safi 33


__ADS_3

“ Bu ,bah aku mau ke kota,mau mengikuti tes CPNS yang pihak sekolah rekomendasikan “ ucapan Naima yang tiba tiba meminta izin untuk mengikuti tes CPNS pada kedua orangtuanya sukses membuat pertanyaan besar dihati mereka yang memasuki usia dipertengahan abad itu.


Pasalnya,bah iman sering kali meminta Naima untuk mengikuti tes CPNS setiap tahunnya tapi tidak pernah dirinya hiraukan karena tetap teguh pada pendiriannya untuk membawa kedua orangtuanya pulang kampung.


Tapi kini,saat mereka tengah beristirahat dengan menonton acara yang di tampilkan di televisi tabung dan ditemani ubi rebus buatan Bu Arum dengan tegasnya Naima mengatakan akan pergi ke kota untuk mengikuti tes yang diperuntukan agar dapat menjadi salah satu pegawai negeri di desa terpencil tersebut.


“ Kamu yakin !?” bah iman memastikan keteguhan hati putrinya


“ Iya “ jawab Naima pasti


“ kapan !?” kini Bu Arum yang bertanya


“ Minggu depan “ jawab Naima


“ Kenapa mendadak !?” tanya Bu Arum heran mewakili perasaan yang sama yang dirasakan oleh bah iman juga.


“ tidak mendadak,ibu sama Abah kan tahu,untuk mendaftar mengikuti tes CPNS butuh waktu beberapa bulan dan Minggu depan waktunya aku pergi “ jawab Naima.


“ tapi kenapa tiba tiba kamu mengiyakan untuk pergi,bukankah setiap tahunnya kamu selalu menolak untuk mengikuti tes CPNS !?” bah iman tidak yakin.


“ Mungkin sudah waktunya bah “ seperti biasa,gadis cantik ini paling bisa menutupi perasaan sakitnya pada kedua orang tuanya.


Namun tidak ingin kecolongan seperti yang mereka lihat sewaktu Naima menolak pernikahannya dengan Rival yang ternyata karena sesuatu yang ditutupi oleh Naima,Bu Arum dan bah iman kini lebih berani menanyakan hal yang tergolong sensitif itu pada putri semata wayangnya.


“ Apa ini ada hubungannya dengan ingatan Safi yang kembali pulih dan wanita yang menjadi calon istrinya !?” selidik bah iman.


Naima hanya menggelengkan kepalanya lemah karena tidak sanggup untuk berbohong namun tidak dapat juga mengiyakan tuduhan sang ayah.

__ADS_1


“ jangan berbohong Ima,berhenti untuk menyimpan rasa sakit yang kamu rasakan sendirian,kami orang tuamu,semenjak kami tahu bahwa Alloh menganugerahkan kami dengan kehadiran kamu diperut ibu,kami menjaga dan merawat kamu dengan baik walaupun tanpa kemewahan,tapi kami menyayangimu sepenuh hati kami.jadi jangan kamu pikir kami akan diam saja melihat kamu memendam rasa sakit yang kamu rasakan sendirian “ ucap Bu Arum mulai terdengar isakan karena memendam rasa sakit melihat anak gadisnya yang tangguh selalu menghadapi rasa sakitnya sendirian.


Mendengar ucapan ibunya yang amat sangat tulus terlebih dengan isakan yang keluar dari bibir Bu Arum membuat Naima tak kuasa menahan lagi air matanya yang hanya akan keluar jika dirinya berada dikamar kesayangannya karena tidak ingin terlihat dan terdengar oleh kedua orang tuanya.


Menurut Naima,masalah perasaan cintanya bukan hal yang harus membuat kedua orangtuanya menambah terbebani dalam hidupnya yang sudah seharusnya mendapatkan kebahagiaan.


“ Maafin aku Bu,bukan aku tidak menganggap kalian sebagai orang tua aku,tapi aku ga mau masalah hati aku menambah beban dihidup Abah dan ibu yang seharusnya aku bahagiakan.kalian terlalu berharga untuk sekedar memikirkan tentang hati aku untuk pria yang aku cintai walaupun pada kenyataanya aku kadang ingin mencurahkan isi hati aku tapi aku takut malah membebani kalian “ tangis Naima pun akhirnya pecah di pelukan sang bunda.


Entah mengapa,rasa sakit karena harus merelakan Safi pergi dengan wanita masalalunya membuat Naima berubah menjadi wanita yang rapuh.


Mungkin ikatan hati mereka yang kuat membuat terkadang Naima sendiri tidak rela untuk membiarkan Safi untuk kembali pada wanitanya namun Naima harus sadar diri dan dapat memposisikan dirinya sebagai sesama wanita yang pasti akan sangat sakit hati jika mengetahui calon suaminya mencintai wanita lain.


“ Safi sudah menceritakan semuanya pada Abah,termasuk perasaannya.abah mengerti perasaanmu.abah juga mengerti posisi Safi yang sudah pasti akan sangat dilema.tapi bukan berarti kamu harus menyiksa diri kamu sendiri dengan melakukan apa yang tidak kamu sukai” bah iman selaku kepala keluarga memberikan solusi dengan logikanya walaupun hatinya sama sakitnya melihat kisah cinta anaknya yang cukup pelik.


Tidak dapat dipungkiri,sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya,bah iman tidak kuasa melihat anaknya yang sedang dilanda rasa sakit karena mencintai.namun bukankah cinta salah satu anugerah Tuhan yang indah dan tidak dapat di cegah pada siapa cinta itu akan berlabuh.


