
"Lho koq..Roy?!" gumam Hasna.
"Lho koq...maaf kalau gak salah ini motornya Hasna dan saya masih ingat betul dengan logo HSN di plat nomor nya," ucap laki-laki itu setelah mendekati Hasna dan Lintang.
"Hehe...memang," balas Hasna.
"Jadi betul ini motor nya Hasna? dan Anda siapa?" tanya Roy.
Laki-laki itu adalah Roy yang beberapa tahun lalu sempat menjadi lawan Hasna saat balapan liar.
Hingga Hasna memenangkan motornya yaitu yang saat ia ia kendarai ya Valentino dan setelah penyerangan malam itu Hasna tidak pernah bertemu kembali dengan Roy.
Saat sekarang berjumpa tentu saja Roy tidak mengenalinya, karena Hasna sudah menggunakan cadar.
Namun mengapa Roy hari ini ada di kampus Hasna dan mengapa Roy berjalan pincang serta menggunakan Kruk? itu pertanyaan yang ada di benak Hasna.
"Na, lo kenal dengan orang ini?" tanya Lintang.
"Dulu rival gue balapan liar Lin, nah Vallentino ini, dulunya motor dia yang gua menang kan," jawab Hasna.
"Ouh..tapi koq sekarang jalannya pincang gitu sih? dan menggunakan kruk lagi," tanya Lintang kembali
"Entahlah! itu yang gue pikirkan Lin dari tadi. Gue juga bingung Padahal dulu dia mirip gangster gitu, nanti gua tanyakan deh! Lo mau enggak? temenin gua ngobrol sama dia, itu juga kalau dia mau diajak ngobrol sih," ucap Hasna.
"Oke Na, gue bakal menemani elo untuk ngobrol dengan dia, Gue turun dulu deh ini repot bener duduk nya," tukas Lintang sembari turun dari motor Hasna.
"Baiklah," ucap Hasna sembari membuka helm nya.
kemudian Hasna menyapa Roy
"Assalamu'alaikum Roy! gue Hasna koq Roy," jawab Hasna dari pertanyaan Roy tadi.
"Wa-W-Wa'alaikum salam.." jawab Roy
"Hooo, serius elo Hasna? oh my God, koq bisa sekarang tertutup begini? cewek seksi dan pemberani yang pernah gua lihat! bisa menutup dirinya dengan baik. oh GOD!" ucap Roy kembali dengan terkagum- kagum.
"Ahahaha... lo bisa saja Roy. Alhamdulillah gue mendapatkan Ilham dari setiap hikmah kejadian yang gue alami."
"Maaf Roy ngomong-ngomong, itu kaki lo kenapa?" tanya Hasna sedikit ragu, namun ia memaksakan diri bertanya.
"Ouh ini.. Empat tahun lalu, gua kecelakaan mobil Na!" jawab Roy.
"Innalilahi..bisa kita bicara Roy? itu juga kalau enggak keberatan, gue ingin mendengar cerita lo, mungkin nanti gue bisa bantu apa yang sedang lo butuhkan saat ini," ujar Hasna.
Lintang hanya terpaku dan diam menatap mereka berbicara, karena ia belum mengenal Roy.
"Oh dengan senang hati Na! gue akan menceritakannya karena lo sudah peduli dengan kondisi gue, tapi.. apa lu nanti tidak terlambat masuk kelas?" tanya Roy.
"Nanti koq, masuknya selepas Dzuhur Roy, masih Ada Waktu koq. Sekarang kita ngobrol di kantin sembari Makan siang, yuk," ajak Hasna pada Roy.
__ADS_1
"Oke, Na!" jawaban singkat Roy.
**
Setelah Hasna mengajak Roy berbincang, kini mereka sudah berada di kantin.
Sebelum Hasna mengobrol dengan Roy, ia berkirim pesan pada Afnan.
Pesan Hasna:
Hasna: "Assalamu'alaikum By! By.. Byby masih ingat Roy kan?"
Afnan: "Wa'alaikum salam Sayang. Roy yang di area balap liar?"
Hasna: "Iya By..."
Afnan: "Iya Sayang! lalu?"
Hasna: "Nana baru saja bertemu dengan nya, dan tahu tidak By, Roy saat ini jalan nya pincang serta menggunakan Kruk."
Afnan: "Innalillahi, apa yang terjadi dengan Roy?"
