
Setelah susah payah membujuk Naima untuk menemani dirinya yang sedang kedatangan Rinzani anak dari pa jamin pemilik jongko dimana dirinya mencari nafkah mampir ke kontrakannya.safi kini sedang menyiapkan makanan ringan untuk memberikan suguhan kepada tamunya yang sengaja dirinya beli di warung dekat rumahnya.
Naima memutuskan untuk mengiyakan permintaan Safi menemaninya bersama Rinzani karena selain luluh dengan semua bujukan yang dilakukan Safi,hati kecilnya pun tidak rela jika harus membiarkan Safi bersama dengan wanita lain sehingga dirinya mengiyakan permintaan Safi untuk menemaninya bersama Rinzani .
Kini Naima duduk tepat dihadapan Rinzani yang sedang mencoba kembali laptopnya yang telah diperbaiki oleh Safi di bangku berbentuk persegi yang cukup menampung kurang lebih sekitar enam orang itu.
“ Ima,kamu masih bekerja di sekolah !?” tanya Rinzani memecahkan keheningan sesaat setelah Naima duduk dihadapannya
“ iya Zan “ senyum Naima.
“ padahal kamu anak yang cerdas Ima,coba saja waktu keluar sekolah SMA kamu mau menerima tawaran beasiswa untuk kuliah di kota,mungkin saat ini kamu sudah memiliki karir yang bagus “ kenang Rinzani.
“ Iya,tapi kamu tahu sendiri kan,aku tidak mungkin meninggalkan Abah dan ibu berdua disini dalam jangka waktu yang cukup lama.lagi pula,bekerja di sekolah sebagai staf pembantu dibagian tatausaha sekolah sudah cukup membantu perekonomian kami “ Naima menjawab ucapan Rinzani dengan senyuman yang cukup membuat dirinya sendiri dilema saat mengingat beasiswanya yang dia tolak demi menjaga kedua orangtuanya.
padahal saat itu bah iman sangat mendukung penuh pendidikan yang akan ditempuh putrinya.namun rasa sayang yang Naima rasakan pada kedua orangtuanya membuat dirinya lebih memilih karir yang seadanya di kampungnya dari pada harus mengejar yang lebih bagus namun harus meninggalkan orang orang yang disayanginya.
“ dari dulu kamu memang tidak berubah Ima “ senyum Rinzani penuh kekaguman pada wanita yang pernah menjadi teman satu sekolahnya dulu.
“ oh iya,sepertinya kamu dan bang Safi cukup dekat,apa bang Safi masih ada hubungan saudara denganmu !?” tanya Rinzani tentang hubungan apa yang terjalin antara Naima dan Safi yang membuatnya terlihat penasaran.
Rinzani memang tidak mengetahui seluk beluk siapa Safi sebenarnya karena dirinya memang jarang berbicara dengan orang disekitarnya mengingat dirinya adalah wanita karir yang akan berada di rumah jika waktunya libur dan itupun dia gunakan untuk beristirahat atau sekedar melakukan quality time bersama keluarganya.
Dan kini melihat kedekatan Naima dan Safi pria yang telah membuatnya terpesona membuat jiwa keingintahuannya memuncak dan akhirnya menanyakannya pada Naima yang diyakini akan menjawab pertanyaannya karena Rinzani tahu tidak mungkin jika Safi adalah kekasih Naima yang diketahuinya telah memiliki hubungan bersama rival.pria yang pernah satu sekolah juga bersama dirinya dan Naima.
Mendengar pertanyaan Rinzani,membuat Naima bingung harus menjawab apa pasalnya Naima tidak mungkin jika menjawab bahwa Safi adalah abangnya karena dirinya kini menginginkan lebih untuk sekedar menjadi adik dari seorang Safi yang kini telah berhasil mencuri hatinya.
__ADS_1
Naima terdiam memikirkan jawaban yang akan diberikannya pada Rinzani yang terus memperhatikannya sambil menunggu jawaban atas semua pertanyaannya pada teman seangkatan SMA-nya dulu.
Namun kebingungan Naima dapat terselamatkan oleh kedatangan Safi yang membawa tiga botol minuman kemasan yang dibelinya di warung lengkap dengan makanan ringan yang akan disuguhkan olehnya untuk Naima dan Rinzani di tangannya.
“ Zan,apa sudah di cek kembali laptopnya !?” tanya Safi mengalihkan perhatian Rinzani yang awalnya menanti jawaban Naima menjadi pada pria yang telah memperbaiki laptopnya.
“ Eh i iya bang,,,tapi ada yang mau aku tanyain sih kalo Abang tidak keberatan” jawab Rinzani
Dan akhirnya Safi duduk tepat disebelah Rinzani menghadap pada layar monitor laptop yang berada tidak jauh dari tempat zani duduk.
Dengan seksama Safi memperhatikan pertanyaan anak gadis bosnya lalu menjelaskan semua pertanyaan yang membuat gadis cantik tersebut tidak faham dengan laptop yang sudah diperbaikinya.
