Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
90. Menerima keputusan Hasna.


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Sudah dua hari Afnan berada di rumah sakit, sebelumnya ia tidak sadarkan diri hingga satu hari satu malam.


"A! tidak sebaiknya hubungi Nana, agar Nana tahu kondisi mu, Sayang!" bujuk Umi.


"Tidak perlu Mi, A'a tidak mau menggangu aktifitas Nana. Nanti Nana tidak fokus pada kegiatannya karena memikirkan A'a." Afnan tetap pada pendiriannya.


"Kalau begitu, kamu harus sehat! kamu tidak boleh lemah dan harus kembali beraktifitas seperti biasanya, Nak!" Pak Kyai ikut bicara.


"Insya Allah Abi. A'a akan kembali menjalani hidup seperti sebelumnya, A'a kuat Bi!" ujar Afnan. Pak Kyai hanya mengangguk dengan senyuman yang bersahaja di bibirnya.


"Biyyaaa!"


Afsha baru saja masuk ke ruang rawat Afnan bersama Afkha, Arsya, Ubaydillah dan Lintang. Afsha lupa berucap salam sepertinya. Ia ingin menemui Biyya-nya dari dua hari yang lalu, akan tetapi Umi, Abi dan Ubaydillah beberapa kali mencegahnya, bukan tanpa alasan. Umi, Abi dan Ubaydillah tidak mau Afsha melihat Afnan yang tidak sadarkan diri selama dua hari ini


"Wa'alaikum salam, Sayang!" Afnan ingat Hasna ketika masuk ke dalam kantornya, saat Hasna marah padanya.


"Hehe, maaf Biyya! Assalamu'alaikum" Afsha ulang mengucap salam dan di jawab oleh semua. Afsha segera menghambur ke dalam pelukan Afnan. Ia memeluk Afnan dari sisi tempat tidur.


"Biyya sudah sembuh kan? Biaya baik-baik saja kan? Dedek sedih mendengar Biya masuk rumah sakit!" Afsha terisak di bahu Afnan.


"Biyya tidak sakit! Biyya baik-baik saja, Sayang! loh mengapa sedih, Biyya hanya numpang istirahat di sini koq. Mencari suasana berbeda." kelakar Afnan, mendapatkan pukulan kecil dari Afsha di bahu Afnan. Karena Biyya-nya malah bercanda.


"Biyya jahat! Dedek sudah berkorban air mata nih, masa Biyya santai saja!" rengek manja Afsha.


"Ia... ma'af! air matanya Biyya ganti deh dengan kecupan, gimana?" Afnan cengengesan.


"Hihi. Boleh! yang banyak!" Afsha memanyunkan bibirnya, mirip Hasna jika lagi ngambek.

__ADS_1


"Ok, double banyak! sampai pipinya banjir." Ucap Afnan dengan tertawa. Lalu ia mengecupi pipi Afsha berkali-kali. Hingga Afsha tertawa kegelian dan minta Afnan menghentikan kecupan dan gigitan gemas di pipinya.


Afkha dengan santai duduk di sebelah kaki Biyya-nya. "A'a tidak minta di sun juga?" tanya Afnan.


"Hehm, A'a laki-laki sejati Biy! mana ada sun sun begitu!" ujar Afkha dengan cibiran.


"Betul ya! tidak mau di sun. Lalu yang tengah malam, lima hari lalu menangis di pelukan Biyya siapa?" ledek Afnan.


"Biyya! jangan buka rahasia!" pekik Afkha dengan menyingkirkan Afsha dari pelukan Biyya-nya dan berganti dia yang kini memeluk Afnan dan menyusupkan kepalanya di dada Afnan, menyembunyikan rasa malunya.


Ubaydillah dan Lintang yang duduk di sofa kamar rawat inap tersebut menertawakan kelakuan Afkha, sok cool akan tetapi kelakuannya bikin lucu. Anak-anak yang kini bersama Afnan, Umi dan Abi pun membiarkan Anak-anak yang berinteraksi dengan Afnan untuk menghiburnya. Mereka memilih bergabung dengan Ubaydillah dan Lintang.


**


Dua bulan kemudian,


Hari berlalu dengan cepat. Afnan sudah kembali seperti sedia kala. Namun, dari kecelakaan tunggal itu, Afnan mengalami cedera kaki. Tidak begitu parah, akan tetapi tetap saja untuk dapat berjalan dengan baik, Afnan membutuhkan kruk penyangga. Agar cedera pada pergelangan kaki yang sudah mendapatkan penanganan ahli terapi tidak bergeser kembali.


"Berjalan memakai tongkat tidaklah mudah." sambungnya.


"Roy tersenyum simpul. Aku berharap Bang Ustdaz segera pulih," ujar Roy dan di Amini oleh Afnan. Roy ingat betul perjuangan Afnan untuk kesembuhan dan juga menolong Ibunya, hingga kini kehidupan mereka lebih baik.


