Istriku Calon Kakak Iparku

Istriku Calon Kakak Iparku
kisah Safi 6


__ADS_3

Bah iman dan Safi terlihat sedang berjalan menuju rumahnya dengan membawa ikan hasil tangkapan mereka pergi berlayar ke laut.semenjak Safi ikut pergi mencari ikan,hasil tangkapan bah iman pun berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan sewaktu dirinya menangkap ikan sendirian.


Mungkin karena jiwa muda Safi yang masih memiliki tenaga yang lebih kuat membuat dirinya tidak mengenal lelah untuk mencari ikan sebanyak banyaknya untuk mereka bawa pulang.


Berbeda dengan bah iman yang sudah mulai renta,yang terpenting pulang membawa hasil tangkapan tanpa perduli banyak atau sedikitnya yang terpenting dirinya membawa ikan untuk dijual dan bisa membawa uang untuk mereka menyambung hidup.


Safi sangat membantu untuk pekerjaan bah iman sehingga bah iman semakin hari semakin menyayangi Safi layaknya anaknya sendiri.bukankah bah iman sangat menginginkan anak laki-laki sehingga saat dirinya memiliki Naima,bah iman terkadang mengajarkan Naima menjadi wanita yang kuat seperti seorang pria tujuannya untuk dapat melindungi dirinya sendiri.


Dan kini,dengan binar yang lebih berbahagia,bah iman berjalan beriringan dengan Safi dengan membawa peralatan hasil berlayar beserta ikannya.


Ditengah perjalannya mereka berpapasan dengan rival yang tidak tahu telah dari mana,rival langsung menyapa bah iman lalu mencium punggung tangan calon mertuanya tersebut walaupun sangat sulit untuk mengganti statusnya menjadi mertua sungguhan ya namun rival sangat terlihat senang bertemu dengan bah iman.


“ Bah,baru pulang !?” tanya rival basa basi


“ iya nak rival ,nak rival mau kemana !? “


“ Saya ada urusan bah ,nanti saya mampir kerumah,oiya bah,jangan lupa terus bujuk Ima untuk segera mau menikah dengan saya,kelamaan,saya takut Ima berubah pikiran “ pinta rival pada bah iman agar kembali membujuk anaknya segera luluh untuk dipersuntingnya.namun tatapan mata rival sepertinya tidak di sadari oleh bah iman yang sesekali melirik sinis ke arah Safi yang berdiri tegak disamping bah iman.


Tidak tahu apa yang ada dalam pikiran rival ketika dirinya melihat Safi karena rival tidak pernah bisa bersikap baik dan bersahabat pada Safi padahal Safi selalu memberikan senyum hangatnya pada rival.


Safi sangat tahu bahwa rival adalah kekasih dari Naima karena selama dirinya berada dirumah bah iman,rival kerap kali datang mengunjungi Naima walaupun Safi sering melihat Naima yang tidak begitu antusias pada rival namun Safi tidak pernah mencampuri urusan pribadi mereka jika bukan Naima yang menceritakan hal pribadinya sendiri pada Safi.


Melihat keakraban bah iman dan Safi membuat dadanya semakin bergemuruh menahan emosi yang dirinya pendam sama halnya saat rival melihat kebersamaan Safi dan naima membuat kebencian yang timbul dari diri rival pada Safi bertambah.


Ada perasaan takut dalam diri rival saat melihat Safi benar benar akrab dengan keluarga Naima walaupun kerap kali mereka mengucapkan Safi sudah seperti keluarga sendiri tapi berbeda dengan pandangan rival yang menganggap Safi adalah saingan terberatnya untuk meluluhkan hati Naima agar bisa mau diajak menikah.

__ADS_1


Wajah tampan Safi menjadi salah satu faktor utama yang membuat rival tidak percaya dengan keberadaanya tidak akan mencuri hati Naima walaupun pada kenyataanya Safi dan naima sama sekali tidak berpikir untuk menjalin kasih seperti apa yang rival takutkan


“ Ya sudah bah,aku pulang dulu,jangan lupa ya bah pada naima.sebelum aku mengajak ayah kerumah untuk menemui Abah iman “ ucap rival yang terdengar seperti ingin melakukan silaturahmi antara ayahnya dan bah iman tapi ketahuilah,jika rival sudah mengatakan ayahnya akan datang,berarti rival sudah mengadu pada ayahnya dan akan meminta bah iman memaksa Naima untuk segera menikahinya dan artinya itu ancaman rival secara halus,karena bagaimanapun bah iman akan merasa tidak enak hati jika sudah berhadapan dengan ayah rival yang dulu pernah menjabat sebagai kepala sekolah ditempat dirinya berbagi ilmu dengan para siswa yang diajarkannya.


