Istriku Calon Kakak Iparku

Istriku Calon Kakak Iparku
kisah Safi 4


__ADS_3

Waktu isya telah tiba,bah iman dan Safi yang menghabiskan waktu sholat magrib hingga menjelang isya di surau terdekat dengan rumah bah iman sudah menjadi rutinitas harian Safi setelah dirinya mulai bisa berjalan kembali.


Safi mulai mengikuti semua kegiatan yang bah iman lakukan termasuk ikut pergi menjadi nelayan ke laut untuk membantu bah iman menangkap ikan sebagai mata pencaharian bah iman agar tetap bisa menyambung biaya hidup mereka setelah bah iman memasuki masa pensiun.


Tidak ada yang bisa bah iman harapkan dari dana pensiunnya yang sangat minim.sehingga di usia yang tidak muda lagi bah iman memilih menggantungkan hidupnya untuk menjadi nelayan demi dapat menafkahi keluarganya.


Naima sendiri bekerja menjadi honorer di sekolah tempat bah iman mengajar dulu namun jangan pernah mengharapkan gaji yang besar karena untuk dapat menjadi salah satu pegawai disana saja sudah menjadi keberuntungan bagi Naima.setidaknya dirinya masih bisa menghasilkan uang meskipun tidak banyak namun Naima tetap tekun dalam melaksanakan tugasnya.


Begitu besar cita cita Naima sehingga di usia yang sudah seharusnya memiliki keluarga ,Naima lebih memilih untuk tidak menikah walaupun dia memiliki kekasih yang dapat dibilang cukup berada untuk ukuran orang dikampungnya.


Mendapat rival salah satu cita cita terbesar para gadis seumurannya di kampungnya tersebut mengingat paras Rival yang ganteng dan berasal dari keluarga terpandang membuat siapa saja akan luluh pada pesona sang Arjuna kampung yang memang sangat terpencil itu.


Namun itu semua tidak menjadi alasan untuk Naima ingin segera dipersunting oleh rival walaupun sering kali orangtuanya mendesak dirinya segera menikah mengingat begitu banyak rasa yang terpendam di hati Naima yang dirinya sendiri tidak tahu harus mengadukan ini pada siapa selain pada Tuhan disetiap doa dan sujudnya.


Dan kini,sambil menunggu bah iman Dan Safi yang pulang dari surau,Naima dan Bu Arum pun menyiapkan makan malam untuk mereka di meja makan yang selalu menjadi tempat setia keluarga kecil nan hangat tersebut melakukan aktivitas makannya.


Safi memang benar benar beruntung karena ditolong oleh orang orang baik seperti keluarga bah iman karena disini Safi tidak kehilangan kehangatan sebuah keluarga walaupun dirinya orang asing namun bah iman dan keluarganya memperlakukan Safi layaknya keluarga. bahkan Naima sangat antusias karena dengan kehadiran Safi,dirinya merasa memiliki kakak laki-laki yang sangat diinginkan oleh kedua orangtuanya sekaligus dapat menemani hari harinya yang kadang merasa sepi.


“ Ima,tadi nak rival kemari “ Bu Arum bercakap cakap disela dirinya menyiapkan makanan di atas meja yang dibantu oleh Naima.


“ kenapa ke sini,kan dia tahu aku masih di sekolah !?” jawab Naima datar


“ dia sempat menanyakan Safi pada kami “


“ bertanya tentang bang Safi,menanyakan apa !?” Naima masih sibuk dengan membereskan makanan berserta alat mereka untuk makan


“ Ya begitulah “ jawab Bu Arum ambigu

__ADS_1


“ ish ibu ini,aku tanya jawabnya Cuma begitulah “ timpal Naima malas mendengar jawaban ambigu ibunya.


“ Tadi dia sempat membahas ingin segera menikahi mu dan meminta kami untuk membujukmu agar kalian bisa segera menikah “


“ assalamualaikum “ ditengah perbincangan ibu dan anak gadisnya terdengar ucapan salam dari bah iman yang membuat perbincangan itu sejenak terhenti


“ Walaikum salam,kenapa Abah sendiri,kemana Safi !?” tanya Bu Arum saat mendapati suaminya pulang seorang diri tanpa Safi


“ Sedang ngobrol sebentar bersama pa ustadz di belakang Abah,sebentar lagi juga sampai “ jawab bah iman sambil berlalu kekamarnya untuk mengganti bajunya.” Kenapa Bu !?” tanya bah iman melihat istri dan anaknya yang terlihat serius


“ ini ,ibu sedang membicarakan soal nak rival tadi siang bah “ jawab Bu Arum


Dan tidak lama bah iman pun sudah berada di meja makan mendekati anak dan istrinya.


