Istrinya Ustadz Part. 2

Istrinya Ustadz Part. 2
27. Rumah Tangga Jarak Jauh.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Adrian dan Angela akan berangkat berbulan madu ke Eropa. Maka dari itu mereka saat ini berada di Ponpes untuk berpamitan pada Abi, Umi dan yang lain nya.


"Berapa lama, kalian akan berbulan madu?" tanya Pak Kyai.


"Sekitar sepuluh hari Abi!" jawab Adrian.


"Oh seperti itu, nikmati waktu kalian, selagi belum memiliki momongan," ujar Pak Kyai.


"Lalu.. Angela, akan kembali ke Jerman setelah berbulan madu?" tanya Umi.


"Iya Umi, rencana nya Angela akan segera menyelesaikan pendidikan Angela. Setelah itu barulah Ange dapat stay di sini dan akan melanjutkan Pasca sarjana nya, mungkin di Jakarta," jawaban Angela.


 


"Syukur Alhamdulillah, semoga rumah tangga kalian akan tetap berjalan dengan baik walaupun saling berjauhan," ujar Umi.


"Insya Allah Umi! Aamiin ya rabbal A'lamiin," balas Angela.


"Yang penting kunci utama nya adalah kepercayaan dan saling menjaga perasaan serta memupuk kesetiaan, satu sama lain. Hidup berdampingan ataupun terpisah jarak, maka akan tetap menjadi rumah tangga sakinah, mawaddah, warrahmah! apalagi saat ini komunikasi kan lebih lancar, karena banyak nya aplikasi untuk saling berhubungan kapan saja." ujar Pak Kyai


"Iya Abi, terima kasih .... Aamiin," ucap Adrian.


"Waktu zaman Abi, saat berjauhan dengan Umi, mana ada tuh komunikasi selain dari surat, itupun hingga berhari-hari lamanya baru sampai pada pujaan hati dan berminggu kemudian barulah dapat balasan."


"Maka dari itu beruntung lah kalian pada saat ini karena walaupun berjauhan Insya Allah lancar berkomunikasi," ucap Abi Kyai seperti memberikan dukungan dengan bentuk menyemangati.


"Lho! memang Abi pernah berjauhan dengan Umi?" tanya Adrian malah merasa penasaran.


Abi Kyai, yang di tanya malah tersenyum lalu menoleh pada Umi dan meraih tangan Umi serta mengenggam nya.

__ADS_1


"Abi dan Umi menikah di saat usia kami masih muda sekali, orang tua kami memutuskan menikahkan kami saat Abi bertemu Umi, ketika sama-sama mondok! Abi merasa tertarik dengan perangai Umi yang lemah lembut jika bicara, merunduk jika berpapasan, dan Abi merasa penasaran, lalu Abi cari tahu tentang Umi, ternyata Umi adalah Adik kelas Abi, kelas Akhir Aaliyah di pondok pesantren tersebut.


"Usia Abi baru dua puluh satu tahun dan Umi tujuh belas tahun. Abi yang meminta di nikahkan dengan Umi setelah Abi melakukan ta'aruf dan khitbah kemudian."


"Namun setelah menikah, kami masih belum dapat hidup bersama selama satu tahun karena pengabdian pada pondok pesantren tempat kami menimba ilmu Agama dan lain nya."


"Setelah satu tahun, Abi sempat hidup bersama selama enam bulan, rasanya bahagia sekali. Hingga Abi harus melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir."


"Maaf Abi, ke Kairo?" tanya Adrian merasa terkejut karena Abi Kyai pun berarti pernah berhubungan jarak jauh dengan Umi.


"Betul.. selama tiga tahun, lalu setelah nya lulus di Kairo. Abi migrasi ke Turki selama empat tahun. Setiap ada kesempatan libur agak lama, Abi selalu berusaha pulang untuk menemui Umi. Maka dari itu karena kerinduan Abi kepada Umi yang teramat, maka Abi dapat menyelesaikan pendidikan Abi hanya tiga tahun saja. Setelah nya barulah Abi membangun rumah tangga seperti impian Abi dan hidup bersama, hingga A'a kalian pun lahir dan setelah A'a kalian berusia tujuh tahun kami di karuniai utun, maka dari itu rasanya rumah tangga Abi dan Umi makin bahagia."


