
Hasna dan Afnan tengah berada di dalam kamar hotel, sebelum pulang Afnan mengajak Hasna naik sebentar ke kamar hotel Khusus untuk mereka.
"Katanya sebentar, ini sudah hampir maghrib loh By!" Protes Hasna, mereka masih bergelut di bawah selimut.
"Sebentar lagi sayang, nanti sekalian mandi dan Shalat, baru pulang."
"Iya deh! gak akan menang Nana melawan Byby! lagi pula, hari ini mengapa sih suka sekali mengerjai orang lain. Tadi Kak Ubay dan Lintang yang jadi korban nya, sekarang Nana, tadi bilang ke Nana agar melihat dekor baru kamar ini, tapi nyata nya sudah hampir dua jam Nana di perdayai Byby." Hasna cemberut, ia protes namun tubuh nya masih di kuasai Afnan.
"Loh Byby kan gak bohong, memang mengajak sayang ke kamar ini karena ingin menunjukan dekor kamar yang baru, sekaligus uji coba kamar ini sayang. Memang nya sayang tidak ikhlas?"
"Heeee .... Ikhlas sih! apa sih yang enggak untuk Byby! singa jantan ku."
"Waaah singa betina ku! ternyata kamu masih sangat menggemaskan. Ini sebagai permintaan maaf Byby, karena tidak dapat menjemput sayang tadi." Rayu Afnan.
"Baik lah By, Nana mengerti! terima kasih ya Qalbii," ucap lembut Hasna. "Kembali kasih Yaa Zawjatii."
"Lanjut ya sayang!" bisik Afnan."Silakan By." Balas Hasna. kegiatan berpadu asmara sore itu kembali beraksi.
Namun saat singa tampan dan cantik itu tengah asik saling menerjang, telepon Afnan dan Hasna berbunyi secara bersamaan.
"Dari twins A sayang," gumam Afnan setelah ia lirik sebentar telepon mereka. "Terima By, nanti mereka keburu ngambek," pinta Hasna.
"Terima sama-sama, nih." Afnan menyerahkan Ponsel Hasna. Mereka menerima telepon secara bersamaan.
"Assalamu'alaikum kesayangan," /Hasna.
"Assalamu'alaikum kebahagiaan,"/ Afnan.
"Wa'alaikum salam! Mimma dab Biyya kecintaan. Cepat pulaaaang! kami lindu"/ Afsha
"Biyya dan Mimma janan pacayan teyus, kami lindu nih, dan ba'da Isya A'a tunggu di yumah utama, ada hay penting endak A'a bicayakan." /Afkha.
"Baik sayang, kami akan segera pulang!"/ Afnan dan Hasna.
Sambungan telepon pun terputus. "By kita pulang sekarang!" pinta Hasna. "Belum bisa, ini gantung!" Afnan memohon.
__ADS_1
"Byby keterlaluan!!!!!"
Di tempat lain,
Ubaydillah dan Lintang baru saja sampai pada tempat tujuan mereka.
Sebuah hotel yang tidak terlalu besar namun asri, karena berada di daerah perbukitan. Kamar hotel tersebut berdinding kaca besar dan menyuguhkan pemandangan Lukisan apik Sang pencipta. Sungguh indah di pandang mata, sungai serta gunung dan perbukitan asri nan hijau, nampak memenuhi dinding kaca, bak di dalam sebuah kanvas.
"Akhirnya kita sampai Yank! Alhamdulillah, gak jadi tersangka penculikan Anak. Syukur Alhamdulillah juga, luka nya sedikit! di fikir akan menjadi rempeyek dari Korban Mak-mak ganas itu." Ubaydillah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Saat ia kembali ingin mengambil berlian di dalam jam, salah satu anak ada yang berteriak maling dan minta tolong, maka datanglah segerombolan Ibu membawa peralatan perangnya.
Bersyukur seorang pemilik warung melihat Lintang yang memberikan jam itu. Maka si Ibu berusaha menghentikan perang perkakas tersebut.
Namun wajah dan tangan Ubaydillah kadung menjadi korban keganasan dari serbuan segerombolan Ibu-ibu tersebut. Hingga terlihat memar dan memerah, serta ada beberapa titik juga mengeluarkan sedikit darah.
"Maafkan Lilin Yank! sudah menghukum Ayank Dav! padahal niat Ayank Dav itu baik, untuk menjaga Lilin saat tidak sedang bersama Ayank." Lintang sungguh menyesal, akibat dari ulah nya lah suami kesayangan berakhir teraniaya.