Hasna: "Nah itu dia yang membuat Nana penasaran, maka dari itu Nana berkirim pesan pada Byby yaitu hendak izin berbincang dengan Roy. Tidak berdua koq By, kita berbincang bersama Lintang juga."
Afnan: "Iya sayang, boleh koq."
Hasna: "Terimakasih By."
Afnan: "Sama-sama sayang."
Afnan: Iya sayang, Love you more, Wa'alaikum salam."
--
"O ia Roy, perkenalkan ini
Lintang. Doi sahabat gue di Jakarta dan sekarang jadi Adik ipar gue, dan makanya kita kuliah di kampus yang sama, biar sama-sama terus," ucap Hasna setelah ia memesan makanan.
"Oh, hai Lintang! gue Roy, Sorry ya gue bukan cowok baik-baik jadi cara bicara gue begini. Jujur saja, dulu gue memang sempat balapan liar sama Hasna dan dia pembalap perempuan satu-satunya yang dapat mengalahkan gue!" ujar Roy memperkenalkan diri.
"Hai Roy, gue Lintang. Tidak apa-apa koq, gue hargai karena lo tidak munafik kan, Maaf ya gue juga belum lama hijrah, makanya percakapan kita juga masih amburadul begini. Ya walaupun kita tinggal di pesantren tapi kalau untuk dengan Hasna, percakapan kita tidak berubah tetap pakai panggilan elo, gue," ucap Lintang sembari mengatupkan kedua tangan memperkenalkan diri juga pada Roy.
"Hehe.. jadi kalian tinggal di pesantren? Waah seru banget kayaknya! boleh dong gue belajar memperdalam Agama tapi gratis gitu, buat orang cacat kayak gue, hehe.." ucap Roy malu-malu.
"Iya Roy, kami tinggal di pesantren, karena suami kami adalah Putra Kyai dari pemilik Pesantren tersebut. Masya Allah. serius lo Roy? dengan senang hati Roy, gue dan suami gue akan menerima lo, gue yakin suami gue enggak akan keberatan koq, kalau lo mau belajar Agama di pondok pesantren milik Abi nya, jangan bicara begitu lah Roy," ucap Hasna.
"Wah, hebat kalian bisa menikah dengan Putra Kyai. Pasti kehidupan lo berdua agamis Banget yah. Hehe..wah terima kasih banyak Na, Semoga dengan gue bertemunya lo kembali. Gue mendapat kesempatan hijrah yang lebih baik lagi ya Na, tapi sekarang ini gue masih teraphi sih, ini saja belum lama gue bisa jalan lagi," ujar Roy.
"Aamiin ya rabbal A'lamiin, SubhanAllah. Maaf Roy, lo kecelakaan nya sampai separah itu?" tanya Hasna.
"Iya Na parah, Empat tahun lalu gue terlibat kejar-kejaran mobil dengan polisi, saat gue mencoba melarikan diri dari pengejaran mereka." ujar Roy
"Lho.. karena balapan liar?" tanya Hasna karena penasaran.
__ADS_1
"Bukan! tapi gue menjadi target operasi para polisi karena bisnis narkoba yang gue jalani," jawab Roy.
"Hooo.. Astaghfirullah. Narkoba Roy?" tanya Hasna.
"Lima tahun lalu bokap gue masuk penjara, karena terlibat kasus ilegal, yang di dalangi Om gue Na," ujar Roy mulai bercerita.
Tentu saja Hasna sudah tahu tentang itu. Karena Afnan dan Ubaydillah pernah bercerita bahwa Rengga Adipati dengan Ayah Roy terlibat kerjasama di beberapa bidang kejahatan.
"Hooh lalu Roy?" tanya Hasna.
"Setelah bokap gue di copot dari jabatan nya dan masuk bui, hingga sekarang. Masa tahanan Bokap masih sisa dua tahun. selama satu tahun setelah Bokap di dalam sel, selama itu pula gue mulai kehabisan uang, karena uang yang ada di tabungan dan barang- barang berharga Nyokap sudah habis kita jual untuk makan dan biaya sehari-hari. Lo pasti paham sendiri lah gue sukanya ber foya-foya waktu itu." tutur Roy.
