Istriku Calon Kakak Iparku

Istriku Calon Kakak Iparku
kisah Safi 34


__ADS_3

Kunjungan kepala pusat dikantor Rinzani sudah tiba.kerjaan Safi di kantor tempat bekerja anak dari pa jamin itupun sudah selesai.


Upah dia bekerja selama beberapa bulan dikantor tersebut telah dia terima.nominalnya sudah terbilang cukup untuk dirinya gunakan untuk ongkos pulang menemui ibu dan adiknya serta wanita yang menantinya menikah.


Ditambah dengan uang yang dirinya sisihkan dari hasil berjualan ikan di pasar dijongko milik pa jamin bisa membawanya pulang bersama dengan Naima dan orang tuanya.


Bukankah Safi telah berjanji untuk membantu Naima mengumpulkan uang agar bisa membawa mereka pulang kampung.setidaknya,dengan berada di satu propinsi mereka bisa saling bertemu dan berkunjung tanpa memutuskan tali silaturahmi pikirnya.


Walaupun Safi masih berharap akan ada keajaiban yang Allah siapkan untuknya agar bisa menjadikan gadis cantik yang terus menjadi pusat perhatiany pendamping hidupnya.tapi Safi kembalikan semuanya pada ketetapan dan ketentuan yang Alloh berikan untuknya dan Naima.


Beberapa cara telah dirinya lakukan demi membujuk Naima agar mau menikah dengannya walaupun Safi telah mengatakan sejujurnya tentang perjalanan hidup antara dirinya dan wanita yang akan dirinya nikahi yang bernama Nissa tidak pernah ada cinta layaknya dirinya yang mencintai Naima tapi Naima tetap bersikukuh pada pendiriannya dan malah membuat hubungan mereka semakin merenggang


Naima semakin menjaga jarak pada Safi dan bahkan Naima sempat mengancam akan melarang Safi untuk memberikan apapun kepada keluarganya karena Naima merasa masih sanggup untuk menjaga dan merawat kedua orangtuanya tanpa bantuan apapun dari Safi jika Safi masih terus memaksanya untuk menghentikan pernikahannya bersama wanita yang Naima tahu bernama Nissa.


Akhirnya Safi memutuskan untuk pulang menemui ibu dan adiknya,namun tentunya sesuai dengan janjinya pada keluarga bah iman pulang ke kampung halamannya yang bisa ditempuh dengan perjalanan darat dari ibukota tempat dirinya tinggal.


dirinya akan membawa serta keluarga bah iman menemui ibu dan adiknya namun memperkenalkan mereka sebagai keluarga yang telah menolongnya bukan sebagai keluarga calon mempelai istri mengingat Naima yang sangat kukuh pada pendiriannya untuk tidak membatalkan pernikahan Safi dengan Nissa.


Hari ini Safi kembali akan mengunjungi rumah pa jamin untuk memberikan uang setoran kepada sang pemilik jongko.


Sepeti biasa,jika di akhir pekan dirinya akan mendapati Rinzani yang sedang duduk bersantai menikmati hari liburnya di teras rumahnya sambil menatap layar datar pada laptop kesayangannya hanya untuk menonton drama atau sesuatu yang sedang viral.


Untuk Rinzani,menonton di layar laptop dirasa lebih membuatnya nyaman di bandingkan di telepon pintarnya.selain karena layar yang lebih besar,zani tidak oerlua repot repot memegangi ponselnya dan bisa menontonnya sambil melakukan aktivitas lainnya dengan kedua tangannya.


“ Assalamualaikum,Zan,bapa ada!?” sapa Safi yang terdengar lebih akrab dengan Rinzani karena bekerja dibawah kendali Rinzani selama beberapa bulan membuat Safi lebih bisa mengakrabkan diri dengan anak pemilik jongko yang dirinya jaga.


“ Ada bang,tapi lagi di kamar mandi,tadi sih bilangnya kalau ada bang Safi suruh tunggu dulu sebentar.abang duduk aja dulu“Rinzani mempersilahkan sambil menoleh ke arah Safi sebentar lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


Safi kini duduk tidak canggung lagi karena Rinzani yang merupakan aanak pa jamin pemilik jongko ikan tempatnya berjualan di pasar sudah sangat terbiasa memintanya untuk duduk bersamanya walupun Safi masih dalam keadaan bau amis.


“ yaaa ampun so sweeet “ pekik Rinzani menatap ke arah layar monitor laptop.wajahnya merona merah melihat adegan yang entah apa yang sedang dirinya saksikan.


Safi yang duduk berhadapan dengan Rinzani hanya bisa menyaksikan raut wajah yang ditampilkan wanita yang sempat memberinya pekerjaan di kantornya tanpa tahu apa penyebab raut wajah Rinzani terlihat malu malu tapi mau seperti itu.