"Yank! itu sebuah konsekuensi. Tidak hanya kejahatan yang akan menanggung sebuah akibat, maka kebaikan yang mubbah pun pantas mendapatkan sebuah peringatan! tujuan nya untuk mengingat kan. Astagfirullah A'a Dav, mungkin terlalu berlebih-lebihan dalam menjaga mu, seakan A'a Dav, lupa adanya Allah Sang Maha pelindung."
"Sudahlah, A'a Dav juga minta maaf, ini kita jadikan pelajaran berharga, bahwa hidup bukan hanya sekedar menjaga namun juga bagaimana menghargai sebuah perasaan, apalagi karena di butakan rasa was-was yang berlebih. A'a Dav merasa telah menjadi orang yang hendak mendahului takdir Allah. Astaghfirullah'aladzim."
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS al-Nisa :59)." ujar Lintang.
"Astagfirullah, betul Yank! A'a Dav khilaf! Ampuni hamba ya Rabb! Alhamdulillah ya Allah masih ada istri hamba yang mengingatkan."
"Alhamdulillah Yank! bertambah lagi ilmu syukur dalam hidup kita. Masya Allah pemandangan nya indah sekali." Lintang yang baru menyadari apa yang ia lihat di luar kaca jendela. Maka ia berjalan menuju dinding kaca. Lintang begitu takjub dengan keindahan di sana yang mulai menguning berhias lembayung senja. Ubaydillah menyaksikan antusias Istrinya ia tersenyum dengan di iringi lantunan Shalawat
"A'a Bro, pandai memilih tempat untuk kita kencan sayang!"
"Iya Yank! walaupun sempat kesal dengan jaring hiu itu, namun kita harus berterima kasih kepada nya." ujar Lintang.
"Tentu Yank!"
"Yank! Mari Lilin kompres luka lebam nya," Setelah puas menikmati pemandangan di hadapan nya. Lintang berlalu ke Kamar mandi dan tidak lama ia kembali dengan wadah berisi air hangat dan handuk kecil.
__ADS_1
"Yank! pakai dulu kalung nya," pinta Ubaydillah. Setelah ia dapatkan kembali kalung nya, maka Ubaydillah menggenggam nya terus dan Lintang yang mengemudikan mobil.
"Alhamdulillah Ibu-ibu pemilik warung melihat saat Ayank memberikan jam jam itu. Kalau tidak! habislah wajah tampan A'a Dav di babat sapu, pengki dan panci." Ubaydillah memasang kalung berlian itu sembari cengengesan.
"Terima kasih Yank! kalung nya Cantik sekali," ucap Lintang, mengecup pipi Ubaydillah. "Suka?" tanya Ubaydillah, tidak lupa ia sematkan juga cincin pemberian Afnan.
"Masya Allah! suka Yank! suka sekali. Hihi tadi Ayank lucu." Lintang lalu tertawa kecil saat memandang wajah Ubaydillah yang mulai ia kompres.
"Tertawa saja Yank! ini kan akibat ulah nya Ayank, pakai bagi-bagi jam tidak bicara dulu. Maka kamu harus terima akibat nya." Ubaydillah menyerang Lintang. Tentu nya pakai serangan cinta dan kasih sayang karena Allah.
"Yank jangan menyerang Lilin sekarang. Please nanti malam saja, sudah mau maghrib Yank!"
"Biar saja, agar kamu tahu rasa!"
"Sudah tahu koq rasanya seperti apa Yank."
****
Ba'da Isya.
Kini Afnan dan Hasna tengah berkumpul di rumah utama. Afnan dan Hasna baru saja tiba sepulang dari restoran dan tentu nya bermesraan di kamar hotel milik nya, hingga waktu Maghrib tiba, pergulatan halal mereka barulah berakhir.
"Memang A'a Kha hendak bicara apa dengan kami? hingga kami harus berkumpul?" tanya Pak kyai.
Afkha yang meminta mereka berkumpul di rumah utama pun namapak menatap orang yang berada di ruangan itu satu persatu.
Afnan dan Hasna sangatlah menanti Afka bicara. Namun Afkha tak kunjung bicara.
"Silakan A hendak bicara apa?" akhirnya Afnan bertanya.
"Mmm .... bedini Biyya, Mimma, Abba dan Umma! A'a ....!"
Afkha nampak ragu, semua mata tertuju padanya, kiranya apa yang hendak Afkha sampaikan hingga terlihat serius.
Bersambung ....
__ADS_1