Kebaikan pa zaki sewaktu dirinya masih mengajar di sekolah membuat bah iman merasa memiliki hutang Budi sehingga bah iman sangat sulit untuk mengatakan tidak jika sudah berhadapan dengan pa zaki dan rival inimenjadikan kelemahan bah iman sebagai senjata untuk dirinya mendapatkan Naima.


Air wajah bah iman seketika berubah saat mendengar ancaman halus dari mulut rival.bah iman terlihat tersenyum yang dipaksakan ke arah rival karena sudah tidak tahu harus bagaimana lagi dirinya harus membujuk Naima agar mau segera menikah mengingat bah iman juga seorang ayah dari Naima,jadi kebahagiaan Naima adalah kebahagiaanya juga.


Selama ini bah iman sudah menuntut terlalu jauh pada Naima untuk mau menjadi kekasih rival dan kini ketika rival meminta dirinya membujuk Naima untuk menikah,dirinya sedikit enggan karena bah iman tahu,ada sesuatu yang mengganjal dihati Naima tentang rival namun hingga detik ini,anak gadisnya yang sangat penurut tidak pernah mengungkapkan isi hatinya pada cinta pertamanya tersebut.


“ insyaallah ya nak rival,Abah tidak janji “ ucap bah iman lirih,namun masih dapat terdengar jelas oleh rival dan Safi.


“ ya sudah bah,aku pamit dulu ya “ pamit rival pada bah iman tanpa menoleh kearah Safi yang sedari tadi berdiri disamping bah iman namun seolah makhluk tak kasat mata,rival benar benar menganggap Safi tidak ada.


Samar terlihat seringai licik di sudut bibir milik rival yang tidak tahu apa maksud dari seringai tersebut yang diarahkan saat dirinya menoleh ke arah Safi yang fokus pada bah iman.


“ bagaimana ini !?” keluh bah iman mengiringi perjalananya bersama Safi


“ Bagaimana apanya bah !?” tanya Safi bingung.


“ Ima,safi.kenapa dia sulit sekali untuk dibujuk menikah dengan rival !?”


“ mungkin belum siap bah “ jawab Safi menenangkan


“ Tapi,jujur Abah ngerasa ada yang aneh dari sikap Ima setiap kali diminta segera menikah dengan rival.dia selalu saja memberi alasan yang meskipun masuk akal tapi raut wajahnya selalu terlihat malas jika membahas urusan pernikahan “

__ADS_1


“ Ya mungkin,nay masih ingin mewujudkan cita-citanya untuk Abah dan Bu Arum “ Safi tetap terus berusaha menenangkan pria tua yang sedang terlihat gusar dan khawatir


“ Abah harap hanya begitu karena mengingat Naima menjadi kekasih rival kan atas permintaan ibu dan Abah,ya terutama Abah yang merasa tidak enak hati pada pa zaki,ayah dari rival “


Safi juga merasakan hal yang sama ketika melihat Naima yang selalu ada saja alasan jika diminta segera menikah dengan kekasihnya.namun Safi yang masih menjaga privasi Naima tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan percintaan gadis manis yang pandai menutupi kegalauan hatinya tersebut.


“ Ya sudah bah,dicoba saja lagi,siapa tahu kali ini berhasil ” Safi menyemangati bah iman yang sudah sangat cemas dengan anak gadisnya


“ semoga saja ya nak Safi, “ pasrah bah iman


Safi dan bah iman terus melanjutkan perjalanan pulang mereka dengan bah iman yang diselimuti dengan hati yang gelisah dan tidak nyaman setelah bertemu dengan rival.


Bah iman tahu,rival anak dari keluarga berada dikampungnya sehingga memberikan Naima pada rival membuat bah iman sedikitnya berpikir bahwa Naima tidak akan merasakan hidup susah karena menikah dengan pria yang terpandang dikampungnya.


Namun bah iman juga tahu Naima selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan jika bah iman sudah membahas tentang pernikahannya dengan rival.entah apa yang membuat Naima enggan untuk melabuhkan hidupnya bersama rival karena hingga saat ini bah iman takut menyakiti hati anak gadis kesayangannya jika harus menanyakan sebab dari keraguannya untuk menikah dengan anak dari pria terpandang seperti pa zaki.


...🔸...


...🔸...


...🔸...


...happy reading...


...🤗🤗🤗

__ADS_1


...


__ADS_2