Sadar dengan tatapan dari orang yang ada dihadapannya,Rinzani menoleh ke arah Safi berada masih dengan senyum senyum sendiri.


“ bang Safi , liatin aku ya !?” kekeh Rinzani tertawa geli menertawakan kalakuannya sendiri.

__ADS_1


Safi tersenyum “ memang kamu sedang lihat apa, sepertinya kamu sedang terbawa perasaan ya !?” Safi penasaran.


“ Iya bang,ini ada pernyataan cinta viral banget,udah hampir lebih dari satu tahun tapi masih aja banyak yang nonton dan banyak yang suka,subskribers nya juga terus nambah aja “ jawab Rinzani masih dengan raut wajah yang malu malu sendiri.


“ itu settingan kali Zan “ jawab Safi asal.


“ Ga bang,aku denger,mereka menikah tanpa cinta,si perempuannya sempet mau di jual,jadi terpaksa di nikahin Tapi ga tahunya lama-lama eh si pria malah jadi bucin “ gelak Rinzani.


“ Apaan bucin !?” tanya Safi tidak paham


“ Ish bang Safi,bucin itu budak cinta.jatuh cinta akut.sempet ada artikel yang bilang kalau acara ini sengaja dirinya buat untuk mengenang kakaknya yang sudah meninggal terus sama pernyataan cinta yang memang dibuatkan khusus si pihak pria buat wanitanya yang sempet mau di ambil sama pria lain.biar si pebinor tahu kalo mereka saling mencintai dan si pria nya ga mau ada siapapun yang ngerebut istrinya dari pelukannya,yaaa ampuuun sosweeet kan bang,gimana ga bucin tuh orang.mana ganteng lagi.mau dong satu kaya dia “ Rinzani malah tenggelam dalam khayalannya.


“ Pebinor!? Apa itu pebinor !?” Safi kembali tidak paham dengan apa yang diucapkan Rinzani.


“ ish,bang Safi ini pebinor itu 'perebut bini orang ' “ jawab Rinzani yang di timpal dengan gelak tawa dari Safi.


“ Ya ampun,ada ada aja kamu “ Safi seolah mengejek Rinzani dengan menertawakannya.


“ Ish bang Safi,nich lihat aja sendiri sambil baca tuh artikelnya yang udah temen temen aku kirimin ada semua disana “ Rinzani terlihat kesal karena Safi seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.


Safi yang memang tidak berniat untuk melihat video yang sedang ditonton oleh anak pemilik jongko tersebut tak ayal menyaksikan juga video yang membuat Rinzani terlihat malu malu kucing saat menontonnya.


Safi terpaku menyaksikannya,bibirnya kelu.matanya seolah enggan untuk berkedip menyaksikan adegan yang Rinzani bilang dengan ucapan 'so sweeet '.ada ulasan senyum dibibir merah milik Safi yang membuat Rinzani merasa bangga karena merasa memiliki teman yang sama sama mengagumi video yang di anggapnya sangat romantis tanpa tahu apa yang dirasakan oleh Safi yang memiliki perasaan berbeda dengan dirinya saat menyaksikan video tersebut.


❄️❄️❄️❄️❄️


Hari keberangkatan Naima untuk pergi ke kota mengikuti tes CPNS pun tiba.Naima sudah membereskan semua keperluan yang akan dirinya bawa selama pergi ke kota beberapa lama.


Berbeda dengan tes CPNS yang diadakan di kota besar,desa tempat Naima berada sangat terpencil sehingga untuk mengikuti tes CPNS harus dilakukan di kota yang berjarak tempuh kurang lebih tiga jam dengan menggunakan kapal laut.


Demi mengobati luka hatinya karena mencintai pria yang telah memiliki calon istri,Naima memberanikan diri untuk meminta izin kepada orang tuanya untuk mengikuti tes CPNS.dan beruntung sakali,kedua orangtuanya sangat mengerti perasaan dan keadaan yang sedang dialaminya sehingga mereka tidak mempersulit izin keberangkatannya ke kota dengan catatan Naima dapat menjaga diri dengan baik dan masih dalam jalan yang diridhoi oleh Allah.


Niatannya untuk melupakan perasaannya mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama mengingat Naima pergi ke kota dengan membawa benda pemberian Safi sebagai alasan untuk kenang kenangan,karena Naima takut,saat dirinya kembali ke desanya,Safi sudah kembali pada ibu dan adiknya juga Nissa tanpa pamit dan Naima sudah sangat menyiapkan hatinya untuk itu karena ini pilihannya untuk tidak memberitahukan keberangkatannya pada safi.


Dimasukannya crown buatan tangan Safi diantara tumpukan baju yang dirinya masukan kedalam tas.air matanya kembali menetes.diusapnya segera pipi mulusnya untuk menghilangkan jejak basah dari airmatanya yang mengalir.