"Dua Putri Abi lahir saat Abi menempuh kedua pendidikan sebelum nya, namun bersyukur ketika mereka lahir selalu bertepatan dengan cuti kuliah, jadi Abi dapat pulang untuk menemani Umi melahirkan." tutur Pak Kyai.


"Wah... ternyata Abi dan Umi pernah berhubungan rumah tangga jarak jauh. Insya Allah kami akan belajar dari pengalaman Abi dan Umi, apalagi Angela hanya butuh satu tahunan lagi untuk menyelesaikan pendidikan nya di Jerman," ucap Adrian. Ia merasa mendapatkan semangat baru dari cerita Abi.


"Mohon Doa nya Abi, Umi! untuk kelanggengan serta kebahagiaan rumah tangga kami," pinta Angela.


"Baiklah Abi, Umi. Kami pamit pada Om Ustadz dan Om Ubay terlebih dahulu," Adrian undur diri dari rumah utama.


Kini Adrian dan Angela sudah berada di rumah kayu milik Afnan.


"Jadi Kalian akan berangkat sore ini?" tanya Afnan.


"Iya Om Ustadz!" Jawab Adrian.


Di rumah itu juga ternyata sedang berkumpul nya Ubaydillah, Lintang, Devano dan Elyavira.


"ke Jakarta dulu Yan?" tanya Ubaydillah.


"Tidak Om, kami akan berangkat dari Bandar Udara kerta jati," jawab Adrain.

__ADS_1


"Ouh lebih dekat yah!" timpal Devano.


"Iya Dev!" jawab Adrain.


"pukul berapa berangkat Yan, Ange?" tanya Hasna.


"Nanti Ba'da Shalat Jum'at, maka dari itu gue ingin Shalat Jum'at dulu di Ponpes Na," jawab Adrian.


kebetulan hari itu adalah hari Jum'at, Afnan baru saja pulang dari ngawuruk Ibu-ibu kajian rutin Hubbul Wathan.


"Sebentar lagi masuk Waktu Shalat Jum'at, mari kita bersiap-siap! untuk para Ibu-ibu di harap menyiapkan makan siang di rumah," ucap Afnan sembari melirik kearah Hasna dan tersenyum.


"Tenang saja para Bapak! kami akan menyiapkan makanan untuk makan siang," jawab Lintang.


"Ingat ya sayang, kali ini air laut dan arang jangan di buat bumbu," bisik Afnan pada Hasna. Afnan menarik Hasna dari hadapan mereka agak menjauh, hanya untuk mengatakan petuah itu rupanya.


"Byby apa sih! Nana sudah jago masak kali, kan belajar dari Byby walaupun tidak semahir Byby," bisik Hasna sembari mencubit kecil Perut Afnan.


"Awwsshhh! Alhamdulillah nikmeh," pekik Afnan dengan meringis.


"Byby, kebiasaan deh! koq nikmeh, sakit mungkin!" seru pelan Hasna. "Nikmeh sayang! kan sayang yang melakukannya, hihi," Afnan menyeringai setengah berbisik karena yang lain masih asik berbincang maka mereka tidak menyadari pasangan halal satu itu sedang berinteraksi konyol.


"Iikh Byby gitu deh!" rajuk Hasna. "Begitu kenapa sayang?" tanya Afnan kurang paham.


"Selalu membuat jantung Nana hendak lepas dari orbit nya, pegang deh!" Hasna meraih tangan Afnan lalu ia tempelkan di dadanya di balik hijab panjang nya. Tanpa yang lain melihat, karena Hasna melirik mereka terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan.


Afnan pun merasakan degup jantung Hasna yang seperti sedang bersalto di dalam orbit tubuh Hasan.


"kamu juga sayang, selalu membuat belahan jiwa Byby yang tersembunyi berdenyut lebih hebat! selesai Shalat Jum'at Plesiran yuk sayang!" ajak Afnan dengan suatu kesungguhan, menatap hangat Hasna dan meraih tangan Hasna membawanya ke sebuah area Warning di bagian tubuh nya.


"Plesiran? Plesiran ke mana By siang-siang begini?" tanya Hasna dengan polosnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2