Berbeda dengan Safi yang memperhatikan dan menjelaskan semuanya dengan seksama pada rinzani.gadis tersebut malah memperhatikan wajah tampan Safi yang tengah menjelaskan perihal masalah laptopnya dan bagaimana cara agar zani dapat kembali mengoperasikannya dengan baik.
Rinzani terlihat terkesima dengan cara Safi menjelaskan dan wajah seriusnya membuat Safi terlihat sangat tampan Dimata gadis yang bekerja sebagai salah satu staf penting di salah satu bank terbaik dikampungnya.
Ingin rasanya Naima mencokel sepasang mata milik Rinzani yang dengan sangat beraninya menatap pria yang selalu ada dalam mimpinya dengan penuh kekaguman.namun akal sehatnya masih sangat berfungsi dengan baik untuk tidak melakukan hal hal bodoh yang akan membuat harga dirinya jatuh Dimata Safi dan juga Rinzani.wanita yang pernah satu sekolah dengannya semasa SMA.
Sesekali Naima merubah posisi duduknya yang terlihat kurang nyaman oleh ujung mata Safi yang dengan diam diam memperhatikan Naima disela dirinya menjelaskan panjang lebar pada Rinzani.
Tersimpan senyum tipis yang Safi sembunyikan dari Rinzani saat melihat Naima yang kepergok sedang mencuri pandang padanya dan juga melirik tidak suka melihat Rinzani yang terus menerus melakukan tanya jawab kepadanya.
Sampai pada akhirnya Rinzani memutuskan untuk pulang karena dirinya harus segera menyelesaikan tugas kantornya yang sengaja dia bawa ke rumah agar pekerjaan itu segera selesai tepat waktu.
“ bang Safi,aku pamit pulang ya,makasih sudah memperbaiki laptopku dan maaf karena sudah sangat merepotkan “ ucap Rinzani pada Safi
__ADS_1
“ Tidak perlu sungkan “ senyum Safi tulus
“ ayo Ima,aku pulang duluan ya assalamualaikum “ pamit Rinzani pada Naima dan Safi
“ walaikum salam “ jawab Safi dan Naima bersamaan
“ Ya sudah bang,zaninya juga sudah pulang,aku juga pamit pulang ya “ kini giliran Naima yang pamit pulang karena dirasa sudah tidak diperlukan lagi oleh safi namun Safi mencegah kepergian Naima dengan menggenggam tangan Naima erat dan tentu saja membuat Naima mengurungkan niatnya untuk pulang.
“ kamu mau kemana !?” tanya Safi
“ pulang,Abang sudah tidak perlu lagi aku temani kan, orang Rinjaninya saja sudah pulang “ jawab Naima datar
“ Makasih ya sudah mau temani saya bersama Rinzani,jujur,saya belum terbiasa untuk berbicara berdua dengan wanita lain selain dengan kamu “ ucap Safi tulus.
“ Sekarang sih belum terbiasa,nanti lama kelamaan juga biasa,Abang ga bakalan lagi minta tolong aku temani “ ketus Naima namun dibalas senyuman oleh Safi yang membuat Naima semakin kesal.
“ kamu kenapa sih nay kelihatanya kesal sekali sama saya !? “ tanya Safi sambil terus tersenyum melihat tingkah Naima yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya “ Oia,maaf ya karena kejadian penyerangan yang dilakukan rival dan teman temannya tempo hari membuat kita harus kabur dan saya tidak jadi mentraktir kamu ke taman ria.saya janji,saya akan ganti lain waktu “ ucap Safi penuh penyesalan.
“ ga usah,uang Abang lebih baik ditabung saja untuk biaya Abang bisa pulang ke ibu kota “ jawab Naima tulus.
“ tapi saya masih penasaran mau ajak kamu jalan jalan “ Safi terlihat kekeuh dengan keinginannya.
“ Kalo Abang mau ajak aku jalan jalan,Abang cari waktu libur saja dulu nanti aku yang bawa Abang jalan jalan ke pantai biar lebih hemat biaya lagi pula selama abang disini,aku belum pernah bawa Abang jalan jalan ke pantai kan meskipun Abang sering kepantai buat cari ikan tapi belum pernah jalan sama aku “ Naima memamerkan barisan gigi putih nya yang rapi dihadapan Safi yang membuat Safi ikut tersenyum melihatnya.
“ ya sudah nanti kalo saya ada waktu libur saya akan bilang sama kamu dan saya akan ikut kemanapun kamu bawa saya asal jangan ke KUA ya saya belum ada modal “ goda Safi.
__ADS_1
“ dih ,siapa juga yang mau bawa bang Safi ke KUA.geer “ cibir Naima lalu tersenyum mendapati ucapan Safi yang terdengar sangat lucu di indera pendengarannya.
Gemas,Safi lalu mengacak acak puncak kepala Naima dengan lembut sambil terus melengkungkan bibirnya keatas .