Dengan kekuatan penuh, Naima meyakinkan dirinya untuk teguh pada pendiriannya untuk tidak kembali goyah.demi menata hatinya kembali dan demi kebahagiaan orangtuanya,serta kebahagiaan wanita yang menjadi calon istri Safi disana.

__ADS_1


Safi memang tidak mencintai wanita yang dia ketahui bernama Nissa,namun bukankah cinta akan datang karena seringnya mereka bertemu seperti yang terjadi pada dirinya dan safi.dan untuk hatinya, seperti apa yang pernah diucapkannya pada Safi Naima tidak akan menyesali karena pernah mencintai pria yang sangat istimewa seperti Safi.


“ Bah, ibu.aku pamit pergi ya ! Doakan aku agar semuanya lancar dan akan baik baik saja “ pamit Naima meminta restu pada kedua orang tuanya.


“ Kamu yakin mau pergi Ima !?” untuk yang terakhir kalinya bah iman meyakinkan kesungguhan hati sang gadis buah cintanya bersama Bu Arum.


“ insya Allah aku yakin “ ucap Naima lalu mencium punggung tangan abahnya dan dibalas dengan usapan lembut di kepalanya sebagai tanda bah iman memberi restu dalam tindakan.


Sedangkan Bu Arum melihat anaknya sudah dengan lelehan air mata walaupun Naima belum mengucapkan kata pamit padanya.


“ ibu jangan nangis,kalo liat ibu nangis kaya gini,aku jadi ga tega untuk pergi” Naima menenagkan ibunya yang terus berderai air mata melepaskan kepergiannya ke kota.


Pasalnya ini untuk pertama kalinya mereka akan terhalang jarak dan waktu yang cukup lama selama mereka melahirkan menjaga dan membesarkan Naima.


Bu Arum mencoba menghapus jejak air mata di wajahnya sebelum akan mengucapkan kata kata


“ pergilah Ima,ibu akan selalu mendoakan mu.kami ingin melihat kamu bahagia karena kebahagiaanmu,bukan hanya karena semua pengorbanan mu “ ucap Bu Arum tulus lalu mencium puncak kepala anak gadisnya kemudian memeluknya dengan erat.


“ Makasih ya Bu “ tangis Naima pun kembali pecah dalam pelukan ibunya yang akan melepas kepergiannya mengikuti tes CPNS dikota.


“ Ima “ panggil bah iman lembut yang membuat Naima kembali menoleh pada abahnya yang berdiri tepatvdisamoing istrinya.


“ jika di tengah perjalananmu mengharuskan untuk kamu pergi dengan jarak yang lebih jauh tapi itu bisa membuatmu bahagia.pergilah.kejarlah kebahagiaanmu.abah dan ibu akan merestui setiap langkahmu dalam mengejar kebahagiaan hatimu “ pesan bah iman yang hanya balas anggukan oleh Naima walaupun tidak faham dengan apa yang diucapkan abahnya.


“ Baiklah,aku pamit.aku takut terlambat tiba di pelabuhan “ Naima hendak pergi namun sesaat terhenti mendengar pertanyaan ibunya.


“ Ima,apa kamu yakin untuk tidak pamit pada nak Safi !?”bu Arum meyakinkan untuk yang terakhir kalinya.


“ tidak Bu,aku sudah sangat yakin “ tegas Naima lalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang berdiri didepan teras rumahnya melepas kepergian Naima untuk menempuh kebahagiaannya.


Naima tiba di pelabuhan tiga puluh menit sebelum keberangkatan.ada sesak didadanya saat mengingat niatannya untuk pergi yang hanya ingin lari dari Safi.padahal hatinya masih sangat penuh terisi oleh Safi yang sangat luar biasa karena membuatnya jatuh cinta bahkan sejatuh jatuhnya.


Niatannya pun kuat saat harus mengingat wanita yang akan sangat bahagia karena mendapati Safi masih hidup dan kembali untuk menikahinya pikir Naima tanpa dirinya tahu.si wanita sudah lebih bahagia dengan cintanya.


Kapal sudah akan pergi,tatapan Naima pun lurus pada tempat dimana dirinya pernah bersama dengan Safi dan mungkin tidak akan pernah lagi bertemu karena setelah dirinya kembali dari kegiatannya mengikuti tes CPNS,Safi sudah akan pamit untuk kembali ke kota asalnya.


Jauh lamunannya menerawang pada masa indah dimana saat dirinya bersama Safi dan mengingat bagaimana dirinya harus mengontrol detak jantungnya saat berada bersama Safi hingga semakin lama kapal pun berjalan semakin menjauh dari desa terpencil tempat mereka saling memendam rasa.

__ADS_1


Hingga tiba tiba dirinya terhenyak saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


__ADS_2