
Menjelang tidur,bah iman dan Bu Arum mengobrol tentang sikap anaknya yang terlihat tidak seperti biasanya.
“ Bu,ada apa dengan anak kita.sudah beberapa hari ini terlihat sangat murung.bahkan tadi saat Abah minta dia menemani Safi sebentar dia hampir saja menolak jika Abah tidak memaksanya karena Abah tidak kuat ingin buang air kecil “ tanya bah iman sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
“ Ibu juga tidak tahu bah,kemaren waktu ibu minta tolong antar rantang makanan pada Safi,Ima menolaknya,biasanya dia paling bersemangat jika sudah berhubungan dengan Safi “ Bu Arum tidak kalah bingung
“ ibu takut, anak kita mencintai Safi tapi Safi tidak mencintainya,bukankah Safi memang anak yang baik pada siapapun dan Ima tahu jika Safi tidak mencintainya “ tebak bu Arum
“ tanyakan saja langsung pada anaknya Bu, biasanya sesama wanita selalu terbuka.jangan Sampai anak kita memendam rasanya sendirian “ titah bah iman
“ iya,nanti ibu tanyakan.hmmm.ibu berharap anak kita segera mendapatkan jodoh yang dapat membahagiakannya bah,kasihan Ima,selalu mengorbankan kebahagiaanya demi kebahagiaan kita “ harapan Bu Arum.
“ kita doakan saja !?” ucap bah iman mengakhiri obrolan malamnya bersama Bu Arum.
❄️❄️❄️
Di tempat yang berbeda,Safi yang biasanya sudah terlelap karena harus bangun dini hari untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa terlihat sulit untuk sekedar memejamkan matanya.
Bayangan sikap dingin yang di tampilkan Naima ketika dirinya mampir ke rumah bah iman membuat semua pikirannya terfokus hanya pada gadis cantik kebanggaan bah iman tersebut.
Rasa takut Naima akan menjauhi dirinya ketika Safi harus memberi tahukan kejadian yang sebenarnya muncul lebih besar dari sebelumnya.
Naima benar-benar sudah mengalihkan semua perhatian Safi sehingga untuk terlelap pun dirinya sangat sulit.yang ada hanya bayangan dan senyuman Naima yang selalu membuatnya semakin yakin untuk terus memperjuangkan wanita cantik tangguh namun selalu terlihat menggemaskan dimatanya.
Namun,teringat ucapan bah iman yang mengatakan bahwa Naima sempat mampir kekontrakannya seminggu yang lalu tapi dia tidak mendapati Safi di kontrakan.
Bukankah satu Minggu yang lalu Naima mengajaknya untuk pergi menjenguk pa Zaki di rumah sakit tapi dirinya menolak dengan alasan dirinya lelah dan ingin beristirahat.
Tapi kapan Naima datang kerumah mengingat selama seharian penuh Safi tidak pergi kemana mana selain ke surau untuk melaksanakan sholat berjamaah itu pun hanya sholat Dzuhur karena selain itu dirinya lakukan di rumah.
“Apa yang sebenarnya terjadi,kenapa nay berubah sikapnya menjadi sangat dingin,terlebih tatapan mata Safi yang selalu menatap mata Naima dengan lekat tidak mendapatkan balasan karena selama mereka bersama tadi Naima sama sekali tidak menatapnya.
__ADS_1
Seolah menghindari kontak mata,Naima selalu terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain saat tatapan mata mereka nyaris bertemu.
Ada apa dengan Naima,apakah dia marah karena Safi tidak bisa ikut pergi ke rumah sakit bersamanya tempo hari,atau jangan jangan,ada sesuatu hal yang lain yang membuat Naima begitu marah padanya hingga untuk menatap wajah saja Naima terlihat sangat enggan.
Inilah yang Safi takutkan saat dirinya harus jujur tentang Nissa,wanita yang telah dia janjikan untuk menikah pada Naima,dia akan menjauhi Safi tanpa ingin tahu perasaan Safi yang sebenarnya.
Ya Robb berilah kekuatan untuk hamba dalam menghadapi dilema ini jika memang Naima jodoh hamba mudahkanlah untuk hamba dapat membahagiakannya dengan caraMu.
✨
✨
✨
✨
✨
“ Ga Bu “ jawab Naima singkat.
Semejak hari itu,Naima terlihat menjadi pribadi yang lebih pendiam.senyum yang selalu ditampilkan pada orangtuanya seolah senyum palsu yang terlihat sangat dipaksakan.
Tidak ada celotehan atau obrolan tidak penting yang keluar dari bibir merahnya.yang ada hanya jawaban jawaban singkat tanpa ada tambahan setelahnya.
