
Setelah mendapati orang yang ditolongnya tersadar,bah iman merawatnya dengan telaten.tanpa pamrih,keluarga bah iman merawat Safi dengan tulus dan ikhlas.
Sebagai seorang laki laki satu satunya dirumah tersebut,bah iman selalu membantu Safi untuk membersihkan tubuhnya yang masih terkulai lemah dengan banyak luka parah ditubuhnya.
Setiap hari selalu datang dokter puskesmas yang sengaja anak gadisnya jemput untuk memeriksa keadaan Safi yang semakin hari semakin membaik terkecuali lukanya yang masih belum sembuh.
Selamatnya Safi salah satu keajaiban Tuhan yang paling besar mengingat Safi diduga menjadi salah satu korban dari kecelakaan pesawat walaupun di daerah mereka tidak ditemukan adanya pesawat jatuh dan entah dari mana safi datang hingga bisa sampai di pesisir pantai dan ditemukan oleh bah iman yang kebetulan saat itu sedang melakukan aktivitasnya sebagai nelayan.
Bah iman merupakan seorang pensiunan guru disalah satu sekolah yang berada di wilayah terpencil tersebut.
Tempat yang berada di paling ujung barat negara kita merupakan kota terpencil yang untuk mencapai kotanya saja harus menempuh perjalanan panjang sekitar delapan jam.
Tidak aneh jika disana internet saja masih terbatas dan belum semua provider dapat menangkap signal di tempat mereka tinggal.
Setelah Safi tersadar dari tidurnya yang sangat panjang,kini Safi mulai di berikan makan karena bagaimanapun Safi membutuhkan asupan makanan untuk membantu memulihkan kondisinya yang sangat lemah.
Setelah bah iman selesai membantu Safi membersihkan tubuhnya,datanglah bu Arum istri bah iman beserta anak gadis satu satunya yang mereka miliki membawa nampan berisi makanan dan minuman serta obat yang diberikan dokter puskesmas yang telah memeriksa Safi.
dengan ditemani bah iman dan Bu Arum,wanita cantik berambut panjang itu pun membantu menyuapi Safi makanan karena dengan kondisi yang masih dibalut dengan luka luka parah,Safi bahkan belum bisa untuk menggerakkan tubuhnya yang masih terasa kaku.
“ Kalau boleh tau,siapa nama Abang !?” tanya gadis manis berwajah ayu disela dirinya memberikan suapan demi suapan makanan ke mulut Safi.
“ Safi “ jawabnya masih lirih karena menahan rasa sakit.
“ aku Naima,anak dari Abah iman dan itu ibuku Bu Arum “ gadis manis itu memperkenalkan diri dan keluarganya pada Safi.
“ apa Abang benar-benar tidak ingat kenapa Abang bisa berada di atas serpihan bekas pesawat!?” tanya Naima masih penasaran.
Jawaban yang sama yang Safi berikan pada pertanyaan Naima dengan menggelengkan kepalanya karena Safi benar benar tidak ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
“ tapi Abang ingat keluarga Abang !?” tanya Naima lagi
“ saya masih memiliki seorang ibu dan adik laki-laki yang bernama Rasya” jawab Safi
“ tapi nak Safi ingat berasal dari mana !?” tanya bah iman penasaran.
“ Saya dari ibu kota ,tapi saya tidak ingat apa apa selain adik dan ibu saya “ jawab Safi.
__ADS_1
“ Jauhnya “ gumam Bu Arum yang dapat didengar oleh semua orang yang berada di ruangan tempat Safi di rawat.
“ Abang tidak ingat apa Abang punya anak dan istri gitu,karena sepertinya Abang terlihat sudah cukup untuk memiliki istri dan anak “ telisik Naima.
“ Husss,so tau kamu,dari mana kamu tau kalo nak Safi terlihat sudah cukup umur untuk punya anak dan istri?orang kamu saja belum menikah di usiamu yang sudah semakin tua “kesal Bu Arum pada anak gadisnya.
“ ish,ibu ini,maksa sekali sih untuk aku menikah “ timpal Naima yang kesal dengan ucapan ibunya yang selalu memintanya segera menikah
“ usia kamu sudah tidak muda lagi Ima,kamu sudah pantas untuk menikah dan memberi kami cucu lagian kamu kan sudah berpacaran lama dengan rival,apa kamu tidak takut rival di ambil orang karena selalu kamu tolak untuk diajak menikah!? “ bah iman ikut mengingatkan anak gadisnya.
“ kalo di ambil orang ya berarti belum jodoh bah “ jawab Naima santai sambil kembali memberikan suapannya kedalam mulut Safi.