“ iya ma,tadi siang sepulang Abah menangkap ikan,nak rival datang kemari menanyakan perihal pernikahan,apa kamu tidak berniat ingin segera menikah dengan rival !? Abah jadi heran,diluar sana banyak gadis yang ingin menjadi kekasih rival,tapi kamu sendiri diajak nikah malah susah “


“ cita cita apalagi sih nak,bukankah fitrah seorang wanita adalah menikah dan menuruti suaminya !? “ sahut bah iman


“ Justru itu bah,kalo aku sudah menikah dengan rival, gimana aku bisa mewujudkan cita cita Abah sama ibu untuk bisa pulang kampung.bukankah rival asli orang sini jadi kalo aku sudah menikah itu artinya aku tidak bisa untuk sekedar mengunjungi kampung kita yang sangat jauh itu bah,jangankan untuk biaya perjalanan,untuk aku bisa memberi Abah dan ibu saja aku tidak bisa janji.secara uang yang aku terima dari rival harus aku pertanggung jawabkan,apalagi untuk biaya pulang kampung.memangnya Abah dan ibu tidak rindu kampung halaman apa dan akan terus menghabiskan sisa umur kita disini.aku saja yang pergi di usia tujuh tahun rindu dengan tanah kelahiran ku,apalagi Abah dan ibu yang besar disana !? “ Naima mengingatkan keinginan terbesar kedua orangtuanya untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Sunda yang mereka tinggalkan hanya demi mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan untuk menjadi guru di wilayah terpencil tersebut belasan tahun yang lalu.


Karena dedikasinya pada profesinya sebagai tenaga pengajar,bah iman menyetujui ketika dirinya harus di mutasi ke kota paling ujung di barat tanah air kita mengingat kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas yang ada di wilayah tersebut dan membawa istri serta anak perempuan semata wayangnya yang masih berusia tujuh tahun untuk ikut pindah agar tugasnya sebagai guru dan kepala keluarga dapat terlaksana dengan sempurna.


Dan berakhirlah disini,dikota terpencil ini.mendapat uang pensiunan yang tidak seberapa membuat bah iman terjebak bersama keluarganya tanpa bisa kembali ke kampung halaman tempat mereka dilahirkan mengingat biaya transportasi yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit.serta akses jalan yang sangat jauh pun membuat mereka harus benar benar manabung jika mereka ingin kembali ke tanah kelahirannya dan Naima berusaha sedikit demi sedikit mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar dirinya bisa membawa orangtuanya kembali ketempat asal mereka,tanah Sunda.


“ sudahlah nak,tidak perlu memikirkan kami,melihat kamu bahagia saja Abah sudah cukup.jika memang takdir Allah mengharuskan kita hidup disini hingga akhirnya kami mati disini,kami ikhlas,asalkan bisa melihat kamu bahagia bersama suami dan anak anakmu “ ucap bah Iman tulus.


Naima hanya terdiam mendengar ucapan tulus yang keluar dari pria tua yang menjadi cinta pertamanya tersebut.kasih sayang yang dia dapat dari sang ayah membuat Naima selalu lemah jika berhadapan dengan makhluk Tuhan paling kuat yang dirinya ketahui karena telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan untuk keluarga kecilnya.hatinya selalu luluh jika abahnya meminta dan lidahnyapun selalu terasa Kelu jika harus mengucapkan kata tidak untuk menolak semua permintaan bah iman.

__ADS_1


Naima pun mendekati Bu Arum dan bah iman yang sudah berdiri saling berdampingan.


“ bah,Bu,izinkah aku mewujudkan cita cita terbesar aku untuk membawa kalian pulang ke kampung halaman kita.untuk urusan jodoh,aku yakin Alloh akan memberikan yang terbaik buat aku dan juga Abah sama ibu.jika memang rival yang terbaik buat aku, insyaallah semuanya akan mudah tanpa kita harus memperdebatkan semua ini.aku mohon sama Abah dan ibu.kasih aku waktu.ya !?” ucap Naima sambil merangkul tubuh ibu dan abahnya bersamaan.


Bah iman dan Bu Arum pun hanya terdiam mendengarkan permintaan anak semata wayangnya yang memang penurut walaupun terkadang membuat mereka kesal dengan sikapnya yang acuh pada Rival.anak dari mantan kepala sekolah tempat bah iman mencari nafkah.


Saking seriusnya mereka memperdebatkan masalah pernikahan naima.mereka tidak menyadari bahwa Safi berada dibalik tembok menyaksikan keharuan yang terjadi dari keluarga kecil yang selama ini menolong dan merawatnya dengan baik,tulus dan ikhlas tanpa pamrih.


Disini Safi mengetahui fakta,bahwa keluarga bah iman adalah perantau dari tempat yang sangat jauh dari tempat mereka tinggal dan mereka amat sangat.mengingikan pulang ke kampung halamannya agar bisa merasakan masa tua di tanah kelahirannya.


Helaan nafas kasar keluar dari deruan nafas Safi mengingat kendala terbesar yang keluarga hangat ini rasakan adalah uang yang dapat membawa mereka kembali ke rumah mereka yang daerahnya lebih dekat dari ibu kota dibandingkan di tempat terpencil ini.


Meskipun ingatan tentang dirinya yang tidak sepenuhnya ada masih belum dapat dirinya ingat,namun Safi akan berusaha untuk membantu keluarga bah iman agar bisa pulang ke kampung tempat mereka dilahirkan.


Bukankah dirinya sudah kembali dapat beraktivitas meskipun masih ada sisa nyeri di tubuhnya namun Safi yakin dirinya bisa membantu keluarga bah iman untuk mencari nafkah dengan cara apapun itu yang terpenting halal.


..._...


..._...


..._...


..._...


..._...


...jangan lupa kasih bonus votenya ya buat author😁...

__ADS_1


__ADS_2