"Maka dari itu jalan cepat mendapatkan uang, adalah dengan berbisnis narkoba. Nah setelah gue bergabung dengan bisnis narkoba jaringan internasional, pundi-pundi Rupiah gue bertambah, dan kebiasaan foya-foya gue makin jadi, hingga lah gue menjadi target operasi polisi selama hampir 4 bulan akhirnya gue terjebak permainan mereka. Mereka berpura-pura menjadi pemesan dan gue kurirnya. Setelah gue tahu itu polisi, gue mencoba kabur, kita kejar kejaran akhirnya mobil gue oleng, dan mobil gue masuk ke dalam kolong truk, gue berpikir mungkin disitu gue akan kehilangan nyawa. Ternyata Tuhan masih baik sama gue Na, Tuhan masih memberikan kesempatan hidup." Penjelasan Roy.
"Innalilahi..lalu?" tanya Hasna.
"Setelah itu gue tidak ingat lagi apa yang terjadi, karena gue koma selama hampir empat bulan. Cedera parah di kepala. Setelah gue siuman, gue juga merasa sulit untuk meng gerakan kaki gue, dua tahun gue lumpuh, hanya dapat memakai kursi roda. Menurut dokter, kaki gue retak! ini keajaiban, bisa kembali berdiri dan berjalan dengan menggunakan alat ini saja, gue sudah bersyukur banget. Sekarang gue menjalankan teraphi syaraf dan tulang untuk dapat berjalan normal kembali." tutur Roy.
"Hemmm.. tragis juga ya Roy. Lo bebas dari masa tahanan atau bagaimana? Gue doakan deh agar Lo cepat sehat dan dapat kembali berjalan dengan normal," ucap Hasna.
"Iya Na. Gue sempat di tahan dan masa tahanan sebetulnya selama satu tahun setengah dengan toleransi, karena harus mendapatkan perawatan. Akhir nya hukuman gue mendapatkan keringanan, setelah satu tahun di tahan, gue bebas bersyarat dengan segala bentuk jaminan. Untung masih ada Nyokap dan kawan-kawan yang masih setia, dan mereka terus menerus mensuport gue untuk bangkit. Terimakasih Na," ucap Roy. Tak lama pesanan makanan yang Hasna pesan pun tiba.
"SubhanAllah..ternyata seperti itu Roy. Makan dulu Roy, Lin," pinta Hasna.
"Iya Na!" jawab Lintang.
"Terimakasih Na," jawab Roy.
"Lalu, lo Sedang apa di kampus ini Roy?" tanya Hasna kembali.
"Gue sedang mencari bahan untuk skripsi, gue sempat berhenti kuliah, intinya cuti karena gue cedera. Dan ini tahun terakhir gue harus menuntaskan skripsi gue, gue sedang mencari bahan untuk skripsi di kampus ini. karena di kampus ini perpustakaan nya termasuk lengkap, maka dari itu ada yang merekomendasikan untuk mencari bahan skripsi, salah satunya di perpus kampus ini. Dan juga ada beberapa dosen pembimbing yang harus gue jumpai di kampus ini," tutur Roy.
"Ouh seperti itu. Oke...lain kali kita berbincang kembali ya Roy. Sudah Adzan Dzuhur, kami mesti Sholat dan setelah nya kami ada kelas," pamit Hasna setelah mereka selesai makan.
"Gue juga harus Sholat. Biar Na, gue bayar," cegah Roy pada Hasna yang melihat Hasna mengeluarkan uang untuk membayar makanan mereka.
"Tidak apa-apa Roy. biarkan gue yang membayar semuanya, anggap saja ungkapan rasa syukur karena kita di pertemukan dalam keadaan lebih baik," ucap Hasna.
"Oke, Sekali lagi terimakasih Na!" ucap Roy.
"Sama-sama Roy. O ia minta nomor WhatsApp lo nih, agar mudah menghubungi saat lo nnati sudah mantap hendak belajar di ponpes," ujar Hasna.
"Nih save," ucap Roy. Akhirnya mereka pun saling bertukar nomor telepon.
"Baiklah kami pergi dulu yah," ucap Hasna.
"Iya Roy kami pamit," timpal Lintang.
"Baik Na, Lin.. silahkan," jawab Roy.
Akhiran mereka berpisah di kantin, Roy kembali pada aktivitasnya Hasna dan Lintang pergi ke Mesjid kampus untuk Sholat dan setelah itu mereka masuk ke kelas untuk mendapatkan materi perkuliahan.
Bersambung....
__ADS_1
Baca juga, Yah karya baru dari sesama Sahab Author. Terimakasih. 👌👉👇