“ sudah bang,sekarang Abang minum air putih lalu minum obat ya biar cepat sembuh “ Naima mengalihkan topik pembicaraan orangtuanya dengan mempeehatikan Safi
Safi hanya mendengarkan perdebatan anak dan orangtua yang saling memegang teguh pendirian mereka yang saling bertolak belakang.
“ dasar anak nakal,kalo bahas nikah,ada aja alasannya “ gumam Bu Arum yang ingin sekali segera melihat anaknya menikah.
Naima hanya diam tidak memperdulikan gumaman ibunya dengan fokus memberikan Safi obat.
“ sudah ya bang,sekarang istirahat saja lagi biar cepat sembuh “ ucap Naima tulus tanpa pamrih.
Bergantian dengan naima.giliran bah iman yang merawat luka luka yang ada di tubuh Safi dengan obat luka seadanya di tambah dengan obat tradisional dari tumbuh tumbuhan yang dapat membantu menyembuhkan luka luka yang ada disekujur tubuh Safi.
Sesekali Safi meringis kesakitan mendapati luka yang diobati bah iman yang terasa perih di tubuhnya.
“ Tahan ya nak,biar lukanya cepat sembuh “ ucap bah iman dengan tulusnya mengobati luka safi.pria yang ditemukannya mengambang diatas permukaan air di pesisir pantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
“ Terima kasih bah “ ucap Safi lirih saat bah iman telah selesai mengobati luka lukanya.
Berbulan bulan keluarga bah iman merawat Safi hingga luka Safi sedikit demi sedikit sembuh dan tubuh lemah Safi pun berangsur membaik dengan sangat sabar dan telaten.
Safi sudah mulai terbiasa dengan perlakuan baik dari keluarga yang telah menolongnya tersebut.hingga pada akhirnya Safi bisa turun dari tempatnya berbaring dan mulai melakukan aktivitas dirinya sendiri seperti mandi dan makan tanpa dibantu oleh bah iman,Bu Arum dan juga Naima.
Begitu pula dengan keluarga bah iman yang terlihat lebih lega dengan keadaan Safi yang berangsur membaik.naima Yang merupakan seorang tenaga honorer di kantor tatausaha disekolah tempat bah iman sempat menjadi guru pun sangat senang melihat pria yang selalu dibantunya untuk makan telah dapat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa dibantu siapapun lagi.
Safi keluar dari kamar yang diberikan bah iman untuknya beristirahat menuju dapur berniat membantu bah iman yang akan membersihkan alat alat yang selalu digunakan untuk mencari ikan.
__ADS_1
Setelah dirinya merasa sudah cukup kuat,Safi sadar diri untuk tidak hanya berdiam diri di tempat tidur dengan membantu pekerjaan bah iman untuk membereskan peralatannya sebagai nelayan.
Bersamaan dengan keluarnya Safi dai kamar menuju dapur,Naima pun pulang dari tempatnya bekerja dengan diantar oleh rival sang kekasih yang telah menemaninya selama kurang lebih dua tahun.
“ bang mau kemana !?” tanya Naima saat melihat Safi keluar dari kamarnya hendak berjalan menuju dapur.
“ membantu bah iman “ jawabnya datar sambil pandangannya sesekali beradu dengan mata milik rival yang berdiri dibelakang Naima sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
“ Oh,ya sudah “ timpal Naima
Tanpa.menghiraukan sepasang kekasih yang berada dihadapannya,Safi terus menuju tempat yang ditujunya
“ kamu bukannya mau pulang !?” tanya Naima pada rival saat melihat pria yang berstatus sebagai kekasihnya berdiri dibelakang tubuh rampingnya menatap Safi dengan tatapan yang tidak dapat terbaca olehnya.
“ Oh,i,iya,,,,,Ima,dia siapa !?” tanya rival sinis
“ o,dia bang safi.orang yang pernah ditolong Abah tempo hari,,,memangnya kenapa !?”
“ tidak,,,,,ya sudah,aku pulang dulu “ pamit rival sambil mendekatkan wajahnya pada Naima sepertinya hendak mencium bibirnya namun dengan sigap Naima memundurkan wajahnya dan menatap kekasihnya tanpa ekspresi.
Selalu begini,walaupun mereka terbilang cukup lama berstatus sebagai sepasang kekasih,tapi rival selalu gagal untuk sekedar mencium pipi Naima karena Naima selalu menghindar jika dirinya ingin menunjukan perasaan sayangnya lewat perlakuan.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
...bonusin vote yang banyak donk,biar tambah semangat nich nge up nya...
...😔...
...happy reading...
__ADS_1
...🤗🤗🤗...