Istriku Calon Kakak Iparku

Istriku Calon Kakak Iparku
kisah safi 13


__ADS_3

Safi sangat bersyukur,disaat dirinya tidak dapat mencari uang bersama bah iman karena perahu layarnya yang rusak parah karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab,Safi kini bisa ikut berdagang di jongko ikan milik pa jamin.


Seminggu pa jamin mempekerjakan Safi untuk ikut berdagang bersamanya membuat dagangan ikan pa jamin meningkat beberapa persen.


Kecakapan Safi dalam berdagang dan keramahannya membuat para pembeli lebih memilih membeli ikan di jongko milik pa jamin yang dijaganya terlebih para ibu ibu genit yang secara terang terangan mengagumi ketampanan Safi membuat jongko ikan milik pa jamin selalu dikerumuni oleh para pembeli wanit dan Safi tidak pernah merasa keberatan.namun berbeda dengan Naima yang sengaja mengajak Bu Arum untuk belanja di pasar ikan tempat Safi berjualan.


Entah mengapa Naima merasa risih melihat Safi yang dikerumuni oleh para wanita ibu ibu muda hingga yang sudah berumur.mereka yang tersenyum genit tebar peson pada Safi membuat Naima kesal melihatnya.


Semenjak kejadian Naima yang melihat Safi tampak lebih ganteng saat habis mandi,pikiran Naima menjadi tidak menentu jika sudah tertuju pada safi.hari harinya dipenuhi dengan safi.dan tidak jarang Naima amat sangat merindukan Safi padahal dia baru saja mengantarkan rantang makanan yang di suruh Bu Arum untuk di berikan pada Safi sebagai menu makan malamnya.


Di kantor TU tempatnya bekerja pun tidak luput dari bayangan safi.ternyata berjauhan dari Safi membuat perasaan Naima berubah dari menganggap Safi sebagai Abang yang amat sangat dia harapkan menjadi sosok pria idaman yang selalu dia impikan.


Dan pagi hari dimana waktunya Naima libur bekerja.dia mengajak sang ibu berjalan jalan kepasar.ajakanny sih untuk belanja kebutuhan dapur karena kebetulan sebelumnya Naima sudah mendapatkan gaji bulanannya.namun Bu Arum tidak tahu,bahwa dibalik niat anak gadisnya mengajaknya berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapurnya,sebenarnya Naima ingin melihat Safi ketika bekerja membantu pa jamin berdagang di jongko ikannya .


Namun sepertinya pemandangan mata Naima yang melihat Safi sedang dikerumuni oleh para wanita baik yang single maupun yang sudah menikah membuat hati Naima seketika panas.ingin rasanya membubarkan kerumunan ibu ibu dan wanita muda genit itu menjauh dari Safi tapi Naima tidak seberani itu.bu Arum menjadi salah satu alasan dirinya bisa mengerem niat bodohnya karena dia yakin.bu Arum akan menceramahinya.


Naima berusaha menutupi rasa kesalnya pada pembeli dagangan Safi yang kebanyakan ibu ibu tua dan muda yang lebih terlihat sedang menggoda Safi dibandingkan membeli dagangan ikan Safi dengan terus berjalan ke arah jongko tempat Safi berjualan.


“ assalamualaikum “ sapa Bu Arum


“ Walaikum salam,eh ada Bu arum “ balas Safi dengan senyum merekahnya saat melihat keberadaan Bu Arum dan Naima di depan jongkonya.


Bu Arum membalas senyum Safi dengan senyum hangatnya.

__ADS_1


“ ehm “ Naima berdehem seolah mengingatkan Safi bahwa selain Bu Arum,ada juga dirinya berdiri tepat di samping Bu Arum agar Safi menyapanya juga.


“ Eh,nay,kamu lagi libur ya mampir ke sini !?” sapa Safi tersenyum tanpa merasa bersalah.


“ iya bang,aku ajak ibu ke pasar untuk belanja sayuran,dan sekalian mau cari ikan juga “ jawab Naima


“ Baguslah,ada sesuatu yang bisa ibu bawa.tadinya sepulang saya dari sini mau mampir ke rumah,tapi karena kalian ke sini jadi bisa sekalian kalian bawa juga.apa tidak repotkan jika sekalian bawanya !? “ tanya Safi


“ memangnya apa nak Safi !?” tanya Bu Arum


“ seperti biasa,ikan jatah saya dari pa jamin Bu “ jawab Safi sambil memberikan ikan yang telah dibeli pada pembeli terakhir yang sedang dia layani.