Sebagai orang tua yang telah membesarkan Naima,Bu Arum dan bah iman sedikit peka dengan sikap putrinya yang terlihat lebih pendiam daripada biasanya.
Ada yang aneh dari anak gadisnya dan sebagai ibu,Bu Arum harus memberanikan diri menginterogasi putri semata wayangnya karena dirinya tidak ingin kejadian Naima yang memendam rahasia saat dirinya dipaksa berhubungan dengan rival kembali terjadi.
“ Kamu kenapa Ima,akhir akhir ini ibu dan abahmu lihat,kamu terlihat murung,apa kamu sakit !?” tanya Bu Arum mulai menelisik
“ tidak Bu,aku tidak apa-apa “ lagi lagi Naima menjawab singkat.
__ADS_1
“ jangan berbohong,ibu ini ibu kamu,apapun yang terjadi pada dirimu ibu pasti merasakannya,termasuk perubahan kamu yang akhir akhir ini menjadi pendiam.apa ini ada hubungannya dengan Safi !? Apa kamu mencintai Safi !?” Bu Arum mencecar anaknya dengan beberapa pertanyaan
Naima menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan
“ beneran Bu aku ga apa apa,lagian masa sih aku cinta sama bang Safi,bang Safi kan orang asing,ingatannya saja belum pulih.gimana aku bisa mencintainya “ jawab Naima bohong
“ Ima,mulut kamu bisa saja membohongi ibu,tapi mata kamu tidak dapat membohongi ibu.setiap kali kamu bersama Safi atau bahkan hanya mendengar nama Safi saja mata mu memancarkan binar bahagia yang belum pernah ibu lihat darimu pada pria sebelum Safi.bukankah mata pancaran dari hati dan isi hati kamu bisa ibu lihat dari pancaran mata kamu “ tutur Bu Arum.
Mendengar ucapan ibunya kini Naima menghelakan nafasnya secara kasar seolah beban berat sedang berada tepat dipundaknya.
“ Jika memang binar yang aku tunjukan Dimata aku adalah binar cinta,biar saja aku pendam rasa ini sendiri,karena aku ga mau ada yang tersakiti dari rasa cinta yang aku rasakan pada bang Safi “ jawab Naima ambigu
“ maksud kamu apa Ima !?” tanya Bu Arum tidak faham
“ Entahlah Bu,aku Cuma ragu saja dengan masa lalu bang Safi,aku takut bang safi sudah punya istri atau calon istri mungkin “ Naima menutupi fakta yang diketahuinya dari Bu Arum
“ Tapi ibu lihat sepertinya Safi juga memiliki perasaan yang sama sama kamu ma,kalaupun ada wanita yang dia cintai,tentunya dia tidak akan melupakannya mengingat Safi ___”
“ Bu,tidak usah menilai orang dari apa yang kita lihat apalagi kita tidak tahu betul siapa bang Safi,dan sebagai wanita akau ga boleh egois untuk terus menginginkan bang Safi sementara diluar sana ada wanita yang sedang menunggunya pulang “ ucap Naima keceplosan dengan perasaannya
“ Jadi benar kamu mencintai Safi !?” tanya Bu Arum memastikan ucapan Naima yang tanpa dirinya sadari telah membenarkan perasaan cintanya pada Safi dihadapan ibunya
“ ish,ibu apaan sih,udah akh aku cape,besok aku kerja lembur lagi “ Naima menghindari pertanyaan ibunya.
Naima pergi meninggalkan ibunya yang tengah menatap lekat punggung Naima yang terus berjalan masuk kekamarnya.
Dari jawaban yang diucapkan Naima semakin yakin saja untuk Bu Arum mengartikan bahwa anak gadisnya tengah dilanda jatuh cinta.jatuh cinta pada pria asing yang amat sangat terlihat baik dimatanya.pria yang telah mereka tolong dalam keadaan tidak sadarkan diri.dan kini pria tersebut telah mencuri hati anak gadisnya.
Setibanya di kamar,Naima memilih untuk langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.beban pikirannya membuat dirinya merasa sangat lelah dalam menjalankan hari harinya.hatinya yang selalu penuh bunga cinta untuk Safi seolah kosong karena mengetahui sang pujaan hati telah memiliki wanita lain yang telah menantinya kembali.
Ada perasaan bersalah pada diri Naima saat mengingat percakapannya dengan ibunya.naima tidak mau menambah beban untuk ibunya yang sudah harus merasakan kebahagiaan di usianya yang memasuki usia senja.
__ADS_1
Aku memang mencintainya Bu,tapi aku tidak akan mau menjadi perusak kebahagiaan wanita lain yang telah bang Safi janjikan untuk dia nikahi sekalipun bang Safi lebih memilih aku dari pada dia.