Roy dengan Dias telah di karuniai putra, Maminya sudah bahagia bersama Ayah Iqbal dan Iqbal juga kini sudah memiliki putri dari pernikahannya. Saat ini mereka tengah berkumpul di rumah utama, setelah Afnan pulang dari rumah sakit keluarga Granny dan juga Roy serta lainnya kerap kali datang ke Ponpes untuk sekedar berkumpul dan menghibur Afnan di waktu senggang mereka.


Rumah utama nampak ramai dengan kehadiran orang-orang dari yang dulunya orang-orang tidak di kenal. Kini menjadi keluarga, Putra putri dari merekapun menghiasi rumah utama yang biasanya sepi dengan kebisingan khas anak-anak. Kedua putr kembar Adrian dan Angela, putra Devano dan Elyavira, putra dan putri dari Roy, Dias serta Iqbal, Zahra.


***


Hari-hari berikutnya, Afnan dan Ubaydillah baru saja pulang dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Dek, Ana ingin menikmati sore di sirkuit, menyaksikan anak-anak latihan!" ujar Afnan.


Afnan memang sengaja menyibukkan dirinya di luaran, jika pulang ke rumah, sore begini keadaannya sepi. Apalagi saat ini Afnan mulai membiasakan diri tinggal di rumah kayu bersama Anak-anak. Akan tetapi Anak-anak banyak berkegiatan di area ponpes. Mereka akan pulang ke rumah setelah Isya.


"Baik A'a bro! Ana telepon Neng Lilin terlebih dahulu, untuk mengabarkan bahwa Ana pulang terlambat." balas Ubaydillah.


"Silakan, Dek!" Afnan tersenyum ke arah Ubaydillah yang kini tengah menelpon Lintang. Mengabarkan bahwa ia hendak mengantar Afnan ke sirkuit. Lintang mengizinkan dengan senang hati.


Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di sirkuit HAZ.


Kini Afnan duduk di tribun penonton seorang diri dengan santai, di temani satu cup capuccino. Menyaksikan beberapa pembalap sedang latihan. Ubaydillah berada di ruang kontrol, sedang memeriksa beberapa monitor.


Namun, walaupun pandangannya fokus ke jalan berkelok di depannya dengan beberapa mobil yang saling mendahului. Tetap saja fikirannya terpaut pada Hasna, terlebih tadi siang Lintang mengirimkan photo Hasna yang memakai Arm Sling pada lengannya, katanya Hasna jatuh saat sesi latihan dan tangannya mengalami cedera.


Tidak terasa tetesan air mata kembali meluncur bebas. Rasa rindunya pada Hasna hanya mampu ia tuangkan dalam doa-doa. Selama hampir tiga bulan ini Afnan tidak berani membuka apalagi membalas pesan dari Hasna. Telepon saja selalu Afnan abaikan. Bukan ia benci, akan tetapi justru ia takut tidak dapat mengontrol rasa rindunya dan membuat ia terbang ke Eropa.


Afnan tidak mau keadaannya makin kacau jika ia terbang ke Eropa, maka Anak-anak akan kehilangan figur kedua orang tuanya. Oleh karena itu, Afnan berusaha menghindari interaksi dengan Hasna yang entah hingga kapan. Yang pasti hingga Hasna Kembali di sisinya suatu hari. Namun, pernah satu minggu lalu, Afnan membalas pesan Hasna lewat Lintang. Walaupun begitu, untuk urusan nafkah, Afnan tetap mengirimkannya dengan bantuan Ubaydillah.


"By, aku bersalah! demi ego aku meninggalkan kamu dan anak-anak, aku mengabaikan rumah tangga kita. Maafkan aku! Aku pernah melakukan kebodohan terbesar ketika meninggalkan mu, demi sebuah ambisi. Akan tetapi semua telah terbayar dengan rasa sesal ini." pesan Hasna.


"Hidup ini pilihan, tidak perlu menyesali atas pilihan mu! Jangan pula pilihan itu kau sebut kebodohan terbesar yang pernah kamu lakukan, karena sebab di awali dari kebodohan itu, maka kita menjadi dewasa serta bijak. Manusia tidak akan pernah menjadi sangat cerdas jika belum pernah melakukan sesuatu yang sangat bodoh."


Hanya itu chat yang Afnan pernah balas untuk Hasna itu pun ia titip melalui chat Lintang sebagai satu-satunya balasan atas pengakuan Hasna yang menyebut dirinya bodoh karena lebih mementingkan ego daripada rumah tangganya. Afnan sudah bisa mengendalikan dirinya dengan menerima keputusan Hasna.


"Hemmm," Afnan tersenyum lega. Ketika tiba-tiba suara halus dari seorang perempuan mengejutkan Afnan.


"Assalamu'alaikum, Ustadz!"


"Wa-Wa'alaikum salam Warahmatullah." Balas Afnan dengan menoleh dan tatapannya terpaku pada satu sosok itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2