Begitu pula dengan bah iman yang tidak bisa meminta kepada anaknya untuk tidak mencintai Safi,pria yang dirinya temukan mengapung di atas air laut.yang lupa dengan sebagian ingatan tentang masa lalunya.


“ Tapi apakah keputusan kamu untuk pergi ke kota sudah bulat !?” bah iman kembali membuka suara karena melihat Naima yang terus menangis meluapkan segala rasa sakitnya yang sudah dirinya tahan sendirian di pelukan sang ibu yang juga ikut menangis.


menatap lekat anak gadisnya yang sedang dalam pelukan sang istri,bah iman menanti jawaban sang putri hingga pada akhirnya Naima melerai pelukannya pada sang bunda karena dirasa harus mulai berbicara serius dengan kedua orangtuanya walau pun masih dihiasi dengan deraian air mata yang terus menerus keluar tanpa permisi.


“ iya bah,melepas bang Safi terasa mudah untuk diucapkan tapi begitu sulit untuk aku lupakan.setiap aku ingat bang Safi,hati ini berdenyut sakit.itu sebabnya kenapa aku mencari kesibukan disekolah,agar pikiran aku tidak hanya terfokus pada bang Safi walaupun pada kenyataannya bang Safi tidak bisa hilang diingatan aku “ Naima menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan lalu melanjutkan kembali ucapannya


“setidaknya,disana aku akan sedikit sibuk selama beberapa waktu dan kesempatan itu akan aku gunakan untuk menghilangkan rasa sakit dihati aku walaupun aku yakin tidak akan mudah “ lanjut Naima.


“ Jika itu memang pilihan kamu,pergilah,Abah mengizinkan.kamu juga berhak memilih jalan hidupmu asal masih berada dijalan yang Allah ridhoi” restu bah iman.

__ADS_1


“ Tapi Ima,apa kamu akan bilang pada nak Safi kamu akan pergi ke kota untuk mengikuti tes CPNS !?” tanya Bu Arum yang di jawab dengan gelengan kepala pelan oleh Naima.


“ kenapa ma,bukankah kamu harus tetap menjaga silaturahmi kamu agar tetap baik bersama safi.jangan pernah memutuskan tali silaturahmi Ima,pamali “ bah iman menasehati.


“ Bukan ingin memutuskan tali silaturahmi bah,tapi aku ga mau menjadi lebih merasa bersalah kepada wanita yang akan dinikahi bang safi karena beberapa kali bang Safi sempat meminta untuk aku ikut pulang menemui ibu dan adiknya dan akan membicarakan tentang masa depan kita pada wanita yang telah dia janjikan untuk dia nikahi.walaupun mereka akan menikah tanpa cinta,bukankah bang Safi sudah menjanjikannya menikah dan bang Safi harus bertanggung jawab atas ucapannya itu “ jawab Naima.


“ Jika itu memang keputusan kamu,lakukanlah,Abah dan ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu “ jawab bah iman pasrah


Sedangkan Bu Arum sedang memperhatikan percakapan anak dan suaminya sambil terus mengusap air mata yang terus keluar membasahi pipinya menangisi kisah cinta anaknya yang sangat menyedihkan dan juga membayangkan anak gadisnya untuk pergi keluar kota selama beberapa waktu meninggalkan mereka yang memang tidak pernah berpisah hingga waktu yang cukup lama.


Naima kembali menoleh ke arah ibunya yang tidak berhenti menangis.inilah yang tidak diinginkan Naima saat dirinya harus berbagi rasa saedih kepada ibunya.ibunya akan ikut menangis bahkan akan lebih merasakan sakit hati lagi karena melihat anaknya merasa sakit.


Naima kembali menghamburkan tubuhnya pada wanita uang telah melahirkannya dan kini giliran dirinya yang memeluk sang bunda untuk menenangkan dan meyakinkan sang bunda bahwa dirinya baik baik saja walaupun air mata kembali pecah saat memeluk ibunya.


“ Sudahlah Bu,aku akan baik baik saja,ibu jangan menangis.doakan aku agar semua cita cita aku untuk kita semua tercapai “ pinta Naima sambil memeluk erat tubuh ibunya yang menua.


“ Pergilah ma,doa ibu selalu menyertai setiap langkah dan setiap Hela nafasmu.bahagialah dengan kebahagiaanmu karena ibu dan Abah pun ingin melihat kamu bahagia “ isak Bu Arum dalam pelukan hangat anak gadisnya.


“ tapi bah,Bu ___” kini Naima melerai pelukannya dengan sang bunda dan berharap kedua orangtuanya menatapnya dan menuruti permintaanya.


“ Aku minta,Abah sama ibu jangan beri tahu bang Safi ya kalau aku mau pergi “ pinta Naima


“ tapi kenapa ma !?” Bu Arum bertanya.


“ berjanjilah Bu,bah “ pinta Naima tanpa menjawab alasannya pada kedua orangtuanya.


“ Insya Allah” ucap bah iman yang diangguki oleh Bu Arum.

__ADS_1


Naima pun bergerak mendekati kedua orangtuanya dan dengan susah payah memeluk keduanya secara bersamaan.


Bah iman membalas pelukan anaknya dengan membelai lembut rambut hitamnya sedangkan Bu Arum mengusap lembut punggung Naima dengan air mata yang tak kunjung henti.


__ADS_2