“ apa tidak apa-apa membawa ikan yang harus di jual di bawa pulang nak Safi !? “ tanya Bu Arum


Bu Arum dan Naima pun saling pandang dan tersenyum mendengar jawaban yang diucapkan safi.ucapan Safi menambah nilai plus untuknya Dimata Naima yang sedang gelisah dengan rasa yang tiba tiba tumbuh tanpa permisi di dalam hatinya.


Andai saja Safi sudah mengingat semua masa lalunya selain ibu dan adiknya,dan Safi benar benar belum memiliki pasangan,mungkin Naima akan lebih memilih berusaha mengambil hati Safi dibandingkan harus mempertahankan hubungannya dengan rival yang sudah sangat Naima tahu kelakuan busuknya.


“ nay,kok diam !?” tanya Safi yang sedari awal dirinya melihat Naima Safi terus saja memperhatikan Naima dalam diam.


“ ah tidak,aku sedang berpikir kita mau beli apa lagi untuk keperluan dapur.mumpung masih ada di sini takutnya nanti pas sampai rumah ada yang terlewatkan “ jawab Naima berasalan.


“ Ya sudah nak Safi,kita pamit pulang dulu.makasih ikannya.jangan lupa mampir,mumpung ada Naima libur.kita makan bersama lagi “ ucap Bu Arum yang tanpa disadarinya membuat anak gadisnya merona karena menjadi alasan meminta Safi mampir kerumahnya padahal Bu Arum hanya ingin kembali berkumpul seperti sebelum Safi pindah ke rumah kontrakannya karena Bu Arum merasa rindu makan bareng bersama pria yang kini selalu membantunya dalam urusan keperluan dapur.

__ADS_1


Safi tersenyum simpul mendengar ucapan Bu Arum terlebih ke arah Naima yang membuat gadis itu terlihat semakin salah tingkah dengan denyum indah yang diberikan Safi padanya.wajah meronanya tidak dapat di tutupi dari Indra penglihatan Safi sehingga Safi terkekeh pelan melihat Naima yang begitu menggemaskan dalam posisi sedang salah tingkahnya.


“ ya sudah bang,kita pamit ya mau sekalian melanjutkan belanjanya “ pamit Naima mengalihkan dirinya yang sudah salah tingkah dengan ucapan ibunya dan senyuman manis Safi yang dilihatnya.


Bu Arum dan Naima pun pergi meninggalkan jongko Safi menuju tempat berikutnya yang akan mereka singgahi untuk membeli beberapa keperluannya yang masih kurang.


“ ibu,kenapa tadi pake alesan aku buat bang Safi mampir kerumah !?” protes Naima pada ibunya saat mereka tengah berada dalam perjalanan pulang


“ memangnya kenapa?memang kamunya sedang liburkan,jadi kita bisa makan bersama.ibu rindu sudah lumayan lama kita tidak makan bersama “ jawab Bu Arum tanpa merasa bersalah


“ sebelum ada bang Safi kan kita makan bertiga “ timpal Naima yang sebenarnya merasakan hal yang sama dengan ibunya.Rindu makan berempat bersama orang tuanya dan juga Safi.


“ entahlah Ima,keberadaan Safi dirumah membuat ibu merasa lengkap dan keluarnya Safi dari rumah kita membuat ibu merasa sedih.memangnya kenapa sih kamu kok gitu aja sewot !?” tanya Bu Arum


“ bang Safi tadi melirik ke arah aku,emangnya ibu tidak lihat udah gitu senyum pula.kan aku malu “ Naima setengah berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya namun. Masih jelas terdengar di telinga Bu Arum


“ Alah,gadis macam kamu ada malunya juga,biasanya kamu nyeroscos didepan Safi waktu kita masih tinggal bareng kamu ga pernah malu.kenapa sekarang dilirik sambil senyum saja sama Safi kamu tiba tiba jadi gadis pemalu gitu.heh ibu tidak percaya “ ucap Bu Arum heran dengan anak gadisnya yang tiba tiba menjadi gadis pemalu jauh dari kesehariannya.


“ akh,tau lah terserah ibu “ Naima pasrah


Kenapa anak itu,aku tidak salah ngasih dia sarapan kan tadi sebelum berangkat ke sini batin Bu Arum yang terus melihat Naima yang berjalan sambil mengerucutkan bibir tipisnya tepat disebelahnya dengan tangan yang penuh dengan jinjingan belanjaan.


Aku ini kenapa sih bisa salah tingkah gini.aaakh bisa gila aku kalau terus kaya gini batin Naima

__ADS_1


__ADS_2